
Waktu sudah setengah hari namun Akma dan Tiara tidak kunjung ditemukan. Bayu menghela nafasnya tak kala istirahat dan kebetulan cuaca sudah mulai terang dimana hujan mulai terhenti.
“Kenapa pak!” ucap Inge ketika berada di dekat Bayu.
“Aku kuatir pak Anggoro turun tangan ikut mencari putranya!” ucap Bayu cemas takut kalau bos lamanya ikut langsung terjun mencari Akmal dan Tiara.
“Bagus itu, tidak masalah kan karena pak Akmal putranya!”
“Bagus bagaimana? Bisa-bisa kita semua mampus dihukumnya karena tidak bisa menjaga putranya,” ucap Bayu sambil bersandar di pohon yang sangat besar. Dan tiba-tiba ponselnya berdering. Bayu pun dengan sigap mengangkat ponselnya.
“Iya pak, kami sudah berusaha mencarinya kembali, bapak bisa menunggu di penginapan,” ucap Bayu langsung begitu tahu kalau yang menghubunginya pak Anggoro.
“Aku kasih waktu 4 jam kedepan kalau kamu tidak bisa menemukan putraku lebih baik kamu keluar saja dari bagian perusahaan kita! Dasar tidak berguna suruh mengawasi putraku satu-satunya malah hilang,”gerutu pak Anggoro karena kecewa kehilangan putranya dan belum ditemukan lebih dari 24 jam.
“Pak Maaf aku janji hari ini aku akan menemukannya! Dan aku mohon do’a dari bapak agar kami bisa menemukannya dengan cepat!” ucap Bayu berusaha menenangkan pak Anggoro.
“Ok, aku pegang janjimu! Kalau dalam tempo 4 jam kamu tidak bisa menemukannya aku akan bergerak sendiri!” ucap pak Anggoro menutup ponselnya. Bayu kembali nafasnya sehingga menarik perhatian Inge.
“Pak Bayu kok sepertinya ketakutan to? Pak Bayu yang tenang kita harus berusaha mencarinya. aku yakin mereka baik-baik saja!” ucap Inge menenangkan pak Bayu.
“Iya pak kita harus semangat! Ayo kita lanjutkan pencarian,” ucap salah satu anggota tim yang dibawa Bayu.
“Pak Akmal…, ibu Tiara? Kalian dimana?” teriak salah satu tim yang suaranya sangat keras hingga menggema di seluruh hutan karena pantulan tebing bukit.
Merekapun terus menelusuri jalan setapak bahkan mereka terkadang harus membabat beberapa tanaman liar yang menghalangi jalan mereka. Mereka terus melangkah dan terus hingga masuk kedalam hutan tak jauh dari gubuk dimana Akmal dan Tiara berteduh.
“Astaga…, pak itu ada gubuk yang tak jauh dari kita. Mudah-mudahan mereka berada disana. Ayo kita segera mendekat kesana! Ingat jalanan licin dan dibawahnya jurang yang begitu terjal! Hati-hati pak!” ucap salah satu tim dari mereka memberi kode kepada Bayu.
Bayu dengan gerak reflek kembali menggandeng Inge dan Inge nampak menikmatinya. Inge merasakan detak jantungnya berdetak seiring dengan bergulirnya air hujan yang menyirami hutan.
__ADS_1
“Inge hati-hatilah! Aku tidak ingin dirimu terjatuh ke jurang hanya karena mengikutiku mencari tuan Akmal!” ucap Bayu yang membuat Inge semakin bergetar menahan gejolak dalam hatinya. Semua orang yang melihat kedekatan mereka menyimpulkan kalau mereka sebenarnya saling cinta namun belum berani mengungkapkan.
“Wah bakalan seru nich di perusahaan kita akan ada kisah sepasang kekasih yang jatuh cinta karena menolong sepasang kekasih yang tersesat di hutan. Dan aku yakin alam sengaja mempersatukan mereka!” ucap salah satu tim hingga membuat Bayu mengertaknya agar terdiam.
“Diam! Jangan banyak ngomong! Merusak suasana saja, kita harus fokus sama tuan muda Akmal dan Tiara!” gertak Bayu karena dirinya tidak suka dengan pembicaraan mereka.
“Iya pak kita fokus kok, tapi aku yakin seratus persen mereka ada di gubuk itu kok!” jawab salah satu anggota tim tersebut setelah posisi mereka berdekatan dengan gubuk.
Mereka tidak lagi memanggil-manggil Akmal dan Tiara lagi namun langsung menyusup masuk ke dalam.
“Ciet…, brak!” suara pintu gubuk yang sudah reot mereka buka dengan paksa.
“Pak Akmal…, Bu Tiara!” ucap Bayu terkejut melihat mereka yang berpelukan dimana Akmal hanya menggenakan singletnya saja karena baju dan jaketnya dikenakan oleh Tiara.
“Bayu! Dasar kalian tidak berguna! Kenapa baru datang? Ayo segera tolong kami! Tiara badannya lemah! Kita harus segera membawanya ke rumah sakit!” cerocos Akmal ngomel-ngomel dan berusaha membangunkan Tiara yang tertidur.
Mereka pun dengan cekatan menyiapkan tandu sederhana dan Akmal pun dengan tangannya sendiri memindahkan Tiara dari pangkuannya untuk dibaringkan di tandu. Akmal.
“Tiara…, aku mohon bertahanlah! Bayu kita butuh berapa jam untuk keluar area ini!” tanya Akmal kepada Bayu.
“Dua jam pak!” jawab Bayu menyampaikan pengalamannya setelah dia masuk hutan tempat Akmal ditemukan.
“Astaga lama sekali! Adakah jalan yang bisa memotong sehingga lekas sampai! Lihatlah aku mengkhawatirkan kondisi Tiara!” ucap Akmal yang kelihatan panik.
“Ada pak kita sedikit memotong jalan tapi agak terjal!” ucap salah satu pengikut Akmal.
“Ok…, terimakasih ayo jalan!” Akmal tak henti-henti nya memperhatikan Tiara.
“Bayu kau bawa ponsel tidak? Ponselku mati, coba kau hubungi para tim medis untuk bersiap diri di penginapan sehingga Tiara segera ditangani!” perintah Bayu yang tidak tega melihat wajah pucat Tiara dan bibirnya membiru karena menahan rasa dingin.
__ADS_1
“Baik pak, tapi di tempat ini tidak ada sinyal pak. Sinyal akan ditemukan setelah kita berjalan kurang lebih setengah jam kedepan! Kira-kira jarak 2 kilometer dari sini!” ucap Bayu menyampaikan kepada akmal dan didukung oleh Inge.
“Iya pak!”
“Baiklah ayo gerak cepat kita kembali ke penginapan!” ucap Bayu yang berusaha mengusap-usap telapak tangan Tiara yang semakin menggigil menahan rasa dinginnya. Inge yang tahu sahabatnya menggigil tidak tega dan mengambil sarung di dalam tasnya kemudian menyelimutkan ke tubuh Tiara.
“Terimakasih Inge!”
Akhirnya mereka bergerak cepat menuju penginapan, setelah mendapatkan sinyal Bayu menelpon pak Anggoro untuk menyiapkan tim medis. pak Anggoro karena orang berpengaruh maka dengan cepat tim medis datang disertai ambulan.
Rombongan mereka yang membawa Tiara bergerak dengan cepat dan dengan waktu tidak lebih dari 2 jam mereka sampai di penginapan.
Tiara langsung dimasukan dalam ambulan dan hendak dibawa ke rumah sakit untuk ditangani oleh tim medis.
“Bayu…, alhamdulilah kalain tidak apa-apa! Papa senang kalian bisa selamat,” ucap pak Anggoro memeluk putranya.
“Terimakasih pa…, atas perhatiannya! Aku ingin membawa Tiara dulu ke rumah sakit pa! Kasihan Tiara!” ucap Akmal semakin cemas melihat Tiara yang drop hendak pingsan.
“Baiklah ganti bajumu dan nanti telponlah mama kamu! Mamu cemas memikirkanmu!” perintah pak Anggoro.
“Baik pak,” ucap Akmal yang langsung naik di mobil ambulan bagian belakang mendampingi Tiara.
“Inge tolong menyusulah sama Bayu! Uruslah semua perlengkapan kita yang ada di hotel.
“Baik pak akan kami lakukan!” ucap Inge seraya mendekati Bayu dan mengajaknya mengganti baju terlebih dahulu baru kita meluncur.
Sementara itu papa Aggoro hanya senyum melihat kedekatan mereka berdua. Papa Anggoro sangat menyukai Tiara dan berharap jadi menantunya.
Terimakasih para pembaca yang setia, atas kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya. Ikuti keseruannya ya?
__ADS_1