
Akmal yang menceritakan tentang statusnya dengan Vino membuat Tiara bingung menempatkan dirinya. Tiara tidak menyangka Vino yang pernah diidolakan oleh dirinya ternyata kakak dari calon suaminya meski beda ayah.
Tiara nampak menghela nafasnya, Tiara tahu kalau calon suaminya sangat terpukul karena rivalnya ternyata saudaranya sendiri.
Tiara dalam hatinya berjanji akan memberi support pada calon suaminya.
“Sayang, kamu jangan seperti itu? Lupakanlah masa lalu tentangnya dan saat-saat sulit dengannya. Biarkan waktu yang menjawab semuanya. Aku yakin kamu pasti bisa, do’akan saja kak Vino bisa berubah!” ucap Tiara kepada calon suaminya.
“Iya sayang, tapi semua itu diluar bayangan dan kendali aku. Bukankah kamu juga tahu sendiri bagaimana hubungan aku dengannya? Apalagi soal kamu!” ucap Akmal bingung.
Akmal dengan manjanya masih merebahkan kepalanya di pangkuan Tiara. Tiara dengan pelan mengusap rambut Akmal dan membisikan sesuatu.
“Sayang, kamu jangan meragukan cinta aku terhadapamu? Percayalah aku cinta dan sayang kamu apa adanya. Meskipun ada seribu Vino tidak merubah keinginan aku untuk mencintaimu,” ucap Tiara kepada Akmal.
Perkataan Tiara merupakan support Tiara yang sangat dinanti oleh Akmal. Akmal mendengaranya terasa lega dan adem di hatinya. Akmal langsung menegakkan tubuhnya untuk duduk dan dengan tiba-tiba memeluk Tiara.
“Sayang, kamu benar-benar calon istri aku yang sangat mengerti aku. Terimakasih ya? Aku sempat meragukan cinta kamu!” ucap Akmal yang terus memeluknya dan mencium kening calon istrinya.
“Nak Akmal? Kapan datangnya? Mama Dewi kok tidak mendengar suara mobil kamu?” tanya mama Dewi kepada calon menantunya.
“Eh…, iya ma. Eh tante,” ucap Akmal gelagapan ternyata dirinya tadi berulah di depan mama mertuanya. Muka Akmal memerah menahan malu karena ulahnya kepergok oleh calon mertuanya.
“Gak apa-apa panggil saja mama nak Akmal, ayo makan siang? Mama menyiapkan banyak makanan untuk hari ini,” ucap mama Dewi dengan ramah kepada calon menantunya.
“Iya ma, tapi aku sudah makan di kantor ma!” ucap Akmal secara halus bermaksud menolak ajakan mama mertuanya.
“Ah…, sedikit saja tidak akan membuatmu gendut!” ucap mama Dewi.
“Iya ma! terimakasih!” ucap Akmal yang tidak kuasa lagi menolak ajakan mama Dewi. Akmal dan Tiara mengikuti mama Dewi dengan bergandengan menuju tempat makan.
__ADS_1
Mama setelah mempersiapkan makanan langsung pamitan kepada Akmal kalau dirinya hendak ke kantor papa Roy karena ada kegiatan yang melibatkan istri para dosen.
“Mama salam ya untuk papa Roy dari calon mantu kesayangan ini,” ucap Akmal pada mama mertuanya tanpa sungkan.
“Iya nak Akmal! Mama pasti akan menyampaikannya,” ucap mama Dewi berlalu meninggalkan mereka berdua.
“Sayang…, mau dong disuapin!” ucap Akmal mulai genit setelah ditinggal mama Dewi. Tiara yang begitu menyayangi Akmal, pelan-pelan mendekati Akmal dan mengambil makanan sedikit-demi sedikit untuk disuapkan ke mulut Akmal.
Di tengah tengah mereka makan tiba-tiba ponsel Akmal berbunyi. setelah dilihat ternyata dari mama Ratna. Akmal enggan mengangkat ponselnya.
“Siapa sayang? Kenapa tidak diangkat?” tanya Tiara kepada calon suaminya.
“Biasalah dari mama! Aku malas paling menanyakan perkembangan kasus Vino,” ucap Akmal yang tanpa ada pergerakan untuk mengangkat ponselnya.
“Sayang, jangan begitu. Mau Bagaimanapun itu mama kamu,” ucap Tiara yang berdiri mengambil piring yang kotor bekas makanan mereka.
“Iya. Aku tahu tapi rasa kecewa aku belum bisa sembuh. Aku mengingatnya terasa sakit, sesak di dada aku!” ucap Akmal yang juga ikut membantu Tiara mencuci piring.
“Kamu itu dibantu kok gak mau!” ucap Akmal yang langsung dengan tiba-tiba memeluk Tiara dari belakang.
“Kakak, jangan begitu. Risih kak!” ucap Tiara yang tiba-tiba dari dalam tubuhnya mengalir seperti sengatan listrik merasuk dalam tubuhnya.
“Sayang…, besok saja ya kita nikah! Aku sudah tidak kuat!” ucap Akmal yang semakin memeluk erat Tiara.
“Kakak, maaf jangan begitu! Kalau kakak tidak kuat bagaimana dengan aku?” ucap Tiara memelas seolah menyadarkan Akmal. Akmal dengan pelan melepas pelukannya dan kembali duduk di kursi makan.
“Sayang, maafkan kakak ya? Habisnya kakak itu kalau sama kamu terlalu bersemangat dan gemas ingin memeluk kamu. Bahkan kalau disuruh seharian bersama kamu, aku siap,” ucap Akmal dari dasar hatinya yang paling dalam. Akmal memang sudah cinta mati dengan Tiara begitupun sebaliknya.
“Kak, aku sudah selesai. Ayo kita ke teras belakang saja,” ucap Tiara sambil menarik tangan Akmal. Tiara kemudian pergi di sudut teras dekat kolam renang. Di sana sudah ada perlengkapan musik termasuk piano.
__ADS_1
Tiara mendekati piano tersebut dan duduk di depan piano memainkan musiknya sambil bernyanyi lagu-lagu cinta dengan merdunya. Akmal sangat mengagumi Tiara ternyata Tiara memiliki bakat yang terpendam.
“Sayang, aku semakin cinta dan sayang sama kamu!” ucapnya yang sudah berdiri di samping Tiara.
“Iya…, aku tahu!” jawab Tiara simpel. Tiara pun masih memainkan lagu dan piano. Akmal yang otomatis ada gitar di sampingnya langsung diambilnya dan dipetiknya. Mereka berdua terbui menyanyikan lagu cinta hingga mereka tidak menyadari kalau Bayu dan Inge sudah ada di dekat mereka.
“Plok…, plok…,” Bayu dan Inge memberi oplos untuk mereka berdua.
“Kalian benar-benar pasangan yang sangat serasi,” ucap Bayu yang sudah duduk di dekat mereka.
“Iya…, aku setuju kak! Benar-benar suara kalian cukup memukau kita berdua,” ucap Inge menyambung pembicaraan.
“Eh…, kalian sejak kapan kalian ada di sini?” tanya Akmal yang langsung menaruh gitarnya.
“Dari tadilah! Kalian terlalu asyik untuk membuat rekaman!” ucap Bayu menggoda Akmal.
“Rekaman? Layak ya? Kalau gitu tahun depan kita buat rekaman sendiri ya?” ucap Akmal mengimbangi pembicaraan Bayu.
“Wah…, kakak! Janganlah kau tanggapi mereka berdua! Mereka berdua itu memang seperti itu di depan memuji tapi dibelakang menikam!” ucap Tiara sengaja karena gemas dengan tingkah mereka berdua.
“Betulkah! Wah kalau memang seperti itu aku potong gaji kalian berdua,” ucap Akmal yang sengaja bercanda dengan mereka.
“Jangan begitu bro? Kalau kamu potong gaji kita kapan kita bisa segera menikah?” ucap Bayu memohon kepada Akmal.
“Ya mana aku tahu? Kalau mau menikah ya menikahlah apa urusannya dengan gaji dan aku?” ucap Akmal sengaja memancing Bayu.
“Masalahnya kalau menikah kita perlu biaya yang besar, kalau gaji kita berkurang kita harus bagaimana? Menikahnya kita kan bisa tertunda?” ucap Bayu memelas.
“He…, he…, kak jangan ambil hati sikapnya kak Akmal! Paling-paling tidak serius,” ucap Tiara menyakinkan Bayu dan Inge.
__ADS_1
“Iya nich bos? Benarkah? Semoga si bos cuman bercanda jadi kita siap nikah bulan depan setelah si bos!” ucap Bayu yang tiba-tiba memegang tangan Inge. Inge yang kaget mukanya memerah menahan malu sehingga Tiara dan Akmal hanya tersenyum simpul melihat ulah mereka berdua.
Terimakasih para pembaca yang setia, atas kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya. Ikuti keseruannya ya?