
Mama Ratna yang duduk di sofa tiba-tiba memeluk Vino dan menangis tersedu-sedu. Vino yang tidak mengerti hanya bisa membiarkan mama Ratna memeluknya. Anehnya Vino juga merasa nyaman.
“Tante kenapa?” tanya Vino penasaran.
“Tante teringat putera tante yang dulu aku tinggalkan yang mungkin seumuran dengan kamu?” ucap mama Ratna terus memeluk Vino.
“Bisakah kamu menjadi pengganti putra tante yang dulu tante tinggalkan?” tanya mama Ratna kepada Vino.
“Bukankah putra tante Akmal?” tanya Vino semakin tidak mengerti dengan pernyataan mama Ratna.
“Dari pernikahan sebelumnya nak! Dulu aku takut miskin meninggalkan suami dan putraku untuk menikah lagi dan terlahirlah Akmal. Namun aku yang tidak pernah merasa puas dengan kekayaan papanya Akmal aku pun pergi meninggalkan mereka dan menikah dengan pengusaha Amerika dan tinggal di Amerika dan memiliki satu putri,” ucap mama Ratna yang secara tidak langsung menceritakan kisahnya. Vino pun tidak merasa kalau dirinya merupakan bagian dari kisah mama Ratna.
“Sudahlah tante. Tante jangan menangis, aku jadi sakit kalau tante menangis,” ucap Vino yang kemudian menyodorkan air minum yang dibawa oleh bibi.
“Mama Ratna kemudian menghapus air matanya dan duduk bersama Vino. Vino yang lapar akhirnya meminta mama Ratna untuk makan bersamanya. Papa Abas yang mengetahui ulah anaknya hanya memandang Ratna dengan sinis seolah tidak terima dengan perilaku mama Ratna.
“Papa ayo makan sekalian?” ajak Vino kepada papanya.
“Maaf nak, papa hari ini ada acara meeting dengan teman papa,” ucap papa Abas yang berlalu meninggalkan mereka berdua dan buru-buru keluar rumah. Vino hanya memandangi kepergian papanya dengan perasaan yang tidak menentu.
“Maaf kan sikap papa tante, papa memang seperti itu kalau menghadapi seorang perempuan. Papa punya kenangan pahit dengan mamaku,” ucap Vino yang menghela nafasnya. Mama Ratna terasa sakit dengan ucapan Vino karena sesungguhnya mamanya berada di depannya.
Setelah makan, mama Ratna dan Vino ngobrol tentang banyak hal bahkan mereka cocok satu sama lainnya.
“Tante, maaf aku mau kembali ke kantor. Apakah tante mau aku antar pulang?” tanya Vino kepada mama Ratna.
__ADS_1
“Baiklah aku akan pulang bersama kamu saja!” ucap mama Ratna yang seolah telah mendapatkan angin segar bersama putranya yang sekian tahun telah ia lupakan. Mama Ratna sebenarnya sudah lama mencarinya tapi tidak pernah menemukannya.
Vino berusaha membimbing mama Ratna menuju mobilnya. Mama Ratna duduk di depan di samping Vino.
“Tante. tinggalnya di rumah Akmal atau…,” Vino tidak melanjutkan perkataannya.
“Di apartemen nak!” ucap mama Ratna yang sibuk menunjukkan jalan menuju apartemen.
Setelah sampai Vino pun mengantar mama Ratna masuk ke apartemen. Vino memapah mama Ratna untuk masuk ke dalam apartemen.
“Tante, sudah dulu ya? Aku mau ke kantor!” ucap Vino yang terus membalikan tubuhnya kembali ke parkiran. Vino yang janji ada pertemuan dengan klien langsung tancap gas menuju kantornya.
Setelah sampai kantor Vino hendak turun dari mobil namun tiba-tiba matanya menangkap file kuning yang tergeletak di bangku yang tadi diduduki mama Ratna.
“Astaga apa ini? Jangan-jangan file pentingnya tante Ratna!” gumam Vino lirih sambil membuka map file tersebut.
Vino karena waktunya mendesak akhirnya bergegas pergi menuju ke kantornya. Vino langsung menuju ruang rapat. Disana sudah ada kliennya yang menunggu. Vino dibantu Arya memimpin rapatnya dengan baik. Rapat tidak terlalu lama karena memang semua yang dipresentasikan disetujui oleh klien.
Akhirnya klien menandatangani hasil rapat tersebut yang dituangkan dalam bentuk kontrak kerja. Setelah kliennya pulang, Vino meminta Arya datang ke ruangannya.
“Arya, ayo kita ke ruangan aku. Aku ingin menceritakan sesuatu!” ucap Vino kepada asistennya. Mereka pun akhirnya pergi keruangan Vino. Vino duduk berhadapan dengan Arya. Vino menceritakan awal bertemunya mama Ratna di rumahnya serta file yang dimiliki mama Ratna yang tertinggal di kursi mobilnya.
“Wah ini bakal seru ya. Jangan-jangan kamu putra pertama dari suami pertamanya mama Ratna! dan suami pertama mama Ratna itu papa kamu,” ucap Arya tiba-tiba yang sangat mengejutkan Vino. Kalau itu benar merupakan kebenaran yang menyakitkan untuk Vino. Vino harus bersaudara dengan Akmal yang akan menjadi suami Tiara yang sekarang dia cintai.
“Ah…, tidak mungkin! Aku tidak mungkin bersaudara seibu dengan Akmal!” ucapnya sambil menjambak rambutnya sendiri.
__ADS_1
“Eh…, tunggu dulu kalau aku amati kalian benar-benar ada kemiripan lo?” ucap Arya semakin membuat Vino bertambah kesal.
“Sudahlah tidak apa-apa kamu terima saja takdir tuhan. Mama Ratna kan tajir dan cantik, pantas kok jadi mama kamu,” ucap Arya semakin membuat Vino tambah frustasi.
Vino memang dari kecil tidak mengetahui mamanya karena menurut cerita sejak umur 2 tahun mamanya meninggalkannya. Dan papanya tidak menceritakan apapun tentang mamanya.
Vino sendiri sangat merindukan mamanya tapi tidak dengan pertemuan seperti ini. Dimana posisinya serba salah karena harus bersaudara dengan Akmal. Vino kembali ke masa lalu dimana dirinya harus bersaing mendapatkan kursi kepemimpinan dalam perusahaan dan juga bersaing mendapatkan Tiara.
“Sudahlah pak Vino tanyakan saja kepada papa pak Vino! Biar pak Vino tahu kebenaran yang sesungguhnya,” ucap Arya yang masuk akal juga.
“Baiklah, ayo kamu yang pegang kemudi. Kita cari tahu ke rumah papa! Paling papa juga sudah pulang!” kata Vino sambil menyerahkan kunci mobil ke Arya.
Arya langsung mengambilnya dan mereka tidak berapa lama sudah berada di jalanan menuju rumah Vino.
“Pak Vino kalau itu benar, kira-kira apa yang bapak lakukan? Bisakah bapak mengakui mama pak Vino yang telah meninggalkan pak Vino sekian tahun?” tanya Arya penasaran.
“Entahlah, kalau itu benar adanya. Aku juga tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku senang kalau mama Ratna jadi mama aku. Tapi aku juga sedih kalau mengingat mama Ratna telah menelantarkanku hanya karena harta kekayaan.
Mama Ratna dulu menelantarkan aku yang baru dilahirkan hanya untuk laki-laki kaya seperti papanya Akmal. Tapi mama Ratna yang materialistik merasa tidak pernah puas karena menurutnya masih kurang hingga kecantol bule Amerika. Nasib Akmal tidak jauh beda dengan aku tapi Akmal masih diberi cinta hingga dia sekolah di SMP.
“Sudahlah bos. Kau terima saja. Kita harus pandai bersyukur atas nikmat dan karunia Allah. Mungkin ini yang dikatakan takdir Allah,” ucap Arya kepada bosnya.
“Jangan membuat aku panas ya? Awas kalau meledak bisa-bisa kamu hancur, aku pukuli!” ucap Vino mengancam Arya.
“Sudahlah bos buat santai saja! Anggap ini bonus untukmu bos. Dapat mama cantik dan adik yang rivalnya sendiri,” ucap Arya lagi hingga membuat Akmal ingin meninju mulutnya yang bawel itu.
__ADS_1
Terimakasih para pembaca yang setia, atas kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya. Ikuti keseruannya ya?