
Hubungan Tiara dengan Akmal sudah sampai ke telinga pak Anggoro. Pak Anggoro meminta Akmal untuk membawa calon menantunya ke rumahnya.
“Nak, kamu sudah serius dengan Tiara, bawalah Tiara ke sini! Papa ingin bertemu dengannya! nya” ucap papa Anggoro kepada putranya.
“Siap pa…, tapi tidak sekarang ya? Aku masih sibuk pa, hari ini klein aku menuntut untuk mengadakan rapat karena ada proyek yang bermasalah,” ucap Akmal yang masih mengerjakan beberapa berkas di ruang kerjanya.
“Iya terserah kamu saja! Papa sebenarnya tidak urgen sih, karena papa juga sudah tahu dan mengenal Tiara. Tapi mama kamu hari ini memaksanya ingin bertemu dengan Tiara,” ucap papa Anggoro yang tiba-tiba membahas mamanya.
“Mama? Bukankah mama selama ini tidak peduli dengan aku? Kenapa sekarang terkesan peduli banget dengan hidup aku pa?” tanya Akmal penasaran.
“Papa juga tidak mengerti nak! Mama kamu terlihat menyembunyikan sesuatu, papa sendiri tidak yakin dengan mamamu!” ucap pak Anggoro menghela nafasnya.
“Mama kamu orangnya aneh nak, sejak dulu selalu bikin masalah hingga akhirnya kita berdua memutuskan untuk pisah,” ucap papa Anggoro menghela nafasnya panjang.
“Ya sudah pa, kita abaikan mama saja! Aku tidak ingin nanti hanya gara-gara mama semua urusan menjadi berantakan!” ucap Akmal sambil terus mengerjakan pekerjaan kantornya.
“Iya…, aku juga sependapat seperti itu nak! Kalau papa itu yang terpenting kebahagiaan kamu!” ucap papa Anggoro kepada putra tunggalnya.
“Kapan mama kesini pa?” tanya Akmal sambil menghentikan pekerjaannya untuk sesat.
“Nanti sore. Mama dari bandara langsung kesini!” ucap papa Anggoro menyakinkan putranya.
“Ya sudah kalau begitu nanti aku jemput Tiara!” ucap Akmal dan terus mengerjakan tugasnya.
“Nak…, bagaimana urusan kantor? Apakah semuanya bisa dikendalikan?” tanya papa Anggoro penasaran.
“ Semuanya bisa dikendalikan, termasuk anak buah dari Vino. Bahkan beberapa di antaranya sudah menyerah dan menjadi mata-mata dari pihak kita!” ucap Akmal serius.
“Iya nak! Meskipun begitu kamu harus hati-hati. Anak buah papa memberi laporan kalau kasusmu yang tersesat di hutan kemarin kemungkinan ulah Vino. Namun sayang Tiara juga masuk perangkatnya sehingga yang awal mulanya ingin menjebak kamu ternyata Tiara juga ikut terjebak dalam permainannya. Jadi papa minta kamu harus tetap hati-hati!” ucap papa Anggoro kepada putranya.
__ADS_1
“Siap pa!” ucap Akmal membereskan berkas-berkasnya kemudian bersiap untuk mandi. Setelah semuanya siap Akmal langsung pergi ke kantor dengan mengemudi sendiri karena setelah pulang dari kantor Akmal berniat menjemput Tiara sekalian untuk makan malam di rumahnya bersama mamanya.
Begitu sampai di kantor Akmal memanggil Inge untuk mencarikan gaun yang terbaik untuk Tiara.
“Inge tolong nanti kamu pergi ke butik bersama Bayu, gaun warna biru untuk kau kirim ke tempat Tiara!” perintah Akmal kepada Inge.
“Bay…, tolong kau antarkan Inge ya? Jangan lupa langsung kirim ke tempat Tiara! Dan sampaikan kalau nanti pulang kerja aku akan menjemputnya!” ucap Akmal tegas memberi penekanan ulang agar mereka mengingatnya.
“Siap…, sekalian aku izin membawa Inge makan siang pak!” bisik Bayu memohon kepada akmal yang sudah seperti saudara kandungnya.
“Iya…, terserah kamu sajalah, yang terpenting baju Tiara nanti sore sudah bisa dipakai,” jawab Akmal tegas.
“Baik pak, kami akan segera pergi!” ucap Bayu langsung menggandeng Inge. Inge pun pasrah karena dirinya tidak mungkin menolak dan mempermalukan Bayu. Begitu sampai di luar, Ige menghela nafasnya dan menghentakan tangannya Bayu.
“Kakak kesempatan ya? Bergerak karena adanya kesempatan dan menyempitkan sehingga aku tidak bisa menolaknya!” gerutu Tiara terhadap Bayu.
“Iya dong kesempatan, pasti kamu juga mau kan?” goda Bayu sengaja ingin memastikan isi hati Inge untuknya. Inge wajahnya semakin berubah merona kemerah-merahan, sedangkan Bayu hanya cengar-cengir saja.
“Kak…, kamu mau ngapain? Kamu jangan macam-macam ya?” teriak Inge terkejut.
“Klik…! Sabuk pengamannya dipakai ya sayang?” goda Bayu sengaja memanggilnya sayang. Wajah Inge semakin merah merona karena menahan malu. Kemudian Inge membuang mukanya mengarah ke jendela.
“Lain kali bilang permisi kenapa!” ucap Inge.
“Kelamaan ya? Lagian kamu sih punya otak kok kotor banget!” ucap Bayu sambil menyalakan kendaraannya kemudian meluncur menuju butik keluarga Akmal.
Setelah beberapa saat mereka berada di jalanan akhirnya sampai di tempat yang dituju.
“Permisi mbak, kami disuruh pak Akmal mengambil baju yang dipesan tadi oleh beliau lewat ponsel!” ucap Inge memberitahu pelayan butik.
__ADS_1
“O…, pak Akmal! Iya sudah kami siapkan beberapa. Silahkan mbak sama bapak untuk ke belakang!” ucap pelayan itu ramah dan mengantarnya ke belakang.
Inge nampak bingung memilih setelah tahu beberapa baju warna biru dipajang di belakang nampak bagus.
“Wah bagus banget! Menurut aku, ini yang paling bagus!” bisiknya lirih sambil memegang baju yang warna biru kesukaan Tiara.
“Wah…, bener-bener pak Akmal tahu selera seorang perempuan,” ucap Inge memuji pak Akmal.
“Astaga sayang…, di samping kamu itu masih ada aku laki-laki yang mencintaimu, tapi malah memuji orang lain!” ucap Bayu kesal
“Kan memang benar pak Akmal tahu selera wanita yang dicintainya! Dan ini memang selera Tiara banget! Mbak tolong dibungkus yang rapi ya” ucap Inge sambil ngeloyor pergi ke sofa untuk duduk .
Sedangkan pelayan butik bergegas membungkus gaun tersebut dengan sepatunya sekalian. Setelah selesai, Bayu melakukan pembayaran dan kembali mengendarai mobilnya menuju rumah Tiara.
Sementara itu Tiara di rumah sedang nonton televisi bersama mamanya. Mereka berdua pun ngobrol bahas masa depan Tiara.
“Nak, kalau kamu memang sudah mantap dengan nak Akmal, lebih baik segera menikah saja! Mama sudah tua nak, mama ingin segera menimang cucu!” ucap mama Dewi sambil mengusap-usap rambut Tiara.
“Ma…, kalau aku terserah kak Akmal saja! Kalau kak Akmal memang mengendaki nikah bulan depan bahkan minggu depan, Tiara siap!” ucap Tiara lirih.
“Bagus sayang! Itu baru anak mama!” ucap mama Dewi girang karena Tiara benar-benar sudah memantapkan pilihannya. Mama Dewi bersyukur karena Tiara bisa move on dari Vino yang menurutnya merupakan lelaki yang tidak bertanggung jawab.
Bagi mama Dewi maupun papa Roy sangat setuju jika Tiara menikah dengan Akmal. Menurutnya Akmal merupakan menantu idaman yang bisa membimbing dan mengarahkan Tiara menjadi manusia yang lebih baik lagi.
Mereka berdua bercanda satu sama lainnya, dan tak beberapa lama kemudian papa Roy keluar dari ruang kerjanya dan ikut bergabung dengan mereka.
“Wah…, ada yang lagi senang nich?” tanya papa Roy ingin tahu.
“Iya nich pa! Sebentar lagi putri kita akan menikah,” jelas mama Dewi kepada suaminya.
__ADS_1
“Bagus itu sayang? Papa akan selalu mendukung kamu kok!” ucap papa Roy langsung duduk di hadapan mereka berdua. Papa Roy merebahkan tubuhnya ke pangkuan istri tercintanya hingga terlelap tidur.
Terimakasih para pembaca yang setia, atas kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya. Ikuti keseruannya ya?