
Sejak kejadian dimana Tiara merasa dibohongi oleh Vino yang ternyata Naira diputuskan sepihak oleh vino dan membuat hati Naira terluka membuat kegalauan hati Tiara yang tidak menentu. Tiara merasa dirinya dipermainkan oleh Vino meskipun tujuan awalnya untuk membuat Vino bertekuk lutut terhadapnya berhasil.
Tiara yang merasa bimbang memutuskan untuk menghilang dari kotanya dan menetap di desa kelahiran orang tuanya. Tiara yang merasa nyaman di desa memutuskan untuk membantu tantenya membangun usaha home industri kerajinan kulit.
Tiara menghela nafasnya panjang ketika mama dan papanya harus meninggalkan dirinya di desa kelahiran mamanya.
“Sudahlah mama dan papa jangan kuatir, aku akan baik-baik saja! Tolong surat pengunduran diriku ini berikanlah kepada Inge. Dan Tiara mohon mama dan papa jangan membocorkan kalau aku berada di sini! Aku ingin menenangkan diriku ma…, aku tidak ingin kebimbangan hatiku nanti bisa berpengaruh fatal terhadap hidupku nanti!” ucap Tiara sambil memeluk mamanya.
Mama Dewi kelihatan bersedih sekali karena putri satu-satunya harus berpisah dengannya.
“Dik, aku titip ?Tiara ya? Tolong jaga dia baik-baik! Dan tolong bimbing dia jangan sampai dirinya nanti menyesal seumur hidupnya. Aku yakin sebenarnya dirinya itu sudah menetapkan hatinya namun masih goyah sedikit karena dendam masa lalunya!” ucap mama Dewi kepada adiknya.
“Baik kak! Aku yakin nanti setelah ditempa disini semuanya kan baik-baik saja!” ucap tante Indah yang sesungguhnya merasa senang dengan keberadaan Tiara.
Setelah acara pamitan mama Dewi dan papa Roy pergi meninggalkan Tiara.
“Tiara…, ayo ikut tante! Tante senang kamu berada di sini, tante akan tunjukan sesuatu kepadamu!” ucap tante Indah dan langsung memberikan kunci mobilnya kepada Tiara.
“Apaan sih tante? Keponakan baru datang eh sudah diajak keluar dan suruh pegang kemudi. Capek tante?” ucap Tiara sambil berjalan gontai menuju garasi.
“Kau itu biasanya tidak mengenal capek gitu lo!” ucap tante Indah dan langsung naik di samping Tiara.
Tidak berapa lama kemudian tante memberikan alamat tempat pengrajin kulitnya. Dan mereka pun langsung menuju lokasi.
“Wah keren tante, ini yang dulu dihadiri papa dan mama waktu launching ya? Wah kalau tahu begini Tiara kerja di sini saja membantu tante,” ucap Tiara girang.
“La itu baru tante akan omongin ke kamu ternyata kamu sudah berminat duluan! Bagus itu, jadi tante tidak merekrut staf dari orang lain. Dan lagian papa dan mama kamu juga ikut andil besar lo atas berdirinya usaha ini!” ucap tante Indah senang.
__ADS_1
“Tante…, Tiara pokoknya siap membantu kalau perlu Tiara akan menetap di sini tante!” ucap Tiara dengan raut muka agak bersedih.
“Sudahlah jangan bersedih, tante yakin kau akan menemukan jodoh yang terbaik untukmu!” ucap tante Indah yang mengusap rambut Tiara.
“Iya terima kasih tante!” ucap Tiara yang berada disamping tante Indah. Kemudian tante Indah mengajak Tiara berkeliling pabriknya dan mengenalkannya ke beberapa orang kepercayaannya.
“Deni…, sini! Kenalkan ini keponakan aku yang akan membantu usaha kita!” ucap tante Indah kepada kepercayaannya.
“Deni! Wah tante ternyata punya keponakan secantik ini ya? Boleh dong kita mengenal lebih dekat?” ucap Deni sambil memandang takjub ke arah Tiara bahkan matanya tanpa kedip memandang Tiara.
“Kagum ya kagum tapi jangan ngiler!” seloroh tante Indah sengaja menggoda mereka berdua.
“Eh…, gak begitu tante. Memang mbak Tiara disini cantiknya tidak pakai banget deh!” ucap Deni semakin berani memuji kecantikan Tiara.
“Tiara seperti ini banyak perjuangannya lo? Dulu dia jauh dari standar kata cantik lo?” seloroh tante sengaja mengungkapkan kebenarannya.
“Realy? Aku kok gak percaya tante?” ucap Deni yang terus memandangi Tiara sementara Tiara semakin risih sehingga pelan-pelan menundukan kepalanya.
“Gila wajahnya yang cantik mempesona pasti membuat semua pria yang berada di dekatnya tergila-gila dong. Sudah punya pacar belum ya?” gumam Deni dan langsung kembali bekerja lagi.
Sementara itu tante Indah ngajak Tiara ke ruangannya dan menunjukan suatu ruang khusus yang diberikan untuk Tiara.
“Tiara ini raungan untuk kamu. Disini kamu berhak menegur dan mengarahkan karyawan yang bekerja di sini. Tante akan bekerja di balik layar saja!” ucap tante Indah sambil menunjukan beberapa berkas yang harus mereka tanda tangani selaku pemimpin usaha.
“Wah tante ini serius ya? Apa tante tidak menyesal? Aku kan bukan siapa-siapa tante? Aku dalam berbisnis masih kalah jauh dengan tante.
“Siapa bilang? Justru tante yakin kamu bisa mengembangkan usaha ini dan bisa meningkatkan income,” ucap tante Indah.
__ADS_1
Setelah pengenalan usahanya selesai mereka berdua kembali ke rumah tante Indah. Disaat Tiara berjalan memasuki rumah tiba-tiba ponselnya berbunyi, Tiara langsung mengangkat ponselnya.
“Siang sayang, surat dari kamu sudah aku sampaikan ke pak Akmal. Dan menurutku kamu perlu kamu tahu kalau pak Akmal hari ini hobinya marah-marah. Itu semua karena dirimu!” cerocos Inge dari ponselnya.
“Biarkan saja! Aku rasa pak Akmal akan segera mendapatkan penggantinya. Pak Akmal banyak relasi, percayalah minggu depan paling lama pasti sudah ada penggantinya,” balas Tiara namun prakiraannya dijamin salah oleh Inge.
“Pengganti? Pengganti apaan? Aku jamin tidak bakalan pak Akmal mengganti posisi kamu!” ucap Inge serius.
“Masa sih? Kalau memang seperti itu kenapa dia tidak menghubungi aku?” ucap Tiara merasa tidak bersalah.
“Pak Akmal sudah menghubungi kamu non tapi nomornya kamu blokir, jadi pak Akmal seharian nampak kesal dan memarahi semua karyawan,” ucap Inge kembali memberi informasi.
“Up…, iya. Aku kok lupa. Tapi biarlah semua untuk pembelajaran baginya agar tidak kepo terhadap karyawan dan staf nya,” ucap Tiara santai sambil rebahan di sofa.
“Tiara…, Taira kamu itu aneh banyak orang ingin diperhatikan dan di telpon pak Akmal lo? Giliran kamu di teleponnya malah mengabaikannya,” ucap Inge sekali lagi mengingat kan Tiara.
“Bodo amat, pokoknya aku ingin menenangkan diri dulu di sini. Inge …, kalau kamu mau kesini boleh kok! Disini banyak pemandangan bagus lo? Tapi kamu jangan mengajak pak akmal ataupun pak Bayu ya?” ucap Tiara santai.
“Siap…, nanti kamu share lokasinya aku akan kesana besok yang kebetulan libur 2 hari!” ucap Inge merespon langsung permintaan Tiara.
“Ok…, aku tunggu kamu lo? Jangan lupa kalau kesini bawa makanan yang banyak ya?” ucap Tiara yang sudah mulai melupakan masalahnya.
“Ok…, aku siap banget tapi jangan lupa nanti diganti mentahannya ya?” ucap Inge balik menggodanya.
“Beres! Pokoknya sama aku. Bahkan semua yang kamu minta akan aku berikan!” ucap Tiara dari balik ponselnya.
“Mantap tuh…! kalau begitu aku minta perhatiannya pak Akmal ya?” goda Inge kepada sahabatnya kemudian diikuti suara tertawa mereka berdua.
__ADS_1
Begitulah keakraban mereka berdua, dimanapun tempatnya mereka berdua selalu ngakak.
Terimakasih para pembaca yang setia, atas kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya. Ikuti keseruannya ya?