Si Buruk Rupa Mengejar Cinta

Si Buruk Rupa Mengejar Cinta
Hasil Penyelidikan


__ADS_3

Mama Ratna masih pemulihan, suami dan putrinya yang di Amerika tidak bisa hadir. Mama Ratna sangat kesepian karena sudah 2 hari Akmal tidak tidur di apartemennya. Mama Ratna kemudian menghubungi orang yang disuruh menyelidiki tentang Vino.


“Tut…, tut…,” suara ponselnya berbunyi dan tidak lama kemudian diangkat oleh seseorang.


“Iya nyonya, untuk hasi sudah kami kantongi. Ini masih ada beberapa data yang harus dicek ulang kebenarannya. Kita paling lama 3 jam lagi meluncur ke apartemen,” jawab seseorang yang ada di seberang.


“Baik, aku tunggu hasilnya. Secepatnya lebih baik. Aku tidak ingin rasa penasaran aku berakhir sia-sia!” ucap mama Ratna mempertegas kepada suruhannya.


“Baik, akan kami laksanakan!” ucap seseorang yang ada di seberang sana. Mama Ratna akhirnya mematikan ponselnya.


Mama Ratna yang tidak ada kesibukan berusaha menghubungi Abas lewat ponselnya yang kemarin diberi oleh orang suruhannya namun tidak kunjung diangkat oleh Abas.


Mama Ratna menghela nafasnya dalam-dalam.


“Awas kau Abas, kalau terbukti Vino putraku aku akan berusaha merebutnya dari mu!” gumam mama Ratna sendirian.


“Maaf nyonya, sarapannya ditaruh dimana? Ini sudah saya ambilkan!” ucap pembantunya yang mengejutkannya hingga membuyarkan lamunannya.


“Taruh situ saja bik! Aku belum mau makan!” ucap mama Ratna yang masih nonton acara televisi kesukaannya.


Hari menjelang siang, dan tak lama kemudian ada tamu. Bibi pengurus apartemen membukakan pintu dan membawanya menghadap mama Ratna.


“Nyonya ada tamu,” kata bibi kepada mama Ratna.


“Iya bi, tolong tinggalkan kita di sini!” jawab mama Ratna yang kemudian mematikan televisinya.


“Bagaimana pak?” tanya mama Ratna setelah bibi pergi.


“Bukti sudah jelas nyonya. Vino itu ya Alvino putra nyonya bersama tuan Abas,” ucap orang tersebut pada mama Ratna sambil mengeluarkan bukti hasil penyelidikan yang dimasukan dalam file.

__ADS_1


“Terimakasih pak! Berkat anda semuanya jadi jelas. Ini upah untuk bapak dan rekan bapak!” ucap mama Ratna sambil mengeluarkan segepok uang sebagai tanda terimakasih.


“Sama-sama nyonya. Semua hal tentang pak Vino sudah aku tuliskan di situ! Kalau kurang jelas nyonya bisa menghubungi aku!” jawab pria itu dan langsung pamitan ke luar apartemen.


“Iya, sekali lagi terimakasih!” ucap mama Ratna sambil membuka lembar demi lembar data tentang Vino. Di dalamnya juga ada foto perkembangan Vino dari kecil hingga dewasa.


“Maafkan, aku Vino. Mama melakukannya terpaksa, mama tidak ingin hidup menderita bersama papa kamu yang waktu itu usahanya bangkrut,” gumam mama Ratna lirih, setetes air matanya jatuh mengenai foto Vino. Mama Ratna pelan-pelan menghapusnya hingga membuat gambar putranya agak kabur. Pelan-pelan mama Ratna bangkit dari duduknya mengambil kruk alat bantu untuk jalan.


“Bi…, aku pergi dulu!” ucapnya sambil tertatih-tatih berjalan keluar apartemen. Bibi yang tidak tega melihat nyonyanya langsung mengikuti ke luar.


“Tidak usah bi, aku bisa sendiri!” ucap mama Ratna kemudian naik taxi yang tadi dipesannya.


Mama Ratna kemudian mencari alamat yang dituliskan dalam file tersebut. Pak rumah gedong yang di depan itu kita berhenti.


“Baik bu, nanti kita tunggu apa tidak?” tanya sang sopir taxi sopan.


“Tidak usah, bapak tinggal saja!” jawab mama Ratna yang keluar dari dalam taxi. Mama Ratna dengan tertatih-tatih masuk ke dalam rumah gedong dan disambut oleh satpam rumah tersebut.


“Tuan Abas ada?” tanya mama Ratna kepada satpam tersebut.


“Maaf bapak tidak biasa menerima tamu yang tidak dikenal!” jawab Satpam tersebut bersikeras melarang mama Ratna untuk masuk.


“Katakan kalau Ratna ingin menemuinya! Pasti Abas mengizinkan aku masuk!” ucap mama Ratna kepada satpam tersebut.


Sang satpam kemudian menelpon pak Abas dan benar saja pak Abas mengizinkan mama Ratna masuk ke dalam.


“Silahkan nyonya, anda di tunggu di dalam!” mama Ratna kemudian masuk ke dalam rumah gedong tersebut.


“Benar-benar pekerja keras kamu Abas hingga berhasil seperti ini? Kenapa disaat kita bersama tidak kau wujudkan impian kita?” gumam mama Ratna lirih.

__ADS_1


“Eh…, akhirnya kamu datang juga ya? Kenapa menyesal ya meninggalkan diriku?” tanya Abas sombong.


“Tidak aku tidak menyesal, aku kesini hendak bertemu dengan putraku. Aku sudah tahu semuanya tentang putra kita?” ucap mama Ratna ingin mencari kebenaran. Mama Ratna celingukan berharap ada seseorang yang muncul di hadapannya dan menyebutnya mama.


“Eh…, apa kamu bilang! Meskipun kau tahu aku tidak akan memberitahunya kalau kau mamanya. Vino sudah bahagia hanya memiliki aku doang,” ucap papa Abas meluap-luap penuh emosi.


“Please Abas janganlah kau siksa aku! Tolong pertemukan aku dengan putra kita. Aku ingin menebus kesalahan aku. Aku sudah tahu segalanya. Vino itu Alvino kan putra kecil kita? Buah cinta kita?” ucap mama Ratna memohon kepada pak Abas.


“Tidak bisa Ratna, janganlah kau usik kebahagiaannya. Baginya mamanya sudah mati meninggalkannya!” ucap papa Abas lirih sambil menghembuskan nafasnya dalam dalam.


“Aku mohon Abas! Pertemukan aku dengan putraku. Aku mohon izinkan aku menemuinya!” mama Ratna tiba-tiba membuang kruknya dan berlutut bersimpuh di depan papa Abas sambil menahan rasa nyeri di kakinya sambil menangis tersedu-sedu.


“Pulanglah dulu! Nanti akan aku usahakan pertemuanmu dengan putra kita!” ucap papa Abas agak melunak.


“Abas, aku ingin sekarang juga. Aku sudah lama merindukannya!” ucap mama Ratna ngotot.


“Kalau kamu ingin putra kita bertemu denganmu, kau pulanglah dulu. Aku butuh waktu untuk menjelaskan kepada putra kita!” ucap Abas yang memalingkan badannya meninggalkan mama Ratna.


“Abas! Tolong, aku ingin menebus dosaku terhadap putra kita!” ucap mama Ratna yang masih bersimpuh di lantai rumah papa Abas.


“Satpam! Usir wanita ini keluar dari rumahku!” perintah papa Abas kepada satpam rumahnya. dan benar saja satpam yang berada di rumahnya langsung menghampiri Ratna.


“Tidak perlu kasar. Aku akan pergi dari sini!” ucap mama Ratna mulai bangkit dan pelan-pelan ke luar rumah tersebut. Mama Ratna dengan tertatih-tatih pergi meninggalkan rumah tersebut.


Baru beberapa langkah keluar rumah papa Abas tiba-tiba masuk mobil sport yang dikendarai oleh Vino. Mama Ratna sengaja menunggu kedatangan Vino, dengan pelan ia berharap dapat simpati dari Vino. Dan benar saja setelah turun dari mobilnya Vino buru-buru menghampirinya.


“Tante kenapa? Apa yang membuat tante datang kesini?” tanya Vino yang langsung menuntun mama Ratna masuk kembali. Sementara itu papa Abas tidak bisa berbuat apa-apa karena kalau dilarang pasti Vino akan menunjukan kesalahannya. Papa Abas dengan pelan dan pasti langsung menuju ke kamarnya karena tidak ingin bertemu dengan mama Ratna lagi.


“Ayo tante, silahkan duduk! Bi…, tolong ambilkan minum untuk tante!” perintah Vino kepada asisten rumah tangganya.

__ADS_1


“Baik tuan,” ucap pembantu tersebut dan tidak lama kemudian sudah membawa minuman untuk mama Ratna. Mama Ratna dengan pelan meminum air yang diberikan oleh asisten rumah tangga Vino.


Terimakasih para pembaca yang setia, atas kontribusi anda dalam memberikan komentar,  like, hadiah dan votenya. Ikuti keseruannya ya?


__ADS_2