
Bayu yang sudah sampai di lokasi sangat mengkhawatirkan nasib Akmal dan Tiara.
“Inge…, bagaimana ini? Bukankah tadi Akmal dan Tiara berada tidak jauh dari kita?” tanya Bayu cemas. Bayu mau bagaimanapun dia sama pak Anggoro disuruh menjaga Akmal.
“Tahu…, tadi pak Akmal menyuruhku meninggalkan Tiara karena pak Bayu ingin menunggunya dan akan menjaga Tiara,” ucap Inge bingung celingukan mencari Tiara.
“Kita tunggu saja nanti perkembangannya bagaimana! Kita besok pagi sudah kembali ke lokasi awal,” ucap Bayu sambil sesekali berusaha menghubungi Akmal namun ponselnya tidak bisa dihubungi. Bayu kemudian berusaha menghubungi instruktur pendakian ukit tersebut. Dan dari mereka Bayu juga tidak mendapatkan jawaban yang pasti.
Sementara itu di pos ke 2 Akmal masih menunggu Tiara yang ke kamar kecil. Benar-benar merepotkan saja, masa di tengah hutan begini buang air kecil, untung ada posnya dan menyediakan kamar kecil,” ucap Akmal yang masih duduk menunggu Tiara di luar. Karena lama tidak kelar-kelar Akmal menghampiri Tiara.
“Tiara ayo cepetan, kita sudah ketinggalan dari rombongan,” ucap Akmal sambil mengetuk pintu kamar kecil tersebut.
“Iya pak! Bawel banget ya?” ucap Tiara begitu keluar dari kamar mandi.
“Ayo…, jangan lupa pegang tanganku! Ingat disini hutan banyak hewan liar yang haus, aku tidak ingin kau diterkam serigala ataupun harimau!” ucap Akma menakut-nakuti Tiara.
“Astaga pak, kamu jangan lebay! Ayo kita pergi melanjutkan perjalanan!” mereka berdua dengan percaya diri menyusul teman-temannya namun di belokan jalan mereka bingung melihat arah jalan yang terbagi menjadi dua antara ke kanan atau ke kiri.
“Pak…, bagaimana ini?” tanya Tiara yang terlihat cemas karena petunjuk jalannya gak ada.
“Coba cari di sekelilingnya, siapa tahu ada petunjuk!”
“Itu pak ada tanda panah merah menunjukan ke kanan area finishing tempat melihat sunsetnya!” teriak Tiara begitu melihat petunjuk arahnya.
“Berarti kita ke kiri nih,” ucap Akmal begitu tahu petunjuk arahnya ke kiri.
“Iya…, ayo pak!” ucap Tiara yang semangat karena ingin melihat keindahan sunset di puncak bukit. Mereka berdua berjalan dengan penuh semangat karena di san infonya juga da telaga yang airnya sangat jernih. Bahkan renacananya ada beberapa orang hendak membuat tenda di pinggir telaga.
__ADS_1
“Pak…, aku takut!” Tiara tiba-tiba berpegangan tangannya Akmal.
“Apa yang kamu takutkan? Kamu ka pergi sama bos kamu yang tampan dan perkasa ini?” ucap Akmal bercanda.
“Takut tersesat! Lihatlah kita dari tadi kita berjalan tapi tidak menemukan teman-teman kita,” ucap Tiara semakin cemas dan Akmal baru menyadarinya dan berusaha menghubungi Bayu namun tidak bisa karena ponselnya mati.
“Sudahlah! Kamu jangan membuat aku panik,” ucap Akmal yang melihat di sekelilingnya tidak ada orang dan hari mulai gelap dan tiba-tiba suasana menjadi mendung hujanpun mulai turun.
Bayu dan rombongan mulai turun dari bukit karena suasana yang tidak mendukung. Dan beserta rombongan menginap di villa terdekat. Sementara itu Inge mengingatkan Bayu untuk menghubungi pak Akmal dan Tiara namun tidak bisa terhubung.
Bayu memutuskan meminta pertolongan panitia karena situasi yang tidak memungkinkan akhirnya menghubungi tim SAR.
Hujan sangat deras disertai angin kencang dan ada beberapa pohon tumbang.
“Pak Bayu bagaimana ini? Apa yang harus kita lakukan?” tanya Inge cemas.
“Pak Vino dan pak Arya mari kita cari pak Akmal dan Tiara!” ucap Bayu ketika tahu mereka berdua mendekati dirinya.
“Kelihatannya mereka berdua tersesat!” ucap Bayu dan ditambahkan keterangan dari panitia penyelenggara.
“Wah ini ya kalian benar-benar harus diberi pelajaran dan dituntut karena kelalaian kalian bos kita dan salah satu karyawan terbaik kita tersesat di tengah hutan,” ucap Vino marah besar karena berusaha menutup-nutupi kesalahannya.
“Maaf pak sebenarnya kami ada CCTV namun setelah kami cek sudah rusak! Namun kami akan bertanggung jawab mencarinya,” ucap pengelola tempat wisata tersebut.
“Ok, aku tunggu kalian. Kalau dalam waktu 24 jam mereka tidak ketemu kalian akan aku tuntut secara hukum!” ancam Vino untuk menutup-nutupi kesalahannya.
“Baik pak! Mari kita berangkat mencarinya!” ucap ketua panitia penyelenggara memberi komando. Begitulah akhirnya rombongan dibagi menjadi 3 kelompok berbeda Vino dengan Arya dan Bayu beserta salah satu stafnya serta satu ketua penyelenggara dengan tim Sar.
__ADS_1
Sementara itu yang berada di hutan berusaha mencari jalan setapak namun tidak kunjung menemukannya. Mereka berdua malah menemukan satu gubuk yang lumayan bisa untuk berteduh.
“Ayo kita berteduh disini saja, kita bisa mencari jalan pulang kalau sudah terang. Menunggu pagi hari,” ucap Akmal sambil menggandeng Tiara yang mulai kedinginan karena bajunya basah semua.
“Pak aku takut! Aku ingin pulang,” ucapnya sambil menggigil kedinginan.
“Tiara kamu jangan kayak anak kecil. Percayalah padaku! Sini Aku akan mencoba membuat api unggun sebisa mungkin agar kita tidak kedinginan!” ucap Akmal berusaha tidak panik.
Akmal mengambil beberapa ranting yang ada di belakang gubuk kemudian membakarnya dengan korek yang kebetulan dia membawanya. Dan tidak lama kemudian Akmal melepaskan jaketnya yang agak basah. Sedangkan kaosnya yang masih kering dilepasnya pula untuk diberikan kepada Tiara yang bajunya basah. Akmal hanya ,egenakan kaos dalam saja.
“Gantilah bajumu yang basah ini dengan bajuku! Jangan sampai kamu sakit Tiara! Aku kuatir dengan kondisi tubuhmu!” ucap Akmal dan kemudian membongkar rangselnya dan menemukan sepotong roti untuk diberikan kepada Tiara.
“Terimakasih pak!” ucap Tiara sambil membawa kaos milik pak Akmal di tangannya.
“Astaga! Ayo segera lepas baju kamu dan pakailah!” perintah Akmal melototi Tiara.
“Iya! Tapi bapak berpalinglah menghadap ke belakang,” ucap Tiara yang kemudian setelah tahu ada pergerakan dari pak Akmal Tiara baru melepaskan bajunya dan menggantinya dengan kaos milik Akmal.
“Sudah belum Tiara?” tanya Akmal yang kelamaan menghadap ke belakang.
“Sudah pak!” ucap Tiara langsung beringsut mendekati api unggun yang dibuat oleh Akmal.
Hujan di luar tidak kunjung reda bahkan semakin deras dan petir pun juga terdengar menggelegar seolah ingin membelah bumi ibu pertiwi.
“Duar…, duer…,” petir seolah berada di atas gubuk yang mereka tempati. Seketika itu juga Tiara yang ketakutan langsung mencolot ke dalam pelukan Akmal. Akmal dengan spontan memeluknya seolah memberi perlindungan pada Tiara.
“Pak aku takut petir!” ucap Tiara.
__ADS_1
“Ha…, kamu itu lucu sekali. Kalau takut tidurlah jangan terjaga seperti itu,” ucap Akmal yang semakin memeluk erat Tiara. Akmal memanfaatkan kesempatan tersebut hingga pagi hari. Tiara pun tertidur dalam pelukan Akmal. Tiara nampak nyaman dan tertidur pulas bersama Akmal.
Terimakasih para pembaca yang setia, atas kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya. Ikuti keseruannya ya?