
Berita telah ditemukannya Akmal dan Tiara sampai di tangan Vino. Saat itu juga sebenarnya Vino berusaha mengunjungi Tiara ke rumahnya namun mama Dewi seolah-olah sengaja ingin menjauhkan Tiara dari Vino.
Vino memarkirkan kendaraannya di halaman rumah Tiara dn berjalan menuju pintu depan rumah Tiara. Begitu bel berbunyi mama Dewi keluar dan menemuinya.
“Pagi tante? Bisakah aku bertemu dengan Tiara?” tanya Vino kepada mama Dewi dengan sopan.
“Maaf Tiara baru saja keluar sama papanya!” ucap mama Dewi berbohong dengan halus agar Vino tidak menaruh curiga dengannya.
“O…, tapi kita tadi sudah janjian tante. Lewat ponselnya Tiara mengatakan kalau dirinya ada di rumah!” ucap Vino berusaha menjelaskan kepada mama Dewi.
“Lo…, dibilangin orang tua kok tidak percaya! Ya sudah kalau kamu tidak percaya!” ucap mama Dewi berusaha bersikap biasa-biasa saja meskipun sebenarnya dirinya sangat kesal dengan Vino.
“Baik tante, kalau begitu aku titip ini! Tolong diberikan sama Tiara!” ucap Vino sambil menyerahkan buah tangan dan rangkaian bunga mawar.
Mama Dewi menerimanya dan Vino pamitan untuk pulang. Setelah kepergian Vino mama Dewi memanggil sopirnya yang berada di depan dan menyerahkan semua bingkisan tersebut termasuk bunganya.
“Mang…, sini! Ini ambilah dan kamu jangan bilang sama Tiara ya!” perintah mama Dewi kepada sopirnya.
“Maaf nyonya, aku tidak berani!” ucap sang sopir karena sesungguhnya masih menghargai putri majikan nya.
“Terimalah! Aku yang bertanggung jawab. Lagian kamu mau kalau nona mu jadian sama curut itu! Dulu menyia-nyiakan putriku, tapi sekarang hendak menjadikannya pacar apalagi mau menikahinya! Aku tidak setuju, lelaki seperti itu sangat diragukan kesetiaannya!” ucap mama Dewi sehingga sopirnya pun hanya bisa pasrah dengan nyonyanya.
Mama Dewi pun segera menemui putrinya dan menjelaskan kalau Vino tadi kesini membawa oleh-oleh dan rangkaian bunga mawar tapi dai berikan ke sopirnya.
“Mama kenapa begitu? Bukankah dia datang kesini juga baik-baik?” tanya Tiara kepada mamanya.
“Ingatlah nak dulu Vino telah menghinamu! Mama tidak ingin lelaki seperti itu menjadi suamimu! Tapi untuk selanjutnya terserah kamu nak! Mama hanya memberimu wawasan supaya kamu berpikir lebih dewasa. Jangan karena ego dan balas dendammu kau ingin dia jadi pendampingmu! Itu tidak baik Tiara!” ucap mama Dewi sambil mendekati Tiara dan mengusap rambutnya selayaknya anak kecil. Dan tidak berapa lama kemudian mama Dewi pergi meninggalkan Tiara yang berada di kamarnya.
Tiara duduk termenung di kamarnya menghadap jendela. Disana nampak sepasang burung sedang bercumbu di dahan. Hatinya bergetar mengingat perkataan mamanya. Burung itu bebas memadu kasih karena satu sama lainnya saling membutuhkan bahkan mereka tidak ada rasa mengikat satu sama lainnya.
__ADS_1
Tiara kemudian mengingat masa lalunya dimana Vino telah menghinanya dan datanglah Akmal yang menolongnya. Akmal dengan tulus selalu membimbingnya hingga menjadi wanita yang sempurna dan dewasa.
Tiara semakin galau hingga malampun tiba namun Tiara tidak bisa tidur nyenyak seperti biasanya. Bayang-bayang Vino dan Akmal selalu menghantuinya.
Tiara di pagi hari nampak kacau bahkan ketika datang ke kantor dirinya kelihatan kalau kurang tidur. Hal itu tidak lepas dari pengamatan Akmal.
“Tiara kamu kenapa? Semua pekerjaan kamu berantakan. Ini beberapa laporan dari klien juga belum kamu selesaikan?” tanya Akmal penasaran.
“Tidak apa-apa pak! Aku hanya sedikit lelah karena semalam aku tidak bisa tidur. Tetangga sebelah ada pesta dan sound nya terlalu keras hingga aku tidak bisa tidur!” ucap Tiara berbohong.
“Sound dan pesta? Apakah itu sound yang ada di hati kamu? Hati kamu yang bergemuruh tidak jelas karena mengharap pria brengsek itu?” ucap Akmal sengaja ingin membuka hati Tiara.
“Pak! Sudahlah bapak jangan terlalu ikut campur denganku. Mau hati aku yang bergemuruh, bergejolak itu bukan urusan bapak!” ucap Tiara kesal.
“Ok! Aku hanya mengingatkan Tiara, janganlah kau terlalu percaya dengan Vino! Ingatlah peristiwa yang lampau. Maaf bukan maksud aku mengingatkan memori kamu soal kejadian terdahulu!” ucap Akmal.
“”Yach…, kenyataannya kan memang seperti itu! Sudahlah kau selesaikan pekerjaanmu dulu! Nanti kita makan siang di kantor saja. Aku sudah delivery makanan!” ucap Bayu yang terus berkutat dengan laptopnya.
“Baik pak, terserah bapak saja!” ucap Tiara pasrah dan berusaha menyelesaikan pekerjaannya.
Tidak beberapa lama kemudian Tiara menyelesaikan pekerjaannya dan delivery makanan pun datang. Akmal menatanya di meja ruangannya. Akmal kemudian menarik Tiara untuk duduk di sofa bersamanya menikmati makanannya. Mereka makan dengan lahap karena rasa lapar menyelimuti mereka berdua.
“Tiara kalau makan itu yang pelan! Masa makan begitu saja belepotan kayak anak kecil!” ucap Akmal yang berusaha menghapus sisa makanan yang menempel di sudut bibir Tiara. Tiara untuk sesaat menghentikan aktivitas makannya dan nampak terkesima melihat sikap Akmal terhadapnya.
Mereka berdua beradu pandang dan Akmal yang tidak bisa mengendalikan perasaannya langsung mengecup bibir Tiara. Tiara yang terkejut berusaha mendorongnya namun semakin menambah hasrat Akmal memuncak.
“Tok…, Tok…,” suara pintu ruangannya diketuk seseorang. Akmal dengan cepat langsung melepas ciumannya.
“Masuk!” ucapnya datar. Dan tidak lama kemudian datanglah Bayu yang memberikan laporannya kepada Akmal.
__ADS_1
“Maaf pak saya berada di situasi yang tidak tepat!” ucap Bayu yang menyadari kalau aura mereka berdua sedang tegang.
“Bawel lo! Taruh saja laporan tersebut di meja! Kamu sudah makan belum? Ayo sini gabung kita makan bersama!” ucap Akmal dengan wajah datarnya.
“Terimakasih pak!” ucap Bayu sekalian pamit hendak keluar ruangan. Bayu seolah tahu kalau mereka berdua sesungguhnya sedang ada interaksi.
Setelah kepergian Bayu dan acara makan saing pun selesai merekaa berdua berlanjut menyusun rencana agar omset tahun ini meningkat.
Tiara bekerja dengan sangat baik. Setelah pekerjaan selesai, Tiara pamitan untuk pulang. Pak Akmal yang tahu Tiara hendak pulang berusaha membujuknya untuk pulang bersamanya. Namun Tiara tidak mau jalan bareng dengan Akmal karena ternyata Vino sudah berada di parkiran.
Kali ini usaha Vino tidak kaleng-kalengan. Vino langsung turun dari mobilnya dan mengajak Tiara pergi.
“Kita mau kemana kak?” tanya Tiara kepada Vino karena hari ini Vino nampak maskulin sekali.
“Sudahlah kamu yang tenang saja! Aku akan memberi kejutan untukmu!” ucap Vino langsung menyalakan mobilnya.
Setelah beberapa menit di jalanan mereka akhirnya sampai di tempat yang dituju. Vino ternyata sudah mengatur semuanya.
Tiara berjalan dengan Vino menuju restoran yang ternyata sudah disiapkan sebelumnya.Tiara berjalan diatas karpet merah dan disambut dengan lagu-lagu romantis hingga akhirnya disaat Tiara hendak duduk di kursi makan. Tiba-tiba ada balon terbang dan diberi tulisan “Tiara I Love you? Maukah kamu menjadi istriku?”
Dan pada saat itu juga Vino duduk berlutut penyerahan cincin untuk Tiara.
“Tiara kalau kamu benar-benar menerimaku apa adanya tolong terima cincin ini sebagai ikatan rasa cinta kita.
“Maaf kak Vino, aku perlu waktu! Kenapa harus buru-buru dan tiba-tiba seperti ini?” ucap Tiara bingung, karena sesungguhnya hatinya tidak menentu. Tiara masih meragukan Vino dan entah mengapa saat itu juga pikirannya melayang mengingat Akmal.
Tiara bingung dengan dirinya, dengan perasaan galau mereka berdua lanjut makan siang. Vino sudah tidak menuntut lagi pembicaraan mereka. Setelah selesai acara makannya, Vino mengantar Tikara pulang ke rumahnya.
Terimakasih para pembaca yang setia, atas kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya. Ikuti keseruannya ya?
__ADS_1