Si Buruk Rupa Mengejar Cinta

Si Buruk Rupa Mengejar Cinta
Kepulangan Tiara


__ADS_3

Setelah seharian Akmal, Bayu, Inge dan Tiara berada di perusahaan milik tante Indah mereka memutuskan untuk kembali pulang ke kota tempat mereka tinggal.


Di perjalanan pulang Akmal meminta Bayu di depan pegang kemudi bersama Inge di sampingnya.


Entah capek atau apa Tiara begitu masuk ke dalam mobil langsung tertidur pulas hingga kepalanya bersandar di bahu pak Akmal.


“Wah…, ternyata tidak sia-sia ya pengorbanan pak Akmal?”  cerocos Inge yang mulutnya tidak ada remnya.


“Memang kadang-kadang cinta membutuhkan pengorbanan? La kamu sendiri bagaimana? Sudahkah orang yang berada di sebelahmu menembak kamu?”  Ucap pak Akmal to the point yang sengaja menyindir Bayu.


“ Siapa sih Pak, maksudnya pak Bayu ya? Dia mah gak tertarik  sama Wanita,”  ucap Ginga tanpa ada rasa takut sedikitpun terhadap Bayu.


 “Iyalah,  memangnya siapa lagi kalau bukan dirinya?” sahut Akmal sambil  betulkan posisi  Tiara yang hampir membentur kaca mobil.


“Gila …, Aku masih normal ya?  Enak aja, emangnya aku gawe?” ucap Bayu yang masih fokus mengemudi.


“Ya…kamu lah! Kalau masih normal,  buktikan dong?” ucap Akmal seolah-olah mengompori Bayu.


“Sudah ah, Pak Banyu jangan ikut campur urusan aku!” ucap Bayu kesal dan agak melajukan kendaraannya dengan kencang.


“Ha…, ha…, ngambek ya?” Akmal tertawa ringan hingga membuat Tiara terbangun.


“Kak sudah sampai mana?” Banyak Tiara sambil menggeliatkan tubuhnya yang terasa capek.


“Alun-alun. Sebentar lagi sampai kok!” jawab Akmal sambil menggenggam tangan Tiara yang sudah dalam posisi duduk.


Setelah beberapa saat kemudian mereka sampai di rumah Tiara. Tiara turun dari mobil dan barang-barangnya sudah diturunkan oleh Bayu dan Akmal.


“Mama…, Tiara pulang?” ucap Tiara tak kala pintu rumah dibukakan oleh mamanya. Mama Dewi sagat senang menyambut kepulangan Tiara putrinya.


Mama Dewi memeluk Tiara dan mengusap rambut Tiara dengan penuh kasih sayang.

__ADS_1


“Alhamdulilah, ternyata anak mama masih ingat pulang dan tidak melupakan papa dan Mamanya,”  ucap Mama Dewi sambil menitikkan air mata karena hampir dua bulan putrinya tidak pulang ke rumah.


“  Ingat dong ma, masa iya sama orangtua sendiri lupa?” ucap Tiara yang terus memeluk dan mencium pipi mamanya.


“Ayo sini masuk! Tante sama om hendak makan malam! Ayo kita makan bersama sekalian,” ucap tante Dewi.


Mereka berempat akhirnya masuk mengikuti tante Dewi. Tante Dewi menyuruh mereka untuk membersihkan diri terlebih dahulu.  Akmal dan Bayu berada di kamar tamu yang sudah disiapkan oleh simbok, sedangkan Tiara dan Inge pergi ke kamar Tiara.


“Wah enak ya kalau orang tua sudah kasih lampu hijau.  Menurut aku, kamu segera menikah saja! Kurang apa coba,  pak Akmal punya segalanya. Tampan, bertanggung jawab, kaya dan penyayang pula,” ucap Inge kepada sahabatnya.


“Entahlah, yang terpenting mengalir saja! Aku tidak harus menikah sekarang! Aku belum siap mental jadi istri Ceo, apalagi penggemarnya banyak!” ucap Tiara santai sambil menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang.


“Halah…, siap gak siap harus siap! Kamu kan juga cantik dan pintar Tiara? Aku rasa kamu ayak mendampingi Pak ama sebagai istrinya, nya” ingin ucap sengaja memberi motif kepada ada temannya.


“Hai…, hai…, jangan-jangan kamu dibayar ya sama pak Akmal untuk mempengaruhi aku!” ucap Tiara yang mengernyitkan dahinya memandang Inge.


“Ngaco dech kamu! Aku kapan dekat dengan pak Akmal? Dan mana sempat aku ngobrol dengannya membicarakan masalah tentang kalian?” ucap Inge bingung menanggapi pernyataan Tiara.


“Mana aku tahu? Atau jangan-jangan kamu sengaja menyuruhku segera menikah dengan pak Akmal biar kamu bisa dekat dengan pak Bayu ya?” ucap Tiara karena memang sengaja untuk menggoda Inge.


“Tapi aku melihat kamu dan pak Bayu cocok lo?” ucap Tiara berusaha menyakinkan Tiara.


“Gak tahulah! Ayo mandi dulu saja!” ucap Inge langsung mendorong tiara untuk mandi terlebih dahulu.


Tiara pun dengan cekatan langsung meraih Anduk yang ada di lemari kemudian pergi ke kamar mandi bergantian dengan Inge. Setelah selesai bersih-bersih mereka keluar alamat menuju ruang uang makan.  Ternyata Disana sudah ada papa dan mamanya Tiara dan juga Akmal berberta Bayu.


Tiara duduk di dekat  Akmal sedangkan Inge lebih memilih duduk di dekat Bayu seolah-olah mereka sudah tahu posisinya masing-masing.


 “Nak Akmal  dan nak Bayu, ayo makannya dibuat habis semua ya?”  ucap Mama Dewi sambil memberi kode kepada Tiara untuk mengambilkan lauk agar diberikan pak Akmal.


“Kak…, nambah lagi ya?” ucap Tiara langsung mengambilkan nasi dan lauk untuk Akmal.

__ADS_1


“Cu…kup Tiara!” ucap Akmal tapi sudah terlanjur dibubuhi nasi dan lauk oleh Tiara. Tiara sengaja melakukannya agar Akmal kapok tidak main setuju saja makan di rumahnya.


“Sayang…, jangan begitu dong sayang! Kasihan nak Akmal kalau kekenyangan. Ayo kamu harus bertanggungjawab, kamu harus membantu menghabiskan makanannya!” ucap Papa Roy yang sengaja dan meninggalkan mereka berdua untuk tetap tinggal di meja makan. Sementara itu yang lainnya seolah mengerti dengan pikiran om Roy, langsung mengikutinya menuju ruang keluarga.


“Sial! Senjata makan tuan nich!” ucap Tiara lirih hingga membuat Akmal terkekeh mendengarnya.


“Sini sayang aku suapin ya?” ucap Akmal yang sudah menyodorkan sendoknya dengan makanan di mulut Tiara.


“Kakak, senang ya? Dapat pembelaan dari papa dan mama aku?” ucap Tiara langsung mengunyah makanan yang diberikan oleh Akmal.


“Ha…, ha…, iyalah! Mereka berdua calon mertua yang baik sayang?” ucap Akmal senang dan terus makan makanannya dengan lahap dan sesekali menyuapi Tiara.


“Kak…, aku sudah kenyang! Please kakak habiskan sendiri ya? Aku takut gendut lagi!” ucap Tiara memohon.


“Aku mau habiskan makanan ini tapi dengan satu syarat!” ucap Akmal mengancam Tiara.


“Syarat? Apa dong?” tanya Tiara kesal.


“Sini kamu harus cium pipi kakak!” ucap Akmal langsung menunjuk ke pipi kanannya.


“Kakak…, gak mau ah! Itu namanya syarat yang gak sportif dong? Enak di kakak, gak enak di aku!” ucap Tiara semakin kesal dengan ulah Akmal.


“Ok! Kalau kamu gak mau akan aku laporkan ke om kalau kamu tidak mau membantu aku memakan makanan ini!” ancam Akmal sambil tersenyum puas melihat Tiara semakin kesal.


“Astaga! Benar-benar menjengkelkan!” ucap Tiara langsung mencium pipi Akmal dengan cepat.


“Ulang! Aku tidak merasakan apa-apa!” ucap Akmal yang masih menunjuk pipinya lagi. Tiara dengan pelan mendekati Akmal dan menciumnya dengan pelan hingga kedua mata mereka saling bertemu dan memandang jauh dari lubuk hati yang paling dalam. Akmal merasakan ada sesuatu dari tubuhnya mengalir begitu cepat dan membawanya ke ubun-ubun.


Akmal yang tidak ingin hubungannya berakibat terlalu jauh kemudian memalingkan mukanya dan mengambil makanan untuk di suapkan di mulutnya, demikian juga Tiara langsung mengambil minuman yang ada di depannya.


Setelah kejadian itu Akmal fokus menghabiskan makanannya dan kemudian setelah selesai menyantap makanannya langsung menyusul mereka yang berada di ruang keluarga. Di sana mereka berbincang seolah-olah sudah menjadi satu keluarga.

__ADS_1


Orang tua Tiara begitu hangat memperlakukan mereka, termasuk Bayu dan Inge diperlakukan sama seperti putranya sendiri sehingga mereka nyaman di keluarga Tiara.


Terimakasih para pembaca yang setia, atas kontribusi anda dalam memberikan komentar,  like, hadiah dan votenya. Ikuti keseruannya ya?


__ADS_2