Si Buruk Rupa Mengejar Cinta

Si Buruk Rupa Mengejar Cinta
Kesedihan Akmal


__ADS_3

Naira yang di rumah sakit sudah membaik, hari ini Vino mengunjunginya sekaligus untuk membawanya pulang.Ketika Vino datang kedua orang tua Tiara sudah ada di sana. Vino yang sudah bertemu dengan mereka berdua tertunduk lesu karena takut papanya Naira akan kembali menghajarnya.


“Pagi om tante? Ini sarapan untuk om dan tante!” ucap Vino yang masih canggung karena peristiwa kemarin.


“Ya. Terimakasih!” ucap papanya Naira dengan muka datar hingga membuat Vino semakin tidak enak.


Vino kemudian mendekati Naira dan mencium keningnya.


“Pagi sayang? Bagaimana sayang sudah semakin sehat kan? Aku mencintaimu?” bisik Vino disamping telinga Naira. Naira kemudian pelan-pelan duduk di ranjang dibantu Vino.


“Kak ku ingin makan,” ucap Naira manja. Vino kemudian mengambil makanan yang dia bawa dan menyuapkan ke mulut Naira pelan-pelan. Mamanya Naira yang tahu kedekatan mereka berdua tersenyum puas karena mau bagaimanapun putrinya tidak bisa lepas dari Vino.


Mamanya Naira kemudian mengajak papanya Naira untuk keluar ruangan.


“Ayo sayang, kita sarapan pagi,” ucap mamanya Naira sambil mengambil bungkusan yang dibawakan oleh Vino. Mereka berdua akhirnya pergi ke kantin.


Sementara itu Vino masih menyuapi Naira dan sesekali membersihkan sisa makanan di mulut Naira. Vino berusaha melupakan Tiara namun wajah Tiara masih juga terbayang jelas diingatannya. Vino menghela nafasnya panjang.


“Kakak kenapa?” tanya Naira penasaran.


“Tidak apa-apa sayang, aku bersyukur tidak kehilangan kamu. Maafkan aku selama ini ya?” kata Vino berusaha menghibur dirinya dan Tiara.


Setelah selesai sarapan dokter dan perawat datang memeriksa Naira. Setelah semuanya selesai dokter memberinya resep beberapa vitamin dan mengatakan kalau Naira boleh pulang.


“sayang, kamu aku tinggal sendiri ya? Aku mau menebus resep ini sekalian membayar administrasinya,” ucap Vino pamitan kepada Naira.


“Iya, sayang. Pergilah paling sebentar lagi papa dan mama datang,” ucap Naira yang kembali membaringkan tubuhnya di ranjang.

__ADS_1


Vino bergegas menuju apotik kemudian ke kasir. Disaat dirinya sudah selesai dan hendak kembali ke ruangan Naira tiba-tiba ada perawat yang mendorong pasien dengan luka yang begitu parah menuju ruang operasi. Vino menoleh sesaat seperti mengenalnya.


“Astaga itu kan mama Ratna? Ada apa dengannya?” gumam Vino lirih. Vino yang tahu itu mama Ratna dirinya nampak bersedih dan tidak tega melihatnya. Vino pun akhirnya berusaha mencari informasi lewat perawat jaga.


“Kenapa mbak ibu itu?” tanya Vino penasaran.


“Tabrak lari, di sekitar taman alun-alun!” ucap salah satu perawat jaga. Dan tidak lama kemudian muncul perawat satunya dari ruang operasi untuk mencari darah golongan O karena golongan darah tersebut sama dengan dirinya.


Entah mengapa Vino tergerak hatinya untuk membantu ibu Ratna, namun sebelumnya ia memberitahu Naira yang berada di kamarnya.


“Sayang aku membantu taante Ratna dulu yang kecelakaan di sekitar alun-alun. Tante Ratna membutuhkan banyak darah Omyang kebetulan stoknya habis,” pamit Vino kepada Naira.


“Tante Ratna, mamany kak Akmal?Baiklah!” ucap Naira yang kemudian memberitahu mamanya kalau sahabatnya sedang kecelakaan dan perawatan di rumah sakit.


Vino langsung menuju ruang khusus untuk pendonor tapi sebelumnya menelpon Akmal untuk datang ke rumah sakit. Entah mengapa tiba-tiba dirinya telah membuang rasa dendamnya kepada Akmal yang telah mengambil kedudukannya dan wanitanya.


Vino mendapat pemeriksaan dan benar juga kalau golongan darahnya sama dengan mama Raatna. Setelah semuanya layak menurut pemeriksaan, akhirnya Vino diambil darahnya satu kantong untuk membantu tante Ratna.


Vino disuruh untuk ke bagian administrasi memberi semuanya. Vino pun dengan cekatan bergegas menuju bagian administrasi.


“Mas apa da yang ketinggalan,” tanya perawat yang ada di kasir.


“Tidak mbak, ini aku bayar administrasi untuk operasi bu Ratna,” ucap Vino sambil mengeluarkan kartu kredit cardnya. Setelah semuanya beres vino bergegas kembali menuju ruang perawatan tante Ratna sambil menunggu Akmal datang. Vino mengamati raut wajah tante Ratna yang sepertinya tidak asing dengannya.


“Tante semoga tante lekas sembuh, kasihan tante!” gumam Vino lirih.


“Tok…, tok…,” ada seseorang mengetuk pintu rumah sakit kemudian masuk ke ruangan tersebut.

__ADS_1


“Pak Vino…, bagaimana keadaan mama saya?” tanya Akmal begitu datang ke ruangan mama Ratna.


“Mama…, ayo sadarlah ma! Janganlah mama meningagalkan aku sendirian di dunia ini!” ucap Akmal sambil menggenggam tangan mamanya. Vino nampak bersedih melihat Akmal yang sangat menyayangi mamanya. Vino membayangkan kalau dirinya berada di posisi Akmal. Vino yang tidak tega melihat kesedihan Akmal langsung pergi meninggalkan mereka berdua.


Vino kembali menuju ruangan Naira dan membantu merapikan barang-barang Naira yang hendak dibawa pulang namun Vino masih terlihat murung sehingga menarik perhatian Naira.


“Sayang, kau kenapa?” tanya Naira penasaran.


“Tidak apa sayang, aku hanya baper saja melihat Akmal yang sangat bersedih menunggu mamanya,” ucap Vino berbohong.


“Sayang baguslah kalau kamu merasakan seperti itu  terhadap kak Akmal syukur-syukur kamu bisa rukun dan bersahabat,” ucap Naira berusaha menghibur Vino.


“Iya Sayang, aku merasa seperti mengenal tante Ratna. Aku seperti merindukan belaian kasih sayangnya,” ucap Vino asal tanpa disadarinya kalau dirinya ada ikatan darah dengan mama Ratna. Naira tampak berpikir sesaat, kemudian membandingkan ketiga orang tersebut. Naira kemudian menyampaikan unek-uneknya.


“Sayang, aku rasa kamu sama kak Akmal hampir mirip lo wajahnya? Jangan-jangan kalian bersaudara?” tanya Naira kepada Vino.


“Benarkah? Tapi apa mungkin kita bersaudara? Kita kan terlahir dari keluarga yang berbeda!” gumam Vino lirih. Vino pun juga tidak mengira kalau sesungguhnya kesedihan Akmal juga merupakan kesedihannya.


“Sudah siap nak!” Tiba-tiba mamanya Naira masuk dan membuyarkan lamunannya. Vino pun terkejut dibuatnya.


“Sudah tante! Maaf tadi kelamaan. Aku tadi harus mendonorkan darahku untuk tante Ratna mamanya Akmal,” ucap Vino berusaha menyampaikan kalau dirinya agak terlambat datang.


“Ratna? Mamanya Akmal? Bisakah kamu mengantarkan tante besuk ke ruangannya?” tanya mamanya Naira.


Akmal yang sangat berharap dapat restu dari mamanya Naira tidak berani membantah jadi langsung mengantar mamanya Naira ke ruang perawatan mama Ratna.


Setelah membesuk mama Ratna, mereka berkemas untuk pulang ke rumah Naira. Vino satu mobil dengan Naira sedangkan kedua orang tuanya memakai kendaraan pribadinya. Hati Vino sudah mantap untuk menikahi Naira.

__ADS_1


Vino berencana proses pernikahannya dipercepat. Vino menginginkan kalau dirinya harus menikah dengan Naira dulu daripada Akmal dengan Tiara. Vino ingin menunjukan kalau Naira cinta terakhirnya.


Terimakasih para pembaca yang setia, atas kontribusi anda dalam memberikan komentar,  like, hadiah dan votenya. Ikuti keseruannya ya?


__ADS_2