
Berita kedekatan Vino dengan Tiara sudah menyebar ke semua staff dan karyawan perusahaan pusat maupun perusahaan cabang. Bahkan Luna sahabatnya Naira memiliki video yang sengaja disebarkan oleh asistennya Vino yang mana bagian penolakan Tiara tidak dicantumkan bahkan Vidio sudah di edit sedemikian rupa sehingga yang ada justru Tiara menerima lamaran Vino.
“Lun…, ini berita yang kau bawa tidak hoax kan? Karena yang aku tahu Tiara itu dekatnya sama pak Akmal jadi mana mungkin mereka berdua ada hubungan perasaan?” ucap Naira yang belum mempercayai dengan video yang Luna share ke ponselnya.
“Naira…, kamu itu lugu apa dungu ya? Terus kenapa Vino tiba-tiba minta putus sama kamu pasti ada sesuatu kan?” tanya Luna kepada sahabatnya.
“Iya…, ya…! Benar-benar Vino itu tidak berperasaan! Bahkan kemarin minta putus hanya lewat ponsel,” ucap Naira kesal terhadap sikap Vino.
“Ya…, sudah kamu samperin aja tuh si pak Vino! Kalau perlu kau harus buat trik biar dia tidak melepaskanmu dan mengejar-ngejar si cupu itu!” ucap Luna yang sengaja bikin kompor untuk sahabatnya.
“Baiklah! Ayo kita samperin pak Vino di rumah dinas perusahaan!” ucap Naira sambil menggandeng Luna.
“Tok-Tok!” Naira dengan garang mengetuk pintu rumah dinas perusahaan dan tidak lama kemudian Vino membukakan pintu.
“Eh…, ada apa ini pagi-pagi sudah nyelonong masuk di rumah dinas laki-laki!” ucap Vino kesal. Namun Naira dengan sengaja nyelonong masuk tanpa dipersilahkan masuk oleh Vino dan duduk di sofa diikuti oleh Luna.
“Kak aku tidak terima kalau kamu memutuskan hubungan kita sepihak. Aku nanti bagaimana harus menghadapi orang tuaku. Dulu aku menolak dijodohkan dengan anak teman papaku hanya karena kamu!” ucap Naira sambil melotot ke arah Vino.
“Itu bukan urusan aku! Aku bilang putus ya putus! Kita sudah tidak cocok lagi walaupun dipaksakan kita juga tidak bisa bersama lagi!” ucap Vino enteng sambil membetulkan dasinya karena mau berangkat rapat dengan klien.
“Aku tidak terima aku akan membalas rasa sakit hati ini! Kalau kamu memutuskan aku akan bunuh diri dan aku akan menyakiti Tiara si pelakor itu!” ucap Naira tegas di depan Vino.
Vino dengan cekatan langsung mengangkat kerah baju Naira dengan tangannya dan mengancamnya.
“Aku tidak peduli kalau kamu mau matipun terserah! Dan satu lagi Tiara tidak bersalah, kalau sampai terjadi sesuatu dengannya kamu yang harus bertanggung jawab,” ucap Vino sambil menghempaskan Naira ke sofa kembali. Sementara itu Luna hanya diam sebagai penonton saja.
__ADS_1
Naira terhuyung terhempas di sofa berusaha bangkit dan mengejar Vino yang sudah berjalan ke mobilnya dan pergi meninggalkan Naira yang berteriak memanggilnya.
“Kak Vino jangan lakukan itu, aku mohon tetaplah bersamaku!” ucapnya lirih sambil berlinangan air mata namun tidak bisa lagi mengubah keadaan karena Vino sudah pergi menjauh.
“Naira…, sudahlah ayo kita cari jalan lain. Kalau Vino tidak mempan kita coba ancam Tiara dan kalau perlu kita celakai dia!” ucap Luna yang memang jahat otk semua kejahatan yang dilakukan Naira. Naira pun dengan semangat menghapus air matanya kemudian kembali ke perusahaan dan menghampiri Tiara yang sedang mengerjakan laporan di ruangannya yang berada di luar ruangan pak Akmal.
Naira dengan Luna pengikut setianya langsung menghajar Tiara. Namun sayang Tiara sekarang bukanlah Tiara yang dulu yang dengan mudah bisa ditindas dan dipermalukan.
“Dasar wanita pelakor perebut laki orang!” ucap Naira tiba-tiba dan hendak menampar Tiara namun dengan cekatan Tiara menangkap tangan Naira dan menghempaskannya.
“Hai Naira ini kantor bukan pasar, kalau ada masalah tolong dibicarakan baik-baik. Apa maksudmu? Siapa yang kamu bilang pelakor?” ucap Tiara sambil memandang tajam ke arah Naira.
“Bukankah kamu sekarang jadian sama kak Vino? Perlu kau ingat Tiara Vino itu milikku? Dan satu lagi sampai kapanpun aku tidak akan pernah mengikhlaskan kak Vino untuk kamu!” ucap Naira berapi-api menahan marah.
“Hai…, dasar pecundang betina. Mana aku tahu kak Vino itu masih ada hubungan denganmu? Kak Vino selalu bilang kalau dirimu dan dirinya tidak bisa bersatu karena terhalang restu orang tua kamu. Bahkan kak Vino juga bilang kalau sudah putus denganmu!” ucap Tiara santai dan masih tetap duduk di kursinya sambil menyandarkan tubuhnya.
Suasana menjadi ramai tak kala Naira memberi kode kepada Luna untuk menyerangnya secara bersama-sama hingga perkelahian pun tak bisa dihindari bahkan beberapa karyawan datang hendak melerainya namun karena mereka sama-sama kuat sehingga sulit dikendalikan.
“Stop…, berhenti semuanya! Benar-benar memalukan, pagi-pagi sudah berebut kucing garong!” ucap pak Akmal membuat bingung seisi ruangan.
“Kucing garong? Maksud pak Vino siapa ya?” tanya salah satu karyawan ke karyawan yang lainnya.
“Itu tuh pak Vino yang belum putus dengan bu Naira tiba-tiba kemarin menembak bu Tiara. Aku dengar sih bu Tiara belum menerimanya tapi entah mengapa beredar video lamaran pak Vino kepada bu Tiara dimana bu Tiara mau menerimanya!” jawab salah satu karyawan yag lainnya.
“Sudahlah bukan urusan kita, ayo kerja lagi! Aku rasa pak Akmal pasti bisa menyelesaikannya!” ajak salah satu karyawan tersebut kepada temannya.
__ADS_1
Sementara itu Akmal di dampingi Bayu berusaha melerai mereka bertiga dan yang membuat mereka jengkel ternyata Luna juga ikut-ikutan menyerang Tiara.
“Tiara…, Naira…, dan kamu Luna…, ayo masuk ke ruangan saya!” ucap pak Akmal setelah berhasil melerai mereka dengan bantuan Bayu. Mereka bertiga pun mengikuti pak Akmal dari belakang.
Setelah mereka bertiga duduk di sofa pak Akmal memberi wejangan kepada mereka bertiga. Akmal yang tahu betul situasinya akhirnya menyuruh Naila dan Luna untuk pergi. Mereka berdua untuk sentara dinonaktifkan dari perusahaan selama satu minggu dengan potongan gaji 20 % tidak dibayarkan.
“Pak ini tidak adil dong! Aku rasa Tiara juga layak menerima hukumannya, karena sumber masalah ini berasal darinya!” ucap Naira berusaha membela dirinya.
“Kenapa harus Tiara? Bukankah yang menyerang dulu kamu dan Luna. Dan apa kamu tidak dengar dari Tiara kalau dirinya tidak jadian sama Vino?” ucap Akmal membela Tiara yang sebenarnya memperkuat dirinya untuk memastikan Vino tidak jadian sama Tiara.
“Iya tapi semuanya terserah kamu percaya apa tidak. Aku sudah menjelaskan semuanya!” ucap Tiara lirih namun sebenarnya dirinya sangat sakit karena ternyata Vino belum putus dengan Naila namun menurutnya sudah putus namun sepihak.
“Ok…, aku tunggu apa yang kamu katakan itu benar apa tidak! Bukti yang menunjukan kalau kau sampai menikah dengan pak Vino, aku pastikan kalian berdua tidak selamat!” ancam Naira kepada Tiara dan berlalu meninggalkan Tiara yang diikuti oleh Luna.
Akmal menghela nafasnya tidak disangka Naira bikin ulah seperti itu. Dulu Naira yang dia kenal sewaktu kecil tidak berandalan seperti itu.
“Hik…, hik…,” tiba-tiba Tiara menangis meratapi nasibnya meskipun dirinya berhasil menaklukan Vino tapi dalam hati kecilnya dia tidak sanggup menyakiti Naila meskipun dulu jahat kepadanya.
“Tiara …, sudahlah! Yakinlah semuanya akan baik-baik saja!” ucap pak Akmal yang tiba-tiba langsung memeluknya. Tiara pun bingung dengan perasaannya karena jantungnya berdetak begitu kencang ketika dalam pelukan pak Akmal.
“Terimakasih pak! Aku izin mau pulang dulu dan untuk beberapa hari kedepan aku mau menenangkan diriku dulu pak! Tidak aku bayangkan semuanya menjadi rumit seperti ini!” ucap Tiara yang berusaha melepaskan pelukan Akmal dan menghapus air matanya.
“Ok.., pulanglah tapi biar kan aku yang mengantarmu!” ucap Akmal dan berusaha bangkit dari sofa dan mengambil kunci mobilnya yang tergeletak di meja.
“Terimakasih pak! Aku akan pulang sendiri saja!” ucap Tiara dan langsung pamitan ke luar menuju parkiran. Dan di sepanjang lorong ketika dia berjalan beberapa orang karyawati yang tidak tahu persoalannya langsung mencemooh Tiara.
__ADS_1
Tiara menghela nafasnya, dia tidak ingin menjadi pusat perhatian semua orang dengan cepat Tiara langsung menuju mobilnya dan meluncur menuju rumahnya.
Terimakasih para pembaca yang setia, atas kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya. Ikuti keseruannya ya?