
Dawai-dawai malam telah menyapa. Di sebuah rumah Seorang pemuda memasang wajah sendu terlihat duduk di teras rumah.
Kepalanya berdenyut perih saat memikirkan semuanya, bagaimana cintanya itu menolaknya dan pergi meninggalkannya.
“Aku tidak mau. Kita tidak akan berakhir seperti ini,” gumam Milan.
Ah, putus asa itulah yang ia rasakan saat ini. Hatinya hancur upayanya membujuk Nara tidak berhasil.
Sudah berjam-jam Milan duduk termenung di teras rumah Nara. Sungguh dia merasakan sangat kehilangan.
Suara dering ponsel Milan terdengar membuat perhatiannya terkalihkan.
Ia pun meraih ponsel di saku celananya. Setelah melihat nama yang tertera di layar, Milan lalu mengusapnya, membawa ke telinga.
“Ya, ma.”
“Kamu di mana sayang! Kapan kamu pulang?”
“Milan sibuk Ma,” ucapnya berbohong dia hanya ingin diam dan termenung saat ini.
“Kamu harus pulang, kamu lupa ya mama kan mengadakan makan malam bersama keluarga Kay.” mama Erika.
“Ma.”
“Cepat kamu pulang, makan malam akan segera di mulai mereka telah datang. Kamu sebagai kepala keluarga, kamu harus menjamu keluarga besan mama.”
“Ya, baiklah.” Ucapnya pasrah.
Milan menghembuskan napas kasar lalu menaruh kembali ponselnya.
Semakin pening saja kepalanya, dia masih galau dengan suasana patah hati sekarang dia harus menyambut keluarga suami adiknya.
Dengan langkah lemah Milan beranjak menuju mobil, meninggalkan rumah Nara.
>>>
Setelah beberapa saat mengemudi Milan telah sampai di kediaman Kalingga. melangkah masuk ke dalam rumah.
"Lan kamu sudah pulang sayang!" sambut mama Erika menatap putranya yang terlihat sangat kacau.
“Kamu kenapa Lan?” tanya mama Erika yang menatap lekat wajah sendu putranya.
__ADS_1
“Ngak apa-apa ma. Milan hanya lelah.” Milan terpaksa berbohong menutupi patah hatinya, agar ibu yang telah melahirkannya ini tidak mencemaskannya.
“Sudah kalau begitu kamu mandi dulu, mereka telah menunggu di meja makan.”
Pemuda itu hanya membalas dengan anggukan, kemudian berlalu pergi.
Tak membutuhkan waktu yang lama Milan telah rapi, ia pun turun ke ruang makan bergabung bersama keluarga Kay mereka telah duduk di meja makan. Untuk sementara dia harus mengabaikan patah hatinya.
“Lan ayo sini dari tadi kami nunggu kamu!” ucap mama Erika.
Milan menarik ke dua sudut bibirnya. Ikut bergabung dengan keluarga Kay dia duduk di kursi ujung meja.
“Apa kabar bibi, paman mana?” sapa Milan ramah mengulas senyuman pada ibu Kay.
“Bibi baik-baik saja sayang, pamanmu ada meeting penting, itu karena Kay lebih memilih bersamamu, tidak mau bergabung dengan perusahaan papanya,” ucap ibu Kay dengan senyum lembut.
“Ma!” protes Kay.
“Ini supaya kamu dekat dengan Sea kan!” ungkap mama Kay.
Membuat Chelsea mengarahkan pandangannya pada Kay yang telah menjadi suaminya. Ternyata selama ini itu alasan Kay bergabung bersama kakaknya demi dirinya.
Dan Kay hanya membalasnya dengan cengiran ke arah Chelsea.
“Ma, malu,” lagi pemuda tampan ini melayangkan protesnya.
“Baiklah. Ayo kita mulai makan!” ucap mama Erika.
Mereka pun mulai makan bersama. Sepanjang makan malam hanya di isi obrolan antara mama Erika dan mama Kay.
“Sayang aaa,” ucap Kay mengarahkan sendok ke mulut Chelsea berniat menyuapi istrinya.
“Kak Kay,” geram Chelsea, ya tuhan yang benar saja di suasana ramai seperti ini Kay ingin menyuapinya. Lelaki itu terlalu sweet.
“Buka mulutmu, ini sangat enak,” ucap Kay.
Chelsea memaksakan senyumannya menatap orang yang melihat kemesraan mereka. Terus mendapatkan desakan membuat Chelsea akhirnya menerima suapan dari suaminya.
Milan memutar bola mata jengah melihat adik dan sahabatnya yang bermesraan tak tahu tempat.
Mencoba mengabaikan pengantin baru yang bermesraan. Mama Kay menatap Milan.
__ADS_1
“Lan, bibi ngak nyangkah kamu punya istri yang sangat cantik,” puji mama Kay yang tahu penampilan baru Nara saat di pesta pernikahan dan menari bersama Chelsea.
Bicara tentang Istri ...
Membuat hati Milan terasa tersayat perih karena teringat kembali pada Nara. Ya istrinya memang sangat cantik namun dia telah pergi. Dia gagal menjadi suami yang baik.
Milan hanya menjawab dengan senyum getir lalu tertunduk. Mencoba kembali pada makanannya.
"Istri kamu juga sangat hebat, jadi selama di Jerman dia sukses menjadi make up artis di sana,” pujinya lagi.
Milan hanya tertunduk, semakin mencengkeram sendok yang ada di tangannya. Tak ada jawaban darinya.
“Bibi sangat bangga padanya,” pujian itu tiada henti.
“Terima kasih bibi,” suara lembut seorang perempuan di seberang sana membalas ucapan ibu Kay.
Milan tersentak mendengar suara itu.
Suara itu?
Dengan cepat Milan mengangkat pandangannya, mencari di mana sumber suara itu.
“Apa kamu akan kembali ke sana lagi?” tanya ibu Kay menatap perempuan itu.
Manik mata Milan mengarah pada perempuan yang di tatap ibu Kay.
Deg ...
Jantung Milan berdetak kencang saat mengarahkan pandangannya pada perempuan mungil yang duduk di samping mama Erika.
Nara cintanya ada disini? Bukankah dia telah pergi.
“Tergantung bibi,” jawab Nara.
Nara mengarahkan pandangannya pada Milan.
“Tergantung, Apa suami saya akan memberikan saya izin untuk pergi, karena seorang istri harus patuh pada suaminya,” jawab Nara dengan pandangan masih tertuju pada pemuda itu.
Mendengar ucapan Nara, Manik mata Milan seketika berkilau. Petuah ... ya petuah itu yang menahan Nara untuk pergi darinya. Nara masih menganggapnya suami.
Entah sudah seperti apa debaran jantung Milan saat ini menggila bak seakan ingin lompat keluar.
__ADS_1
Andai mereka tidak berada dalam keadaan ini Milan pasti sudah berlari mendekap tubuh istrinya itu menghujaninya dengan ciuman bertubi.