Si Culun Mendadak Jadi Istri Presdir

Si Culun Mendadak Jadi Istri Presdir
curiga


__ADS_3

Semua barang telah masuk ke dalam rumah. Kini mereka beristirahat, berkumpul di ruang makan sembari menunggu masakan ibu Salma terhidang.


Milan menatap ke arah dapur di mana Nara dan Alana sedang membantu ibunya menyiapkan makan.


Nara melangkah mendekat ke arah meja dengan Kedua tangan membawa piring berisi makanan.


“Biar aku saja,” ucap Vino mengambil alih piring yang ada di tangan Nara kemudian menaruhnya di meja.


“Makasih Vin!” balas Nara setelahnya kembali mengambil menu makanan lain di dapur.


Milan mendengus menatap sinis ke arah Vino. Sejak tadi Milan Menggeram kesal dalam hati, melihat kedekatan Nara dan Vino. Dia benar-benar tidak punya waktu berduaan dengan istrinya karena pemuda itu selalu menempel pada Nara. Membuat hatinya terasa panas. Andai bukan Chelsea yang selalu menahannya dia pasti sudah mendamprat pemuda itu.


Ibu Salma datang membawa piring yang berisi masakan.


“Ibu sudah selesai masak! Waktunya kita makan,” ibu Salma meletakkan piring di meja.


“Wah, pasti enak,” puji Vino menatap ke arah makanan yang terhidang.


“Masakan ibu kan emang selalu enak,” tambah Chelsea dengan senyum ceria.


“Ibu masak ayam bakar kesukaan kamu loh Vin,” ucap ibu Salma menunjuk piring yang di atasnya terisi ayam bakar.


Manik mata Vino berbinar senang. “Uhh, paha ayamnya seksi banget bu!” celetuk Vino dengan menggoda.


“Iya dong!” balas ibu Salma terkekeh pelan.


“Apaan sih Vin, dasar. Lihat paha ayam pun di bilang seksi! Aku bu?” tanya Chelsea tak mau kalah.


"Kamu juga sayang, ibu udah masak sup kesukaan kamu.”


Mendengar itu ke dua sudut bibir Chelsea tertarik.


“Ya, kesukaan Sea,” desis Vino merotasi matanya. “Sea kalau udah makanan kesukaannya, udah deh, ngak akan mengenal kata sepiring berdua tapi dua piring sendiri,” ejek Vino.


“Ih, Vino biarin. Masakan ibu kan enak,” ketusnya.


Milan yang duduk di samping adiknya hanya diam menatap keakraban mereka.


“Tuh supnya lagi di bawah sama Nara,” tunjuk ibu Salma.


Nara datang membawa mangkuk yang berisi sop lalu meletakkan di meja. Setelahnya hendak melangkah bergabung duduk bersama mereka.

__ADS_1


Nara tersentak kaget, begitu pun mereka yang lain saat melihat lengan Nara di tahan oleh Milan.


Oh, Milan sudah tidak peduli dengan keadaan. Sebelum ia di dahului, dan kalah dari lelaki itu.


“Duduk di sini saja!” pinta Milan mengarahkan tubuh Nara duduk di kursi kosong sampingnya.


Perdebatan Vino dan Chelsea terhenti. Suasana seketika hening,  gadis berkacamata ini tersenyum kaku menatap semua orang mengarahkan pandangan ke padanya dan Milan.


Tak bisa menolak keinginan suaminya, Nara pun duduk di samping Milan. Alana datang dari arah dapur bergabung bersama mereka, duduk di kursi kosong di samping Vino.


Chelsea mengarahkan pandangannya pada Vino yang memasang wajah dingin.


“Ayo makan aku sudah sangat lapar!”  seru Chelsea mencoba mencairkan suasana.


“Iya, ibu sangat lapar,” sahut ibu Salma.


Mereka pun mulai makan, manik mata Vino hanya terfokus ke arah Nara dan Milan yang sesekali berbisik-bisik. Ia merasa ada yang aneh dengan Milan dan Nara.


Hati Vino mulai bertanya-tanya. Kenapa kakak Sea tiba-tiba seakrab ini dengan Nara? Padahal dulu pemuda galak itu selalu sinis padanya dan Nara.


“Kak Vino bawa kamera ngak?” tanya Alana yang duduk di sampingnya membuat netra hitam Vino teralihkan pada Alana.


“Setelah makan fotoin Nana di rumah baru ini ya,” pintanya.


“Iya, kita harus berfoto di rumah baru ini,” timpal Chelsea suasana mulai menghangat.


“Iya ibu juga mau foto,” sahut ibu Salma.


“Oh, iya sekalian kami foto keluarga aku, Nana dan ibu Vin,” sosor Nara.


“Baiklah setelah makan aku akan mengambil foto kalian.”


Suasana kembali terisi dengan obrolan berfoto melupakan sejenak apa yang mereka lihat.


Setelah beberapa saat Makan bersama telah berakhir. Alana bangun dari duduknya.


“Ayo kak Vino. Kita mulai fotonya.”


Alana menarik tangan Vino untuk ikut bersamanya. Ia sudah tak sabar untuk bergaya di depan kamera.


“Alana! Tunggu!” panggil ibu Salma namun bayangan mereka telah menghilang.

__ADS_1


“Main pergi aja, ngak bantu beresin meja makan,” ucap ibu Salma.


“Ngak apa bu, biar aku dan Nara yang beresin,” tawar Chelsea bangun dari duduknya lalu mulai memungut piring bekas makan mereka.


“Ya, ngak enaklah kamu kan tamu di sini.”


“Ngak apa-apa bu, aku kan anak ibu juga.”


“Ibu duluan aja nanti kami nyusul,” sahut Nara sembari berdiri membantu Chelsea memungut piring kotor.


“Benaran Nih, ibu juga udah ngak sabar di foto.” Perempuan paru baya ini bangkit memasang gaya centil di depan Nara dan Chelsea. Milan yang masih berada di antara mereka terkekeh pelan melihat tingkah ibu mertuanya.


“Ibu duluan aja,”


Ibu Salma kegirangan lalu berjalan mendekat ke arah Milan.


“Ayo nak Milan, kita keluar, ibu mau foto sama orang ganteng,” kelakar ibu Salma menarik tangan Milan untuk ikut bersamanya.


Kini tinggal Chelsea dan Nara yang merapikan meja makan.


Setelah beberapa saat semua telah rapi.


"Ayo Ra, kita keluar,” ajak Chelsea.


“Kau duluan saja aku mau cuci piring sebentar.”


“Nanti saja!”


“Udah ngak apa-apa, aku lagi tanggung nih.” Ucap Nara berdiri di wastafel cuci piring.


“Oke, aku ke depan,” ujar Chelsea dan diangguki oleh Nara.


Nara menuang sabun ke spoon cuci piring, setelahnya mulai mengusap piring kotor.


Gadis kacamata ini tersentak saat merasakan ada lengan kokoh melingkar di pinggangnya. Nara mengangkat kepalanya membalikkan wajahnya menatap ke belakang ternyata itu adalah suaminya.


“Kak Milan! Nanti ada yang lihat,” pekik Nara mencoba berontak takut ada yang melihat.


“Aku merindukanmu,” bisik Milan di telinga Nara membuat tubuhnya seketika meremang. Ini adalah waktu yang di tungguh Milan, lelaki ini kemudian beralih mengecup ceruk leher Nara dengan lembut mulai menyusuri leher jenjangnya, terus melepaskan kecupan, membuat Nara mengepalkan tangannya menahan rasa geli. Rasanya ada jutaan kupu-kupu menggelitik hatinya, Nara hanya menutup matanya pasrah saat Milan mengecup, menghisap tulang selangkanya.


Kedua hanyut dalam suasana, tak menyadari di belakang mereka ada lelaki  dengan kamera di tangan berdiri menjulang. Melayangkan tatapan tajam menghunus.

__ADS_1


__ADS_2