
Lautan bintang mengiasi langit malam. Di kediaman Kalingga. Kedua kakak beradik ini sedang menikmati makan malam.
Sepi itulah yang di rasakan tak ada mama Erika atau pun Nara yang biasa melengkapi percakapan mereka. Hanya dentingan sendok yang beradu dengan piring terdengar.
“Sea, besok kakak akan ke Jepang,” ucap Milan membuka suara menatap adiknya yang menyuapkan makanan ke mulut.
“Jepang? Apa ada masalah?” tanya Chelsea terdengar was-was.
“Tidak, hanya meninjau proyek kerja sama,” sahut Milan.
“Kamu ngak apa-apa kan kakak tinggal?” tanya Milan menatap adiknya.
Chelsea mengangguk yakin. “Ngak apa-apa kak, Sea bukan anak kecil lagi," ujar gadis cantik ini dengan senyuman.
Makan malam kembali berlanjut di selingi obrolan ringan.
Untuk beberapa hari Milan akan pergi jauh mencoba menghilangkan Nara dari pikirannya.
****
Cahaya keemasan mengiasi langit jingga, Sea dan Nara berada di sebuah pesta pernikahan, sedang melakukan tugas menyiapkan acara resepsi.
Semua telah siap kini waktunya rehat sejenak, Chelsea duduk di kursi tamu menghela napas lega akhirnya selesai juga yang telah ia persiapkan.
Netra hitam Chelsea menangkap bayangan gadis berkacamata melangkah lemah menuju ke arahnya.
“Kau kenapa, Ra?” tanya Chelsea cemas saat menatap wajah pucat sahabatnya.
“Dingin Sea,” jawab Nara mendekap tubuhnya sendiri lalu menyandarkan kepalanya di pundak Chelsea.
Tangan Chelsea terulur meletakkan punggung tangannya di kening, memeriksa suhu tubuh Nara.
“Kau deman Ra, badanmu hangat,” kata gadis cantik ini saat rasa hangat tubuh Nara seakan membakar kulitnya. “Ini pasti karena kau kelelahan. Kau harus minum obat,” terangnya.
“Ogah ah Sea! Takut,” tolak Nara dengan cepat bergelayut manja di lengan Chelsea.
“Ih, dari pada bertambah parah,” sungut Chelsea. “Di taskku ada obat deman, tunggu dulu aku ambilkan.” Chelsea beranjak dari duduknya.
Tangan Nara menarik lengan Chelsea agar tak beranjak.
“Sea.” Nara memasang wajah memohon.
“Sudah kau tunggu di sini! Awas saja kalau kau kabur. Aku akan menyeretmu ke rumah sakit,” ancam Chelsea dengan mata memicing tajam telah tahu sifat Nara yang suka menghindar.
Nara menghela napas berat. Tidak bisa kabur.
Setelah beberapa saat Chelsea pun kembali, membawa obat demam dalam bentuk tablet dan sebotol air mineral. Duduk di samping Nara.
“Ini minumlah,” titah Chelsea menyodorkan obat dan air.
“Aku ngak bisa Sea.” Suara Nara terdengar merengek bak anak kecil.
“Pokoknya kau harus minum.” Paksanya.
Nara pun meraih obat dan botol air mineral.
__ADS_1
Setelah membuka kemasan obat, Nara mulai memasukkan tablet itu ke dalam mulutnya. Chelsea menatap Nara lekat memastikan jika sahabatnya yang takut ini berhasil meminumnya.
“Udah?” tanya Chelsea saat menatap Nara telah selesai menenggak air di botol.
“Ngak bisa Ra,” sahut Nara menjulurkan lidahnya yang di atasnya masih melekat obat itu.
Sejak dulu Nara memang sangat sulit untuk menelan obat. Itulah yang membuat gadis berkacamata itu enggan meminum obat.
Melihat obat yang belum tertelan Chelsea menepuk jidatnya. “Kok masih ada sih.”
Chelsea lalu mendorong bagian bawah botol agar Nara kembali melakukannya. “Paksa Ra, telan.”
Nara pun kembali menenggak air di dalam botol mencoba agar tablet itu tertelan.
“Ayo telan Ra.” Tangan Chelsea terkepal memberi semangat.
Bibir botol telah lepas dari mulut Nara, Setelah beberapa saat Nara menggelengkan kepala pelan. “Masih ngak bisa ketelan Sea,” ucap Nara putus asa lalu menjulurkan lidahnya lagi dan obat itu masih melekat di lidahnya.
Ah, Chelsea mengusap wajahnya kasar mulai frustrasi. “Ya tuhan kenapa ada orang seperti ini.” Gemas Chelsea.
Gadis cantik ini bersedekap tangan di dada.
“Ihh, kau menelan obat ini atau kita ke dokter,” ancamnya dengan nada tegas mulai tak sabar.
“Sea. Aku sudah mencobanya tapi ngak bisa masuk.” Terdengar merengek meminta belas kasihan.
“Cepat minum!” tatapan Chelsea tajam.
Nara kembali mencoba menenggak air dalam botol.
Glek ....
Contoh Chelsea malah terdengar suara ludah tertelan darinya. Nara yang meminum obat dia yang seakan berjuang ingin menelan.
Nara terus menenggak air putih dalam botol.
“Ayo Ra. Telan! Telan! Telan!” Sorak Chelsea bak pemandu sorak.
Dan setelah percobaan yang ke berapa kalinya gadis berkacamata ini kembali gagal. Tablet itu masih berada di dalam mulut Nara.
"Ih! Susah banget sih. Masa telan obat aja ngak bisa,” sembur Chelsea gemas. “Masa harus di gerus, emang kau bocah,” omelnya bak emak-emak.
“Kan susah masuk Sea.”
Dua sahabat ini masih berdebat mengenai obat hingga suara ponsel menghentikannya mereka sejenak.
Chelsea meraih ponsel di saku celananya.
“Coba lagi,” titah Chelsea sembari mengusap layar ponselnya menjawab panggilan video call yang ternyata dari Milan.
Nara mencebikkan bibirnya.
Chelsea menatap layar ponsel yang menampakkan suasana bandara.
“Kak Milan sudah sampai?”
__ADS_1
“Baru saja.”
“Syukurlah.”
Manik mata Chelsea mengarah pada Nara yang masih mencoba, melihat Nara menenggak minuman dalam botol, tangan Chelsea kemudian dengan cepat memencet hidung Nara kuat hingga gadis itu tak bisa bernapas dan tersedak. Obat itu pun akhirnya tertelan.
Yes berhasil ...
“Uhuk ... uhuk ...”
Nara terbatuk-batuk menepuk dadanya.
“Sea! Kau ingin membunuhku," omel Nara.
“Ada apa?”
“Ini, Nara demam, dari tadi, di suruh nelem obat satu aja susahnya minta ampun,” lapor Chelsea mengarahkan kameranya ponselnya ke arah Nara hingga Milan melihat Nara yang tertunduk menepuk dadanya.
“Demam? Kenapa tak di bawah ke dokter?” nada Milan terdengar khawatir apalagi saat melihat wajah pucat Nara sangat lemah.
“Kakak tahukan dia takut dokter.”
“Sudah dulu ya kak. Sea mau memeriksa keadaan Nara dulu.”
Di seberang sana menjawabnya dengan deheman.
Panggilan video terputus Chelsea kembali pada Nara mengusap punggung Nara.
Setelah panggilannya bersama Chelsea selesai. Kini di hati Milan tertambat keresahan mengenai keadaan si culun. Dia tahu jika sakit Nara sangat sulit untuk ke dokter. Milan teringat bagaimana saat Nara terluka dulu.
“Si culun kan tidak bisa mengurus dirinya,” batin Milan.
Ah, seketika pikiran Milan menjadi kacau hanya bayangan si culun yang menari-nari di pikirannya saat ini. Apalagi wajah pucat Nara terlihat sekali tubuh lemah si culun.
Milan menatap Kay yang sibuk dengan barang-barang. “Kay kita harus pulang,” ucap Milan memasang wajah cemas.
Sejenak Kay terdiam mencerna kata-kata Milan. Ingin pulang? Berarti?
Seketika Kay tercengang mendengar keinginan Milan. Rahangnya seakan ingin jatuh mereka baru saja menginjakkan kaki di Jepang dan itu pun mereka masih di bandara.
“Pulang!” ulang Kay menegaskan. “Kau gila ya! Kita baru saja naik pesawat berjam-jam lama dan kau ingin kita pulang! Hei, ini saja aku masih oleng,” gerutu Kay tak habis pikir dengan titah Milan.
“Aku tidak mau tahu aku harus pulang!”
Seperti biasa Milan adalah pemuda galak yang tidak bisa terbantahkan.
Kay menarik napas berat, terpaksa mengiyakan keinginan sang bos. Ini gila, mereka berada di jepang hanya dalam hitungan menit lalu kembali lagi, apalagi akan melalui berjam-jam dalam pesawat hanya orang tak waras yang melakukannya dan
itu adalah Milan. gerutu Kay dalam hati.
Mendengar si culun sakit membuat Milan khawatir. Perasaannya menjadi tak tenang. Keyakinannya untuk melupakan Nara seketika buyar. Hatinya yang menegaskan tidak ingin peduli, telah goyah. Dia harus bertemu dengan gadis berkacamata itu memastikan keadaannya baik, walau harus mengabaikan seluruh pekerjaannya, termaksud menjalani penerbangan berjam-jam untuk kembali demi bertemu dan menatap wajah Nara.
Ya semua itu demi si culun yang telah merasuk di dalam hatinya.
Like, vote, coment biar saya semangat ....
__ADS_1