Si Culun Mendadak Jadi Istri Presdir

Si Culun Mendadak Jadi Istri Presdir
saran Vino


__ADS_3

Nara baru saja melangkahkan kaki ke rumah sakit, berjalan menuju ruangan di mana Alana mendapatkan penanganan.


Vino yang mengetahui keberadaan Nara menghampiri ke arah gadis itu.


“Kau dari mana saja Ra?” tanya Vino cemas.


“Bagaimana dengan Nana?” tanya Nara.


“Belum ada kabar,” ucap Vino dengan helaan napas berat.


Raut wajah gadis berkacamata ini semakin sendu.


“Kau kenapa lama sekali?” tanya Vino cemas menatap lekat wajah Nara yang semakin sendu, pupil matanya terlihat mengecil jelas sekali jika gadis ini terlalu banyak menangis.


Nara mematung dengan tatapan kosong kembali mengenang kejadian di kantor Milan.


“Ra, Milan mana?” tanya Vino manik matanya berputar menatap sekeliling.


Bukankah Nara tadi meminta izin bertemu Milan. Lalu ke mana pemuda itu? Batinnya bertanya-tanya.


“Ra, Milan mana!” ulang Vino memegang bahu Nara.


Nara tersentak mulai tersadar. “Dia ... dia, sibuk!” ucap Nara terdengar lirih dengan kepala tertunduk menyembunyikan wajahnya, suaranya bergetar menahan tangis setiap mengingat nama Milan air mata sialan ini selalu ingin turun.


“Sibuk! Nara kritis di rumah sakit! Dan dia sibuk,” tekan Vino menatap tajam pada Nara seakan tak terima jawaban itu.


Kakak ipar macam apa yang tidak peduli dengan kondisi adik istrinya yang sekarat di rumah sakit, itu pikir Vino.


Diamnya Nara membuat pemuda ini yakin ada sesuatu yang di sembunyikan oleh gadis berkacamata ini. Mereka telah bersahabat bertahun-tahun Vino tahu betul Nara.


“Ra, ada yang kau sembunyikan lagi dariku!” tuding Vino terdengar sinis seakan mengingatkan Nara saat menyembunyikan pernikahan darinya.


Nara tersentak, mendengar itu tangisannya seketika pecah, dia sudah tak sanggup lagi menyimpan semua di dalam hatinya.


“Dia tidak akan datang Vin!” Nara terisak dengan kepala tertunduk, meluapkan seluruh perasannya di hadapan Vino betapa hancur dan rapuhnya dia saat ini.


“Kenapa?” tanya Vino memasang wajah datar.


“Dia telah menemukan mantan kekasihnya yang pergi di hari pernikahan itu,” ungkap Nara tersedu-sedu dadanya terasa sesak hingga ia sulit bernapas.


“Zeline!”

__ADS_1


“Dia tidak akan datang ke sini melihat keadaan Nana! Dia tahu Sea yang membuat pernikahannya batal. Dia marah padaku! Dia juga menuduhku bekerja sama dengan Sea membatalkan pernikahannya,” jelasnya dengan air mata berurai di hadapan sahabatnya.


“Sumpah, Aku tidak terlibat. Aku juga tidak tahu jika Sea yang menyembunyikan Zeline!” raung Nara menepuk dadanya. hatinya sungguh tersayat perih mengungkap apa yang telah dia terima dari Milan.


“Dia tidak percaya padaku Vin, dia menuduhku memanfaatkan Sea untuk menikah dengannya. Demi Tuhan aku tidak serendah itu, kau tahu aku kan Vin!” papar gadis berkacamata ini.


Vino mematung memasang wajah marah, tangannya telah terkepal erat tak terima sahabatnya menerima tuduhan sehina itu. Nara datang menemui, meminta bantu Milan, malah hanya mendapatkan tuduhan. Ah, dada Vino seakan terbakar andai pemuda itu ada di hadapannya dia pasti sudah menghajarnya untuk Nara. ia yakin dan percaya Nara tidak seburuk itu.


Oh, Nara yang malang. Gadis yang ia cintai malah di sia-siakan dan di abaikan.


Tangan Vino terulur membawa Nara yang terus terisak ke dalam pelukannya, rasa iba akan nasib malang gadis itu menyeruak dalam hatinya. pasti sangat sakit sekali adiknya sedang bertarung nyawa, sedangkan Milan malah menuduhnya yang tidak-tidak.


“Sea yang memohon padaku menikah dengannya!” Kristal bening itu semakin deras membuat baju Vino basah, ia meluapkan semua kesedihannya pada sahabatnya. “Dia mengatakan aku perempuan penipu!” papar Nara tergugu.


Vino mengusap punggung Nara memberikan kekuatan. Mendengar seluruh keluh kesah Nara.


Setelah beberapa saat Nara telah tenang, tangisannya telah terhenti. Pelukan pun terurai.


Nara kemudian merogoh saku jaket jeans yang ia kenakan. Mengeluarkan selembar kertas yang ia ambil dari laci nakas.


“Tolong bantu aku Vin, mencairkan cek ini. Ini untuk Nana,” Nara menunjukkan kertas cek itu pada Vino.


Tangan Vino terulur menerima kertas dari Nara.


“Sepuluh milyar! Dari mana kau mendapatkan ini?” Vino menatap Nara lekat.


Nara menghela napas berat.


“Aku menukarnya dengan menandatangani surat perpisahan kami,” jelasnya dengan wajah sendu.


“Surat perpisahan!” ulang Vino tak mengerti.


“Iya, kau tahukan kak Milan tidak suka padaku! Kami menikah karena Sea. Di awal pernikahan, dia tidak menerimaku menjadi istrinya. Karena itu Kak Milan menawarkan cek milyaran, jika aku menandatangani surat perpisahan kami,” ungkap Nara sudah tidak ingin menutupi sesuatu lagi dari sahabatnya.


Nara duduk di sebuah kursi, kakinya rasanya sudah tak sanggup menopang tubuhnya. Sungguh berat dia telah berpisah dengan Milan.


Vino membisu tanpa kata. Astaga! pernikahan apa yang sebenarnya di jalani oleh Nara dan Milan. Tak habis pikir mendengar penjelasan Nara.


“Aku tidak percaya jika aku, akhirnya menandatanganinya!” tersenyum getir.


“Jadi kau menandatanganinya!” decak Vino.

__ADS_1


“Demi Nana!” selanya.


“Kenapa Ra? Kau mencintainya?” tekan pemuda itu, dia tahu perasaan Nara pada Milan.


Manik mata Nara kembali berkaca-kaca, bulir kristal itu telah siap untuk terjun bebas.


“Aku tidak berdaya Vin, lagi pula dia tidak akan pernah mencintaiku, siapalah aku, hanya perempuan kampungan. di matanya aku hanya perempuan yang menginginkan uang,” Nara meremat dadanya yang terasa sesak mengingat penghinaan seketraris Milan serta ucapan pemuda itu.


“Perbedaan kami sangat jauh bagai bumi dan langit, dia kaya dan aku miskin, kami tidak akan bersama. Kami telah berakhir,” kelopak mata Nara berkedip hingga cairan bening itu terjun bebas membasahi pipinya. Setelah Milan menuduhnya ia telah merasa sangat rendah.


“Ra, kau menukar pernikahanmu!” protes Vino.


“Saat ini hidup Nana lebih penting bagiku, tidak ada yang lain! Aku akan menukar apa-pun demi Nara termaksud pernikahanku!”


"Kita bisa cari cara lain," ucap Vino menyangkan walau bagaimana pun Milan adalah cinta pertama Nara.


Nara kembali bangkit, meraih tangan Vino.


“Tolong Vin, bantu aku. Aku ingin adikku hidup. Aku sudah kehilangan cintaku aku tidak ingin kehilangan saudaraku satu-satunya. Aku akan semakin hancur Vin!” rintihnya dengan tersedu-sedu.


Ah, dia sangat takut kehilangan adiknya.


Nara lalu menunjuk kertas yang masih di tangan Vino dengan matanya.


"Dengan cek ini, Aku bisa memberikan pengobatan yang terbaik. Aku ingin dia selamat Vin, dia hidup kami! Kami tidak bisa tanpa Nana! Aku ingin yang terbaik Vin, agar dia hidup! Aku ingin dia sembuh dan kembali tertawa!” raung Nara bahunya kembali bergetar naik-turun sungguh ia tidak mampu jika kehilangan adiknya.


Vino terdiam, dia tahu perasaan Nara.


“Baiklah, jika kau ingin Nana di rawat dengan baik, kita akan keluar negeri!” jelas Vino memberi saran untuk Nara.


“Vin!” Pandangan gadis berkacamata ini menatap Vino lekat.


“Kita akan membawanya ke salah satu rumah sakit terbaik di dunia!” jelas Vino sejenak berpikir lalu kembali berucap.


“Ke rumah sakit yang ada di Jerman!”


“Jerman!”


Nara tertegun mendengar tempat yang di usulkan oleh Vino.


"Bagaimana Ra?" tanya Vino.

__ADS_1


Untuk beberapa saat Nara terlihat berpikir, menimbang yang terbaik untuk adiknya, setelahnya dia pun mengangguk dengan penuh keyakinan.


“Baiklah. Aku percaya padamu Vin, apa-pun demi Nana,” ucap Nara telah mengambil keputusan yang terbaik untuk kehidupan adiknya. Kali ini dia akan menyerahkan semua pada sahabat Vino yang akan selalu menemaninya.


__ADS_2