
Jerman
Di sebuah ruangan rumah sakit. Perempuan berkacamata berdiri di depan pintu kaca sebuah ruangan, menatap jauh seorang perempuan yang berbaring di brankar dengan banyak selang-selang melekat pada tubuhnya.
Tanpa terasa air mata itu kembali jatuh menetes di pipi. Sudah berhari-hari Nara menjalani hari dengan tangisan. Terenyuh akan nasib adik tersayangnya.
“Sudah jangan menangis! Dia akan baik-baik saja!” suara Vino menyapa di sertai tepukan di pundak membuat Nara dengan cepat mengusap linangan air mata di pipinya, dia tidak boleh terlihat lemah.
“Dia belum membuka matanya Vin, dia koma,” rintih Nara membekap mulutnya menahan isakan yang keluar.
Pandangan Vino pun tertuju pada tubuh Alana.
“Kondisi Nana stabil. kita berdoa saja semoga dia cepat sadar," balas Vino.
“Semoga saja Vin,” harap gadis berkacamata ini.
Vino beralih memegang ke dua pundak Nara, mengarahkan tubuh mungil itu padanya.
“Kau tenang saja! Nana di rawat oleh dokter terbaik,” jelas Vino memberi ketenangan pada perempuan rapuh ini.
Nara mengangguk pelan. Ya tuhan, betapa Nara sangat beruntung, semenjak insiden Alana tertabrak Vino selalu berada di sampingnya untuk menenangkan hatinya yang cemas akan kondisi Alana. Vino selalu hadir menyeka air matanya yang terus turun. Menyampingkan kekecewaannya atas cinta yang tak terbalas.
“Ra. Ada yang ingin aku katakan padamu," ujar Vino memasang wajah serius.
“Apa Vin,” balas Nara.
Gadis berkacamata itu menatap lekat pergerakan Vino yang sedang merogoh kantung celana jeans yang ia kenakan. Terlihat mengeluarkan sebuah kartu.
Tangan Vino lalu menarik tangan kanan Nara kemudian menaruh sebuah kartu di telapak tangannya yang terbuka.
“Apa ini Vin?” tanya Nara dengan alis berkerut tak mengerti apa yang Vino berikan padanya.
“Itu kunci rumah,” sahut Vino dengan wajah terlihat sedih.
Nara menatap Vino lekat, Untuk apa sahabatnya ini memberikannya kunci rumah batin Nara bertanya-tanya.
“Aku telah membeli rumah untuk kalian, lengkap dengan fasilitasnya,” jelas Vino.
“Kunci rumah.” Ulangnya Semakin tak mengerti.
“Iya, kalian butuh rumah, kita tidak tahu sampai kapan Nana akan sadar. Bisa berbulan-bulan atau ...” Vino menggantung ucapannya lidahnya keluh.
Oh, semoga saja pemulihan Alana yang koma tidak membutuhkan waktu bertahun itu harapnya.
Nara terdiam terlihat berpikir, setelahnya menutup telapak tangannya yang memegang kartu. Benar yang di katakan Vino entah sampai kapan dia berada di tempat ini.
“Ra, ada hal penting yang ingin aku katakan padamu!" ucap Vino raut wajahnya semakin terlihat serius.
“Apa Vin?” tanya Nara sembari memasukkan kartu ke sakunya.
Pemuda ini menghela napas berat, uh sungguh sangat berat mengatakan sesuatu yang mengganjal hatinya ini.
“Maaf, untuk saat ini dan seterusnya aku sudah tidak bisa menemanimu lagi. Aku harus pergi,” jelas Vino dengan wajah sendu.
Manik mata Nara beralih ke Vino menatap lekat.
“Kau akan kembali pulang, kau sedang banyak pekerjaan!” tebaknya sesuai dengan yang ada di pikirannya.
Vino berdehem pelan, dengan ragu mulai menjelaskan.
“Tidak, aku tidak akan kembali ke sana lagi! Aku harus pergi ke tempat lain,” ujar Vino terdengar lirih.
Deg ...
__ADS_1
Apa! Vino akan pergi ...
Aliran darah Nara seakan terhenti, tertegun akan penjelas Vino. Pemuda ini akan pergi meninggalkannya dan tidak akan mendampinginya lagi.
Oh tidak, Nara tidak bisa.
Tangan gadis berkacamata ini seketika meraih tangan Vino.
“Tidak Vin, Kalau kau pergi lalu bagaimana denganku? Jangan tinggalkan aku! Aku takut Vin, tempat ini begitu asing untukku, aku tidak bisa Vin tanpamu!” rengek Nara tak rela hatinya berkecamuk akan kepergian sahabatnya. Saat ini dia menggantungkan semuanya pada sahabatnya itu.
“Maaf Ra. Aku harus pergi, ada sesuatu yang harus kulakukan,” jelas Vino.
“Kau akan kemana?” tanya Nara.
“Kau tidak perlu tahu!”
“Vin, kalau pergi siapa lagi tempatku berbagi, siapa yang menghapus air mataku ini? Aku sendiri Vin.” Kristal bening telah jatuh deras membasahi pipi Nara.
Hati Vino teremat kuat, dadanya terasa sesak melihat perempuan yang ia sayang memohon dan terisak di hadapannya. Sungguh dia tidak berdaya melihat air mata itu namun dia tidak bisa bertahan.
Pemuda ini pun beralih menangkup wajah Nara, pandangan mereka bertemu Vino mengusap air matanya dengan ibu jari.
“Kau pasti bisa melalui semuanya Ra, kau perempuan yang kuat!” lagi Vino memberinya kekuatan.
“Vin.” Nara tertunduk semakin terisak, memikirkan akan jadi apa dia tanpa Vino.
Nara berdiri dengan kepala tertunduk di hadapan Vino hingga puncak kepalanya menempel di dada pemuda itu.
“Setelah ini mungkin kita tidak akan bertemu lagi, jaga dirimu baik-baik,” berat rasanya Vino mengatakan perpisahan pada orang sangat ia cintai ini, dia pun susah payah menahan laju air matanya.
Vino lalu mengeluarkan satu buah kartu berwarna hitam kemudian memberikannya pada Nara yang terus saja menangis.
“Aku hanya bisa membantumu dengan ini! Gunakan kartu ini untuk pengobatan Nana dan untuk menghidupi kalian ke depannya. Itu kartu tanpa limited. Pakailah seberapa pun banyaknya,” jelas Vino dengan suara bergetar, membuang pandangannya manik matanya mulai berkaca-kaca.
Sejenak keduanya terdiam mengenang masa-masa indah persahabatan mereka bertiga sudah belasan tahun mereka selalu bersama berbagi suka, duka, tawa dan keceriaan. Mulai sekolah yang sama, bidang pekerjaan yang sama yaitu mengurus pernikahan, selalu menjalani hari bersama, namun kini harus berpisah tentu sangat berat. Mereka saling membutuhkan satu sama lain.
Nara tertunduk dengan tangisan dadanya terasa sesak, ia tak bisa menghirup udara dengan baik.
“Setelah Nana sembuh, kau bisa pulang dan kembali padanya, hiduplah dengan orang yang kau cintai,” pesan Vino memaksakan senyuman sebenarnya perasannya bergemuruh namun sebagai orang yang menyayangi Nara dia ingin cintanya itu bahagia.
“Aku sudah mengirim cek sepuluh milyar itu kembali pada Milan,” mengusap pipi Nara yang basah.
Nara tersentak kelopak mata yang berembun itu menatap Vino. Apa! Cek sepuluh milyar itu belum terpakai lalu semua ini?
“Lalu semua ini dari mana?” tanya Nara menghitung banyaknya biaya yang telah mereka keluarkan. Jet pribadi, rumah sakit terbaik, ruangan dan perawatan Nana semua yang terbaik bahkan sebuah rumah.
Vino mengembangkan senyuman.
“Aku menukarnya dengan hidupku,” canda Vino terkekeh untuk mencairkan suasana. “Kau tidak perlu tahu Ra, ini semua dari mana.”
Nara mengerucutkan bibirnya akan ucapan pemuda itu.
“Kau mencintainya Ra, berjuanglah demi cintamu, aku hanya ingin melihatmu bahagia.”
“Vin, aku tidak akan kembali padanya!”
Tangan Vino lalu menangkup pipi Nara.
“Aku sudah mengembalikan cek itu, kau tidak punya hutang padanya. Keputusan ada padamu kau ingin mengejar cintamu atau menyerah memulai hidup baru, Karena sesuatu hal. Aku telah menutup semua akses keberadaanmu! Tidak akan ada yang tahu di mana keberadaanmu. Pilihan ada padamu!”
Kelopak mata Nara tertutup semakin terisak. Betapa tulusnya lelaki yang ada di hadapannya. Dia menjaga harga dirinya di hadapan Milan dengan mengembalikan cek itu.
“Terima kasih Vin.”
__ADS_1
“Aku hanya ingin kau bahagia Ra. Aku pergi sekarang,” pamit Vino.
Nara lalu menarik tangan Vino mencegahnya untuk melangkah.
“Jangan pergi Vin, aku banyak berhutang budi padamu. Bagaimana aku membalasnya kalau kau pergi,” mohon Nara dengan suara terendah. Entah apa yang telah pemuda ini lakukan yang pasti dia tahu Vino telah berkorban besar untuknya.
Vino kemudian menarik kedua sudut bibirnya.
“Kau mau membayar hutangmu! Kau bisa ikut denganku dan menjadi Siti Nurbayaku,” celetuk Vino tersenyum mengejek, mengingat kalimat saat mereka bertiga bersama di warung bakso langganan mereka, jika Nara berhutang padanya dia harus menebusnya dengan dirinya seperti cerita Siti Nurbaya yang menjadi perempuan penebus hutang.
“Aku mau Vin,” ucap Nara dengan cepat.
Melihat apa yang telah di lakukan Vino untuknya yang telah membantunya melewati titik terendah hidupnya, Dia rela memberikan hidupnya pada pemuda ini.
Deg ...
Vino mematung dengan jantung berdetak kencang tak menyangka jawaban Nara, perempuan yang ia cintai bersedia ikut bersamanya namun itu bukan karena cinta. Untuk sesaat biarlah perasaannya berbunga, wajahnya bersemu merah, menjadi salah tingkah.
“Bodoh!” Vino menoyor kepala sahabatnya.
“Vin!” protes Nara mengusap kepalanya.
Vino lalu menarik tubuh mungil Nara masuk dalam dekapannya.
“Menjadi Siti Nurbaya akan membuatmu menderita, hidup bersama datuk Maringgi yang tidak kau cintai,” ucap Vino manik matanya mulai berembun mendekap erat tubuh Nara untuk terakhir kalinya sebelum mereka berpisah.
“Aku sangat menyangyangimu Ra, apa-pun akan kulakukan agar kau bahagia,” ucap Vino tentang perasannya.
Nara membalas pelukan Vino dengan isakan. “Jangan pergi.” Raungnya.
“Tidak bisa Ra.”
Pelukan terlepas sekali Vino mengusap air mata Nara.
“Titip salamku jika kau bertemu dengan Sea, Aku pergi dulu, selamat tinggal Ra,” pamit Vino tersenyum getir lalu berbalik melangkah cepat, setitik air mata jatuh membasahi pipinya.
“Vin! Vino!” teriak Nara menangis tersedu-sedu memanggil nama pemuda itu namun tak sedikit pun Vino berbalik.
Hati Nara tersayat perih menatap punggung sahabatnya. Sungguh hatinya hancur mereka telah bersama selama belasan tahun melihat Vino pergi entah bagaimana dunianya. Lelaki yang selalu menjaga dan melindunginya.
“Maafkan aku Ra,” batin Vino melangkah pergi, dadanya bergemuruh, mendengar panggilan Nara namun dia tidak boleh goyah dia harus pergi.
Langkah Vino telah menjauh dari Nara, berjalan meninggalkan rumah sakit dengan langkah gontai mengingat semua kenangan mereka bersama selama belasan tahun. Kenangan saat ia rapuh karena di tinggal oleh ibunya hanya Nara yang menguatkannya. Hidupnya akan terasa sepi tanpa dua perempuan yang selalu berada di sampingnya itu.
Kaki jenjang Vino terhenti, tangannya mengusap air matanya.
Setelanya tatapannya berubah tajam.
“Keluarlah!” ucapnya dengan nada dingin.
Setelah mengucapkan kata itu, beberapa orang mengenakan jas hitam pun keluar menundukkan kepala memberi hormat.
“Tuan Zayn, akhirnya kami menemukan Anda,” ucap salah seorang dari mereka.
“Ikutlah bersama kami!” pintanya dengan telapak tangan terulur menunjuk ke depan.
Vino menatap ke arah depan di mana terlihat kendaraan mewah dengan pintu mobil telah di buka oleh seseorang.
Vino menghela napas berat, Tanpa kata dan tatapan dingin Vino melangkah lalu masuk ke dalam mobil.
maff lambat up, ini belum di edit maaf kalau banyak typo.
ngetik sambil di panggil-panggil terus itu di suruh ini itu, bikin sebel, bikin ngak konsen.
__ADS_1
jadi maaf kalau ngak ngefel ...