
Di kantor Maxkal yang menjulang tinggi. Di ruang presdir Milan duduk di kursi kebesarannya, mengarahkan manik mata menatap tajam pada Kay yang berdiri di hadapannya memberi laporan.
“Bagaimana Kay?” tanya Milan dengan wajah dingin penuh rasa penasaran.
Kay menghela napas berat, menggeleng pelan sama seperti yang sering dia lakukan jika menjawab kabar Nara.
“Tidak ada Lan,” jelas Kay pelan.
Mendengar kembali kegagalan, Milan merosotkan tubuh lemahnya bersandar di sandaran kursi. Ia kembali kecewa.
Sudah berhari-hari Milan mencari keberadaan Nara namun tak ada satu pun informasi yang ia dapatkan.
“Mereka hanya mendapatkan jika ada sebuah rumah sakit yang sempat menangani adik Nara, tapi hanya sehari setelahnya keluarga pasien mengeluarkannya. Setelahnya tidak ada informasi lain, semua rumah sakit sudah mereka telusuri, bahkan pemakaman pun tidak ada yang bernama Alana Dewi,” jelas Kay akan informasi yang ia dapatkan.
Milan mendesah kasar, mengusap wajahnya sungguh dia sangat putus asa kehilangan Nara.
"Di mana kau? Aku sangat merindukanmu! Jangan hukum aku seperti ini! Aku tidak bisa,” batin Milan cipratan rindu menggelayuti hatinya, dia merasa sangat kehilangan harinya terasa kosong.
Dia ingin kembali melihat tawanya, suaranya, memeluknya. Ya, tuhan dia sangat merindukan istrinya.
“Ahhhh ....” teriak pemuda ini menyapu semua benda yang ada di meja dengan tangan.
Prak ....
“Orang yang kau perintahkan hanya orang-orang yang tidak berguna! Dia tidak mungkin pergi jauh! Dan tidak di temukan!” hardik Milan meluapkan emosinya.
Lantai ruangan terlihat berantakkan semua barang-barang berserakan.
Kay berdecak sebal pemuda ini kembali murka. sudah beberapa hari Milan selalu saja marah-marah karena tidak mendapatkan kabar tentang istrinya.
“Lan, sangat sulit mendapatkan petunjuk, semuanya buntu, tidak ada titik terang. Mereka sudah mengecek semua penerbangan mencari jejak Nara tapi semua nihil, baik jalur laut semua tidak ada!” terang Kay membela diri.
“Mereka tidak becus bekerja!” hardiknya dengan sinis serta tatapan tajam menghunus.
“Lan mereka semua orang-orang terbaik! bahkan mereka telah menemukan penabrak adik Nara!” terang Kay.
Milan tertegun di tempat. Penabrak adik Nara yang merupakan salah satu biang masalah telah di temukan.
“Sekarang dia, ada bersama mereka,” jelas Kay menatap wajah serius Milan. “Dan kau tahu siapa dia?” tanya Kay mencoba agar Milan menebaknya.
“Siapa?” seru Milan tak sabar.
“Dia adalah Rio Sebastian.”
“Rio Sebastian!” tekan Milan.
__ADS_1
Seketika ingatan Milan berputar mengingat pembicaraan dengan Zeline. Rio Sebastian adalah ayah dari anak yang di kandung Zeline.
Astaga ternyata lelaki selingkuhan mantan kekasihnya yang melakukan semua itu padanya. Benar-benar sepasang kekasih yang memuakan.
“Rio membencimu karena Zeline! Karena itu dia ingin membalas dendam, Dia sengaja menyudutkan Nara di wawancara itu untuk mempermalukanmu, ia juga merancang lampu gantung itu jatuh menimpamu pada saat wawancara, namun naas malah Nara yang terkena!” jelas Kay yang telah tahu semua pengakuan lelaki jahat itu.
Milan pun teringat karena kejadian saat wawancara itu, ia pun menjadi kesal lalu membuat perhitungan pada orang yang telah mencoba bermain-main dengannya. siapa pun yang menantang Milan Kalingga semua harus hancur.
“Dan kita pun membalasnya, membuat keluarganya bangkrut dan mengambil alih stasiun tv milik keluarganya karena itu dia dendam.Dan dia juga mengaku ternyata dia mengincar Nara namun naas malah adiknya yang ia tabrak,” tambahnya.
Rahang Milan seketika mengetat, tatapannya menyala marah dengan napas memburu. Ia murka mendengar apa yang lelaki itu rencanakan pada Nara istrinya.
dia tidak bisa membayangkan jika Rio benar-benar menabrak Nara.
oh, aliran darah Milan seakan mendidih.
“Bawa aku padanya!” murka Milan tangannya mengepal erat.
“Tapi kau harus menahan dirimu!” pinta Kay mewanti-wanti, dia tahu Milan emosi saat ini dan pemuda itu akan sangat mengerikan jika di kuasai amarah.
Milan hanya membisu tak mengiyakan melangkah ke luar ruangan. Dia pasti sudah tidak akan dapat menahan diri untuk menghajar lelaki yang telah merencanakan melukai istrinya.
***
Setelah beberapa saat berada di dalam mobil bersama Kay. Akhirnya mereka telah sampai di sebuah rumah kosong tempat lelaki itu berada.
Amarah Milan telah berada di puncak kepala, saat netranya tertuju pada lelaki yang duduk dengan kedua tangan terikat di balik punggung serta wajahnya yang telah babak belur.
Langkah Milan semakin mengikis. Tanpa kata Milan melayangkan satu kepalan tangannya ke arah wajah lelaki itu.
Buk ...
Lelaki itu jatuh tersungkur dari kursi. Milan jongkok mencengkeram kerah baju yang Rio kenakan.
“Bajingan! Kau telah menyakiti orang yang tidak bersalah!”
Buk ... satu tinju keras lagi mendarat di wajah Rio membuat wajahnya teralihkan ke samping.
“Pecundang! Seharusnya kau membalasku bukan dia!” murka Milan emosinya meluap.
Bruk ....
Pukulan demi pukulan Milan layangkan di wajah lelaki yang bermain belakang dengan mantan kekasihnya ini, hingga wajahnya yang telah babak belur menjadi sulit di kenali penuh darah.
“Lan! Sudah dia sudah tidak berdaya!” tahan Kay menarik tubuh tinggi Milan untuk menjauh.
__ADS_1
“Ahhh! Lepaskan aku! Biar aku menghabisi bajingan ini!” teriak Milan berontak dalam cekalan Kay.
Rio tersenyum sinis.
“Aku sengaja menabraknya agar kau hancur. Sama seperti yang kau lakukan padaku! Aku sangat mencintai Zeline, tapi dia tidak ingin menikah denganku karenamu!” berang Rio mengungkapkan sakit hatinya.
“Bajingan! kau masih bisa bicara! Kay lepaskan aku!” geram Milan.
Ah rasanya Milan ingin menguliti hidup-hidup pemuda jahat yang ada di hadapannya ini.
“Kau terlalu angkuh! Kau juga telah membuat keluargaku bangkrut!” balas dengan suara meninggi tak kalah emosinya dengan Milan.
“Bagaimana rasanya kehilangan?” Rio tersenyum sinis seakan mengejek nasib Milan saat ini.
Oh, astaga darah Milan semakin mendidih mendengar Rio.
“Ahhh! Kurang aja!” teriak Milan murka tubuhnya hendak maju namun Kay masih menghalangi
“Kau menginginkan perempuan sampah itu! Ambillah aku tidak peduli dia sampah sama saja sepertimu!” hardik Milan.
“Lan tahan emosimu!” ucap Kay mulai kewalahan menghalau tubuh Milan.
“Aku akan membunuhnya!” geram Milan.
“Lan tahan dirimu! Kau bisa di penjara jika terjadi sesuatu padanya,” bujuk Kay.
mendengar itu akal pikirran Milan mulai berjalan. ia lalu beralih memeluk tubuh Kay yang berdiri di hadapannya.
“Karena mereka aku kehilangan Nara!” raung Milan suaranya bergetar meluapkan perasaan pada sahabatnya, sungguh rasa kehilangan, kosong berbaur menjadi satu.
Oh, rasa sedih kembali menerjang relung hatinya. Dia sangat merindukan istrinya itu.
“Aku sangat takut Kay, tidak bisa menemukannya, dan aku takut dia meninggalkanku selamanya,” lirih Milan akhirnya mengeluarkan perasaan terdalammya pada Kay membuat Kay yang mendengarnya menjadi iba.
Dia tidak pernah melihat Milan sehancur ini, bahkan saat Zeline meninggalkannya dia tidak segila dan sekacau ini. Kini dia melihat betapa berartinya gadis berkacamata itu bagi Milan. Sahabatnya ini benar-benar rapuh karena kepergian Nara.
jangan lupa ..
Like
Coment
Vote ....
__ADS_1
oke makasih
Oh iya, yang kangen Nara. up berikutnya Nara ama ayangggg Vinoku ...