
Erangan, desahann memenuhi ruang kamar yang menjadi saksi, percintaan pasangan yang sedang melakukan penyatuhan cinta. Hentakan kenikmatan terus menghujam, berpacu semakin cepat mengejar kenikmatan puncak yang membawa melayang ke nirwana.
“Ahhhh,” erangan panjang terdengar dari keduanya saat Milan menyentak dalam-dalam, mengisi rahim Nara dengan cairann cinta.
Tubuh Milan limbung di atas tubun Nara dengan keringat bercucuran dan napas terengah-engah dari keduanya. Milan semakin merengkuh tubuh Nara. Mengarahkan wajahnya di telinga Nara.
“Aku sangat mencintaimu,” bisik Milan di telinga Nara. Setelah itu kembali mengecup seluruh bagian wajah istrinya dengan sayang.
Debaran jantung Nara terus menggila, semakin membuatnya lemas karena terus menerima ungkapan cinta di setiap sentuhan Milan yang terus mencumbuinya dengan lembut.
Milan menarik diri, melepaskan penyatuan.
Lalu menarik selimut menutupi tubuh polos mereka, Setelahnya berbaring di samping Nara.
Milan berbaring miring ke arah istrinya. Netra hitam milik Milan terus mengarah pada wajah cantik istrinya. Membuat perasaannya membuncah. Ya tuhan, wajah istrinya semakin cantik, memesona.
“Ada apa?” tanya Nara yang wajahnya merona karena terus di tatap oleh Milan.
Senyum tipis menghiasi wajah tampan Milan.
“Terima kasih sudah kembali padaku! Terima kasih karena telah memberiku kesempatan,” ucap Milan.
Setelahnya menarik tubuh Nara masuk ke dalam pelukannya. Menjadikan lengannya sebagai bantal untuk istrinya.
“Aku sangat bahagia, rasanya seperti mimpi, kau ada bersamaku sekarang.” Milan mempererat pelukannya mengecup puncak kepala istrinya dengan sayang.
Nara membalas pelukan suaminya, dia sangat merindukan kehangatan tubuh ini.
“Kak Milan bolehkah aku meminta sesuatu,” ucap Nara.
“Apa sayang?” balas Milan kembali mengecup kepala Nara.
Sayang ....
Sejenak Nara tertegun mendengar kata sayang. Uh manisnya, terdengar indah saat Milan memanggilnya sayang.
Tapi bukan itu sekarang.
“Kak Milan tolong berikan aku izin untuk kembali. Aku harus menyelesaikan perkerjaanku di sana. Aku telah menandatangani beberapa kontrak perkerjaan dan aku tidak bisa meninggalkannya,” jelas Nara sebagai istri dia harus meminta izin suaminya untuk pergi. lagi pula dia tidak bisa meninggalkan begitu saja tempat yang selama ini menjadi tempat bernaung.
Akan pergi lagi ... seketika Milan menjadi panik. Istrinya akan pergi lagi. Oh tidak
__ADS_1
“Jangan tinggalkan aku lagi, aku tidak bisa!”
“Aku harus menyelesaikan semuanya sebelum kembali menetap di sini,” jelas Nara.
“Sayang!” rengek Milan semakin mempererat pelukannya seakan tidak membiarkan tubuh mungil ini beranjak dari sisinya.
“Hanya tiga bulan.”
What ...
“Tiga bulan itu lama sekali,” sosor Milan dengan cepat.
“Aku sudah terikat kontrak, aku harus membayar denda jika melanggar."
Milan terdiam sejenak memikirkan penjelasan Nara, dan dia mengerti posisi Nara. Sebenarnya dia bisa dengan mudah membantu istrinya tapi ia tidak ingin menyinggung hati Nara tentang kekuasaannya.
“Baiklah kau boleh pergi,” ujar Milan mengambil keputusan berat untuk dirinya, memberi izinnya sebagai seorang suami.
Hati Nara berdecak hore mendengarnya.
“Tapi ....” milan menggantung ucapnya.
“Tapi apa kak?” tanyanya penasaran.
“Aku ikut bersamamu!”
“Ha, ikut.” Nara tersentak.
“Aku tidak bisa pisah denganmu lagi!” ucapnya dengan manja bak anak kecil terus memeluk Nara.
Lagi Nara tersenyum melihat tingkah Milan.
Uh manisnya, sangat menggemaskan, membuat hati Nara berbunga, sungguh ia bisa melihat lelaki ini sangat mencintainya.
“Kalau kakak ikut lalu perkerjaan kakak bagaimana?”
“Ada Kay yang mengurusnya,” ujarnya santai memberikan tugas pada sang pengantin baru.
“Kak Kay. Dia baru saja menikah.”
“Biarkan saja, aku akan sekalian mengatur bulan madu di sana.” Milan tersenyum penuh arti.
__ADS_1
“Bulan madu,” ulang Nara.
“Selama menikah, kita tidak pernah bulan madu sayang, Jerman adalah negara yang indah,” jelas Milan.
Sejenak Nara terdiam memikirkan rencana suaminya, lalu menghela napas. “Baiklah.”
Yess hati Milan bersorak akhirnya dia akan menjalani hari indah bersama Nara. Hari indah, malam panas dan bergelora. Ah, membayangkannya saja sudah sukses membuat tubuh Milan kembali menegang.
“Terima kasih sayang,” ucap Milan beralih melayangkan ciuman bertubi-tubi di wajah istrinya dengan tangan mulai aktif bergilya meraba bagian sensitif tubuh istrinya.
“Kak Milan!” protes Nara mulai panik apalagi saat mendengar deru napas lelaki itu telah memburu.
“Aku menginginkannya lagi,” ucap Milan dengan suara parau berbisik di telinga Nara.
Ah astaga, tubuh istrinya bagai candu yang selalu ia inginkan.
Nara menelan salivanya kelat malam ini suaminya ini pasti tak akan membuatnya tidur semalaman. Apalagi mereka telah berpisah dua tahun. Hasratnya pasti menggila bak singa yang kelaparan. Ini saja ia sudah merasakan tubuhnya remuk redam setelah menjalani penyatuhan panjang. Apalagi kekuatan Milan yang seakan tidak ada lelahnya.
Milan kini telah beralih menindih tubuh Nara.
“Lagi ya sayang,” pintanya dengan manik mata berkabut gairah menatap wajah cantik yang kini berada dalam kungkungannya.
Sudah dia atas masih bertanya lagi? Memang dia sudah bisa apa selain menikmatinya.
Nara lalu menghela napas pasrah setelanya mengangguk pelan membuat senyum kemenangan terbit dari wajah Milan.
“Istriku memang selalu patuh petuah suami-istri,” puji Milan membuat wajah Nara merona.
Setelahnya mulai memulai aksinya. Di bawah kungkungan suaminya Nara memasrahkan tubuhnya. Malam ini akan menjadi malam indah penuh desahaan, erangann untuk mereka pasangan yang baru bertemu ini.
Tinggalkan jejak ya
Like
Coment
Vote
hai udah yang manis-manis kita udah di ujung-ujung perpisahan mereka ....
__ADS_1