
Nara masih menanti kedatangan Chelsea yang berbincang penting dengan Kay. Ia pun melangkah perlahan menyusuri kantor. Manik matanya berbinar kagum menatap betapa hebat dan megahnya kantor Maxkal milik keluarga Chelsea.
Nara terhenti saat seorang perempuan yang merupakan pegawai kantor menghampiri.
“Nona,” sapa perempuan yang di tugaskan Milan untuk membawa Nara ke ruangannya.
“Iya,” sahut Nara dengan senyum kaku.
“Silakan ikut saya, pak presdir menunggu nona di ruangannya,” kata perempuan yang bernama Syasha.
Nara menatap lekat perempuan cantik di hadapannya. Ruang presdir? Bukannya itu pemilik perusahaan? Untuk apa dia ke sana? dia kan kemari tidak punya kepentingan.
Nara bertanya-tanya di dalam hati. Otak belum mencerna sepenuhnya.
“Silahkan nona ikut,” perempuan itu menggiring Nara untuk ikut bersamanya.
Nara pun ikut melangkah di belakang Syasha dengan hati masih berselimut tanya.
Mereka telah berada di depan ruangan bertuliskan presdir Maxkal.
“Silakan masuk nona,” tangan Syasha terulur mempersilahkan.
Setelah lama berpikir Nara akhirnya tersadar presdir Maxkal adalah Milan, pemuda galak yang menjadi suaminya yang beberapa hari belakang tak bertemu.
Nara masih berada di depan pintu.
“Untuk apa kak Milan, bertemu denganku, bagaimana dia tahu aku ada di kantornya?” batin gadis berkacamata ini.
Nara menarik napas panjang, menyiapkan diri lalu membuka pintu ruangan. Setelahnya melangkah pelan masuk ke dalam.
“Culun!” suara bariton menyapa telinga Nara yang baru saja melewati pintu.
Manik mata Nara menangkap bayangan tubuh pemuda yang duduk di kursi kerja, telah menatapnya lebih dulu.
“Kak Milan,” sapa Nara dengan senyum lembut melangkah mendekat.
Hati Milan berdesir hebat, jantungnya berdetak kencang saat melihat Nara telah berada di hadapannya. Setelah berhari-hari merasa hatinya kosong tak melihat wajah berbalut kacamata itu.
Setelah melihat Nara, gemuruh dadanya kembali bergejolak bak, ada jutaan kupu-kupu yang menggelitik dalam dirinya.
Oh, dan ternyata benar selama ini dia merindukan si culun yang beberapa hari terakhir hilang dari hidupnya.
Milan pun melangkah mendekat dengan tangan bersedekap di dada menatap Nara.
“Kak Milan, lama tidak bertemu,” ucap Nara dengan cengiran.
__ADS_1
“Duduk,” titah Milan menunjuk sofa dengan ekor matanya masih memasang wajah datar seperti biasa.
Nara pun duduk di ikuti Milan yang juga ikut duduk di samping Nara.
“Wah ruangan kak Milan besar sekali.” Nara memutar pandangannya, berdecak kagum menatap isi ruangan Milan yang besar. “Kakak hebat punya kantor sebesar ini,” oceh gadis berkacamata ini.
Milan hanya diam tanpa kata, arah pandangannya hanya menatap pada Nara.
Nara merasa aneh mengapa pemuda galak ini menatapnya. Apa dia punya kesalahan? Apa karena tanda tangan? Pikir Nara.
Suara ketukan pintu membuat perhatian teralihkah. Syasha masuk ke dalam ruangan membawa minuman pesanan sang presdir.
“Ini pesanan bapak.” Syasha pun meletakkan di meja kemudian melangkah keluar.
Nara tercengang menatap minuman ke sukaannya tersaji di hadapannya.
“Minumlah, itu untukmu,” titah Milan masih memasang wajah datar untuk menahan dirinya.
“Ha, boba untukku.” Nara tercenung menunjuk dirinya dengan alis berkerut dalam, untuk apa pemuda galak ini memberinya boba.
Seketika pikiran jahat bak sinetron beterbangan di kepala Nara mungkin kah dia akan diracuni oleh pemuda ini?
Milan menghela napas panjang saat melihat Nara hanya terdiam.
“Apa yang kau tunggu! Minumlah!” desak Milan meraih minuman itu lalu memberinya pada Nara.
“Cepat Minum! Ini minuman kesukaanmu kan!” paksa Milan tangannya semakin menyodorkan minuman itu.
Mengembangkan senyum kaku, Nara tidak punya pilihan lain, ia pun meraih minuman dari tangan Milan. Selalu patuh pada perintah.
Nara memaksakan senyuman, menatap Milan yang terus menatapnya lekat, terpaksa ia pun menyedot minuman boba dari Milan.
“Ya tuhan selamatkan aku. Semoga aja bobanya ngak ada racunnya, semoga ini benaran boba bukan campuran kelereng, kan malu kalau aku mati keselek kelereng,” batin Nara meringis akan perhatian Milan.
“Bagaimana pekerjaanmu?” tanya Milan membuka obrolan.
Nara semakin mengening, sejak kapan Milan peduli padanya.
“Baik kak, setelah jadi MUA dinda, tawaran jadi MUA juga semakin banyak. Sekarang aku juga sudah merias klien Sea, mereka sudah tidak ragu lagi,” jelas Nara antusias.
“Baguslah,” kata Milan ada jeda sejenak namun teringat jika gadis ini adalah pekerja keras. “Kau pasti tidak pernah istirahatkan,” tuding Milan memicingkan mata.
Nara mengaruk tengkuknya yang tak gatal, Milan tahu kebiasaannya.
“Maklum kak, lagi kejar setoran.” Nara menjawab dengan cengiran.
__ADS_1
Mereka pun melanjutkan pembicaraan, ini pertama kalinya mereka berbincang. Milan terus menatap wajah Nara.
Dret ... Dret ...
Suara getar ponsel terdengar itu pasti Sea. Nara pun meraih ponsel di saku celananya.
“Ya, Sea.”
“Kau di mana? Cepat. Ayo kita pulang!”
“Sudah selesai
“Aku menunggumu di parkirkan.”
“Baiklah, tunggu aku.”
Panggilan terputus.
“Sea, dia sudah menungguku di parkiran,” ucap Nara menaruh kembali ponselnya ke saku celana.
“Kak Milan aku harus pergi,” pamit Nara Bangun dari duduknya. Milan pun ikut berdiri.
Ada perasaan tak rela, gadis berkacamata ini akan pergi, rasanya di belum puas bersama dengan Nara pertemuan mereka begitu singkat.
“Kak, Milan terima kasih bobanya. Aku pergi dulu,” ucap Nara melepaskan senyuman ceria, sembari melambaikan tangannya yang di balas anggukan kepala oleh Milan tanpa satu kata.
Gadis berkaca mata ini pun berbalik melangkah pergi.
Milan menatap nanar punggung Nara yang semakin menjauh darinya.
Tangan Nara baru saja hendak membuka pintu namun terhenti. Tubuhnya terkunci seakan tak bisa bergerak.
Deg ...
Nara seketika membatu saat tangan kekar melingkar di pinggangnya, mendekap erat tubuhnya. menghirup aroma parfum menusuk indra penciumannya.
Ya, Milan memeluk tubuh dari mungil Nara dari belakang melepaskan semua rasa rindu yang selama ini dia tahan.
Ah, ada apa ini? pemuda galak ini memeluknya?
Sungguh jantung Nara seakan dihempaskan dari ketinggian, rasanya aliran darahnya terhenti.
Milan melepaskan pelukannya, membalikkan tubuh Nara menghadap ke arahnya.
Tubuh Nara bergetar hebat saat pemuda itu, menangkup wajah Nara hingga pandangan mereka terkunci. Saling menatap. Wajah tampan itu mulai maju mengikis jarak, Milan beralih menarik tengkuk leher Nara agar mendekat, melingkarkan sebelah tangannya di pinggang gadis berkacamata ini hingga tubuhnya terkuncinya.
__ADS_1
Cup ...
Ah ... Entah sudah seperti apa degub jantung Nara saat bibir mereka bertemu.