
Malam semakin larut, suara dawai-dawai malam membuat orang-orang masuk ke alam mimpi. Namun tidak pada seorang pemuda yang berbaring di lantai dengan rasa bersalah yang mengukung perasaannya.
“Kak Milan tolong bantu aku! Bantu adikku!”
Suara Nara yang terisak sambil memohon padanya, terus terniang dan berbisik di telinga.
“Akhirnya kau katakan kau ingin uang!”
“Perempuan penipu!”
Ah, jahatnya dia ...
Kelopak mata Milan tertutup mengalirkan bulir kristal dari ekor matanya. Saat mengingat apa yang telah ia lakukan pada perempuan tulus itu.
“Seharusnya kau memakiku sepuasmu, atau menamparku, kenapa harus pergi,” sesal Milan semakin mendekap kertas perpisahan mereka.
kini ia hancur, rasa bersalah, kehilangan, semua bercampur menjadi satu.
/////
Mentari pagi menyambut sinar hangatnya masuk melalui celah tirai.
Pintu kamar Milan terbuka hingga terlihat gadis cantik melangkah masuk. Chelsea datang untuk mengajak kakaknya sarapan.
Alis Chelsea mengerut dalam menatap bingung sosok lelaki yang berbaring di lantai di depan nakas.
Chelsea melangkah mendekat ke arah Milan. Duduk jongkok, tangannya lalu terulur menepuk pundak kakaknya.
“Kak Milan bangun!” Chelsea menggoyang pelan tubuh kakaknya.
Milan menggeliat pelan, mengumpulkan separuh nyawanya. Kelopak matanya mulai terbuka sayup dia melihat bayangan seorang perempuan.
“Nara!” sentak Milan membuka matanya lebar.
Pemuda ini menghela napas kecewa saat mempertegas penglihatannya ternyata perempuan itu adalah adiknya Chelsea.
“Kak ini aku!” sangkal Chelsea. “Sudah waktunya sarapan,” tambah gadis cantik ini.
“Aku tidak lapar,” balas Milan dengan suara serak khas bangun tidur.
“Kakak kenapa berbaring di sini?” tanya Chelsea heran.
Semalam Milan menghabiskan waktunya menyesali kepergian Nara hingga tak terasa ia tertidur.
Milan lalu bangun beralih duduk di lantai, di tangannya masih memegang kertas bertanda tangan Nara itu.
Pemuda ini tertunduk lesu.
__ADS_1
"Dia meninggalkanku Sea. Dia sangat marah padaku,” ucap Milan dengan nada terdengar lirih mengungkap apa yang telah terjadi.
Chelsea mengening tak mengerti apa yang di maksud kakaknya.
“Apa maksud kakak!”
Chelsea menatap wajah kakaknya lekat.
“Dia menandatangani kertas perpisahan kami,” jelas Milan dengan wajah sendu.
Kertas perpisahan ...
Pikiran Chelsea mengingat bagaimana Nara selalu bercerita jika kakaknya itu selalu meminta berpisah. Dan hanya satu tanda tangan dari Nara saja mereka akan berpisah. Ya Chelsea ingat jelas itu.
Gadis cantik ini tertegun, ternyata sahabatnya telah menyerah dengan kakaknya.
“Dia datang ke kantorku untuk meminta bantuan. Adiknya mengalami kecelakaan korban tabrak lari,” jelas Milan dengan suara bergetar. Manik matanya mulai membening.
“Nana!” Chelsea membeku mendengar ucapan kakaknya tentang adik sahabatnya itu.
“Aku tidak percaya padanya Sea, aku malah menghinanya! Aku tidak menolongnya!” terang Milan dengan penyesalan.
Oh dada Chelsea teremat kuat, mendengar nasib sahabatnya karena ulah kakaknya yang arogant. Dia sangat tahu Alana sangat berarti bagi Nara pantas saja jika sahabatnya itu sangat kecewa.
“Adiknya luka parah, karena aku mungkin dia tidak akan selamat! Dia pantas marah padaku,” jelas Milan.
Chelsea membekap mulutnya dengan telapak tangannya. Air matanya terus mengalir, mendengar nasib tragis gadis kecil yang sangat ia sayang dan sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri.
Kini adik kecil itu bernasib malang ...
Ah, amarah Chelsea naik ke ubun-ubun. Sama seperti Nara perasannya pun hancur. Dia pun kecewa pada lelaki yang ada dihadapannya.
Astaga, ingin rasanya ia melayangkan tamparan di wajah kakaknya karena telah mengabaikan adik kecil kesayangannya.
Chelsea kemudian bangkit dari posisinya.
“Sea!” panggil Milan yang melihat adiknya beranjak meninggalkannya dengan derai air mata terus terurai.
Tatapan Chelsea menyalah marah ke arah kakaknya.
“Aku membencimu! Kau tidak pantas di maafkan!” geram Chelsea berlalu pergi.
Deg ...
Milan membeku, Hatinya teremmas ada dentaman kuat menimpannya, ini pertama kalinya Chelsea semarah itu padanya.
Bagaimana tidak secara tidak sengaja dia juga telah menghancurkan hubungan persahabatan yang telah terbina erat.
__ADS_1
Milan menekuk kakinya, menyembunyikan wajahnya di lutut. Menyesali semuanya. Istrinya telah pergi adiknya pun membencinya.
Ah, mengapa semua seperti ini. Dia memang pantas di benci dan di salahkan atas semuanya.
Milan mengusap cairan bening di bawah matanya. dia harus memperbaiki dan menebus semua kesalahannya
“Aku tidak boleh membuang waktu! Aku harus menemukannya!” gumam Milan dengan menggebu.
“Kecelakaan, saat ini dia pasti ada di rumah sakit!” ucapnya yakin.
“Aku akan menemukanmu.”
“Dia tidak akan ke mana-mana.” Pikir Milan.
Pemuda ini lalu meraih ponselnya mendeal sebuah kontak.
“Hallo!” Kay.
“Kay, aku ingin kau mengerahkan orang-orang terbaik untuk mencari informasi tentang keberadaan Nara dan aku ingin kau mengusut siapa pelaku tabrak lari itu. Kau harus menemukannya secepatnya!”
“Baiklah.”
“Cari data di semua rumah sakit tentang adik Nara! Dia pasti ada di salah satu rumah sakit di kota ini,” ucap Milan dengan yakin.
“Atau ...”
Suara Milan bergetar tak kuasa mengatakan perintah itu.
Milan menghela napas berat.
“Telusuri semua pemakaman yang ada di kota ini!” Milan melipat bibir dalam setelah mengucapkan kata itu menutup mata pedih.
Hening tak ada suara baik dari Kay yang di seberang sana juga merasakan sedih.
"Cepat! Lakukan perintahku.”
Panggilan terputus, Milan kemudian bangkit. Dia harus mencari keberadaan Nara.
“Aku pasti akan menemukanmu Ra,!” gumam Milan dengan keyakinan.
Tak berpikir jika Nara telah berada di tempat yang jauh darinya.
hei aku kembali,
Like
__ADS_1
Coment
Vote ...