
“Kakak mau ke mana?” tanya Chelsea menautkan dua alisnya saat kakaknya telah keluar dari kamar Zeline terlihat melangkah cepat.
Chelsea memegang nampan baru saja akan masuk ke dalam kamar membawa makanan untuk Zeline.
“Aku harus kembali,” jawab Milan.
Dia harus segera kembali, hatinya saat ini terus tertuju pada Nara, rasa bersalah terus membelenggu dalam dirinya. Dia harus meminta maaf pada istri yang telah ia lukai hatinya itu.
“Sekarang!” tanya Chelsea memastikan. “Tapi, kakak baru saja datang istirahatlah dulu,” tawar gadis cantik ini.
“Tidak bisa Sea, Aku harus bertemu dengannya, aku telah melakukan kesalahan besar dan harus meminta maaf,” terang Milan raut cemas tercetak jelas di wajahnya.
Sungguh dia tidak akan tenang jika belum bertemu dan meminta maaf pada istri yang telah ia sakiti hatinya.
Melakukan kesalahan ....
Manik mata Chelsea menatap Milan lekat, seakan mengintimidasi. Apa yang telah kakaknya perbuat pada sahabatnya.
“Kesalahan apa yang telah kakak perbuat padanya?” dengus Chelsea.
Milan menghela napas berat, lidahnya terasa keluh menjelaskan kesalahan yang ia lakukan pada Nara.
“Aku telah menuduhnya bersekongkol denganmu menyembunyikan Zeline,” papar Milan dengan penuh penyesalan wajah tampannya seketika pias.
Chelsea tercengang mendengar ucapan kakaknya yang menuduh Nara.
Oh Astaga, teganya dia berpikir seperti itu pada sahabatnya yang baik hati.
“Kakak! Kenapa kakak melakukan itu!” geram Chelsea tak terima melayangkan tatapan tajam.
“Saat aku tahu, kau yang menyembunyikan Zeline, aku juga mengira dia pasti tahu, karena dia adalah sahabatmu!” papar pemuda itu rasa penyesalan semakin menyesakkan dadanya.
Chelsea berdecak kesal. Kakaknya ini selalu saja berpikiran buruk tentang sahabatnya.
“Bisa-bisanya kakak menuduhnya seperti itu!” murka perempuan cantik ini.
Wajah Milan menjadi senduh, menyadari, benar dia memang lelaki yang jahat dan pantas menerima kemarahan Chelsea.
“Aku telah melakukan kesalahan besar Sea, aku harus minta maaf padanya. Dia datang ke kantorku! Tapi aku malah menghinanya, mengatakan dia perempuan penipu dan licik,” jelas Milan dengan perasaan bersalah merayapi hatinya.
Mendengar hinaan kakaknya pada Nara. Amarah Chelsea seketika naik, meletakkan nampan yang sejak tadi di pegangnya ke meja. Menatap tajam pada kakaknya.
__ADS_1
“Kenapa kakak melakukan itu padanya! Kenapa kakak menghinanya!” seru gadis cantik ini.
“Kakak sangat emosi dan mengira dia merencanakan menyembunyikan Zeline agar bisa menikah denganku! Ternyata aku salah Sea aku harus minta maaf padanya,” papar Milan menggenggam tangan adiknya itu.
“Bukan itu saja dia datang padaku meminta bantuan!” kenang Milan.
“Nara meminta bantuan!” sambar Chelsea tak menyangkah.
Oh, tidak Nara sedang dalam kesulitan, semakin cemas saja perasaan Chelsea. Apa yang telah terjadi.
“Bantuan apa?”
“Aku tidak tahu! Dia datang kekantorku meminta bantuan dan Aku malah menghinanya dan mengatakan dia perempuan yang hanya menginginkan uang!” jelas Milan beralih mengusap wajahnya putus asa betapa besarnya kesalahan yang ia lakukan.
Ah .... jerit Chelsea di dalam hati tangan terkepal erat, amarahnya telah berada di puncak. Andai saja yang di hadapannya bukan kakaknya dia pasti sudah menghajarnya untuk Nara, sungguh menyedihkan nasib sahabatnya itu meminta pertolongan dan malah hanya mendapatkan hinaan.
“Kakak kenapa kakak tidak membantunya! Kakak tahu selama kami bersahabat belasan tahun dia tidak pernah meminta bantu pada siapa pun, termaksud padaku. dia selalu bertahan apa-pun keadaannya, jika dia telah meminta bantuan. itu berarti sangat mendesak!” terang Chelsea dengan berapi-api menyalahkan sikap kakaknya
Deg ...
Jantung Milan seakan terjun bebas ke dasar perut, mendengar perkataan Chelsea. Itu berarti Nara datang padanya dalam keadaan terdesak dan dia malah mengambaikannya.
“Apa yang telah aku lakukan!” sesal Milan semakin frustrasi menatap kosong.
“Sea!”
Pemuda ini lalu mengarahkan padangannya pada Chelsea yang mengeluarkan ponselnya dari saku celana.
Benda pipih melekat di telinga Chelsea namun tak dapat terhubung.
“Nara tolong angkat! tidak tersambung!” ucap Chelsea semakin resah.
Berkali-kali Chelsea mencoba menghubungi ponsel Nara namun hasilnya tak dapat tersambung membuat Milan semakin cemas.
Milan lalu bangkit dari duduknya setelah melihat usaha adiknya tak membuahkan hasil, bergegas pergi.
“Aku harus pergi Sea!” pamit Milan melangkah cepat.
“Kak Aku ikut!”
“Kau di sini saja jaga dia,” Milan menatap sinis ke arah kamar.
__ADS_1
“Tidak kak! Ini pertama kalinya sahabatku meminta bantuan, berarti ada sesuatu yang sangat penting!” sergah Chelsea dia yakin sahabatnya itu dalam masalah.
Hati Milan semakin gundah mendengar ucapan Chelsea, perasannya semakin bergemuruh.
Dua kakak adik ini pun memutuskan pulang, untuk menemui Nara.
****
Milan dan Chelsea telah berada di pesawat dalam perjalanan pulang, Keduanya terdiam tanpa satu kata pun, Milan bisa melihat kecemasan terpaut jelas di wajah adiknya membuat perasaannya semakin kacau.
Bayangan Nara menangis memohon meminta bantuannya terus bermain di pikirannya.
“Kak Milan, aku bisa jelaskan itu semua! Tapi tolong bantu aku dulu!”
Kenang Milan bersama dengan suara isakan Nara yang masih jelas di ingatannya.
Dada Milan terasa sesak mengingat air mata yang jatuh di pipi Nara. Ah Bodohnya dia, mengapa dia begitu egois, hingga tidak mendengarkan ucapan Nara, apa yang telah terjadi pada istrinya itu?
“Karena kedokmu telah terbongkar! Akhirnya kau meminta sesuatu padaku! Harta, uang kekuasaan! itu yang kau inginkan!”
Oh, dada Milan berdenyut perih saat mengingat ucapan kasarnya pada Nara. Cipratan penyesalan terus menggelayut, betapa dalamnya dia menyakiti hati perempuan baik itu.
“Kak Milan. Aku butuh biaya untuk Nana adikku ...”
“Akhirnya kau katakan juga kau ingin uang!”
Milan mengatup bibirnya rapat, manik matanya mulai berkaca-kaca. Betapa saat itu Nara sangat membutuhkannya namun dia hanya menghinannya membuat harga dirinya terluka, hati istrinya itu pasti hancur.
"Kak Milan! Jangan pergi! Tolong bantu aku,"
Pandangan Milan turun menatap ke dua tangannya, mengingat saat Nara memintanya jangan pergi, dia malah menepis tangan itu dengan kasar.
“Aku tidak punya waktu untuk meladenimu!”
Ah, Sungguh tega dia, bicara sekasar itu pada Nara ...
“Maafkan aku!” gumamnya. Tanpa sadar setitik bulir air mata jatuh di pipi pemuda itu. Menyesali betapa jahat dan teganya dia telah mengabaikan dan menghina Nara yang memohon padanya.
__ADS_1