
Nara menatap bingung saat deru mesin mobil Milan telah terhenti di sebuah parkiran mall mewah.
“Kak Milan untuk apa kita ke sini?” tanya Nara tak mengerti Milan membawanya ke sebuah Mall untuk kalangan kelas atas.
Rencana awal Milan berubah, mulanya dia akan membawa Nara memperlihatkan rumah baru hadiah darinya, namun sebelum itu, dia akan membeli sebuah kacamata baru di Mall untuk mengganti milik Nara yang rusak. Agar dapat melihat dengan jelas.
“Ayo turun!” ajak Milan.
“Kak Milan untuk apa turun?” tanya Nara lagi.
“Kita akan beli kacamata baru,” jelas Milan.
“Kacamata baru? Untuk siapa?”
“Yah untukmulah!”
“Untukku? Kacamata baru di Mall ini?” seru Nara tahu semua barang yang ada di dalam adalah barang dari brand terkenal. Ia mana mampu.
“Ngak perlu kak. Aku bisa membelinya di pinggir jalan, di pasar atau di mana pun,” tolak Nara dengan cepat melambaikan kedua tangannya.
“Di pinggir jalan!” seru Milan menatap Nara seakan tak percaya akan membeli kacamata di pinggir jalan.
“Iya, kak. Di sana bagus-bagus, murah lagi,” papar Nara dia bisa jantungan jika melihat harga kacamata di Mall ini.
Milan menarik napas berat. “Di sini yang terbaik! Sudah, kau tenang saja, aku yang akan membelikanmu!” tekan Milan menantap tajam pada Nara.
Milan hendak turun lebih dulu, ia membuka pintu mobil namun Nara mencegahnya.
“Kak Milan ngak perlu! Itu bukan kacamata minus, itu hanya kacamata biasa, sebenarnya mataku baik-baik saja!” ungkap Nara tentang keadaannya yang sebenarnya agar Milan berhenti.
Dan benar saya. “Ha.” Milan tertegun mendengar ucapan Nara lalu kembali pada posisi lurus di kursi kemudi menatap Nara meminta penjelasan.
__ADS_1
Nara tidak rabun? Lalu untuk apa dia memakai kacamata
“Kacamata itu hanya untuk penampilan!”
“Maksudmu?” tanya Milan tak mengerti.
Nara menarik napas panjang, ah demi tak masuk ke dalam Mall mahal, dia akan membeberkan rahasianya.
“Kakak tahukan almarhum ayahku pemabuk?” ucap Nara.
Milan mengangguk dia tahu sekali karena telah menyelidiki siapa sahabat adiknya, termaksud Vino yang hidup sendiri tanpa keluarga semua ia tahu, karena alasan itulah Milan tak suka pada Nara dulu.
“Ayahku pemabuk, penjudi, Dia selalu berhutang hanya untuk bersenang-senang,” papar Nara memulai membuka memori hidupnya.
“Ia berhutang di mana-mana, hingga ibu pontang-panting untuk membayarnya. Setiap hari akan ada penagih hutang yang datang ke rumah kami, memaki, menghina, bertindak kasar, jika ayah tak bisa membayar hutang. merampas barang-barang yang ada di rumah. Apa pun di pakai untuk membayar hutang, bahkan aku pun hampir di tukar untuk membayar hutang,” jelas Nara tersenyum getir mengingat semua kenangan buruknya.
Milan mengepalkan tangannya erat, rasa tak tega merasuk di sanubarinya. Ternyata kehidupan Nara begitu menyedihkan.
“Karena itulah ibu mendandani kami seperti ini, memakaikan kacamata besar padahal mata kami baik-baik saja, rambut di kepang dua, serta baju kebesaran, agar tidak satu pun orang tertarik! Dan kami selalu aman!”
Sungguh Milan sangat menyesal telah membenci Nara sebelumnya, karena dia anak pemabuk. Padahal nyatanya Nara juga sangat menderita memiliki ayah seperti itu.
“Pasti sangat sulit bagimu!” ucap Milan menatap Nara sendu.
“Sudah tidak lagi!” Nara menggeleng menarik sudut bibirnya.
“Kehidupan kami telah berubah lebih tenang. Kami mulai menata kehidupan setelah di tinggal ayah. Ya walau pun kami masih punya banyak cicilan karenanya. Tapi, Aku berjanji akan membahagiakan Alana dan ibu, menebus hidup sulit yang dulu kami alami. Apa-pun permintaan mereka aku akan berusaha mengabulkannya. Ini saatnya mereka bahagia. Walau pun aku harus bekerja keras, mati-matian, itu semua demi mereka,”
Milan terpaku, hatinya terenyuh mendengar cerita hidup Nara. Sekarang ia mengerti mengapa Nara bekerja begitu keras hingga tak peduli dengan kondisi tubuhnya.
“Aku akan membahagiakan mereka dengan jerih payahku sendiri. Berdiri di kakiku sendiri, tanpa bantuan orang lain, hingga tak ada orang yang akan merendahkan kami, dan menghina harga diri kami,” ucap Nara dengan tekad membara.
__ADS_1
Milan menarik sudut bibirnya melihat semangat Nara. Perasaan Milan semakin mantap terpaut pada Nara.
“Kau tidak akan menderita lagi,” Milan mengelus rambut Nara lembut di iringi senyuman.
Wajah Nara terasa panas, mendapatkan perlakuan manis dari Milan. Ia membuang pandangannya tak ingin Milan melihat wajahnya yang merona.
Ya, ampun dia bisa baper kalau begini. Mendapatkan perlakuan yang manis dari Milan.
Milan membuka pintu mobil kemudian turun lebih dulu.
Milan merogoh kantung celananya, mengeluarkan kunci rumah yang ia persiapkan untuk keluarga Nara. Niat untuk memberikan Nara sebuah rumah ia urungkan istrinya pasti akan menolak pemberiannya.
“Dia tidak akan pernah menerimanya.” Milan mendesah kasar menatap kunci rumah itu, kemudian memasukkannya ke dalam saku celananya.
Milan mengitari mobil melangkah membuka pintunya untuk Nara.
“Ayo turun,” ajak Milan membungkuk menatap Nara yang masih duduk manis di dalam mobil.
“Kenapa kak saya ngak butuh kacamata,” kekeh Nara sudah bercerita panjang lebar masih di suruh turun.
"Hari ini kita akan kencan!” ucap Milan singkat.
Jeduar ...
Jantung Nara seakan langsung terjun bebas ke dasar perut. Mulut Nara sedikit terbuka mendengar pemuda ini mengajaknya kencan.
Kencan ...
Bukankah kata itu hanya untuk pasangan?
__ADS_1