Si Culun Mendadak Jadi Istri Presdir

Si Culun Mendadak Jadi Istri Presdir
rumah sakit


__ADS_3

Di sebuah rumah sakit, suasana terasa mencekam di selimuti oleh kecemasan.


“Nana bertahanlah! Kamu harus kuat!” ucap Nara terus terisak menatap wajah Alana yang penuh dengan darah, terus memegang tangan adiknya yang berbaring di brankar rumah sakit, beberapa perawat mendorong ranjang itu, melalui lorong-lorong menuju ruang perawatan.


“Nana sayang, anak ibu pasti kuat!” tambah ibu Salma dari sisi seberang tak kalah hancur dan sedihnya, putrinya mengalami kemalangan, berada di antara hidup dan mati.


“Jangan tinggalkan kakak!” rintih Nara terdengar lirih, bajunya telah basah karena tetesan air mata.


Hingga mereka telah sampai di depan sebuah ruangan pegangan tangan Nara terlepas, tubuhnya tertahan.


“Nana kakak ngak bisa hidup tanpa kamu!” jerit Nara semakin terisak saat tubuh Alana telah masuk ke dalam ruang perawatan.


Nara dan ibu Salma terhenti di depan pintu.


“Ibu!” raung Nara mendekap tubuh ibunya hingga mereka berdua terisak bersama.


“Semoga adik kamu ngak apa-apa!” kristal bening itu semakin deras membasahi pipi.


Ketakutan, kecemasan meliputi perasaan mereka bagaimana tidak keadaan Alana sangat parah. Mereka sangat takut Alana tidak bisa bertahan dan meninggalkan mereka untuk selamanya.


Semoga itu tidak terjadi harapnya.


Melihat pemandangan ibu dan anak itu. Vino yang juga berada di rumah sakit mengantarkan Alana, melangkah mendekat.


“Nana gadis kuat dia pasti baik-baik saja!” hibur Vino pada Nara dan ibu Salma agar tenang.


Pintu ruangan terbuka. Terlihat seorang dokter keluar.


“Dengan keluarga pasien,” ucap lelaki yang mengenakan pakaian putih.


“Iya, dokter. Saya kakaknya,” ucap Nara sembari menepuk dadanya.


“Begini, Karena kecelakaan itu. Adik Anda mengalami benturan keras di kepala, ia menderita cidera cukup parah di kepala hingga wajah. Kondisinya kritis,” jelas dokter akan kondisi Alana.


Kritis ... itu berarti?


Oh, Tubuh Nara bergetar hebat, mendengar kondisi adiknya kakinya seakan tak bisa bertopang lagi.


“Terus berdoa semoga ada keajaiban dan adik Anda bertahan karena kecelakaan itu berakibat sangat fatal bagi organ penting adik anda,” jelasnya.


Hiks ...hiks ...


Ibu Salma terisak, menutup mulutnya erat, penjelasan itu menyiratkan harapan hidup Alana sangat tipis hanya menunggu keajaiban tuhan.


Vino dengan cepat memeluk tubuh lemah perempuan paruh baya itu yang seakan sudah tak bisa berdiri lagi.


Ah tidak, Dunia Nara seakan runtuh mendengar kabar itu.


Oh, sungguh dia belum siap kehilangan Alana untuk selamanya.


“Tolong selamatkan adik saya dok!” mohon Nara dengan air mata berlinang membasahi pipi.


“Tentu saja kami akan berusaha maksimal. Langkah yang akan kami ambil adalah mengoperasinya ....”

__ADS_1


“Lakukan apa saja dokter yang penting adik saya selamat!” sosor Nara dengan cepat.


“Baiklah.”


“Berikan dia yang terbaik! Berapa pun saya akan membayarnya!” ucap Nara apa-pun akan dia lakukan agar adiknya bisa selamat.


Dokter pun mengangguk setelahnya masuk kembali ke dalam ruangan.


Nara menundukkan kepalanya, Bahunya bergetar karena semakin terisak. “Kenapa bukan aku saja!” raung Nara menutup wajahnya dengan telapak tangan.


Ya tuhan, Seharusnya dia yang berada di tempat Alana sekarang.


Vino membantu ibu Salma duduk di kursi tunggu lalu menghampiri Nara.


Pemuda ini berdiri di hadapan Nara lalu membawa tubuh mungil Nara dalam dekapannya. Demi apa-pun ini pertama kalinya Vino melihat sahabatnya kacau dan serapuh ini.


Bagi Nara keluarga adalah harta yang paling berharga, saat keluarganya sakit maka dia yang akan lebih sakit.


“Nana Vin. Dia tidak boleh meninggalkan aku! Aku tidak bisa menjalani hari tanpa tawa dan ocehannya!” Nara mencurahkan semua isi hatinya dalam pelukan Vino dengan derai air matanya yang tiada henti mengalir.


“Nana pasti kuat.”


“Aku kakak yang ngak berguna! Seharusnya aku yang melindungi dia! Seharusnya aku yang di tabrak, bukan dia!” raungnya.


Hiks ... Hiks ....


“Sudah jangan menangis lagi!”


Vino mengelus punggung sahabatnya. Dengan setia mendengar keluh kesah Nara.


Nara menatap perempuan yang mengenakan pakaian berwarna putih.


“Silakan Anda urus administrasinya!” ucap perempuan itu.


Nara dan Vino pun melangkah bersama menuju tempat administrasi.


Setelah beberapa saat mereka telah berada di depan meja.


Nara menatap tubuhnya seakan mencari sesuatu, hingga tersadar.


“Astaga Vin, tasku hilang!” ucap Nara.


“Hilang!” balas pemuda ini.


“Hilang di tempat kecelakaan Alana tadi.” Kenang Nara saat tubuhnya terdorong, tas di jinjingnya ikut terlepas dari tangannya.


Suasana begitu panik, penuh kecemasan hingga ia sudah tak memedulikan lagi di mana tas yang terus terjinjing di tangannya.


“Di dalamnya ada semua kartu! Bahkan ponselku juga hilang!” Nara mengusap wajahnya kasar.


“Kartu dari kak Milan juga di sana!” batin Nara.


Ah, Di saat genting seperti ini semua malah hilang. Lalu dengan apa dia membayar semuanya?

__ADS_1


Melihat Nara cemas, Vino pun meraba kantung belakangnya meraih dompetnya lalu mengeluarkan sebuah kartu.


“Pakai ini!” ujar Vino menyerahkan kartunya pada bagian administrasi.


“Vin, jangan!” tolak Nara tak enak hati.


“Tidak apa-apa aku punya sedikit tabungan! lagi pula dia adikku"


Melihat itu membuat air mata Nara menganak di pelupuk mata.


 “Terima kasih Vin. ” Ucap Nara terharu. Vino lagi-lagi menjadi penyelamatnya. Pemuda itu memang sahabat yang bisa di andalkan akan selalu berkorban untuknya.


Vino menerima kartunya kembali.


Nara terdiam mematung.


“Ada apa?” tanya Vino.


“Untuk mendapatkan perawatan yang maksimal Nana pasti memerlukan biaya yang besar,” ucap Nara menatap Vino.


Melihat keadaan Alana yang kritis siapa pun bisa menebak jika, gadis itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk kembali pulih.


Menarik napas berat Vino lalu mengangguk mengiyakan.


Nara pun melangkah hendak pergi.


“Kau mau ke mana?” tanya Vino mencekal tangan Nara.


“Aku akan menemui kak Milan! Dia pasti akan menolong pengobatan Nana!” jelas Nara. Dia tidak akan mungkin mampu membayar biaya rumah sakit Alana jalan satu-satunya hanya Milan sang presdir yang berkuasa.


“Adikku sekarat Vin, kritis. dia sedang berjuang hidup dan mati. Aku ingin berusaha yang terbaik untuk adikku. Aku tidak ingin dia pergi Vin!” suara Nara kembali bergetar, air mata itu kembali menetes. Sungguh Nara takut kehilangan saudara satu-satunya.


Oh, dia akan menggantungkan  harapannya pada Milan.


Vino melepaskan cekalan tangannya, membiarkan Nara pergi berjuang untuk kehidupan adiknya.


“Aku titip ibu, tolong tenangkan dia. Aku akan segera kembali!”


“Ra, tunggu!” tahan Vino.


Pemuda ini lalu mendekat ke arah Nara kemudian melepaskan jaket jeans yang ia kenakan. memakaikannya pada Nara untuk menutupi  pakaiannya yang penuh dengan noda darah dari Alana.


“Hati-hati Ra,” ucap Vino.


“Aku akan kembali dengan cepat!” ujar Nara lalu melangkah cepat pergi meninggalkan Vino untuk menemui Milan meminta bantuan padanya.


jangan lupa ...


Like


Coment


Vote ...

__ADS_1


 


 


__ADS_2