Si Culun Mendadak Jadi Istri Presdir

Si Culun Mendadak Jadi Istri Presdir
perasaan Milan


__ADS_3

Seakan terbius Nara masih berdiri terpaku dalam dekapan Milan, tubuhnya tak bisa mengelak. Jujur di dalam hati terdalam dia merindukan dekapan hangat ini walau sekuat hati dia selalu menepisnya. hatinya goyah biar lah untuk sesaat ia menikmati pelukan Milan.


 “Maafkan aku!” lirih Milan dengan sejuta rasa bersalah.


Maaf! Oh astaga ...


Tubuh Nara bergetar hebat mendengar kata maaf dari Milan, tanpa sadar seketika kelopak mata Nara tertutup sayu, setitik bulir kristal jatuh membasahi pipinya. Air mata yang sejak tadi ia tahan telah jatuh.


Kata maaf itu telah membuat kenanganya tentang rasa sakit dan luka yang dirasakannya kembali berputar.


Nara tersentak, mulai mendapatkan kesadarannya. Tidak! dia tidak boleh hanyut dalam perasaannya. Tangan Nara menyeka air mata yang jatuh di pipinya mencoba kuat. Dan Ia pun mulai berontak dalam pelukan Milan.


“Kak Milan lepaskan!” sentak Nara mencoba melepaskan diri.


“Tidak! Aku tidak ingin kau pergi lagi!” tangan Milan semakin melingkar erat di pinggang rampingnya.


“Jangan seperti ini!”  Nara mencoba melepaskan belitan tangan lelaki itu.


Dekapan Milan semakin mengunci tubuh Nara hingga perempuan ini merasa sesak.


“Kak Milan. Lepaskan aku!” bentak Nara sembari menyentak kuat tangan Milan di pinggannya. Nara telah hilang kendali. Bagaimana pun dia harus pergi dari hadapan Milan.


Pelukan terurai, wajah Milan terlihat sendu, hatinya teremas kuat saat melihat sikap dingin Nara padanya. Baru kali ini Nada suara Nara meninggi padanya.


Ahg, dia semakin menyadari betapa dia sangat membuat hati perempuan yang ia cintai itu terluka.


Nara berbalik hendak melangkah meninggalkan Milan namun kembali tertahan saat pergelangan tangannya di cekal oleh lelaki itu.


 “Jangan pergi! Aku mohon maafkan kebodohanku! Aku tahu kesalahanku padamu sangat besar! Aku telah  meragukanmu, mengabaikanmu, aku membuatmu sangat kecewa,” tutur Milan dengan penyesalan kelopak matanya terlihat berkilau menyadari betapa jahatnya dia pada istrinya ini.


Hati Nara berdenyut sakit mendengar ucapan Milan terlebih bayangan kenangan pahit itu kembali berputar saat Milan lebih memilih menemui Zeline dari pada menolong nyawa adiknya.


Manik mata Nara berkaca-kaca, lagi air mata itu ingin tumpah. Namun dia harus tegar Milan tidak boleh melihat air matanya.

__ADS_1


“Semua telah berlalu,” ucap Nara dengan nada sinis mencoba tegar menatap ke atas, menahan agar air matanya tidak tumpah.


“Dan aku juga sudah melupakannya! Jadi tidak perlu meminta maaf!” ucap dengan senyum namun terdengar ada amarah di dalamnya. Nara lalu menyentak  tangannya kuat hingga cekalan tangan Milan terlepas.


Lagi Milan tertegun akan sikap dingin Nara padanya yang ingin pergi membuatnya merasa putus asa.


Nara melangkah cepat meninggalkan Milan. Sungguh dia ingin pergi menjauh dari pemuda ini berada bersama Milan hanya membuat perasaannya kacau.


“Jangan pergi!” teriak Milan namun Nara terus melangkah tak menghiraukan panggilan Milan. Walau hatinya bergejolak.


“Jangan pergi! Anara Putri aku mencintaimu!” teriak Milan mengungkap perasaannya.


Nara yang telah berjalan beberapa langkah seketika terhenti. Ia membatu di tempat.


Cinta


Deg ...


 “Aku sangat mencintaimu Ra, hanya kau yang ada di pikiran dan hatiku. Rasanya aku akan gila tanpamu!” ungkap Milan terdengar putus asa.


Dan benar saja dia memang kehilangan arah hidup setelah kepergian Nara di sisinya.


Tangan Nara terkepal erat, mencoba untuk tidak terbuai oleh ucapan Milan.


Milan melangkah mendekat ke arah Nara, memegang tangan perempuan yang ia cintai itu. menatap lekat wajah cantik perempuan itu.


“Ku mohon. Kembalilah ke sisiku! Kita jalani semua seperti dulu!” pinta Milan dengan nada terendah.


Nara membeku dengan Jantung bergemuru saat Milan memohon padanya. Ditatapnya wajah lelaki yang dulu galak padanya itu terlihat menyedihkan. Dia tidak pernah melihat Milan memohon.


Namun Nara tidak ingin pertahanannya goyah. Dia tidak mungkin bersama dengan Milan. Tatapan sendu Nara berubah menghunus.


“Itu tidak mungkin! Perbedaan kita sangat jauh, bak bumi dan langit. Kau memiliki segalanya! Milan Kalingga  Seorang presdir Maxkal, sedangkan aku hanya perempuan biasa! perbedaan Status itu akan selalu membuatmu meragukanku, terus menuduhku!” sergah Nara mengingat sejak dulu Milan selalu meragukannya hanya karena dia perempuan yang tidak memiliki apa-apa.

__ADS_1


“Tidak! Aku tidak akan mengulang kebodohanku lagi. aku berjanji padamu aku tidak akan pernah meragukanmu! Aku tidak akan merendahkanmu.”


“Kita tidak mungkin bisa bersama!” lirihnya.


Mendengar itu membuat Milan menjadi semakin putus asa. dia hanya ingin hidup bersama Nara.


“Aku berjanji akan menjadi suami yang baik untukmu. Akan terus mencoba membahagiakanmu!” ucap Milan beralih memegang bahu Nara.


“Kita tidak akan bisa kembali bersama lagi!” Nara terdiam tertunduk dalam.


Rasanya ada hantaman ribuan beban menekan perasaannya benar ada banyak jarak antara dia dan Milan. Nara lalu kembali menatap Milan.


“Karena kita telah berakhir!” tekan Nara mengingatkan tetap teguh pada pendiriannya tidak akan kembali. Ia Menepis tangan Milan yang memegang bahunya.


Kemudian berlari pergi dengan isakan, meninggalkan Milan dengan linangan air mata tak dapat tertahan lagi. semakin deras mengalir.


Deg ... jantung pemuda ini terasa di hempas dari ketinggian.


Milan berdiri mematung menatap kepergian Nara dengan perasaan sedih. Hatinya hancur akan penolakan Nara padanya. Tanpa sadar setitik air mata jatuh di pipinya. Perasaanya luluh lantak perempuan yang ia cintai tidak ingin kembali padanya semua ini karena kesalahannya.


...****************...


 


Maaf ya bang Milan. kalau Sya yang sabar dan pemaaf ini sih sebenarnya udah mau nulis abang Milan pun menggendong Nara ke kamar terus terjadilah adegan ... yang begitulah ... Uh lala ... Kan namanya juga udah dua tahun di tahan pisah sama istri, pasti kepala atas sama kepala bawa udah berdenyut perih tuh. Asik ...


Tapi nih pembaca pada coment mau abang tersiksa dulu, katanya masih sakit hati, dendam banget sama loe bang.


Hahahaha ....


Maaf bang! Abang Masih harus puasa!


Tunggu sakit hati readersku terbayar. “Hahahhaa”  Sya yang mencintai readers tertawa jahat.

__ADS_1


__ADS_2