Si Culun Mendadak Jadi Istri Presdir

Si Culun Mendadak Jadi Istri Presdir
Kelahiran


__ADS_3

Nara sedang duduk di depan cermin rias menatap bayangan tubuhnya yang telah berubah. Pipinya terlihat cubby, perutnya telah membuncit. Waktu berlalu indah cinta dan kasih Milan membuat waktu begitu terasa cepat tak terasa kandungan Nara telah menginjak tujuh bulan. Dia sudah tak sabar menunggu kelahiran buah cinta mereka.


Tangan kekar melingkar di dada Nara, siapa lagi kalau bukan suaminya  yang manja. Yang kini mengedus aroma tubuhnya.


“Sayang! Di sini saja aku hanya ingin memelukmu,” rengek Milan yang katanya masih dalam suasana ngidam.


“Ngak bisa, sayangkan harus ke kantor. Aku ingin bertemu ibu. Mengabarkan kalau kita akan mengadakan acara untuk tujuh bulan kandunganku, sekaligus melihat keadaan Nana.”


“Baiklah tapi jangan lama-lama, aku ngak mau nanti kamu lelah,” pesan Milan dengan khawatir.


“Hanya sebentar.”


Milan mengangguk lalu kembali mencumbui leher istrinya.


****


Sementara Milan ke kantor Nara telah berada di rumah  ibunya untuk menghabiskan waktu.


“Kamu datang sayang? Bagaimana kandungan kamu?” tanya ibu Salma menyambut kedatangan putrinya.


“Aku dan kandunganku Baik bu,” nara mendudukkan tubuhnya.


“Nana mana bu?” tanya Nara mengedarkan pandangannya


“Di kamarnya!”


“Dua hari lagi Nara akan mengadakan acara tujuh bulanan, ibu dan Nana harus datang,” ujar Nara.


Ibu Salma menarik napas panjang. “Ibu pasti datang sayang. Tapi adik kamu, dia pasti ngak mau. Dia pasti malu.”


“Nara akan bicara padanya.” Nara lalu bangkit dari duduknya menuju kamar sang adik.


Nara berjalan dengan mengelus perut buncitnya.


“Nana!” sapa Nara menatap adiknya yang sedang bermain ponsel.


“Kakak di sini.” Alana membantu kakaknya yang terlihat kepayahan berjalan.


Nara dan Alana pun duduk berdampingan.


“Kakak mau memberitahukan kalau kakak akan mengadakan acara tujuh bulanan. Kamu datang ya,” bujuk Nara menggenggam tangan adiknya.


“Ngak ah, kak. Nana Malu,” ucap Alana berkecil hati wajahnya menjadi sendu.


“Nana, jangan seperti itu!” Nara menatap wajah sendu adiknya. Dia juga merasakan apa yang adiknya rasakan, rasa tak percaya diri bertemu orang.


“Kakak sudah bicara pada kak Milan, dia sangat ingin membiayai operasi wajah kamu,” jelas Nara.


“Ngak perlu kak, Nana ngak mau kakak terbebani.” Alana sedikit tahu jika dulu hubungan Milan dan Nara kacau karena dirinya.


“Apa-pun untuk kamu sayang.”


“Jangan kak. Sekarang waktu kakaknya harus menjalani hidup dengan bahagia, soal biaya operasi, biarkan Nana berjuang sendiri. Untuk mencarinya. Nana akan menabung untuk biaya operasi Nana sendiri!” ucap Alana dengan tekad menggebu sudah cukup selama ini Nara berjuang untuk keluarga.


“Nana.” Nara memeluk haru tubuh adiknya.


“Kakak akan selalu mendukungmu.”


“Kamu datangkan di acara kakak?” tanya Nara lagi saat pelukan mereka telah terlepas.


“Kak, Nana malu. Wajahku nanti membuat tamu undangan takut,” tolak Nara


“Nana.”

__ADS_1


Hati Nara miris mendengar ucapan adiknya.


Nara terdiam hingga manik matanya menangkap kotak make up di meja rias sang adik.


“Nana.”


“Apa kak?”


“Tolong ambilkan kotak make up itu,” pinta Nara seketika menemukan cara agar adiknya bisa datang di acaranya.


“Ini kak,” Alana memberikan kotak make up pada kakaknya.


“Baiklah duduk menghadap kakak.”


Alis Alana berkerut dalam apa maksud kakaknya. “Untuk apa kak?"


“Kakak akan membantumu menutupinya,” ucap Nara dengan keterampilannya menggunakan riasan ia akan menghias wajah adiknya.


“Meriasku,”


“Sudah pokoknya kau harus datang di acara kakak.”


Alana mendesah pasrah mengikuti apa yang akan di lakukan sang kakak padanya.


Jari-jari Nara mulai terampil mengulas make up di wajah adiknya mencoba menutupi luka yang membuat Alana kehilangan percaya diri.


Setelah beberapa saat Nara menata rambut panjang Alana membiarkannya tergerai indah.


Nara berdecak kagum saat melihat wajah adiknya yang telah berubah menjadi cantik karena kepandaiannya.


"Wah, Nana kamu cantik sekali,” puji Nara antusias.


Cantik ...


Alana tertegun wajahnya telah berubah bekas luka itu tertutupi. Kini ia menjelma menjadi perempuan yang cantik.


“Kakak.” Seakan tak percaya.


“Ini akan menjadi wajah barumu sayang, sekarang kau bisa keluar tanpa malu lagi.”


“Kakak terima kasih."


“Dengan wajah ini aku akan memulai hari, mengumulkan uang yang banyak sampai tabungan Nana terkumpul, nana akan berdandan seperti ini, Nana akan menutupinya dengan riasan.”


Nara menarik ke dua sudut bibirnya ini pertama kalinya Alana kembali ceria dan bersemangat.


“Terima kasih kak.” Peluk Alana.


***


Waktu indah berlalu dengan cepat tak terasa hari itu telah tiba.


Tubuh Milan tiada henti bergetar, bulir keringat dingin membasahi dahinya. Ini adalah waktu spesial yang paling dia tunggu namun saat hari ini datang, dia malah di relungi kegelisahan.


Milan berada di dalam ruang persalinan, mendampingi istrinya yang sedang menjalani proses melahirkan secara cecar. Tubuh Milan seakan lemah tak bertulang, debaran jantungnya terpompa cepat berharap sang istri bisa melalui semuanya dengan baik dan anak mereka lahir dengan selamat.


Oek ....oek ...


Akhirnya ...


Setelah menunggu dengan gelisah, tangis haru menetes dari pelupuk mata Milan saat suara tangisan bayi laki-laki menggema. Milan menatap takjub saat melihat putranya telah lahir ke dunia. Kini dia telah menjadi ayah.


“Selamat pak pewaris Kalingga telah hadir, putra anda lahir dengan selamat,” ucap dokter yang menangani Nara.

__ADS_1


“Terima kasih dok,” kata Milan sangat bahagia.


****


Nara telah berada di ruang perawatan, tubuhnya masih lemah, setelah menjalani operasi namun senyuman terus tertanam melihat pemandangan di hadapannya. sesosok bayi mungil yang mengemaskan, dalam gendongan Milan.


“Terima kasih sayang, telah menjadi ibu hebat dari anakku,” ucap Milan dengan tulus lalu mengecup kening istrinya sekilas menyalurkan perasaan bahagianya.


“Terima kasih juga atas kesempatan kedua yang kau berikan untukku.” Mata Milan berkaca-kaca seketika menjadi cengeng.


Entah seperti apa hidupnya andai Nara tidak kembali padanya, dia tidak akan merasakan kebahagiaan ini.


"Sayang.” Sela Nara mengusap pipi suaminya.


“Aku berjanji akan menjadi ayah dan suami yang baik untuk keluarga kita.”


Nara mengangguk pelan, “Kita akan belajar bersama menjadi orang tua,” kata Nara.


Pintu ruangan terbuka terlihat dua perempuan paruh bayah dengan senyum menghiasi wajahnya.


“Mana cucu mama?” tanya mama Erika mendekat ke arah Milan.


“Cucuku, sini oma gendong,” pinta mama Erika.


“Bagaimana keadaan kamu sayang?" tanya ibu Salma.


"Baik bu,” jawab Nara.


Manik mata pasangan ini lalu, terarah pada mama Erika dan ibu Salma saling berbincang menggendong cucu mungilnya yang masih merah dengan kebahagiaan sangat antusias. Bermain menirukan suara anak kecil.


“Cucu oma sayang. lihat bu Salma cucu kita sangat tampan,” mama Erika menggendong cucu pertamanya.


“Iya jeng, wajahnya seperti nak Milan,” tambah ibu Salma antusias.


“Kalian akan memberi nama siapa jagoan kita ini?” tanya mama Erika menimang bayi itu.


“Jagoan kami akan kami beri nama Berlin Geraldy Kalingga,” ucap Milan dengan senyum terus menghiasi wajahnya.


"Berlin! Bukankah itu nama ibu kota Jerman."


"Iya, Nara mau nama jagoan kami di ambil dari nama sebuah kota sama sepertiku kota Milan,” jelas lelaki itu.


“Dan Berlin adalah Kota yang sangat berkesan Ma,” tambah Nara.


Ya, Jerman adalah tempatnya yang menyimpan banyak cerita bagi Nara.


“Nama yang bagus, Berlin,” ucap mama Erika.


“Secepatnya kita harus membuat pesta jeng! Untuk cucu pertama kita,” mama Erika beralih pada besannya.


“Iya jeng,” balas Ibu Salma.


Buah cinta Milan dan Nara telah lahir ke dunia melengkapi kebahagiaan keluarga kecil ini. Harapan besar telah terpaut di pundak anak lelaki pertama dari keluarga Kalingga.


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2