
Kakak beradik ini masih berada di kamar Zeline. Suasana hening keduanya membisu tanpa kata.
Maaf ... satu kata itu terus terucap dalam hati Milan. Rasa penyesalan terus merasuk di dalam hati, mengutuki kebodohannya setelah mendengar penjelasan Chelsea tentang semua kebenaran yang menyakitkan hati itu.
Perhatian mereka beralih ke arah ranjang, saat melihat pergerakan kecil dari perempuan yang tadi tak sadarkan diri.
Chelsea pun beranjak dari sofa mendekat ke arah ranjang. Melihat keadaan Zeline yang telah sadar.
“Kakak baik-baik saja?” tanya Chelsea memasang wajah cemas.
Kepala Zeline terasa berat. Ia pun memeluk erat perutnya, saat kesadarannya mulai kembali ia telah berbaring di ranjang. Ia ingat Milan berada di sini dan pasti telah tahu kondisinya.
Zeline hendak bangun lalu di cegah oleh Chelsea.
“Kakak jangan banyak bergerak dulu,” ucap Chelsea membantu Zeline bangun, menyandarkan tubuh lemah itu di puncak tempat tidur.
Tatapan Zeline tertuju pada Milan yang telah memasang wajah dingin dengan sorot mata terlihat penuh amarah.
Chelsea menatap ke duanya kemudian berkata, “Kalian bicaralah aku keluar dulu.”
Chelsea memberi kesempatan pada mantan pasangan kekasih ini untuk saling bicara.
Tentu ada banyak pertanyaan, cerita yang akan mereka bahas dan harus di selesaikan saat ini juga.
Bayangan Chelsea telah hilang di balik pintu.
Milan melangkah mendekat ke arah ranjang, menarik kursi di meja rias. Lalu duduk di samping tempat tidur.
Sejenak keduanya terdiam, Milan hanya menunggu Zeline memberi penjelasan.
“Maaf!” ucap Zeline tertunduk, terdengar lirih. Bulir bening telah jatuh membasahi pipinya.
“Selama ini aku percaya padamu! Tapi nyatanya kau bermain di belakangku!” geram Milan.
“Maaf kan aku!” Zeline semakin terisak dalam penyesalan.
“Mengapa kau melakukan itu?” bentak Milan tak terima hatinya terluka.
“Mengapa!” suara Milan meninggi mengulang pertanyaannya.
“Karena kau selalu sibuk! kau tidak punya waktu untukku,” tekan Zeline membela diri.
Milan mendengkus tersenyum miring.
“Sibuk?” ucapnya sinis sebuah jawaban yang tak masuk akal. “Kita menjalin hubungan selama tiga tahun! sejak awal kau tahu bagaimana perkerjaanku! Itu bukan alasan kau bisa bermain di belakangku!” bentak Milan penuh amarah.
__ADS_1
Tangan Zeline terulur menggenggam tangan Milan.
“Maafkan aku!” katanya sedih.
“Jangan sentuh aku!” bentak Milan menepis tangan Zeline.
“Aku salah, maafkan aku, aku terbuai dengan perhatiannya,” jelas Zeline membuat pemuda ini berdecih membuang pandangannya rasanya tak sudi menatap wajah itu.
Netra mata Milan kembali terhunus ke arah Zeline.
“Katakan dengan siapa kau menghianatiku?” tanya Milan.
Pertanyaan Milan membuat tubuh Zeline membeku.
“Siapa lelaki itu!” bentak Milan dengan suara meninggi.
Linangan air mata perempuan itu semakin deras.
“Dia ....” semakin terisak memberi jeda sejenak.
“Dia Rio Sebastian!" sebut Zeline nama lelaki yang seharusnya mempertanggung jawabkan semuanya.
Rio Sebastian ...
pemuda ini tertegun, Isi kepalanya mengudara mengingat siapa lelaki itu hingga kilasan potongan peristiwa mulai terkenang .
Zeline yang sudah tak bisa berkata menunduk, hanya tangisan yang keluar, tundukan kepala mengiyakan.
“Astaga, dia lelaki yang menyudutkan Nara saat wawancara itu!” batin Milan teringat saat berada di stasiun televisi bersama Nara di mana istrinya itu tertimpa lampu gantung di tempat itu.
“Jadi dia ayah dari janin yang kau kandung?” geram Milan mengingat bagaimana pemuda itu menyudutkan Nara saat wawancara.
Zeline tertunduk dalam.
“Lalu kenapa kau tidak meminta pertanggung jawabannya! Kenapa dia tidak menikahimu!”
Zeline mengangkat pandangannya menatap ke arah Milan.
“Aku tidak ingin menikah dengannya.”
Ya, niatnya hanya menjadikan Rio, hanya untuk pelarian namun, dia malah terjebak. Terbuai oleh kehangatan yang di berikan.
Zeline kembali hendak meraih tangan Milan. Namun pemuda itu lagi-lagi menghindar Milan bangun dari duduknya. Sungguh sudah tak ada kehangatan lagi dari Milan yang terlihat hanya sorot mata benci.
“Milan aku hanya mencintaimu,” raung Zeline dengan penyesalan.
__ADS_1
“Cinta!” Milan tersenyum sinis.
Muak setelah semua yang terjadi perempuan itu dengan tak tahu malunya mengatakan mencintainya.
“Jangan katakan itu padaku! Kata itu tidak pantas keluar dari mulutmu!” bentak Milan.
“Milan ...” sela Zeline.
"Lupakan semua! Aku tidak ingin melihatmu lagi. Aku menyesal, kenapa aku dulu pernah mencintai perempuan rendahan seperti dirimu!” berang Milan.
Hati Zeline bagai di sayat sembilu mendengar ucapan Milan.
“Milan kita saling mencintai! Kita telah bersama selama tiga tahun!” tekan Zeline.
Tatapan Milan semakin menghunus. Amarahnya semakin naik, ah, dulu dia benar-benar buta dengan cinta. mengapa dulu dia bisa mencintai perempuan tidak tahu malu ini.
“Sekarang aku sangat membencimu tak ada lagi namamu di hatiku!” hardik Milan terdengar tegas.
Membuat lelehan air mata Zeline semakin deras.
Milan kemudian melangkah berlalu pergi.
“Milan!” panggil Zeline.
“Milan!”
Namun tak di idahkan, pemuda itu terus melangkah keluar meninggalkannya. Kini hubungannya dengan Milan telah berakhir.
Milan keluar dari kamar Zeline berpapasan dengan Chelsea yang membawa nampan.
“Kakak mau ke mana?” tanya Chelsea menautkan dua alisnya.
“Aku harus kembali,” jawab Milan melangkah cepat.
Dia harus segera kembali, hatinya saat ini terus tertuju pada Nara, rasa bersalah terus membelenggu dalam dirinya. Dia harus meminta maaf pada istri yang telah ia lukai hatinya itu.
hai, hai aku kembali ....
like,
coment
vote ...
__ADS_1
makasih....