Si Culun Mendadak Jadi Istri Presdir

Si Culun Mendadak Jadi Istri Presdir
cek


__ADS_3

Nara melangkah gontai dengan derai air mata terus membasahi pipinya. tatapannya kosong, hatinya berdenyut perih setelah kepergian sahabat terbaiknya Vino.


“Kenapa semua seperti ini!” rintih Nara mengenang semua kejadian yang telah ia lalui, keadaan berubah begitu cepat satu persatu hilang dari hidupnya.


“Vino!” isak Nara saat menatap kartu  berwarna hitam pemberian sahabatnya itu.


Tak pernah Nara berpikir jika persahabatan mereka yang kuat akan kacau seperti ini.


“Vino, Sea. Aku sendiri sekarang!” isak Nara.


Kenangan Nara berputar bagaimana mereka selalu menjalani hari bersama selama belasan tahun dengan ceria membuat kehebohan bersama Chelsea dan Vino.


“Ini semua karena aku menikah dengan dia!” sesal Nara sembari menyeka air matanya.


Andai dia tidak menikah dengan Milan Kalingga sang presdir, persahabatan mereka pasti akan baik-baik saja. Vino dan Sea pasti masih bersamanya. Dan Vino tidak perlu mengorbankan diri untuk cintanya.


Nara benar-benar jatuh dalam titik terendah dalam hidupnya. Adiknya sekarat, pernikahan hancur, kini sahabatnya yang selalu menemani harinya tidak ada di sisi.


Nara melangkah masuk ke dalam ruangan Alana, di mana adiknya berbaring tak berdaya.


Dengan derai air mata ia mendekat ke arah Alana. Nara duduk di tepi ranjang sembari memegang tangan adiknya yang terpasang selang infus, menatap iba pada Alana yang berbaring di ranjang rumah sakit dengan separuh wajah tertutup perban, serta selang-selang yang melekat untuk menopangnya bertahan hidup.


Rasanya sangat hancur hingga saat ini kelopak mata itu tidak ada tanda terbuka.


“Nana bangun! Buka matamu sayang! Semua telah pergi!” ucap Nara terdengar lirih mengungkapkan perasaannya.


“Temani kakak Na, semua orang telah meninggalkan kakak! Kakak ngak bisa tanpa kamu!" Nara menaruh tangan adiknya di pipinya.


“Ku mohon temani kakak memulai hidup baru tanpa mereka semua!” Nara mendekap mulutnya dengan sebelah tangan menahan isaknya saat kelopak mata itu enggan terbuka.


setelah mengeluarkan tangisannya di depan Alana. Nara mengusap air mata yang membasahi pipinya mengeluarkan kartu hitam pemberian Vino.


"Maaf Vin, aku menghargai pengorbananmu! tapi, aku tidak akan kembali," ucap Nara dengan pandangan memicing memutuskan hal penting dalam hidupnya.


...****************...


Di kantor Maxkal, dua pemuda sedang duduk berhadapan dengan meja yang menjadi sekat pemisah.


Kay sedang menjelaskan sebuah  proposal kerja untuk proyek yang akan mereka kerjakan nanti, sedangkan  Milan hanya duduk termengung di kursi kerjanya tak menanggapi. Pikirannya kacau,  entah melanglang ke mana.


Kay yang menatap Milan hanya termenung tak menyimak sama apa yang ia ucapkan menghela napas berat. Semenjak kepergian Nara sahabatnya itu sudah tak bersemangat lagi menjalani harinya.


“Lan, kita harus menyiapkan proposal ini secepatnya!" ujar Kay.


Lamunan Milan buyar menatap Kay sesaat, kemudian menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi. Kepalanya terasa ingin pecah dia belum menemukan istrinya dan perkerjaan kantor juga mendesaknya.


“Bagaimana kau sudah mendapatkan informasi tentangnya?” tanya Milan mengalihkan pandangan ke luar dinding kaca.


“Belum Lan. Sangat sulit, semua tertutup. Sepertinya akan butuh waktu yang lama,” jelas Kay.

__ADS_1


Milan mendesah kasar, semakin frustrasi saja ia mendengar kabar dari Kay. Selalu saja seperti itu jawaban yang didapatkan.


Suara ketukan pintu ruangan terdengar. Tak beberapa lama terlihat perempuan mengenakan pakaian kerja masuk ke dalam ruangan.


Padangan mereka pun kompak mengarah pada perempuan yang merupakan sekretaris Milan, dengan membawa benda berbentuk persegi di tangan.


“Maaf pak mengganggu, tadi ada orang yang menitipkan paket untuk bapak,” ujar sang sekretaris melangkah mendekat ke arah meja kerja.


“Dari siapa?” tanya Kay menyahuti dengan alis berkerut sedangkan Milan hanya diam tanpa kata.


“Tidak tahu pak! Tak ada nama pengirimnya! Katanya untuk pak Milan penting!” ujarnya lalu meletakkan ke meja.


“Baiklah lanjutkan perkerjaanmu!” balas Kay.


Perempuan itu pun memberi hormat, setelahnya melangkah keluar ruangan. Tangan Kay kemudian terulur meraih kotak misterius itu.


“Aneh, Tidak ada nama pengirimnya,” ucap Kay meneliti kotak yang ada di tangannya.


"Buka saja!” ucap Milan malas.


“Aku jadi penasaran apa isinya, katanya penting!”


Milan mengendikan bahu tak peduli.


Tangan Kay mulai melucuti pembungkus kotak itu. Tak membutuhkan waktu lama Kay telah berhasil membukanya hingga terlihatlah isi yang ada di dalamnya.


Alis Kay berkerut dalam menatap bingung hanya sebuah kertas.


Deg ... Seketika Milan tersentak teringat sesuatu.


Cek sepuluh milyar. Oh astaga ...


Manik mata Milan lalu mengarah pada kertas di tangan Kay. Jantung pemuda ini seketika berdetak kencang, apa itu cek yang berada di laci nakas?


“Nara!” sentak Milan kemudian bangkit dari duduknya. Merebut cek yang berada di tangan Kay membuat pemuda itu menjadi terkejut dengan tindak sahabatnya.


Milan menatap lamat-lamat kertas itu dan ternyata benar.


“Ini cek perpisahan kami. Dia mengembalikannya!” ucap Milan dengan sorot mata menyayangkan dan berembun.


“Apa dia yang mengembalikannya! Dia datang kemari, Dia di sini!” oh harap  Milan dengan apa yang di pikirannya jika Nara yang sendirilah yang datang dan mengembalikan cek itu.


Tanpa kata lagi Milan langsung berlari kencang, dengan kertas di tangannya, keluar dari ruangan mencoba mengejar Nara yang ia pikir berada di kantornya.


“Lan!” panggil Kay lalu kemudian ikut berlari mengejar Milan.


Milan mendekat ke arah meja sekretaris. Perempuan itu terlonjak menatap heran sang bos telah berada di hadapannya.


“Ke mana orang yang mengantar paket tadi?” sosor Milan tak sabaran.

__ADS_1


“Sudah pergi pak,” jawabnya.


Meninggalkan meja sekretarisnya dengan perasaan gelisah, Milan berlari menuju lift, menekan angka di dinding menuju  lantai bawah untuk mencari orang pengantar paket yang ia kira Nara.  


“Semoga itu kau! Tunggu aku jangan pergi! Jangan tinggalkan aku!” ucap Milan penuh harap telah berada di dalam lift.


Tringg ...


Pemuda ini kembali berlari saat lift telah terbuka. Manik matanya mulai menyusuri arah pintu keluar.


Milan terus melangkah sembari mengedarkan pandangannya mencari seorang gadis berkacamata.


“Kau di mana Ra? Jangan pergi,” batin Milan.


Napas Milan memburu, dadanya naik-turun meraup udara sebanyak-banyak terus melangkah mencari Nara namun tak ada satu pun tanda-tanda keberadaan istrinya itu.


Kay yang baru menyusul Milan melangkah mendekat ke arah pemuda itu.


“Ada apa Lan!” tanya Kay menepuk pundak Milan dari belakang.


“Paket itu dari Nara! Itu adalah cek yang ia bawa pergi bersamanya!” jelas Milan dengan perasaan kecewa dia tidak menemukan Nara.


“Dia mengembalikannya! Bagaimana dengan kehidupan mereka tanpa cek itu.” lirih Milan mengusap wajahnya putus asa.


Hati Milan semakin terenyuh memikirkan kabar Nara yang mengembalikan cek itu. Akan bagaimana keadaannya keluarga Nara nanti tanpa cek itu. Bagaimana dengan adiknya? Itu pikir Milan.


“Mengapa kau mengembalikannya Ra, kumohon jangan hukum aku seperti ini! aku tidak bisa!" Milan menjambak ujung rambutnya.


Ah ... semakin kacau saja perasaannya, rasa bersalah dan penyesalan semakin berlipat-lipat menekan rongga dadanya. Bagaimana kehidupan istrinya dan keluarganya itu sekarang?


Setelah beberapa saat mencari dan tak mendapatkah hasil Milan melangkah lemah membawa kekecewaan yang berkecamuk. Kay  mengikuti berjalan di belakangnya.


Langkah Milan terhenti di meja sekretarisnya.


“Siapa mengantarkan paket itu?” tanya Milan memasang wajah dingin.


Perempuan berbodi bak model itu tertunduk takut.


“Maaf pak dia tidak mau menyebutkan namanya! Dia mengatakan itu penting!” jelasnya dengan suara bergetar takut.


“Apa dia perempuan berkacamata?” tanya Milan.


“Bukan pak, dia laki-laki berusia sekitar 40 tahun! ”


Wajah Milan berubah sendu.


Laki-laki, ah ternyata dia salah mengira, yang mengembalikan cek  itu bukan Nara.


Netra hitam Milan kemudian beralih pada Kay.

__ADS_1


“Kay cari dan periksa pembawa paket itu, selidiki dia? Cari informasi keberadaan Nara dari dia! Aku harus bertemu Nara secepatnya! Aku bisa gila seperti jika seperti ini,” titah Milan dengan wajah dingin


“Baiklah aku akan menyuruh orang mencoba mencari jejak Nara dari lelaki itu!” balas Kay mengiyakan untuk menghibur hati Milan, walau ia tidak yakin bisa melacak keberadaan Nara dari lelaki itu, karena kay tahu ada orang hebat yang bermain di balik kepergian Nara hingga istri bosnya itu sulit terlacak keberadaannya.


__ADS_2