Si Culun Mendadak Jadi Istri Presdir

Si Culun Mendadak Jadi Istri Presdir
Extra part


__ADS_3

Mentari pagi menyambut, di sebuah kamar terlihat lelaki tampan dengan stelan jas berwarna biru navy, sedang bercengkerama dengan anak lelaki kecil. Ia terlihat memakaikan pakaian untuk anak yang masih berusia satu tahun. Jemari tangannya sangat terampil mengurus bocah lucu itu seperti sudah menjadi kebiasaannya.


“Pakai pakaianmu jagoan! Kau akan semakin tampan seperti papa,” ucap Milan dengan berbangga hati memakaikan pakaian berwarna senada dengannya untuk putranya yang duduk di kursi, lalu beralih mengancing pakaian itu.


Ya, Sudah jadi kebiasan Milan mengurus buah hati mereka, membantu sang istri kesayangannya. Karena Nara ingin mengasuh sendiri putra mereka tanpa bantuan baby sitter. Dan benar mereka sangat menikmati moment membahagiakan membesarkan dan mengurus sang putra.


“Pa ... Pa ...” suara celoteh keluar dari anak yang bernama Berlin.


“El, kalau malam jangan rewel dong! Jatah kamu sama mama kan siang. malam itu, tuh giliran papa, waktunya papa untuk jenguk adek kamu, El jangan mengganggu kaya orang ketiga!” oceh Milan panjang lebar sembari tangannya mengancing pakaian putranya satu persatu menatap wajah menggemaskan itu.


“Ma ... Ma.” Anak itu menatap wajah Milan lekat.


Milan menghela napas berat.


“Ngak lama lagi, kamu punya adik, dan adik kamu akan merebut jatah susu papa,” tutur Milan mengeluarkan keluh kesahnya pada putranya. Bak seperti curhatan sesama lelaki.


“Kita harus berbagi pelukan mama,” ucap Milan.


Terdengar lucu dia cemburu dengan putranya sendiri.


“El, Tolong kerja samanya!”


Milan menatap serius putranya seakan putranya ini mengerti. Dan dibalas senyuman oleh anak kecil itu.


Oh astaga, kerja sama modus dan mesum yang ia minta pada putranya sendiri.


“Oke jagoan.” Milan mengelus puncak kepala Berlin seolah mereka telah sepakat.


Setelahnya kembali mengurus penampilan putranya, beralih merapikan rambut Berlin hingga tak lama.


“Perfect boy! Jagoan papa udah ganteng, tinggal tunggu mama.”


“Ma ... Ma ....”


Suara langkah kaki mendekat ke arah mereka, kompak perhatian itu terkalihkan, pada sesosok perempuan cantik terlihat sangat anggun dengan gaun berwarna navy.


“Wah! anak mama ganteng banget sih!” gemas Nara melihat putranya yang telah rapi di tangan suaminya.


“Ma ... Ma.” Berlin mengulurkan tangannya.


“Ingat El, bagi-bagi.” Bisik Milan.


Milan mendekat ke arah Nara.


“Kamu sangat cantik sayang,” ucap Milan lalu mengecup pipi istrinya.


“Kalian berdua juga sangat tampan!” puji Nara hatinya menghangat melihat kekompakan anak dan suaminya.


“Kalian sudah siap?” tanya Nara.


“Sudah! Ayo kita pergi, entar dia ngomel lagi,” kata Milan lalu menggendong Berlin.


Langkah kaki Milan terhenti saat merasakan isi perutnya seakan diaduk. Milan pun meletakkan Berlin di bawah. Kemudian berlari ke kamar mandi.


Uwek ... uwek ...


“Mual lagi!”


“El tunggu di sini mama lihat, papa dulu,”


Nara melangkah menyusul suaminya ke kamar mandi.


Ya, saat ini Nara kembali  mengandung buah hati mereka yang kedua. Dan sama seperti kehamilan yang pertama, kembali Milan harus merasakan penderitaan trimester pertama kehamilan.


“Kamu ngak apa-apa!” tanya Nara saat Milan telah selesai memuntahkan isi perutnya.


Yang di balas Milan hanya anggukan tubuhnya lemas, sudah beberapa hari ini dia selalu saja mual.


“Masih mau nambah anak kalau gini,” cibir Nara dengan senyum mengejek.


Milan menarik pinggang Nara hingga tubuh mungil itu menempel.


“Masihlah, semakin banyak anak kita, kamu akan semakin terikat denganku. Kamu tidak akan meninggalkanku. Aku rela ngerasain menderitanya ngidam. Asal kamu selalu ada bersamaku,” ungkap Milan.

__ADS_1


“So sweet banget sih.” Nara mencubit gemas pipi suaminya.


“Aku sangat mencintaimu, Ra,” ucap Milan setelahnya mendekatkan wajahnya di wajah Nara hendak mencium bibir istrinya.


Nara yang telah mengerti dengan sigap menutup mulutnya. Oh, astaga dia sangat tahu suaminya. Ini pasti bukan hanya sekedar ciuman. Tapi, tautan bibir yang bisa membawanya ke pergumulan panas.


“Kenapa? Beri aku ciuman penyemangat,” rengek bak anak kecil.


“Nanti saja, Kita udah terlambat ke acaranya baby Paris.”


Uh, Milan menarik napas berat. Kemesraannya terhenti karena mereka harus pergi.


Hari ini adalah acara kelahiran anak Chelsea dan Kay. Dan keluarga kecil ini akan menghadirinya.


*****


Keluarga kecil Milan telah berada di tempat acara. Suasana pesta begitu meriah, mereka melangkah menemui Kay dan Chelsea yang sibuk menjamu tamu undangan.


Senyum pasangan berbahagia ini semakin mengembang saat melihat Nara dan Milan telah hadir.


“Berlin .... Ponakan tersayangan ounty, udah datang!” sambut Chelsea dengan semangat melihat anak lelaki dalam gendongan Milan. Lalu mencium gemas keponakan lucunya itu.


“Selamat untuk kelahiran anak kalian,” ucap Nara.


“Makasih Ra,” balas Chelsea.


Nara lalu beralih pada bayi lelaki imut dalam gendongan Kay yang di beri nama Paris Barack Abraham.


“Baby Paris ganteng, lucu banget sih,” ucap Nara mencolek gemas pipi tembem bayi lelaki itu.


“Tentu saya Ra, siapa dulu yang ngadon,” celetuk Kay dengan penuh kebanggaan, membuat Milan mendengus memutar bola mata jengah mendengarnya.


Kay menatap wajah Milan yang terlihat pucat dan tak bersemangat.


“Kau kenapa Lan?  Wajahmu terlihat pucat? Kau sakit ya?” tanya Kay.


“Aku baik-baik saja!”  jawabnya.


“Dia mengalami morning sickness, karena saat ini aku menggandung anak ke dua kami,” ungkap Nara membuat pasangan di hadapannya tercengang.


“Kau hamil lagi Ra!” sosor Chelsea memasang wajah tak percaya.


“Emm.”


“Gila! Kencang banget kalian. Udah mau dua aja,” heboh Kay.


“Yaelah, Berarti ngak lama lagi aku datang ke acara lahiran kalian lagi nih!"


Obrolan mereka terhenti saat seorang pemuda tampan bergabung bersama mereka.


“Vino!” seru Chelsea dengan senyum terkembang sahabat gilanya hadir dalam acara kelahiran putranya.


“Vino kau datang!” tambah Nara, sahabatnya ini benar hanya akan hadir dan berjumpa saat mereka mengadakan pesta.


“Aku pasti datang di acara kalian! Mereka kan keponakanku! Udah dua aja nih ponakanku,” kata Vino sembari menatap bayi lucu yang berada dalam gendongan Kay.


Waktu berlalu namun hingga kini misteri di mana Vino berdomisili masih belum terkuak, Nara dan Chelsea pun menghormati keputusan Vino untuk tak mengungkapkan ke mana dia selama ini? Bagaimana kehidupannya?


“Keponakanmu ini namanya Paris,” ujar Kay memperkenalkan.


“Paris,” sapa Vino dengan senyum gemas.


“Terima kasih sudah datang,”  ucap Kay


"Selamat untuk kalian," balas Vino.


Vino pun beralih pada anak kecil dalam gendongan Milan sang rival.


“Berlin udah gede,” sapa Vino pada anak lelaki dalam gendongan Milan.


"Sini uncle gendong!" pinta Vino mengulur tangannya mencoba menggendong anak lelaki itu.


Milan pun menyerahkan Berlin dalam gendongan Vino.

__ADS_1


“Apa kabarmu?” tanya Milan dengan senyum ramah.


“Baik,” balas Vino sembari menatap wajah Berlin.


Hubungan Milan dan Vino telah membaik. Milan sadar dia banyak berhutang budi pada pemuda ini. Termaksud telah merebut cintanya.


Netra mata Vino menatap ke arah Nara sahabatnya.


“Kau hamil lagi Ra?”


Nara mengangguk mengusap perutnya.


“Iya Vin, acara lahiran anakku nanti kau harus datang lagi!”


“Tahun depan gantian Chelsea lagi, kau harus datang juga!” sosor Kay dengan cengiran memasang wajah tanpa dosa.


“Kak Kay!” protes Chelsea dengan pelototan.


“Setiap tahun kita akan bikin acara kelahiran!” tambah Kay.


“Kalian mau bikin club bola!” sembur Vino.


“Tahun depannya lagi Nara,” kali ini Milan yang menimpali.


Apa! hamil lagi? Nara tercengang.


“Udah lemas gitu masih mau nambah anak,” cibir Chelsea yang tahu kondisi aneh kakaknya jika Nara mengandung maka sang kakaklah yang akan merasakan penderitaan.


Petuah ...


“Kalian harus tahu satu petuah," ucap Milan membuat mereka menjadi penasaran. Perhatian kini pada Milan.


“Petuah!” kompak mereka menatap Milan dengan wajah penasaran, petuah bijak apa yang akan di ungkapkan sang presdir Maxkal.


“Ingat petuah ini, Level tertinggi dari mencintai adalah menghamili.” ucap Milan dengan bangga.


Jeduar


Mereka tercengang mendengar petuah dari Milan sungguh benar-benar petuah yang aneh.


"Papa El!" mata Nara memicing tajam.


"Petuah suami-istri sayang! bukti cinta," ucapnya dengan cengiran.


Mereka pun menghela napas berat memutar bola mata jengah akan ucapan itu.


Ya tuhan, sebuah petuah yang sangat berguna bagi suami mesum.


Obrolan dan canda tawa menghiasi pertemuan mereka dari kejauhan Alana duduk menatap mereka yang bercengkerama dengan penuh kehangatan.


“Apa aku juga bisa bahagia seperti mereka? Apa ada lelaki baik yang akan menerimaku?” gumam Alana menyentuh pipinya.


 


Oh, astaga aku khilaf kasih extra part, ini obat kangen untuk kalian.


Lama banget sih Sya ngilang, hehehe, bukan hilang lagi mengumpulkan percaya diri. Ngak nyangkah pembaca si Nara dan Milan melejit. Auto jiper, ngak punya nyali.


Aku tuh ngak pede, takut cerita Vino ngak sesuai expektasi kalian. Jujur aku baperan, takut coment jahat yang membuatku susah tidur karena ke pikiran terus.


Btw Vino udah nanggung bulan nih mau akhir tahun, info Vino akan kita mulai awal tahun ya dengan judul yang baru. Ntar aku infokan lagi.


Sambil nunggu aku kasi extra part mereka,


kita tes like dulu yuk yang nungguin Vino, ini likenya bisa berapa sih, bisa lebih 200 ngak ya, kalau lebih  ntar aku khilaf lagi deh kasi extra part kangen ibu Salma dengan pancinya? btw Dia lagi galau tuh, kenapa ya? ...


Like ...


Coment ...


Vote ....


Ya ampun kangen petuah mereka, eh ada petuah baru Milan, aku mau dong bang 😘😘😘...

__ADS_1


 


__ADS_2