
Mata Nara terbelalak, jantungnya berdentam keras saat Milan menempelkan bibir, di bibir ranumnya.
Milan Mengecup singkat bibir Nara merasakan kenyal dan manis bibir ranum itu. Awalnya hanya kecupan singkat, namun tak lama seakan menjadi candu bagi Milan dia tidak bisa menghentikannya. Kecupan-kecupan kecil pun mulai Milan lakukan, dengan lembut Milan mellumat bibir Nara meluapkan perasaannya yang ia miliki. Tubuh Nara menegang, jantungnya bak di hempas dari ketinggian, dia pun hanya bisa membatu, tanpa membalas, saat Milan terus menyesap, mengulum meneguk manis bibirnya. Ia tak mengerti mengapa pemuda galak ini menciumnya.
Dret ... Dret ...
Milan melepaskan tautannya saat suara panggilan masuk dari ponsel Nara menyadarkannya.
Nara terengah-engah bak kehabisan napas, dadanya naik turun. Mencoba mengisi oksigen di rongga paru-parunya. Begitu pun dengan Milan menatap wajah putih Nara yang memerah bak tomat.
Dengan napas masih pendek Nara menutup mulutnya dengan punggung tangan, menatap Milan sekilas, setelanya berlari keluar ruangan tanpa satu kata pun.
Oh sungguh otak Nara masih belum mengerti apa yang telah terjadi?
Milan menatap kepergian gadis kacamata itu sambil mengusap bibirnya dengan ibu jari. Sungguh tadi ia tak dapat menahan diri untuk meluapkan rindunya pada gadis berkacamata itu.
Nara telah meninggalkan ruangan Milan. Ia sudah berada di parkiran mobil, mendekat pada kendaraan Chelsea yang terparkir. Baru saja Nara masuk ke dalam mobil, ocehan Chelsea telah menyambutnya.
“Kau dari mana saja? Kenapa lama sekali?” sosor Chelsea.
__ADS_1
“Aku tadi nyasar,” ucap Nara pelan.
Chelsea menatap lekat wajah sahabatnya.
“Kenapa wajahmu memerah?” tanya Chelsea.
"Ha.” Nara tersentak lalu memegang ke dua pipinya.
Uh, ini semua karena Milan yang menciumnya, bahkan ia masih merasakan tubuhnya bergetar dan lemas.
“Aku hanya kepanasan,” alibinya, tidak mungkin ia mengatakan jika dia baru saja di cium oleh kakak galak sahabatnya itu.
“Dasar di pikir dia itu siapa? Ingin dekat denganku!” oceh Chelsea semakin mencengkeram stir mobil. Teringat pertemuannya dengan Kay seperti biasa membuatnya kesal. Apalagi pemuda itu mencoba untuk mengancamnya.
Nara hanya termenung di mobil tak menghiraukan ocehan Chelsea, masih memegang bibirnya yang terasa bengkak. Ciuman itu terus terniang di pikiran membuatnya bertanya-tanya mengapa Milan melakukan itu padanya.
Ah rasanya ia masih tak percaya mengapa Milan menciumnya, padahal pemuda galak itu sangat membencinya.
“Mengapa dia menciumku?”
__ADS_1
“Dia kan membenciku? Selalu kesal denganku.”
“Apa dia mengira kau Zeline?”
“Apa dia merindukan mantannya itu? Tapi, kenapa dia harus menciumku? Dia itu buta ya, masa tidak bisa bedakan antara aku dan mantannya. Dari tinggi badan saja sudah jelas berbeda dia model sedangkan aku mini gini kaya sampo kemasan sachet,” gerutu Nara menganggap dirinya sebagai pelampiasan.
Nara terus bermonolog sendiri, berdecak sebal dalam hati, tak terima Milan mengambil ciuman pertamanya hanya karena merindukan mantanya.
“Ini kah ciuman pertamaku. Ah ... ciuman pertamaku raib hanya karena dia teringat dengan mantanya."
“Itu pasti karena dia udah kelamaan jomblo sih, jadi jiwa jomblonya meronta-ronta,” dumel Nara dalam hati berpikir Milan tidak akan pernah menginginkannya, apalagi jatuh hati padanya. Siapalah dia hanya gadis kacamata miskin pula benar-benar telah lengkap.
Milan termenung di ruangannya. Setelah mencium Nara ia mulai sadar jika ia merasakan getar cinta. Dia benar-benar telah jatuh cinta pada si culun.
Hari-hari yang di lalui bersama si culun ternyata membuat hatinya kecolongan, entah sejak kapan perasaan itu mulai merasuk. Ia mulai mencintai si culun dan perlahan melupakan patah hatinya.
Lalu bagaimana dengan Zeline? Milan menyelami palung hatinya perlahan nama itu sudah memudar di dalam perasaan Milan. Berganti bayangan gadis berkacamata.
__ADS_1