
Matahari pagi telah menyambut. Sinar hangat mentari masuk melalui celah jendela.
Di sebuah kamar masih di isi dengan suara desahann dan decitan ranjang dari pasangan yang sedang mengejar puncak kenikmatan.
“Ahhhh,” erangan dari keduanya saat kenikmatan itu telah di raih.
Keringat bercucuran membasahi ke duanya bak sedang melakukan olahraga di pagi hari. Tubuh Milan yang masih berada di atas mendekap erat tubuh Nara.
"Kak Milan kita harus pergi,” protes Nara dengan napas terengah pada lelaki yang menindihnya.
Ini sudah hari ketiga Nara kembali bersama suaminya, selama berpisah dua tahun lamanya, bak pembalasan menebus waktu yang hilang, hari-hari panas selalu dia lewati bersama suaminya ini. Dan hari ini adalah waktu yang mereka jadwalkan untuk kembali ke Jerman. Namun apa yang terjadi lelaki ini masih saja meminta jatah sebelum bersiap, hingga kembali Nara harus tergeletak lemas.
“Sebentar lagi sayang! Biarkan aku memelukmu lagi,”
Milan melepaskan penyatuannya, lalu berbaring di samping istrinya membawa tubuh mungil itu dalam pelukannya.
“Kita sudah terlambat.” Nara berontak dalam pelukan suaminya, jika seperti ini terus bisa-bisa dia batal ke Jerman.
“Iya sayang.” Milan menghembuskan napas pasrah melepaskan pelukannya.
Nara pun mulai beranjak untuk mandi dan bersiap. Oh, astaga tubuhnya terasa remuk karena terus melayani hasrat suaminya yang tiada lelahnya. Ia merasakan kakinya bergetar.
Nara baru saja akan turun dari ranjang.
“Ahh.” pekik Nara seketika tersentak saat merasakan tubuhnya melayang.
Ya, dengan sigap Milan menggendong tubuh istrinya ala bridel.
“Kak Milan! Kenapa menggendongku, turunkan aku,” protes perempuan cantik ini.
“Kita mandi bersama,” ucap Milan dengan senyum seringai menghiasi wajah tampannya.
__ADS_1
Suara ludah terdengar dari Nara mulai panik. astaga mandi bersama.
“Kak Milan tidak perlu.”
“Kamu bilang kita sudah terlambat, kamu ingin cepat, jadi kita harus mandi bersama.” Senyum menggoda terbit dari wajah Milan dengan tatapan penuh arti.
Yakin dan percayalah ini pasti bukan hanya sekedar mandi biasa.
Nara mendesah pelan, suaminya ini benar-benar pandai memutar balikan keadaan. Hingga selalu membuatnya hanya bisa pasrah.
Hari ini Nara akan ke Jerman mengurus semuanya, sebelum kembali menjalani hari sebagai istri Milan Kalingga.
****
Pasangan ini telah bersiap untuk pergi, namun sebelumnya mereka pamit pada mama Erika dan ibu Salma yang juga bersama mereka. Datang untuk melihat kepergian putri dan menantunya.
“Ma, kami pamit dulu,” ucap Milan lalu memeluk tubuh perempuan paruh baya itu.
“Iya, ma.” Balas Nara kini memeluk tubuh ibu mertuanya.
Setelahnya beralih pada perempuan yang melahirkannya.
“Ibu benar ngak mau ikut?” tanya Nara sekali lagi pada ibunya yang memutuskan untuk tinggal.
“Ibu di sini aja sayang, kamu juga hanya sebentar di sana, ibu pusing naik pesawat, biar ibu menunggu saja! Lagi pula ibu udah ikut arisan panci,” jelas ibu Salma dengan senyuman.
Tuh kan panci lagi ...
“Ibu.”
Ibu Salma lalu memeluk tubuh putrinya.
__ADS_1
“Jaga diri kalian. Salam sama Nana, jaga dia baik-baik,” pesan ibu Salma ekor matanya telah basah akan berpisah sementara dengan putrinya.
“Iya bu.”
“Pergi dulu,” pamit Milan memeluk ibu mertuanya.
“Kami pergi dulu.”
Mereka telah bersiap untuk pergi.
“Semoga ada kabar baik dari kalian,” ucap mama Erika pada pasangan itu.
Nara terdiam tak mengerti apa maksud ucapan mertuanya.
“Iya, Semoga kami cepat dapat cucu, dari pada urus panci terus mending ibu ngurus cucu,” tambah ibu Salma.
What! Cucu ....
Blus ...
Wajah Nara seketika panas dan kali ini pasti telah merona mendengar ucapan ibu dan mertuanya.
Sedangkan Milan mengembangkan senyuman.
“Doakan saja, Milan akan terus berusaha,” ucapnya dengan menggebu setelanya menatap Nara dengan alis naik turun.
Terus berusaha ...
Nara menelan salivanya kelat. Ya ampun, pesan apa itu? Tanpa di pesan pun lelaki ini akan terus melakukannya. Apalagi sekarang Milan pasti akan semakin bersemangat setelah mendengar keinginan mama dan mertuanya.
Aku kembali .....
__ADS_1