Si Culun Mendadak Jadi Istri Presdir

Si Culun Mendadak Jadi Istri Presdir
mama pulang


__ADS_3

Cahaya keemasan menghiasi langit senja. Di gedung perkantoran Maxkal. Di ruangan presdir terlihat Milan fokus menatap layar komputernya sedang memeriksa banyak laporan. Di hadapan pemuda itu tersusun berkas-berkas bertumpuk menunggu giliran untuk terjamah.


Sudah seharian ia bekerja, hari ini sungguh sangat sibuk dan melelahkan.


Pintu ruangan terbuka Kay melangkah masuk membawa beberapa map laporan. Milan hanya menatapnya sekilas kemudian kembali fokus pada komputernya.


Kay duduk di kursi yang ada di hadapan Milan, tangannya mengangsur map ke meja.


“Lan. Maxkal sudah mengambil alih stasiun tv yang pernah melukai Nara,” lapor Kay sembari bersandar nyaman di sandaran kursi.


Pemuda ini berhenti menekuri komputernya menatap Kay dengan senyum miring.


“Bagus, mereka jadi tahu telah berurusan dengan siapa. Berani bermain-main denganku!” balas Milan dengan senyum devil penuh kepuasan.


“Aku pastikan mereka benar-benar telah bangkrut!” tambah Kay dengan senyum seringai.


Dua sahabat ini memang terkenal mengerikan dalam dunia bisnis. Tak segan-segan membuat lawannya hancur tanpa sisa.


"Kau tidak pulang? Ini sudah sore?" tanya Kay menatap jam yang berada di pergelangan tangannya.


Milan menghela napas berat.


“Kau tidak lihat laporan sebanyak ini,” ketus Milan menunjuk berkas yang bertumpuk.


Kay lalu menegakkan tubuhnya mencoba bicara serius.


“Lan ngak lama lagi, ada perusahaan raksasa dari Jerman akan masuk, beberapa perusahaan berlomba untuk bekerja sama dengan mereka. Jika Maxkal juga ikut, akan lebih menguntungkan kita,” jelas Kay.


“Benarkah?”


Kay mengangguk yakin.


Milan terdiam sejenak mencoba berpikir.


“Baiklah kau atur semuanya kita akan memberikan penawaran kerja sama. Kita harus mendapatkan proyek itu!” ucap Milan dengan menggebu dan penuh ambisi.


“Baiklah aku akan mulai menyiapkannya.”


Obrolan mereka terhenti saat seorang perempuan cantik bertubuh langsing, masuk ke dalam ruangan. Melangkah mendekat ke arah mereka. Memberi hormat dengan sedikit membungkuk.


“Pak Milan ada tamu bernama Mark ingin bertemu Anda?” lapor perempuan yang merupakan sekretaris Milan.

__ADS_1


“Mark!”


Kompak Dua pemuda itu sama-sama tersentak. Wajah Milan kembali serius. Sementara raut Kay terlihat cemas.


Mark adalah orang yang perintahkan Milan mencari jejak Zeline. Kenapa perempuan itu menghilang di hari pernikahan, hingga saat ini Milan masih tak mengerti, dia butuh jawaban.


“Biarkan dia masuk!” titah Milan.


Mendengar titah Milan, Kay menelan salivanya kelat, laporan Mark bisa membawa masalah pada dirinya karena ikut membantu menyembunyikan rahasia Chelsea. Kay tidak peduli pada dirinya tapi dia tidak ingin gadis itu mendapatkan masalah.


Ah, bagaimana ini? Kebohongan Chelsea akan terungkap hari ini juga, karena laporan Mark.


Setelah beberapa saat lelaki tinggi mengenakan jas hitam itu telah berdiri di hadapan Milan.


“Habislah Sea,” batin Kay bulir keringat dingin membasahi wajahnya, merasa udara ruangan menjadi lebih dingin. Dia pun tak berdaya menghentikan Mark bertemu Milan.


“Bagaimana? Apa yang kau dapatkan?” tanya Milan langsung tanpa basa-basi memasang wajah penasaran.


Mark menghela napas lalu mulai menjelaskan. "Saya ingin melaporkan tuan jika ...." suara Mark menggantung saat dering ponsel terdengar memecah keheningan mereka.


Dret ... Dret  ...


Milan dan Kay kompak mengarahkan manik mata mereka pada ponsel berdering yang ternyata milik Milan.


Sejenak Milan menatap nama yang tertera.


“Mama.” Ia mengusap layar ponsel setelahnya mengarahkan ke telinga.


“Kamu di mana sayang?” mama Erika.


“Di kantor Ma.”


“Kamu ngak pulang ke rumah?”


“Milan sangat sibuk Ma.”


“Mama udah di rumah. Mama nunggu kamu makan malam.”


"Milan benar-benar ngak bisa Ma, Milan sibuk,”  balas Milan memang sibuk apalagi ada ia penasaran dengan laporan Mark.


“Mama udah kasi kejutan pulang cepat, Katanya kangen sama mama!”

__ADS_1


Milan terdiam sejenak.


Kangen! Kata itu membuat pemuda ini terkenang jika beberapa hari yang lalu ia minta mamanya pulang dengan alasan kangen untuk bertemu Nara.


Mata Milan membulat seketika.


“Mama udah di rumah?” sentak Milan.


“Ya, iyalah Lan.”


“Nara juga ada di rumah Ma?” tanya Milan dengan tak sabar.


“Ya tentu aja mantu mama ada, dia lagi sama Chelsea liat oleh-oleh yang mama bawa!”


Mendengar itu, Senyum lebar terbit di wajah Milan, seketika di dada bak ada jutaan kupu-kupu menggelitik.


“Dia pulang,” batin Milan irama jantungnya menjadi menggila.


“Milan pulang sekarang Ma!” putus Milan mengakhiri panggilan.


Pemuda ini seketika bangun dari duduknya meraih jas yang menempel di sandaran kursi lalu memakainya.


Kay dan Mark hanya mengerutkan alis melihat tingkah Milan yang seketika berubah.


“Mark lain kali saja kita bicara!” ucap Milan sudah tidak peduli seberapa pentingnya laporan dari Mark yang ia pikirkan hanya pulang bertemu Nara, semua sudah menjadi tak penting lagi.


“Lan kau mau ke mana?” tanya Kay heran.


“Aku mau pulang! Mamaku sudah pulang dari Paris,” jelas Milan berlalu.


Wajah Kay semakin bingung mendengar penjelasan Milan, memang kenapa kalau mamanya pulang? Bukankah itu sudah biasa? Sejak kapan pemuda ini menyambut mamanya dengan begitu antusias? Kay bertanya-tanya dalam hati namun menarik napas lega rahasia Chelsea aman, kali ini gadis yang ia cintainya itu selamat.


“Mama Erika terima kasih,” batin Kay.


Milan berlalu keluar ruangan meninggalkan mereka, dengan wajah terus tersenyum.


Oh, istrinya telah kembali.


Malam ini dia dan Nara akan kembali di dalam satu kamar yang sama. Bayangan malam panjang syahdu nan indah memadu kasih bersama istrinya mulai terbayang-bayang.


Dia sudah tak sabar untuk sampai di rumah dan bertemu dengan istrinya. Ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.

__ADS_1


 


Kok aku yang senyum-senyum ya, dia yang ketemu. Kenapa aku yang deg-degkan.


__ADS_2