
Milan dan Chelsea baru saja sampai di tanah air tepat pukul 7 pagi. Tanpa membuang waktu mereka langsung menuju kediaman Nara untuk melihat keadaan gadis berkacamata itu.
Demi apa-pun sejak tadi perasaan mereka cemas memikirkan Nara.
Kini mobil yang di kemudikan telah terparkir di depan rumah Nara. setelah turun dari kendaraan kakak beradik ini melangkah cepat menuju pintu.
Dengan memasang wajah cemas tangan Chelsea menggantung memencet bel yang berada di samping pintu.
Milan berdiri bersisihan berharap pintu terbuka.
Milan dan Chelsea saling tatap saat pintu rumah tidak kunjung terbuka.
“Tidak ada orang!” ucap Chelsea.
“Ke mana dia?” balas Milan.
Astaga perasaannya semakin kacau.
Pemuda ini pun meraih ponsel di saku celananya. Mencoba menghubungi Nara.
Milan mendesah kasar, tertunduk lemah, setelah beberapa kali dia mencoba untuk melakukan panggilan namun tidak dapat tersambung.
“Kau di mana?” batin Milan hatinya semakin cemas.
“Apa mungkin dia merias?” sahut Chelsea.
Gadis cantik ini lalu mengeluarkan ponselnya mengecek jadwal wedding organizernya yang telah di titipkan pada stafnya setelah beberapa hari berada di Paris. Apa hari ini Nara yang bertugas memake up calon pengantin.
“Menurut jadwal dia sedang merias pernikahan di WO ku,” ucap Chelsea menatap layar ponselnya.
“Kau kirim alamatnya aku akan segera ke sana!” balas Milan segera bergerak cepat dia tidak ingin membuang waktu dia harus bertemu dan meminta maaf pada istrinya itu.
“Kak Milan!” panggil Chelsea saat kakaknya melangkah lebih dulu ke arah mobil.
“Kau tunggu di rumah, biar aku yang menyusulnya,” terang pemuda ini masuk ke dalam mobil.
Ya, Milan akan bertemu dengan Nara secara langsung. Dia sudah tidak sabar bertemu dan memeluk istrinya itu seraya meminta maaf.
Chelsea berdiri menghela napas berat, menatap kepergian mobil yang menjauh meninggalkannya. Berharap di dalam hati semoga Nara baik-baik saja.
“Tunggu aku Ra, maafkan aku, aku sangat menyesal," gumam Milan sembari memegang stir menambah laju kendaraannya.
****
Setelah berpacu beberapa waktu. Milan telah sampai di sebuah alamat rumah yang di berikan oleh Chelsea.
Dengan cepat turun dari mobil melangkah masuk melalui banyak orang-orang yang mempersiapkan acara pernikahan yang akan segera di mulai.
Setelah bertanya di mana sang perias berada pada satu orang yang mendekorasi ruangan. Milan lalu menuju ruang yang di tunjuk.
Pemuda ini mendorong keras pintu kamar pengantin.
"Nara!” sebut Milan dari ambang pintu namun terkejut saat melihat perias yang sedang mengulas make up di wajah sang pengantin bukan Nara yang ia cari.
Wajah Milan berubah sendu.
“Maaf!” ucap Milan dengan lesu. “Aku kira yang merias Nara.” katanya lagi dengan senyum getir.
“Oh, Nara!” sahut si perias.
“Sejak kemarin dia tidak bisa di hubungi jadi aku yang menggantikannya!” jelas perias pengganti Nara itu.
Tidak bisa di hubungi ....
Rasa cemas semakin merayap di dalam sanubarinya.
“Baiklah terima kasih!” ucap Milan kemudian berlalu pergi dengan langkah berat.
Milan telah berada di dalam mobil meraih ponselnya menekan kontak Nara. setelah beberapa saat.
“Ahhhh ...” geram Milan memukul stir kemudi hingga saat ini ponsel Nara masih sulit di hubungi.
“Ke mana kau Ra? Aku ingin meminta maaf padamu! Maafkan aku,” batin Milan dengan rasa gundah merasuk relung hatinya.
Pemuda ini kemudian menekan kontak lain.
“Hallo.”
“Kay, bantu aku mencari informasi di mana keberadaan Nara. Setelah kau menemukannya hubungi aku!”
Milan memutuskan panggilan sepihak. Setelanya kembali memacu kendaraannya memecah belah jalan untuk mencari Nara.
*****
Cahaya keemasan menghiasi langit senja. Hingga matahari hampir tenggelam Milan masih mencari keberadaan Nara. Semua tempat telah ia kunjungi namun tak menemukan di mana istrinya itu.
Hati Milan semakin gelisah bergelayut gundah.
__ADS_1
“Kau di mana? Ku mohon jangan hilang seperti ini,” gumam Milan.
Suara dering ponsel terdengar, segera mobil yang di kemudikan Milan menepi.
“Ya, Kay apa kau mendapatkannya?” sosor Milan cepat terdengar tak sabar.
“Tidak, aku tidak menemukannya! Aku hanya mendapatkan informasi jika adik Nara telah mengalami kecelakaan."
“Apa!” jantung Milan seakan di hempaskan dari ketinggian mendengar informasi dari Kay.
“Iya, dua hari yang lalu ia menjadi korban tabrak lari,”
Jeduar ....
Aliran darah di Tubuh Milan seakan terhenti, tubuhnya lemas bagai tak bertulang.
Dua hari yang lalu, hari di mana Nara datang ke kantornya dan meminta bantuannya namun dia hanya menghinannya.
Ya tuhan, jadi ini alasan Nara menemuinya, perempuan itu berada dalam kesulitan ...
Tanpa sadar ponsel yang berada di telinga Milan merosot jatuh terhempas.
Memorie Milan berputar bak roll film.
"Kak Milan! Jangan pergi! Tolong bantu aku, adikku ...”
“Aku tidak punya waktu meladenimu!”
Ah dada Milan menjadi sesak mengingat itu semua, ia seakan kesulitan bernapas.
“Apa yang telah aku lakukan padanya! Aku menyakitinya! Dia meminta bantuanku, aku malah menghinanya.” Milan mengusap wajah kasar manik matanya mulai berkaca-kaca mengingat apa yang telah ia lakukan.
“Maaf! Maaf! Maafkan aku,” raungnya dengan penyesalan.
Milan menyembunyikan wajahnya di stir kemudi menyadari kesalahannya.
Rasa bersalah, sesal, tak berguna semua menyatu dalam perasaannya. Ah, Suami macam apa dia? Istrinya sedang kesulitan dan dia mengambaikannya.
Setelah beberapa saat tenggelam dalam penyesalan Milan memacu mobilnya ke sekolah Alana mencari informasi tentang kecelakaan itu.
****
Setelah mengemudi beberapa saat tibalah Milan di sekolah Alana.
Milan turun dari mobil, berdiri menatap ke arah sekolah.
“Aku pasti akan datang!” kenang Milan.
Saat itu Nara pasti menunggunya. Ah rasa sakit di hati Milan semakin berlipat-lipat. Terlalu dalam ia melukai hati Nara.
Andai dulu ia datang mungkin semua ini tidak akan terjadi.
Seorang lelaki bertubuh besar yang merupakan penjaga sekolah mendekati Milan yang berdiri mematung di samping mobilnya.
“Ada apa pak?” tanya lelaki itu membuat Milan tersentak. Lalu menatap ke arah lelaki besar itu.
“Saya ingin bertanya tentang kecelakaan ...” suara Milan tertahan.
“Oh, kecelakaan tabrak lari itu. Dua hari yang lalu pak. Murid sma di sini, di tabrak trus pelakunya melarikan diri,” sosor sang penjaga sekolah memberi keterangan yang ia tahu.
Deg ....
Jantung Milan terpompa cepat. Itu pasti adik Nara.
“Bagaimana keadaannya pak?” tanya Milan terdengar mendesak.
Lelaki itu menarik napas berat.
“Mengerikan pak, parah. Saya Cuma bisa bilang keajaiban tuhan kalau dia masih hidup, Lukanya sangat parah, jalan ini aja penuh dengan darahnya!” terang lelaki itu.
Bibir Milan terkatup rapat dengan manik mata mulai berkaca-kaca, air matanya telah menganak sungai mendengar penjelasan lelaki itu.
Ya ampun begitu mengerikannya kejadian saat itu, Nara pasti sangat panik dan ketakutan.
“Mungkin ngak selamat pak!” tambahnya.
Jeduar ....
Milan termenung tubuhnya bak tersambar listrik jutaan volt.
Tidak akan selamat ...
Dada Milan semakin bergemuruh tubuhnya semakin lemas seakan tak merasakan kakinya lagi, tak terasa dia jatuh bersimpuh.
“Pak!” teriak lelaki itu menolong Milan.
“Apa yang telah aku lakukan,” rancaunya menatap kosong dengan bulir air mata menetes di pipinya.
__ADS_1
“Kak Milan. Aku butuh biaya untuk Nana adikku ...”
“Kak Milan. Bantu adikku...”
“Adiknya tidak akan selamat, itu karena aku!” sesalnya dengan bulir air mata.
Kepala Milan berdenyut nyeri. Isakan, permohonan Nara terus berputar di pikirannya.
“Aku tidak menolong adiknya. Dia sangat sayang pada adiknya! Aku telah menyakiti hatinya.”
Penyesalan itu semakin berlapis-lapis.
“Kak Milan. Aku butuh biaya untuk Nana adikku ...”
“Akhirnya kau katakan juga kau ingin uang!”
“Uang,” rancau Milan meremas ujung rambutnya.
Ya ampun, dia meminta uang pasti untuk pengobatan Alana. Malangnya perempuan itu malah hanya mendapatkan hinaan.
“Perempuan penipu. Kau hanya ingin harta!” kenang Milan.
“Ahhhhh! Bodoh! Aku suami yang tidak berguna! Aku suami yang tidak bisa di andalkan!” teriak Milan semakin mencengkeram rambutnya.
“Dia pasti marah padaku, dia pasti sangat kecewa. Dia tidak akan memaafkanku! Aku memberi luka di hatinya terlalu dalam. Karena kebodohanku adiknya tidak akan selamat,” rancau Milan dengan perasaan tersayat.
Membayangkan semua kesalahannya yang tak termaafkan membuat pikiran Milan melayang jauh jika Nara mungkin saja akan berpisah dengannya.
Meninggalkannya ...
Oh astaga, Dia tidak menemukan Nara mungkinkah.
Ah, Seketika otaknya tertuju pada laci Nakas.
“Surat perpisahan ...” rancau Milan.
Dengan cepat Milan bangkit, melangkah menuju mobilnya memutuskan untuk pulang.
Like ....
Coment ....
Vote ....
hai aku kembali, ini bisa ngak yang like nya tembus dua ratus.
kita tes ....
koment juga ....
__ADS_1