
Di suasana pesta yang begitu semarak dengan dekorasi yang menakjubkan, mewah dan berkelas. Terlihat seorang gadis cantik duduk di kursi tamu undangan, mengarahkan netra matanya ke arah panggung mencoba menikmati lantunan lagu dari seorang penyanyi terkenal. Sebuah kenangan lama yang mengudara di kepala membuat raut wajahnya menjadi sendu.
“Aku sangat merindukan kalian! Aku merindukan kita menyanyikan lagu andalan kita!” gumamnya melipat bibir bawahnya, manik matanya mulai berkilau karena genangan air mata.
Ya, perempuan ini adalah Chelsea yang merindukan dua sahabatnya Nara dan Vino. Ia selalu saja sedih jika berada di suasana pesta pernikahan, kenangan indah saat mereka bersama selalu terkenang, makan bersama di pesta pernikahan, terus bergaya di depan Vino yang mengambil foto mereka dan menggila di atas panggung tanpa rasa malu yang penting mereka bahagia.
Ah, rasa sedih terus melanda Chelsea, hidupnya terasa kosong tanpa mereka bagaimana tidak belasan tahun mereka selalu bersama kini ia menjalani hari-harinya sendiri tanpa sahabat.
“Di mana kalian? Kalian berdua tega meninggalkan aku sendiri di sini! Aku kesepian tanpa kalian!” lirih Chelsea tanpa sadar setitik air mata itu turun membasahi pipi mulusnya.
Suara dering ponsel membuat perhatian Chelsea teralihkan pada ponsel yang berada di dalam tas tangan.
Dengan cepat tangan Chelsea mengeluarkan benda pipih itu, setelah melihat nama kontak yang tertera lalu mengusap ikon hijau kemudian membawahnya ke telinga.
“Halo!” ucap Chelsea.
Sejenak Chelsea terdiam mendengar suara di seberang sana.
“Rumah sakit!” sentak gadis cantik ini seketika bangun dari duduknya, memasang wajah cemas.
“Sea kesana sekarang!”
Chelsea bergegas melangkah kilat meninggalkan pesta untuk menuju rumah sakit.
...----------------...
Setelah melaju kencang dengan kendaraannya Chelsea telah sampai di rumah sakit. Memasang wajah cemas ia melangkah menuju ruangan yang di beritahukan oleh mamanya.
Saat telah berada di depan ruangan, Tangan Chelsea membuka pintu dengan sekali sentakan keras.
“Kakak!” ucap Chelsea mengarahkan manik mata pada pemuda yang berbaring di brangkar rumah sakit dengan selang infus melekat di tangan.
“Sea!” ucap Milan pelan melihat adiknya yang tiba-tiba saja muncul.
Gadis cantik ini pun melangkah mendekat ke arah brangkar.
“Kakak ngak apa-apa kan?” tanya Chelsea raut khawatir tak luntur menghiasi wajahnya. memeriksa tubuh kakaknya.
__ADS_1
“Emm.” Milan hanya menjawabnya dengan deheman dan anggukan.
Menghela napas berat, Chelsea menatap wajah pucat kakaknya yang berbaring lemas, tak berdaya.
“Kak, ini sudah yang kedua kalinya dalam bulan ini kakak di rawat di rumah sakit! Ini adalah pertanda jika kakak harus berhenti terus bekerja keras, kakak butuh istirahat,” oceh Chelsea dengan tangan bersedekap di dada menasihati kakaknya layaknya seorang emak-emak.
Milan mendesah kasar memutar mata jengah pada adik cerewetnya.
Astaga, suara omelan adiknya membuat kupingnya sakit.
“Aku ngak ada waktu untuk istirahat. kerjaanku menumpuk,”
“Sudah! Hentikan menyiksa diri kakak,” gemas Chelsea akan sikap masa bodoh kakaknya.
“Jangan mengomel terus! Aku jadi tambah sakit mendengarnya!” ucap Milan lemah.
Chelsea memasang wajah cemberut menatap kakaknya yang tidak mau mendengar nasehatnya, namun dalam hati Chelsea tersirat rasa iba untuk nasib pemuda ini.
Hari demi hari bergulir, waktu terus berputar dan hidup terus berjalan. Telah dua tahun hari berat itu terlewati dengan kesedihan.
Ya, sudah dua tahun Milan hidup dengan hati hancur, larut dalam penyesalan dan kesedihan akan kepergian cintanya.
Semua usaha telah Milan lakukan untuk mencari Nara namun selalu berbuah kegagalan. Rasa kecewa, putus asa yang selalu ia rasakan.
Untuk menghilangkan sedikit rasa penyesalannya dan rindunya yang menggunung, ia mengalihkan semua tenaga dan pikirannya ke pekerjaan. Bekerja terus tanpa lelah hingga tubuhnyalah yang menyerah dan selalu tumbang lalu berakhir di ranjang rumah sakit.
...----------------...
Chelsea dan mama Erika berada di ruangan perawatan Milan. Duduk di sofa menemani pemuda yang sedang terlelap di brankar memakai pakaian pasien rumah sakit, wajah Milan terlihat sangat pucat dan lemah.
Hiks ...hiks ....
Suara isakan membuat perhatian Chelsea terkalihkan pada mama Erika yang duduk di sebelahnya.
“Mama, kenapa menangis?” tanya Chelsea merangkul tubuh mamanya sembari, mengusap punggung perempuan yang telah melahirkannya itu untuk memberi ketenangan.
Namun bahu perempuan itu semakin bergetar dalam tangis.
__ADS_1
"Ma, kak Milan ngak apa-apa dia hanya butuh istirahat," ujar Chelsea mamanya pasti mencemaskan keadaan kakaknya yang berbaring di ranjang rumah sakit.
“Kasihan kakak kamu Sea. Dia terus menyiksa dirinya!” ucap mama Erika dengan tersedu-sedu.
Hati ibu mana yang tak hancur putra kesayangannya selalu terkulai lemas di ranjang rumah sakit.
Chelsea menghela napas berat. Entah kata apa yang akan dia berikan pada ibunya.
“Sea bujuk Nara untuk kembali padanya! Mama ngak tega Sea,” raung mama Erika semakin terisak di pelukan putrinya.
Chelsea terdiam, oh andai dia tahu di mana Nara ia pasti akan membujuknya untuk kembali jika perlu dia akan memohon dan mengiba pada Nara untuk kembali bersama kakaknya.
“Sea kasian kakakmu! Dia sangat merindukan Nara.”
“Mama tahukan sampai saat ini, Sea juga ngak tahu di mana Nara!” kata Chelsea dengan lembut.
“Dia sangat mencintai Nara, hatinya kosong setelah kepergian Nara! Dia seperti ngak punya tujuan hidup,” rintih mama Erika.
Manik mata Chelsea menatap pada kakaknya yang berbaring.
Ia juga tak menyangka kakaknya yang angkuh dan dingin ini bisa berubah menjadi rapuh setelah kehilangan Nara, bahkan telah dua tahun berjalan kakaknya belum juga bisa melupakan Nara.
Awalnya Chelsea begitu kecewa dengan apa yang telah kakaknya lakukan pada kesayangannya itu, namun saat melihat Milan begitu menyesal dan melihat bagaimana dia melewati harinya dengan kesedihan. Ia pun merasa dadanya sesak. Milan telah mendapatkan hukumannya hidup dengan rasa bersalah dan penyesalan.
Hidup membawa kesedihan dan penyesalan seperti itu setiap hati dalam waktu yang panjang bukan kah itu lebih menyakitkan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
hai, aku cepetin waktunya udah dua tahun aja kasian abang Milan nyesek terus.
terima kasih udah ngikuti ....
ingat bagi Sya ...
like itu wajib setelah baca ...
Coment itu penyemangat artinya kamu mendukung karya Sya..
__ADS_1
Vote itu seiklasnya kerelaan kalian, senyaman kalian, tanda sayang.