Si Culun Mendadak Jadi Istri Presdir

Si Culun Mendadak Jadi Istri Presdir
jerman


__ADS_3

Jerman


Pasangan berbahagia ini telah tiba di Jerman. Baru saja menginjakkan kaki di rumah yang selama ini menjadi tempat Nara bernaung.


“Jadi selama ini kamu tinggal di sini?”


Milan berdiri mengamati rumah nyaman istrinya. Ada sedikit kelegaan di hatinya, Nara tinggal di tempat yang baik.


“Iya, ayo masuk.” Nara menarik tangan Milan untuk ikut bersamanya.


Mereka kini telah berada di ruang tengah.


“Kakak duduk di sini dulu, Aku akan ke kamar Nana,” jelas Nara karena hal yang pertama yang harus ia lakukan adalah menemui adiknya Alana.


Nara kemudian meninggalkan lelaki itu melangkah menuju kamar Alana.


Nara membuka pintu perlahan menarik ke dua sudut bibirnya saat melihat Alana sedang duduk di sofa di hadapan tv menatap ke arahnya.


“Nana,” sapa Nara mengulas senyum.


“Kakak sudah pulang?” balas Alana.


Mengangguk pelan Nara lalu duduk di samping sang adik.


Alana menghela napas. “Ibu sudah menelpon. Ibu cerita semuanya tentang pernikahan kakak dengan kak Milan,” ujar Alana.


Nara meraih tangan adiknya. “Maafkan kakak, merahasiakan semuanya pada kalian,” ungkapnya dengan perasaan bersalah.


“Tidak apa-apa kak, Nana senang kakak mendapatkan suami yang terbaik, ganteng, kaya, sempurna,” ujar Alana dengan decak kagum sejak dulu dia sangat mengagumi kesempurnaan Milan Kalingga.


“Kakak juga berdoa semoga kau juga mendapatkan jodoh terbaik yang lebih dari kakak, yang lebih hebat dari seorang Milan Kalingga,” ucap Nara dengan tulus.


“Itu tidak mungkin kak,” balas Alana dengan senyum getir rasa sedih bergelayut dalam hatinya membuat wajahnya sendu.


Melihat itu Nara menepuk pundak adiknya memberi ketenangan.

__ADS_1


“Oh, iya. Kak Milan datang, dia ada di luar, ayo temui dia,” kata Nara mencoba mengalihkan pembicaraan berdiri menarik tangan adiknya.


“Tidak kak, Nana malu,” tolaknya bertahan di tempat.


“Nana.”


“Kak aku belum siap,” katanya terdengar memohon.


“Baiklah.” Nara pasrah melepaskan tangan adiknya.


Nara pun melangkah keluar untuk kembali menemui Milan.


“Mana Nana? Lama tidak bertemu dengannya?” tanya Milan yang melihat istrinya hanya seorang diri.


Perempuan ini mendudukkan tubuhnya di kursi.


“Maaf kak, Nana belum siap bertemu dengan kakak!” jelasnya.


Raut wajah Milan berubah sedih, gadis itu pasti juga marah padanya.


“Dia pasti marah padaku,” lirih Milan mengingat kecelakan itu.


Tatapan tak mengerti Milan ke arah Nara.


“Malu, bukankah Nana senang bertemu denganku.” Milan masih mengingat tawa riang Alana jika bertemu dengannya.


Nara menarik napas mulai bercerita.


“Kecelakaan itu sudah meninggalkan bekas di wajah Nana,” jelas Nara.


Milan membisu tanpa kata hatinya bergemuru. Astaga ini karenanya.


Nara menatap perubahan wajah suaminya.


“Itu yang membuatnya tidak percaya diri untuk bertemu dengan orang-orang. Tapi,  Aku sedang mengumpulkan uang untuk operasi wajahnya," nara mencoba tersenyum.

__ADS_1


Milan meraih tangan Nara. “Biar aku membantumu, beri aku kesempatan,” mohon Milan, dia ingin membayar sedikit penyesalannya.


“Tabunganku sedikit lagi,” tolaknya.


“Sayang!”


“Kita bicarakan nanti saja, sekarang kakak harus istirahat,” ucap Nara.


Milan menghela napas pasrah. Keputusan semua di tangan Nara. Dia tidak akan memaksa.


>>>>


 


Seorang pemuda duduk dengan manik mata fokus menatap kagum wajah cantik tak jauh dari tempatnya. Hatinya berdesir hebat saat melihat bagaimana perempuan yang ia cintai sedang mengulas make up di wajah seseorang. Astaga membuatnya menjadi bertambah kagum hingga rasa cinta itu semakin berlipat-lipat.


Ya, Milan sedang berada bersama Nara, ikut mendampingi istrinya bekerja sesuai tujuannya mengikuti perempuan itu. Melihat bagaimana jari-jari lentik Nara menyulap wajah seseorang. Milan sangat senang bisa melihat Nara merias lagi sama seperti dulu.


Debaran jantung Nara memacu cepat dia seakan tak bisa berkonsentrasi karena pemuda tampan itu terus saja menatapnya lekat. Ah membuatnya salah tingkah, benar-benar bak pasangan sweet abg yang di mabuk cinta.


Nara menarik napas lega akhirnya pekerjaannya selesai, dia terbebas dari tatapan cinta Milan.


“Sudah selesai?” tanya Milan dengan senyum terulas saat Nara mendekat ke arahnya.


“Iya.”


“Ayo kita pergi?” Milan menautkan tangannya di tangan istrinya.


“Ke mana?” tanyanya bingung.


“Tentu saja setelah kau bekerja, kini giliran kita bulan madu sayang,” ujar Milan.


“Bulan madu,” ulang Nara terlupa niat Milan.


“Aku akan membuatnya berkesan,” ucap Milan.

__ADS_1


Nara menjadi penasaran Seperti apakah bulan madu yang berkesan yang telah di siapkan Milan.


 


__ADS_2