
Vino telah menghabiskan waktu berjam-jam duduk di tempat makan langgannya, hanya menatap orang datang dan pergi. Pemuda patah hati ini enggan beranjak dia hanya ingin sendiri dan merenung.
Vino menghela napas berat saat manik matanya menatap gadis yang telah memorak-porandakan hatinya melangkah mendekat ke arahnya.
Ya, Nara datang mencoba bicara pada Vino, setelah Chelsea gagal memberi pengertian pada pemuda itu.
“Kau di sini!” sapa Nara mengulas senyum lembut namun pemuda ini hanya membalasnya dengan tatapan dingin.
Gadis berkacamata ini kemudian duduk di kursi berhadapan dengan Vino.
“Mas Joko! Yang biasa, sama kerupuk pangsit lima mangkok!” teriak Nara ke arah lelaki yang sedang meracik menu.
“Kenapa kau kemari!” sosor Vino menatap Nara dengan tatapan menghunus. Melihat Nara hanya membuat perasaannya semakin tak karuan.
“Aku akan menemanimu!” ucap Nara dengan lembut.
Pemuda ini merotasi mata jengah, tersenyum sinis.
“Jangan peduli padaku! Lebih baik kau urus saja dia!” hardik Vino rasa panas semakin menjalar dalam hatinya mengingat Nara dan Milan telah menikah.
“Vin, jangan seperti itu! Dengar dulu.”
Nara memegang tangan Vino mengalirkan ketengan. Menatap wajah tampan itu lalu mencoba menjelaskan kejadian sebenarnya.
Pemuda ini mengalihkan pandangannya ke sembarang arah. Tak ingin mendengar penjelasan apa-pun toh walau bagaimanapun, keadaan tak akan berubah, Nara telah menjadi milik orang lain.
Nara menghela napas panjang mengumpulkan kekuatan hati.
“Kejadiannya begitu cepat. Waktu itu, hari di mana pernikahan kak Milan. Zeline calon istrinya tidak datang ke pernikahan itu. Dia membatalkannya,” jelas gadis kacamata ini memasang wajah serius.
Vino hanya diam tanpa satu kata pun. Walau sebenarnya di terkejut mendengar penjelas Nara.
“Kau tahu kan Sea keluarga dari terpandang, mereka akan menganggung malu jika pernikahan itu sampai batal, karena itulah Sea memintaku untuk menggantikan Zeline. Ibunya sampai jatuh pingsan. Aku tidak tega Vin,” ungkap Nara.
“Jadi kau hanya menjadi pengantin pengganti!” sosor Vino.
Nara mengangguk pelan mengiyakan. Tangan Vino, terkepal erat.
“Mengapa kalian tidak mengatakan ini padaku! Aku sangat kecewa pada kalian, sejak dulu kita selalu berbagi apa-pun, tapi kenapa kalian menyembunyikan rahasia sebesar ini!” hardik Vino manik matanya masih menyala marah.
Gadis berkacamata ini memasang wajah sendu. Untuk pertama kalinya ia melihat Vino marah padanya.
__ADS_1
"Maaf!” hanya satu kata yang bisa Nara ucapkan dengan kepala tertunduk dalam.
Seorang lelaki melangah mengantarkan pesanan Nara. Sesaat keheningan tercipta di antara mereka berdua.
“Hentikan semuanya!” ucap Vino dengan tegas.
Nara mengangkat pandangannya menatap Vino yang seakan menghakiminya.
“Vin tak semudah itu,” balas Nara terdengar lirih.
Vino mendengkus memutar bola mata malas.
“Kenapa? Pernikahanmu hanya penuh kepura-puraan, bukan sungguhan. Kau telah menolongnya dari rasa malu, sekarang semua telah selesai. Akhiri pernikahan kalian,” tekan pemuda ini.
Nara tertegun seketika membisu. Benar kata Vino urusannya bersama Milan telah selesai, jadi untuk apa dia bertahan?
Akan tetapi mengakhiri pernikahan ini. Oh, dada Nara terasa teremmas kuat, entah mengapa ada perasaan tak rela menjalar di relung hatinya.
"Aku tidak bisa Vin,” tolak Nara pelan. Di lubuk hati terdalam dia ingin bertahan bersama Milan. Padalah ia juga tidak tahu apa pernikahan ini akan bertahan selamanya.
Vino termangu Kembali Nara menolak kata-katanya dan itu tidak pernah terjadi. Aliran darah Vino seakan terhenti mungkinkan?
Pemuda ini melayangkan tatapan tajam.
Nara tertunduk diam meremat ujung baju yang ia kenakan. Irama jantungnya terpompa cepat, Entah bagaimana perasaannya saat ini pada Milan. Perhatian Milan akhir-akhir ini padanya membuatnya merasa nyaman dan jantungnya selalu berdebar kencang jika bersama dengan pemuda galak itu. Dia tidak tahu apakah ia mencintai Milan.
Diamnya Nara membuat, Vino telah tahu jawabannya. Mereka telah bersahabat bertahun-tahun Vino bisa membaca perasaan Nara.
Hatinya semakin berdenyut perih. ah, gadis yang ia cintai telah memberikan hatinya pada pemuda itu. Semakin kacau saja perasaannya.
Keheningan menguasai, keduanya diam sama-sama termenung dengan pikiran masing-masing. Cukup lama mereka terdiam.
“Vin jangan marah lagi, maaf kan aku dan Sea,” mohon Nara dengan nada terendah terdengar mengiba.
“Kau bahagia dengannya?” tanya Vino memasang wajah dingin.
“Vin!” protes Nara.
“Apa kau ingin bersamanya,” tanya Vino lagi.
Nara terdiam sejenak kemudian mengangguk pelan.
__ADS_1
Vino mengalihkan pandangannya. Dadanya semakin bergemuruh.
Pemuda ini pun bangkit dari duduknya, melihat itu Nara pun dengan cepat berdiri menghalau Vino dengan tubuh mungilnya.
“Vino!” tahan Nara.
Pemuda ini menghela napas berat. Menatap Nara lekat yang matanya mulai berkaca-kaca menahan tangis. Uh, sungguh Vino tak sanggup melihat Nara menahan kesedihannya.
Tangan Vino terulur mencakup wajah perempuan yang ia cintai. Pandangan mereka bertemu. Oh perasaan Vino semakin dalam.
“Baiklah jika bersamanya membuatmu bahagia, aku akan mencoba merelakanmu!” ucap Vino dengan perasaan berkecamuk.
Nara memegang tangan Vino yang berada di pipinya.
“Vin!” lirih Nara tanpa terasa setitik air mata haru itu menetes membasahi pipi mulusnya. Nara melihat Vino benar-benar sangat mencintainya. Inilah cinta sebenarnya merelakan orang yang di cinta demi kebahagiaannya.
“Beri aku waktu untuk menerima ini semua,” ucap Vino yang hanya di balas Nara dengan isakan.
“Tapi, ingat jika dia menyakitmu, aku akan menghajarnya!” tambah Vino.
Nara mengangguk cepat sembari terisak.
“Saat dia menyia-nyiakan dan tidak menghargaimu, berjanjilah kau harus datang padaku. kembalilah padaku!” tekan Vino.
Setelahnya pandangannya melembut.
“Ingat Ra, aku akan selalu menunggumu dan menerima apa-pun keadaanmu, hatiku akan selalu untukmu,” jelas Vino ucapannya mengarah jika kelak Nara berpisah ia siap menerimanya cintanya ini kembali.
Ah, dada Nara terasa sesak, beruntungnya dia dicintai pemuda ini namun di tidak berdaya untuk membalasnya, hanya kecewa yang ia berikan.
Nara tak bisa berkata-kata, air matanya tak berhenti mengalir semakin deras. Ia hanya mengangguk pelan.
Setelahnya Vino melangkah kaki meninggalkan Nara yang mematung.
Like
Coment
Vote ....
__ADS_1