
Jerman
Di sebuah rumah sakit.
Waktu berlalu begitu cepat hari demi hari berganti, bulan demi bulan telah berlalu dengan begitu cepat. Hari berat yang di lewati Nara dan ibunya begitu panjang, tak ada satu hari pun mereka lalui tanpa air mata karena kondisi gadis yang berbaring di ranjang rumah sakit itu.
Ya, sudah enam bulan Alana belum membuka matanya, kondisinya belum juga pulih. Luka karena kecelakaan itu benar-benar parah. Terutama cidera di bagian kepalanya yang merupakan pusat dari seluruh anggota tubuh.
Seperti biasa ibu Salma duduk di samping brankar sembari menangis. Menatap iba tubuh putrinya, lelah menangis setelahnya tanpa sadar tertidur menundukkan kepalanya di tepi ranjang.
Ibu Salma yang hendak masuk ke alam mimni, tersentak saat merasakan tangan kanan, yang menggenggam tangan Alana terasa mengalami pergerakan. dengan cepat ia pun mengangkat wajahnya yang tertunduk, menatap ke arah Alana.
Dan benar manik mata Alana mulai terlihat.
“Nana!” suara perempuan paruh baya ini bergetar.
Melihat akhirnya putrinya membuka mata, air mata ibu Salma jatuh berlinang.
“Nana! Syukurlah, kamu bikin ibu takut!” sosor ibu Salma dengan isakan.
Ya ampun, dia sangat bahagia setelah enam bulan kelopak mata Alana akhirnya terbuka sayu.
Ibu Salma kemudian mengalihkan pandangannya pada Nara yang berbaring di sofa.
“Ra, adik kamu sudah sadar!” teriak ibu Salma tanpa sadar.
Mendengar teriakan ibunya, Nara seketika terjengkit kaget, bangun dari tidurnya.
“Ra, adik kamu sudah bangun!” ulang Nara lalu melangkah cepat ke arah ibunya.
Kristal bening jatuh menetes di wajah Nara, saat melihat adiknya, benar telah membuka mata walau tak ada kata yang terucap.
“Nana! Syukurlah!” Nara meraih tangan adiknya mengecupnya dengan sayang. Terima kasih tuhan,” ucap Nara dengan linangan air mata.
“Ra, panggil dokter kemari untuk memeriksa keadaannya!” pinta ibu Salma.
“Baik bu!” Nara kemudian menekan tombol yang ada di dinding.
Beberapa saat rombongan dokter dan perawat berbondong masuk memeriksa keadaan gadis yang telah enam bulan tak sadarkan diri itu.
__ADS_1
Nara dan ibu Salma menunggu di luar ruangan, duduk bersisian menunggu dokter memeriksa keadaan Alana. Akhirnya untuk sekian lama mereka menarik napas lega.
“Akhirnya adikmu sadar Ra. Terima kasih tuhan!” ucap ibu Salma girang ini pertama kalinya lagi ia menarik sudut bibirnya membentuk senyuman setelah apa yang mereka lalui.
“Nana, sudah melalui masa kritisnya Bu!” balas Nara tak kalah girangnya.
“Semoga dia cepat sembuh dan pulih kembali.”
“Iya, bu. Setelah Nana pulih kita akan keluar dari rumah sakit ini!” tambah Nara.
Mendengar itu senyum seketika pudar dari wajah perempuan paruh bayah ini, manik matanya mulai berembun ada perasan tak rela merasuk dalam hatinya akan keputusan Nara.
“Ra, adikmu harus operasi lagi,” ibu Salma mulai tergugu mengingat keadaan Nara.
Nara memegang tangan ibunya, menatap wajahnya lembut.
“Bu, untuk operasi lanjutan Nana. Biarkan Nara yang berusaha mencari biayanya,” jelas Nara.
“Tapi Ra.”
“Kita sudah terlalu banyak menggunakan kartu pemberian Vino Bu. Untuk pengobatan Nana dan hidup kita selama ini. Hutang budi kita padanya sudah banyak dan kita tidak akan pernah bisa membalasnya. Sudah cukup Bu,” kata Nara merasa tak enak hati menggunakan apa yang telah di berikan Vino padanya. Walau benar kata Vino jika kartu itu tak memiliki limeted dan bisa dia pakai untuk kebutuhannya hingga kapan pun namun rasa tak enak hati merasuk dalam dirinya. Sudah cukup dia berhutang budi pada sahabatnya itu.
Ibu Salma tertunduk bahunya bergetar naik-turun.
“Kasian adikmu. Dia akan malu dan tidak percaya diri, orang-orang mungkin akan mengejeknya,” tangis perempuan paruh bayah itu pecah memikirkan nasib putri bungsunya akibat kecelakaan itu.
Nara memeluk ibunya.
"Nara akan berusaha sekuat tenaga, bekerja keras membiayai operasinya! Tolong bu. Kita harus bangkit.” Mengusap punggungnya mengalirkan ketenangan.
Pelukan terlepas, ibu Salma mulai tenang. Mengusap air mata yang jatuh di pipinya.
“Baiklah, jika itu keputusanmu, ibu akan selalu mendukungmu.”
Nara menarik ke dua sudut bibirnya.
Ibu Salma menghela napas lega mulai tersenyum.
“Ibu sudah ngak sabar kita segera kembali Ra, ibu kangen panci-panci ibu, pasti udah banyak debunya ngak ada yang urus selama kita di sini,” ucap ibu Salma dengan menggebu-gebu.
__ADS_1
Pulang ...
Nara seketika memasang wajah sendu. Hatinya teremas kuat, pulang berarti hanya akan mengorek luka hatinya. Begitu banyak kenangan pedih di sana derita masa kecilnya memiliki ayah pemabuk, kecelakaan Alana, persahabatannya yang hacur dan yang paling utama tentang pernikahannya dengan Milan yang hancur.
Nara kembali memegang tangan ibunya.
“Kita tidak akan kembali ke sana lagi bu,” jelas Nara memberi pengertian.
"Maksud kamu Ra?” tanyanya tak mengerti.
Nara menarik napas lega. Ah semoga saja ibunya setuju dengan rencana hidup yang ia susun setelah Alana bangun.
“Kita akan memulai hidup baru di kota ini.”
“Kenapa kita tidak kembali Ra,” protesnya.
Uh, bagaimana dengan koleksi pancinya jika mereka tak kembali.
“Nara ingin suasana baru, melupakan kenangan yang menyedihkan di sana. Tolong ibu mengerti. Kita mulai dari awal semua di sini,” pinta Nara dengan lembut memberi pengertian.
Ah, sungguh dia ingin memulai hidup baru dan menghapus kenangan tentang Milan apalagi mengira jika Milan telah hidup bahagia dengan kekasih hatinya.
Membayangkan saja hati Nara berdenyut perih. Dia tidak sanggup.
Sejenak ibu Salma terdiam, merenungi keputusan putrinya. Dan benar kota itu menyimpan luka dan kesedihan untuk mereka terutama Alana.
Setelah berpikir ibu Salma menangkup wajah Nara, kemudian mengangguk.
“Ibu akan menuruti apa-pun yang terbaik bagi anak ibu."
“Makasih bu,” balas Nara dengan senyuman memegang tangan ibunya yang masih menempel di pipinya.
Nara telah memutuskan memulai hidup baru di kota ini dan melupakan semua masa lalu yang menyakitkan hati. Memulai lembar baru dengan keluarga kecilnya. Bahagia bersama dengan ibu dan adiknya.
hai, aku kembali maaf sempat libur, lagi ngebabu sampai sakit. oh banyaknya perkerjaanku sampai otakku rasanya heng.
semoga kalian ngak bosan dengan cerita ini.
lope ...lope untuk kalian yang masih setia mengikuti.
__ADS_1