
Suara dawai-dawai malam, mengantarkan makhluk bumi untuk terlelap.
Nara berada di dalam kamar, berbaring menatap langit-langit kamar. Sejak tadi kelopak matanya sulit untuk terpejam.
Bayangan Milan yang datang ke rumah kecilnya, bercengkerama dengan ibu dan adiknya terus mengudara dalam pikiran. Ada apa dengan Milan si galak?
“Kenapa dia bersikap baik dan sopan? Kenapa dia sangat perhatian dan seharian ini dia tidak pernah marah,” batin Nara.
Ah, semua itu bukan sikap Milan yang ia tahu. Nara terus bertanya-tanya?
Ini aneh ...
Nara mengetuk-ngetuk bibirnya dengan jari telunjuk teringat saat Milan kembali menciumnya saat meminum obat.
“Dia menciumku lagi.”
“Ya tuhan, apa yang telah terjadi dengannya?” rancau Nara menutupi wajahnya dengan guling, kepalanya hanya akan bertambah pening jika ia terus memikirkan perubahan Milan.
***
Matahari telah naik, sinar teriknya menyengat kulit. Nara berada di rumah menghabiskan waktu dengan menonton tv. Titah Milanlah yang mengharuskannya banyak beristirahat. Tidak boleh ke mana-mana, jika kondisi tubuhnya belum pulih sepenuhnya padahal ia sudah merasa membaik akan tetapi ucapan Milan tak boleh terbantahkan.
Suara langkah kaki membuat Nara menatap ke arah luar. Manik matanya menangkap dua orang sedang berjalan ke arahnya.
“Ra, kami datang!” seru Chelsea sebelah tangannya membawa kantong plastik.
“Kalian?” mata Nara berbinar senang melihat dua sahabat gilanya datang. Setidaknya dia tidak akan kesepian jika mereka ada.
“Iya, kami menjengukmu,” celetuk Vino.
Mereka lalu ikut bergabung duduk mengapit Nara di sofa.
“Menjenguk.” Nara terkekeh, terdengar lucu.
“Bagaimana keadaanmu?” tanya Vino memasang wajah cemas kemudian mengulur telapak tangannya di dahi Nara.
“Aku baik-baik saja. Kemarin aku hanya demam. Tapi sekarang sudah tidak.”
“Syukurlah.”
Mereka kompak menarik napas lega.
"Lihat ini aku bawa boba kesukaanmu.” Chelsea memperlihatkan kantung plastik yang ia bawa dengan semangat.
“Kau ini ngak pernah jenguk orang sakit ya! Orang demam malah bawa boba. Kau ingin dia pilek,” sembur Vino menatap malas Chelsea yang berada di seberang Nara.
“Ini kan kesukaan Nara.”
“Datang itu bawa buah!” sergah pemuda tampan ini.
“Aku juga bawa buah Vin,” balas Chelsea kembali tak mau kalah, memperlihatkan satu kantong plastik.
Vino menarik napas panjang.
“Mumpung Nara libur, udah lama kita ngak ngerujak,” ucap Chelsea memperlihatkan mangga muda yang ia bawa.
“Kau ini malah ngajak ngerujak lagi!”
__ADS_1
“Wah Sea Ayo kita ngerujak,” sela Nara dengan antusias.
Vino menghela napas berat.
“Emang kau bawa apa?” tanya Chelsea penasaran.
“Bakso mas Joko kesukaan Nara, tadinya pengen bawa martabak biar kaya ngapel ke rumah mertua gitu,” kelakar Vino.
“Yaelah, cuman bakso mas Joko,” ledek Chelsea.
“Ini kan kesukaan Nara juga,” balas Vino.
“Iya Vin, aku mau!” ucap Nara bersemangat.
Vino menarik sudut bibirnya, senang.
“Aku siapin di mangkok dulu.” Vino kemudian bangun dari dudunya beralih ke dapur.
“Sekalian ini Vin, tolong di kupas,” celetuk Chelsea menyodorkan kantung plastik berisi mangga.
“Ngelunjak ini bocah.” Mata Vino memicing menerima bungkusan dari Chelsea.
Chelsea membalas dengan cengiran memperlihatkan deretan gigi putih ratanya.
Bayang Vino telah menghilang, masuk ke dalam dapur. Nara dan Chelsea menunggu sembari menatap berita di layar tv.
Suara langkah kaki terdengar mendekat ke arah mereka.
“Sini Vin,” pungkas Nara menggeser tubuhnya untuk memberi ruang Vino duduk di sampingnya.
“Aku udah ngak sabar,” sahut Chelsea.
“Kak Milan!” kompak mereka berdua.
Chelsea tercengang, matanya membola menatap kakaknya ada di rumah Nara. Sama seperti Nara yang terkejut dan bertanya-tanya ia pun seperti itu.
Chelsea mengarahkan pandangannya pada Nara meminta jawaban, namun gadis berkacamata itu hanya mengendik. Ia pun tak tahu.
Netra hitam Milan tertuju pada Nara.
“Bagaimana keadaanmu?” tanya Milan.
“Su ... su ... dah baikkan kak,” jawabnya terbata masih terkejut Milan datang untuk ke dua kalinya ke rumah ini.
Ada apa lagi ini? Masa sih, pemuda galak ini datang hanya untuk mengetahui kabarnya? Itu tidak mungkin ...
“Kak Milan di sini!” seru Chelsea seakan tak percaya bukankah kakaknya anti pada sahabatnya.
“Memangnya kenapa!” desis Milan memasang wajah malas mendapatkan tatapan menyelidik dari adiknya.
“Kak Milan, kenapa ke mari?” tanya Chelsea tak mengerti. Apa kakaknya mencarinya itu pikirnya.
Milan mendesah kasar, melipat tangan di dada.
“Kau lupa aku ini siapanya? Bukan aneh jika aku kemari,” jelas Milan mengingatkan siapa dirinya bagi Nara, menunjuk Nara dengan ekor matanya.
Chelsea tercengang rahangnya seakan ingin jatuh. Ucapan Milan menyiratkan mengakui Nara sebagai istrinya.
__ADS_1
Apa kakak telah menerima Nara sebagai istrinya?
Belum hilang terkejut Chelsea, kini ia menjadi gelagapan ketika Vino telah keluar dari dapur membawa semangkuk bakso di tangannya. Astaga Vino bisa curiga.
Sejenak Vino mematung, mengernyitkan alis saat pandangannya bertemu dengan Milan. Mengapa kakak Sea berada di rumah Nara.
“Kak Milan duduk dulu.” Chelsea mengarahkan Milan di anak kursi.
Mengalihkan pikirannya Vino mendekat ke arah Nara lalu duduk.
“Ini, udak aku hangati, makanlah,” ucap Vino dengan senyuman tertambat, lalu duduk di samping Nara menyodorkan mangkuk yang berisi bakso.
Nara menatap Milan yang telah duduk di seberang, menatapnya tajam. Tatapan itu sungguh mengerikan bagi Nara seakan ingin mengulitinya.
“Makan Ra! Kau dari tadi pengen kan,” desak Vino.
“Ha.” Nara mengalihkan bola matanya pada Vino.
Tangan Nara pelain meraih mangkuk bakso. Rasanya dia sudah kehilangan selera makan suasana menjadi sangat canggung.
Nara mulai menyuap bakso ke mulut.
"Gimana enakkan?" tanya Vino.
Nara menjawabnya dengan senyuman kaku.
Sejak tadi Chelsea menatap wajah kakaknya yang menyiratkan raut muka tak suka melihat Nara dan Vino. Ini gawat ... pikir Chelsea.
“Aku akan mengambilkanmu air minum, jangan minum boba,” sela Chelsea memecah keheningan kemudian bangun dari duduknya.
“Kak Milan juga haus kan!” Chelsea menarik tangan kakaknya untuk ikut bersamanya.
Kini kakak beradik ini telah berada di dapur.
“Sea mengapa kau membawaku kemari,” gerutu Milan dia ingin mengawasi mereka.
“Kak Milan, tolong jangan sampai dia tahu, jika kalian telah menikah,” pinta gadis cantik ini.
“Memangnya kenapa?” ketus Milan rasa panas menjalar di dalam dadanya. Dari tatapan pemuda itu pada Nara dia tahu jika lelaki itu suka dengan si culun istrinya.
“Taruhannya adalah persahabatan kami akan hancur, Sea ngak mau persahabatan kami bertahun-tahun hancur, tolonglah kak,” mohon Chelsea terdengar takut.
“Ya kak?” tanya Chelsea memastikan.
Milan mendesah kasar, menatap adiknya yang memohon padanya. Jadi dia harus diam saja melihat lelaki itu perhatian pada istrinya.
“Ya baiklah,” Milan mengiyakan walau sebenarnya hatinya tak rela.
Chelsea beralih memeluk tubuh Milan. “Terima kasih kak.”
Milan hanya menjawabnya dengan deheman.
Kakak beradik ini kembali bergabung bersama Nara dan Vino.
Cipratan cemburu tersirat di manik mata Milan saat melihat Vino begitu perhatian pada Nara. Hatinya terasa panas namun dia telah berjanji menahan diri demi adiknya.
si milan sengaja aku bikin panas dulu, emang enak ....biar sadar. biar penampilannya culun ada juga yang suka banget sama dia. author juga masih dendam di awal dia kejam banget ama Nara. author mau balas dendam.
__ADS_1