Si Culun Mendadak Jadi Istri Presdir

Si Culun Mendadak Jadi Istri Presdir
petuah


__ADS_3

Jantung Nara semakin bergemuruh. Aliran darahnya seakan berhenti mengalir, saat Milan menggendong tubuhnya lalu membaringkannya ke ranjang. Sungguh Nara belum mengerti tentang apa yang sedang terjadi antara dia dan pemuda galak ini? Mengapa ciuman tadi malah membawanya berlabuh di ranjang bersama Milan?


Milan mulai merangkak naik, menindih tubuh Nara dengan ke dua tangan sebagai tumpuan.


Milan tertunduk menatap Nara yang  membeku dalam kungkungannya. Manik mata mereka bertemu sorot mata mendamba terpancar dari Milan.


“Malam ini aku akan menjadikanmu istriku seutuhnya. Ini akan menjadi malam indah kita sebagai suami istri yang sesungguhnya,” batin Milan napasnya mulai terasa berat berkabut gairah.


Tanpa mengalihkan pandangannya tangan Milan membuka kacamata yang membingkai wajah Nara hingga netra indah itu terlihat jelas, setelah ia beralih membuka kepangan rambut Nara, membuat surai itu menjulur menyerbakkan aroma menangkan hati. Tampaklah kecantikan wajah Nara yang tersembunyi, Milan terpesona perasaannya berdesir hebat.


Semburat merah menghiasi wajah Nara lalu membuang pandangannya ke samping. Rasa malu menyeruak saat Milan melihat wajahnya tanpa kacamata.


Milan tersenyum mendekatkan wajahnya di telinga Nara.


“Kau sangat cantik,” bisik Milan memuji membuat tubuh Nara meremang.


Apa! Pemuda ini mengatakannya cantik?


Nara menatap Milan membaca sorot mata yang terpancar dari manik hitam itu.


Milan tersenyum tipis setelahnya, menyambar bibir kenyal milik Nara mellumatnya, membuat Nara kepayahan, merasa udara di rongga dada menjadi menipis. Napas Milan terdengar berat terbakar oleh gairah.


Bekapan bibir itu terlepas, kecupan-kecupan kecil turun ke ceruk leher putih Nara membuat gadis ini mengalihkan pandangannya mencengkeram seprai kuat merasakan aliran darah bergejolak.


Ah, ini gila! Kenapa jadi seperti ini! Ini tidak boleh terjadi jerit Nara dalam hati.


Dengan sedikit kesadaran yang masih tersisa Nara mencoba menghentikan Milan sebelum semuanya berlanjut dan menjadi penyesalan.


“Kak Milan.” Tangan Nara terulur menahan dada Milan, mendorong untuk berhenti mencuumbuinya.


Milan mengangkat kepalanya, mempertemukan mata mereka hingga terasa deru napas memburu menyapu wajah Nara membuatnya meremang.


“Ada apa?” suara Milan terdengar serak, menatap wajah memerah Nara yang terlihat semakin cantik memesona, membuat mata yang memancarkan kilat gairah ini semakin menyala.


“Kita tidak boleh melakukannya, ini sudah terlalu jauh,” ucap Nara pelan. Tidak pernah sedikit pun terlintas di benaknya jika hubungan mereka akan sampai di tahap intim.


Milan menatap dalam manik mata Nara, pandangan mereka berserobok. Degupan sepasang jantung semakin bergemuruh hebat.


“Kenapa tidak boleh. Kita suami istri dan Aku adalah suamimu.” Tekan Milan mengingatkan kemudian berdiri dengan kedua lutut bertumpu lalu membuka bajunya yang menempel pada tubuhnya.


Deg ....


Nara membatu, debaran jantungnya semakin terpompa cepat.


Oh, Benar sekali lelaki yang menindihnya ini sekarang adalah suaminya yang sah. Dia adalah istri dari Milan Kalingga.


Kecupan singkat di bibir membuat Nara tersadar, mengerjapkan mata. menatap wajah tampan yang ada di atasnya, telah bertelanjang dada.


Demi apa-pun Nara tak pernah berpikir dia akan melalui malam syahdu seperti ini, mengingat Milan tak pernah menganggapnya sebagai istri. Milan pasti hanya khilaf, pemuda galak ini tidak pernah menginginkan dirinya batin Nara.

__ADS_1


Tangan Nara kembali menahan dada bidang Milan. Masih mencoba bertahan.


“Kak Milan, aku belum siap untuk melakukannya.” ucap Nara dengan nada terendah serta sorot mata memohon agar Milan berhenti.


Milan menghela napas berat sejak tadi Nara beralasan padahal gairahnya telah berkobar.


“Ada sebuah petuah! Untuk suami istri!” ujar Milan menatap Nara.


“Petuah!” ulang Nara mengening masih menahan dada Milan.


Apa petuah ini sama petuah move on yang sering ia berikan pada Milan? Pikir Nara.


“Kau tahu petuah itu.” Milan tersenyum miring dengan tatapan tatapan menghunus.


Wajah Milan maju mengarah pada daun telinga Nara.


“Ngak boleh nolak suami, jika dia meminta,” bisik Milan pelan di telinga Nara dengan seringai jahat.


Deg ....


Tubuh Nara membeku, mencoba menelan salivanya kelat. Dia sangat tahu petuah yang di keluar dari mulut Milan.  Sebagai seorang istri tidak boleh menolak suami karena itu adalah hak suami serta wujud bakti seorang istri.


Ah petuah! Kenapa Milan sekarang menggunakan petuah untuk meminta haknya. Bak bumerang yang menyerangnya kembali. Nara terjebak dengan petuah yang sering ia berikan.


Ah akhirnya ia pasrah ...


Tangan Nara yang menahan dada Milan pelan-pelan merosot turun.


Nara mengalihkan pandangannya ke samping. Menggigit bibir bawahnya kuat, Malam ini sebagai istri dia akan memasrahkan diri pada suaminya.


Milan merengkuh tubuh Nara cipratan  gairah semakin menerjang.


“Aku menginginkanmu! Ini akan menjadi malam pertama kita, nikmatilah” bisik Milan membuat Nara menegang setelahnya mulai mengecup kening, mata, pangkal hidung menjalar ke seluruh bagian wajah Nara, Milan melakukannya dengan lembut agar Nara menikmati percintaan ini.


Milan memangut bibir ranum Nara mengecap perlahan, memberikan kecupan-kecupan kecil, menyapu, menggoda dengan lidah agar mendapatkan balasan, melakukan dengan begitu lembut.


Dan benar saya kelembutan ini membuat Nara terbuai dan mulai menyesap bibir bawah suaminya.


“Eugh ...” Nara melenguh melingkarkan lengannya di leher Milan, mulai menikmati tautan bibir mereka, saling bertukar saliva menyesap hingga suara cecapan bibir itu terdengar.


Bola mata Nara membulat ketika tangan Milan mulai menyelusup masuk ke dalam pakaian yang dia kenalan. Meremmas lembut bongkahan dada yang tidak terlalu besar. Sebelah tangannya lagi aktif bergerilya meraba, mencoba membuka satu persatu kancing pakaian yang membungkus tubuh istrinya melemparnya asal.


Aliran darah Nara bergejolak, Tubuhnya mulai panas, larut dalam gelombang gairah, Milan begitu memperlakukannya dengan lembut dan mendamba.


“Ahhh.” Desah Nara saat kecupan lembut  Milan turun menyusuri leher jenjangnya menyesap,  menghisap, menjilat tulang selangkanya menyapu setiap permukaan kulit mulus Nara dengan bibir, menyebarkan jejak kepemilikan di permukaan kulit putih itu.


Sebelah tangan Milan meraba membuka pengait bra Nara. Dengan sekali sentak Milan berhasil membuat dua gundukan itu terpampang indah. Kecupan pun turun menyusuri dada, bermain di sana merremas, menghisap membuat Nara menggelinjang menahan rasa tak dapat ia lukiskan seakan ingin terbang.


Oh, ini gila dia terbuai, menikmati setiap sentuhan Milan yang menghasilkan  getaran, leguhan dan erangan.

__ADS_1


“Eugh ...”Tangan Nara menekan dan mencengkeram rambut belakang leher Milan, seraya mengeluarkan ******* yang membuat pemuda ini semakin bergairah mengecupi inci demi inci tubuhnya.


Tubuh polos Nara telah terpampang nyata. Milan telah berhasil membuka semua pelindung tubuhnya, menatap kulit putih, mulus yang membuat ggairanya semakin tersulut oleh api birahi. Wajah Nara merona menahan malu saat Milan menatap seluruh tubuhnya.


Puas mencumbui Nara, Milan menegakkan badannya dan bertumpu pada lutut. Membuka pakaian bawah yang masih tersisa.


Nara tertegun menelan salivanya susah payah melihat tubuh polos Milan dengan bukti gairah telah tegak dan berdiri kokoh, wajah Nara memanas Mengalihkan pandangannya ke samping.


Napas mereka telah terdengar berat saling bersahutan. Milan siap untuk melakukan penyatuan.


“Aku akan melakukannya,” bisik Milan tak luput mengecup telinga belakang Nara, menyapu dengan lidah.


Tubuh Nara meremang dan bergetar ia seakan tidak bisa bernapas. Malam ini dia akan menyerahkan kesuciannya pada Milan.


“Aku akan mulai.”


Milan membuka paha Nara mulai memposisikan dirinya, mengecup sekilas bibir istrinya.


“Kak, aku takut,” ucap Nara wajahnya seketika tegang ini adalah pengalaman pertamanya, Ia tahu robekan selaput dara akan terasa sangat sakit, rasa gugup meliputi hatinya.


“Jangan takut. Aku akan melakukannya perlahan.” Milan mengecup kening Nara lama mengalirkan rasa tenang.


Milan bertumpu dengan sebelah tangan. “Tahan sebentar, ini memang akan sedikit sakit,” ucapnya diangguki oleh Nara dengan kelopak mata tertutup sayu.


Milan mulai mengarahkan  kejantanannya ke pusat inti Nara membuat gadis ini meremmas sprei kuat saat merasakan ada sesuatu yang mendorong untuk masuk.


Nara memejamkan mata ketika, Milan perlahan mendorong ke pusat intinya berusaha menerobos untuk masuk.


“Ahhhh!” rintih Nara kesakitan merasakan inti tubuh seakan terobek.


“Tahan sebentar saja,” kata Milan mengecup seluruh wajah Nara, menyalurkan perasan sayang agar membuatnya tenang.


Nara menggigit bibir bawahnya kuat, kuku lentiknya menempel di punggung Milan, saat milik pemuda ini terus  mencoba menerobos untuk masuk untuk pertama kali. Benar-benar sulit dan sempit. Milan juga merasakan miliknya berdenyut perih.


Kali ini dengan sekali sentakan kuat dan keras dinding itu akhirnya terkoyak.


“Ahhh,” pekik Nara kesakitan, semakin mencakar punggung Milan. Bulir kristal menetes melalui ekor mata Nara. Saat merasakan sesak, penuh, sakit berbaur menjadi satu di inti tubuhnya.


Milan mencium seluruh wajah Nara dengan sayang untuk mengalihkan rasa sakitnya. Sejenak membiarkan miliknya tenggelam. Merasakan hangat serta pijatan dari pusat inti Nara.


Darah yang menetes kini telah menjadi tanda dia telah memiliki Nara seutuhnya, bahkan menjadi bukti dia adalah lelaki pertama bagi Nara. Milan mendelik menatap Nara, dia usap Air mata yang mengalir, merengkuh dengan sayang yang membuncah.


Setelah Nara tenang Milan mulai menggerakkan pinggulnya perlahan seraya memagut bibir istrinya, menggantikan sakit itu menjadi kenikmatan yang membawa mereka melayang.


Di bawah kungkungan Milan rintihan kesakitan telah berganti menjadi erangan, ******* kenikmatan dari pasangan suami-istri yang baru menikmati malam pertama setelah sekian lama.


Rumah baru ini menjadi saksi malam pertama mereka yang indah.


LIKE

__ADS_1


COMENT


VOTE


__ADS_2