Si Culun Mendadak Jadi Istri Presdir

Si Culun Mendadak Jadi Istri Presdir
goresan tangan


__ADS_3

Lautan bintang menghiasi langit malam.


Milan mengendarai kendaraannya dengan kecepatan tinggi memecah jalan.


“Semoga kau tidak tanda tangan Ra! Aku tidak ingin kita berpisah, jangan tinggalkan aku,” harap Milan dengan perasaan takut.


Hatinya di terjang resah, berharap Nara tidak meninggalkan tanda tangan di kertas itu karena jika itu terjadi Nara akan pergi dari hidupnya.


Kendaraan Milan baru saja masuk ke kediaman Kalingga. Turun dari mobil pemuda ini melangkahkan kaki cepat masuk ke dalam rumah.


“Kak Milan bagaimana? Nara mana?” tanya Chelsea menghadang langkah kakaknya.


Gadis cantik ini sejak tadi menunggu dengan was-was kabar dari Milan tentang sahabatnya. Ia juga cemas memikirkan keberadaan Nara.


Milan memasang wajah sendu sembari menggeleng pelan.


“Aku tidak menemukannya Sea. Aku telah mencarinya ke mana-mana,” jawab Milan.


“Ke mana dia?” ucap Chelsea dengan mata mulai berkaca-kaca semakin cemas akan keadaan sahabatnya.


Milan hanya mendesah napas berat, kemudian berlalu menerobos tubuh Chelsea melangkah cepat menuju kamarnya untuk memastikan sesuatu.


Setelah membuka pintu kamar, Milan berdiri di ambang pintu yang terbuka menatap suasana kamarnya yang sepi mencari jejak apa Nara telah masuk ke kamarnya semoga saja tidak itu harapnya.


Milan melangkah dengan degupan jantung yang berdetak menggila ke nakas, terus  mengikis jarak dengan manik mata lekat ke arah laci nakas di samping tempat tidur. Di mana letak surat perpisahan itu tersimpan.


Tak beberapa lama Milan telah berdiri di depan nakas. Menarik napas untuk menenangkan debaran jantungnya. Setelahnya dengan tangan bergetar dia mulai menarik laci itu hingga terbukalah.


Milan sedikit bernapas lega saat netra hitamnya menatap isi laci yang sama seperti sebelumnya tak ada yang berubah itu berarti Nara tidak datang ke kamar ini, namun saat ia menegaskan pandangannya ia melihat kertas petuah move on yang kalimatnya telah berbeda dari sebelumnya.


Ini kertas petuah yang baru, oh tidak. Dia telah kemari, hati Milan semakin bergemuruh.


Tangan pemuda ini semakin bergetar, lalu meraih kertas petuah move on yang ada di  laci, mengeluarkannya dan mulai membaca. 

__ADS_1


Kita memulai semua ini dengan awal yang salah.


Karena itu akan selalu salah.


Memaksakan sesuatu, tidak akan baik karena itu. Melepaskan lebih melegakan dari pada memaksakan.


Aku akan selalu mendoakan kebahagiaanmu.


Kak Milan aku memutuskan melepaskan ikatan pernikahan kita.


Deg ....


Milan tertegun, tubuhnya bergetar hebat. Bak di sambar listrik jutaan volt aliran darahnya seakan terhenti.


Melepaskan ikatan pernikahan kita ...


Tanpa sadar Bulir kristal jatuh menetes di pipinya. hatinya tersayat.


“Kumohon jangan lakukan itu,” gumam Milan.


Tak beberapa saat Milan mengeluarkan map tempat surat mereka itu. Mulai mencari. Netra matanya langsung tertuju pada ujung kertas.


Tubuh Milan lemas, merosot jatuh bersimpuh di lantai, saat menatap akhirnya setelah sekian lama tak terisi, kini ujung kertas itu telah tergores pena


“Dia menandatanganinnya!” sesal Milan Hatinya hancur berantakan setelah sekian lama Nara akhirnya menggores tinta kertas perpisahan mereka.


“Kenapa kau menandatanganinya!” raung Milan mendekap surat perpisahan mereka dengan air mata berurai.


“Maaf! Aku salah! Ini semua salahku! Tapi kumohon Jangan tinggalkan aku! Aku tidak mau berpisah denganmu!” raung Milan mengutuki kebodohannya.


Makian, hinaan tuduhan yang telah dia lemparkan, bahkan sungguh menyakitkan. karena dialah Nara kehilangan adik tersayangnya wajar saja akhirnya Nara meninggalkannya.


"Aku suami terjahat. Aku yang membuatnya pergi! "

__ADS_1


Ah, sungguh besar kesalahan yang ia perbuat. hingga ia pun membenci dirinya sendiri.


Milan meraup wajah putus asa.


Bayangan perlakuan dingin Milan terhadap Nara terkenang.


“Ambil cek itu. Setelah itu kau tanda tangan! Pergi dari hadapanku. Selamanya.”


Ya, itulah yang di katakan Milan pada Nara, jika perempuan itu menandatangani surat perpisahan mereka. Menyuruhnya pergi untuk selamanya.


Pergi untuk selamanya ...


Ah dada Milan semakin sesak, cipratan penyesalan semakin merasuk dalam sanubarinya.


Terlalu dalam luka hati yang ia tambatkan di hati perempuan itu hingga Akhirnya setelah sekian lama bertahan dan bersabar akhirnya Nara meninggalkannya.


Andai dulu dia mendengarkan perkataan Nara untuk jangan pergi dan membantu adiknya ini semua tidak akan terjadi. Kini dia telah kehilangan perempuan berharga dalam hidupnya karena kesalahannya.


“Beri aku kesempatan memperbaiki semuanya! Maafkan aku!” sesal Milan di dalam hati.


Namun Nara telah pergi membawa rasa sakit teramat akan sikap abai serta penghinaannya. Di saat perempuan itu memohon untuk menyelamatkan adiknya suaminya malah meninggalkannya.


Siapa pun pasti akan sakit hati berada di posisi Nara saat itu.


 


Cuma segini lagi buntu ....


btw makasih ya ternyata bisa like nya 200, lagi dong ....


like


Coment

__ADS_1


Vote


__ADS_2