Si Culun Mendadak Jadi Istri Presdir

Si Culun Mendadak Jadi Istri Presdir
sakit


__ADS_3

Jutaan bintang bertabur di langit menghiasi malam yang indah. Sesosok pemuda berjalan gontai, menyeret langkah kaki menuju kamar.


Milan baru saja menginjakkan kaki  di kediaman Kalingga, setelah dirinya kembali dari Jerman. Sudah beberapa kali dalam satu bulan Milan selalu mengunjungi istrinya itu. Melepaskan sejenak rindunya, karena sungguh dia tidak bisa diam saja menunggu hingga tiga bulan lamanya berlalu, ia rela menempuh jarak panjang duduk di pesawat belasan jam lamanya.


Milan masuk ke dalam kamar duduk di pinggir tempat tidur, ia menghela napas berat hatinya kosong, selalu saja seperti ini. Ah andai Nara ada, kamar ini tidak akan sesepi ini.


Milan lalu menuju kamar mandi untuk membersihkan diri agar lelahnya sedikit hilang setelah melalui penerbangan belasan jam demi cintanya.


Setelah beberapa saat Milan telah selesai, ia naik ke ranjang king zisenya, ia pun meraih ponselnya menghubungi Nara mengabarkan jika ia telah sampai lewat panggilan video call.


“Sayang, sudah sampai?” sapa Nara dengan senyuman  membuat seketika lelah itu sirna.


"Iya sayang.”


“Sekarang istirahatlah, suamiku pasti lelah.”


“Masih kangen.”


“Baru juga bertemu.”


“Rasanya sangat sepi,” keluh Milan.


Nara tersenyum gemas, dia sangat suka melihat wajah tampan yang merengek itu.


“Sabar sayang ngak lama lagi, satu bulan lagi.”


“Rasanya berat.”


Milan menarik napas pasrah lalu berbaring sembari menatap wajah istrinya dari layar ponsel seperti biasa mereka hanya akan menghabiskan waktu sembari bertukar cerita lewat sambungan video call.


***


Mentari pagi telah menyambut, Milan yang tertidur menggeliat pelan di ranjangnya. Kesadarannya belum sempurna namun ia merasakan ada sesuatu yang aneh di tubuhnya kepalanya pening, terasa ingin pecah, seketika menjalar ke perutnya seakan di aduk. Ada sesuatu yang harus di keluarkan.


Uwek ...


Suara muntahan tertahan keluar darinya dengan cepat dia beranjak dari tempat tidur membekap mulutnya dengan sebelah tangan. Berlari kecil menuju kamar mandi.


Uwek ... uwek ...


Milan berdiri, membungkuk di depan wastafel memuntahkan seluruh isi perutnya.


Setelah selesai Milan mengusap wajahnya dengan air keran yang mengalir.

__ADS_1


Ah kepalanya terasa berputar.


“Sepertinya aku jetlag. Tapi aku tidak pernah mengalami ini,” keluh Milan merasa aneh pada tubuhnya.


Ia pun melangkah pelan kembali ke ranjang tubuhnya terasa sangat lemah setelah memuntahkan isi perutnya.


Suara pintu terbuka membuat perhatian pemuda itu teralihkan ke pintu. Mama Erika masuk untuk melihat keadaan putranya.


“Milan kamu ngak ke kantor?” tanya mama Erika duduk di tepi ranjang.


“Kepala Milan pusing ma, kayanya jet lag.”


Perempuan paruh bayah ini menatap wajah pucat putranya lalu menaruh telapak tangannya di kening Milan. Menarik napas lega saat merasakan suhu tubuh Milan normal.


“Baiklah kamu istirahat,” ujar mama Erika sembari memperbaiki selimut putranya. memaklumi karena Milan baru saja menemui istrinya yang jauh di sana.


Milan hanya membalasnya dengan anggukan. Pemuda ini kembali menutup matanya setelah melihat tubuh mamanya telah keluar dari kamar.


*****


Sesosok perempuan paruh baya berdiri di depan pintu kamar mandi, memasang wajah cemas sembari meremas tangannya.


Uwek .... uwek ...


Suara muntahan tiada hentinya, terdengar dari kamar mandi itu.


“Lan! Kamu ngak apa-apakan sayang!” tanya mama Erika menatap khawatir putranya.


“Milan mual banget Ma,” keluh pemuda ini.


Melangkah menuju ranjang di tuntun oleh mama Erika.


“Kamu makan ya sayang!” bujuk mama Erika mengarahkan sendok ke mulut putranya.


“Ngak bisa Ma, Milan mual.”


Sudah berhari-hari Milan terus memuntahkan isi perutnya apalagi di saat pagi hari.


Mama Erika menarik napas berat duduk di tepi tempat tidur.


“Lan, mama ngak nyangkah kamu bisa sebucin ini sama istri kamu. Masa tiap jauh sama Nara kamu sakit sih, payah banget, bukanya kamu juga baru ketemu,” oceh mama Erika mengenang saat di mana Nara pergi, Milan selalu saja berakhir di rumah sakit. Sama seperti saat ini kondisi Milan menurun.


“Mama masa orang kangen, di omelin,” protesnya. Milan pun membenarkan ucapan mamanya, ia memang sangat merindukan istrinya dan lemah tanpa perempuan itu, itu apalagi kondisinya yang  seharusnya ia di manjakan oleh istrinya itu.

__ADS_1


"Masa mama harus beritahu dia kondisi kamu. Mama kasihan Nara, Lan. Kalau dia ada kamu nempel terus sampai dia kayanya udah ngak bisa napas,” gerutu mama Erika akan putranya yang ketergantungan pada istrinya.


“Ya ampun, ma sudah ngomelnya, tolong jangan beritahu Nara.”


Astaga kepala Milan semakin berat mendengar ocehan mamanya.  


Pintu kamar Milan terbuka terlihat seorang  perempuan cantik melangkah masuk ke dalam kamar mendekat ke arah mereka.


“Sea, kamu di sini sayang,” sapa mama Erika.


“Kata kak Kay, kak Milan sakit.”


“Iya, ngak bisa makan selalu saja mual,” jelas mama Erika.


Chelsea melangkah mendekat ke arah ranjang melihat kondisi kakaknya.


“Mama sudah panggil dokter? Sea panggilkan dokter ya?” tanya Chelsea telah berdiri di samping kakaknya memasang wajah cemas melihat kondisi lemah lelaki itu.


Aroma parfum menyeruak dari tubuh perempuan cantik itu.


“Sea kau pakai farpum apa, kau bau sekali. Aku mual,” gerutu Milan mendekap mulutnya seketika perutnya melilit.


Apa! bau! wajah Chelsea cemas seketika berubah jutek.


“Bau, Apa kakak bilang, aku bau!” Chelsea berdecak kesal mendengar ucapan kakaknya, kecantikan bak dewi seperti dirinya di katakan bau tentu saja dia tidak terima ucapan itu.  “Aku pakai parfum mahal!” ketus sang adik.


Uwek ... uwek ...


Suara muntah tertahan terdengar, dengan cepat Milan turun dari tempat tidur berlari ke kamar mandi.


“Mama aku tidak bau kan?” tanya Chelsea meminta pembelaan mengendus tubuhnya.


“Tentu saja tidak sayang!” jawab mama Erika tak mengerti.


“Kak Milan aku tidak bau!” teriak Chelsea menekankan tak terima pada kakak yang asal berkata itu.


Akan tetapi tak di idahkan oleh Milan pemuda itu telah masuk ke dalam kamar mandi.


Uwek ... uwek ...


Suara Milan terdengar dari kamar mandi membuat Chelsea dan mama Erika saling tatap, sakit apakah lagi pemuda itu karena di tinggalkan oleh istrinya.


Like

__ADS_1


Coment


Vote ....


__ADS_2