Si Culun Mendadak Jadi Istri Presdir

Si Culun Mendadak Jadi Istri Presdir
petuah lagi


__ADS_3

Cahaya mentari pagi meninggi menerpa sebagian wajah Milan membuatnya tersadar dari alam mimpi.


Pandangannya terpaku pada sosok gadis cantik yang ada di dalam pelukannya. Gadis? Oh sudah tidak lagi. Setelah semalam ia berhasil mengoyak mahkota kegadisan Nara.


“Dia pasti sangat lelah,” batin Milan sebelah tangannya terulur merapikan anak surai yang menutupi wajah teduh Nara.


Milan tersenyum kecil saat mengingat kembali malam indah penyatuan mereka yang bergelora.


Sungguh Milan tak pernah menyangka jika dia akan jatuh cinta dan menikmati malam indah bersama Nara sebagai suami istri.


Hati Milan terasa seperti tergelitik jutaan kupu-kupu, cinta itu semakin membuncah saat mengingat bagaimana Nara merintih dan mendesah karenanya. Milan pun semakin mengeratkan pelukannya, menghujani wajah istrinya dengan ciuman, meluapkan perasaan sayangnya.


Merasa ada yang mengganggu tidur lelapnya, Nara menggeliat kecil dalam pelukan Milan. Kelopak mata Nara mulai terbuka pelan. Sorot mata Nara terkunci pada sosok pemuda tampan yang  berbaring miring di sebelahnya sedang menatapnya dengan senyuman lembut.


“Pagi,” sapa Milan.


“Kak Milan.” Nara tersentak kaget.


Mengapa ia bisa tidur bersama Milan?


Nara menatap ke arah tubuhnya yang polos hanya tertutup selimut yang sama dengan Milan.


Sekelebat bayangan percintaan mereka semalam mengudara. Bagaimana Milan telah mengambil mahkota yang ia jaga selama ini.


Blus .... wajah Nara memanas mengeratkan selimut yang menutupi tubuhnya.


Uh, rasa malu menjalar dalam hati. Semalam dia dan Milan telah melakukan hubungan suami istri.  Hal yang seharusnya tidak dia lakukan dan parahnya lagi, dia menikmati setiap cumbuan dan sentuhan lembut Milan padanya.


Ah, rasanya ia telah kehilangan muka di hadapan pemuda galak ini.


Nara mencoba  melepaskan lengan kokoh Milan yang melingkar di pinggangnya. Namun Milan malah semakin menggeratkan pelukannya tak ingin Nara beranjak.


“Mau ke mana?” tanya Milan mengecup bahu terbuka Nara dengan lembut.


“Aku harus pergi,” alibi  Nara jantungnya selalu bekerja extra jika berdekatan dengan Milan.


“Aww.” Nara meringis pelan saat menggeliat, merasakan perih di inti tubuhnya akibat percintaan semalam.  

__ADS_1


“Masih sakit!” ujar Milan menatap ke bawah dan sukses membuat wajah Nara kembali memanas karena malu.


“Aku masih ingin memelukmu!”


Milan menahan tubuh Nara untuk tetap berbaring di sampingnya dengan pelukan.


"Kak Milan. Ibu dan Nana pasti mencariku,” ujar Nara khawatir, niat ya kan hanya ingin melihat rumah hadiah kupon panci bersama Milan. Tapi mengapa dia malah menjalani malam pertama di rumah ini.


“Ikutlah pulang denganku, kita tinggal bersama lagi,” harap Milan rasanya berat jika harus tinggal berjauhan dengan istrinya. Apalagi setelah melalui malam penyatuan bersama Nara, rasanya ia ingin terus mengulangnya.


Nara termangu mencoba membaca sorot mata Milan. Apa pemuda ini bercanda?


Mengajaknya pulang! bukankah pemuda ini tidak suka jika dia berada di sana? Kenapa sekarang, ingin dia pulang?


“Bagaimana?” tanya Milan memasang wajah serius membuat Nara yakin jika pemuda ini tidak bercanda dan benar-benar mengajaknya pulang.


“Selama ini, ibu dan Nana hanya tahu aku tinggal di sana hanya karena mama,” jelas Nara tak punya alasan untuk tinggal di rumah Milan.


“Apa kau ingin, aku mengatakan pada mereka jika kita telah menikah!”


“Tidak perlu kakak, mereka pasti kaget!” tolak Nara dengan cepat.


“Sebagai suami aku, akan memintamu pada ibumu! Agar bisa tinggal bersamaku.”


Nara terpaku menatap wajah Milan lekat.


Duh, Milan terdengar manis sekali. Ia merasa  seperti anak perawan yang sedang di lamar. Membuat hatinya berbunga-bunga.


Nara tak pernah berpikir untuk memberi tahukan pernikahan dengan Milan pada keluarganya, karena telah menebak jika hubungan dengan ini tak akan berlangsung lama. Lebih baik mereka tidak pernah tahu itu pikirnya.


“Kau tahu salah satu petuah suami istri lagi.”


Nara terdiam, petuah apa lagi yang akan di ungkapkan Milan padanya.


“Seorang istri harus ikut suami,” jelas Milan.


Nara tertegun menatap Milan. Benar sekali, sebagai istri dia memang harus ikut dengan suaminya. Itu tak bisa terbantahkan. Namun dia tidak berdaya.

__ADS_1


“Ibu dan Nana pasti kecewa, jika aku telah menikah tanpa memberitahu mereka.” Raut wajah Nara seketika sedih ada perasaan bersalah merayap dalam dirinya.


Milan menghela napas panjang.


“Baiklah jika itu keputusanmu, aku akan menunggu kau siap.”


“Terima kasih kak,” ucap Nara dengan senyuman.


Setelahnya Nara melesakkan tubuhnya dari pelukan Milan, duduk mengapit selimut yang menutupi tubuhnya, hendak beranjak dia harus pulang.


“Kau mau ke mana?” tanya Milan menarik tangan Nara hingga tubuhnya tertahan, lalu menoleh menatap Milan.


“Mau pulang kak,” jawab Nara singkat.


“Nanti saja.”


“Tapi kak ....” ucapan Nara tertahan.


“Kau lupa petuah suami istri semalam,” sela Milan dengan seringai jahat menghiasi wajah tampannya.


“Petuah!” ulang Nara dengan alis mengerut dalam.


“Istri tidak boleh menolak jika suami menginginkannya,” jelas Milan menyentak tangan Nara hingga tertarik, kembali pada posisi berbaring di samping Milan.


Nara menelan salivanya kelat. Demi apa-pun tubuh Nara seketika menegang masuk ke dalam pelukan Milan. Apalagi saat suaminya ini mulai mencium pipinya berkali-kali.


Milan kemudian beralih menindihnya tubuh Nara, Pemuda ini memajukan wajahnya tepat di kelopak telinga Nara


“Aku menginginkanmu, istriku,” bisik Milan terdengar menggoda membuat tubuh Nara meremang. Setelahnya pemuda ini membenamkan wajahnya di ceruk leher Nara dengan sebelah tangannya telah aktif bergerilya meraba setiap inci tubuh Nara.


“Ahhhh, petuah! Mengapa sekarang aku  malah yang terjebak dengan petuah suami istri,” jerit Nara dalam hati.


Kembali menyerahkan diri dalam kungkungan Milan. Pasrah yang berujung dengan rasa nikmat yang tiada terkira. Mereka kembali melalui penyatuan penuh gelora dan gairah sebagai sepasang suami-istri.  


 


Hallllo aku hilang ya, jujur lagi buntu banget ... setelah mencoba Cuma bisa seperti ini. doakan supaya otak lancar lagi ....

__ADS_1


__ADS_2