Si Culun Mendadak Jadi Istri Presdir

Si Culun Mendadak Jadi Istri Presdir
lepaskan dia


__ADS_3

Pemuda tampan yang berprofesi sebagai fotografer ini sedang melakukan tugasnya, membidik kamera pada sepasang pengantin yang ada di hadapannya dengan perasaan gundah. Sudah seharian hati Vino gelisah, Sekelebat bayang Nara dan Milan kemarin terus menguasai pikirannya. Sungguh hatinya tak tenang dan tak fokus dalam bekerja, ia merasa ada yang ganjil dengan kedekatan Milan dan Nara.


Apalagi akhir-akhir ini kakak Sea itu terlihat mencari perhatian Nara. Logika Vino merangkai semuanya. Kemarin saat di rumah baru Nara ia melihat gadis berkacamata itu berduaan dengan Milan di dapur, namun saat ia ingin menghampiri seketika Chelsea datang menarik tangannya untuk pergi menjauh hingga ia tak sempat bertanya maupun memastikan.


Nara ikut di tengah semarak pesta, menatap puas mahakaryanya sebagai MUA yang terpampang di pelamin, pengantin wanita terlihat begitu bersinar berkat jari-jemari ajaibnya. Selesai dengan tugas, kini Nara mengistirahatkan tubuhnya sejenak duduk di kursi tamu.


Vino menatap Nara dari kejauhan, tak ingin terus di landa kegelisahan, ia pun hendak menghampiri gadis berkacamata itu kebetulan tiga sahabat ini memang sedang berada dalam perkerjaan yang sama.


Nara menarik kedua sudut bibirnya ketika melihat Vino sahabatnya melangkah mendekatinya.


“Ra!” sapa Vino duduk di samping Nara.


“Iya, Vin,” balas Nara.


“Ada yang ingin aku bicarakan padamu,” ucap Vino menatap wajah berbingkai kacamata itu lekat.


"Ada apa?” tanyanya santai.


“Ini penting, Aku tidak ingin bicara di sini,” ujar Vino


Alis Nara bertaut dalam menatap mimik serius dari pemuda yang duduk di sampingnya.


“Penting!” ulang Nara.


Apakah hal penting yang ingin Vino bicarakan padanya? Membuatnya menjadi penasaran.


“Iya, pulang nanti, kita ke warung mas Joko,” cetus pemuda ini.


“Baiklah.” Nara mengiyakan.


Vino menarik napas lega, setidaknya perasaannya sedikit tenang untuk melanjutkan pekerjaannya.


...****************...


Di gedung perkantoran Maxkal. Milan sedang duduk di kursi kerjanya menatap kosong ke arah ke arah layar komputer, bayangan malam pertama bersama istrinya terus saja menari-nari di kepala.


Pikiran liar itu terus terniang, suara *******, erangan masih melekat jelas hingga membuatnya tak bisa berkonsentrasi.


Tubuh Nara bak candu baginya. Rasanya dia ingin mengulanginya lagi dan lagi ....


Milan mengeram kesal, tak berdaya dia tak punya waktu menghabiskan malam bersama istrinya.

__ADS_1


Kepala Milan berputar mencari cara agar bisa bersama Nara, hingga sebuah ide merasuk dalam otaknya.


Pemuda tampan ini lalu meraih ponselnya menekan sebuah kontak. Setelahnya membawa benda pipih itu ke kelopak telinganya.


“Halo sayang.”


“Bagaimana keadaan mama?”


“Mama baik-baik saja. Kamu dan adikmu baik-baik saja kan. Oh iya mantu mama bagaimana?”


“Semua baik-baik saja. Mama kapan pulang.” Suara Milan terdengar merengek bak anak kecil.


“Tumben, kamu nanya mama kapan pulang,”


“Milan kangen.”


Oh, kata yang jarang sekali keluar dari mulut Milan, semua demi Nara.


“Kangen? Ini beneran Milan anak mama kan.”


“Mama!”


“Mama belum bisa pulang sekarang sayang. Mama masih banyak urusan.


“Iya, mama usahakan pulang secepatnya.


“Baiklah, jaga kesehatan di sana.”


Panggilan terputus Milan mendesah kasar, ternyata mamanya juga belum bisa pulang, padahal Nara akan tinggal bersamanya jika mama telah kembali.


...****************...


Cahaya jingga menghiasi langit senja. Nara telah selesai dengan perkerjaannya, kini ia bersiap untuk jalan bersama Vino ke warung bakso langganan mereka membicarakan sesuatu yang penting bersama Vino.


Nara duduk di sebuah kursi menunggu pemuda itu selesai merapikan peralatan photonya.


Nara menoleh ke belakang saat merasakan ada seseorang yang menepuk lembut pundaknya.


Nara terlonjak saat melihat pemuda tinggi nan tampan dengan kemeja putih yang tangannya tergulung setengah, berdiri di belakangnya.


“Kak Milan di sini!” seru gadis berkacamata ini kemudian bangkit berdiri di hadapan Milan.

__ADS_1


Pemuda ini mengulas senyum lembut, ia rindu wajah istrinya dan ingin selalu dekat pastinya.


“Aku menjemputmu, untuk makan malam.”


“Makan malam,” ulang Nara memaksakan senyumannya. Itu tidak mungkin karena ia punya janji bersama Vino.


“Harus sekarang ya kak?” tanya Nara menggaruk tengkuknya yang tak gatal, merasa tak enak hati dia harus menolak Milan.


“Tentu saja sekarang sayang,” ucap Milan melipat tangan di dada dengan nada mengalun menekankan kata sayang.


Sayang ... jantung Nara terpompa cepat. Ia membeku, Wajahnya teraliri rasa panas mulai merona.


Duh, manis sekali kata sayang, rasanya membuat Nara ingin terbang mendengarnya.


Namun tersadar, dia sudah punya rencana lebih dulu bersama Vino.


“Maaf kak, aku sudah punya janji dengan Vino,” lirih Nara tertunduk merasa tak enak hati.


“Batalkan saja, ikut denganku!”


Tangan kanan Milan menarik pergelangan tangan Nara untuk ikut bersamanya.


“Tapi, kak.” Nara masih bertahan di tempat enggan melangkah.


Milan menatap Nara lekat, mendekatkan tubuhnya hingga mereka berhimpitan, wajah Milan maju mengarah pada telinga Nara.


“Kau ingat petuah suami-istri?” bisik Milan dengan senyum seringai menghiasi wajah tampannya.


Petuah yang tak akan pernah di tolak oleh Nara. Tidak boleh menolak suami!


“Sudah ayo!” Milan kembali menarik tangan Nara. Dan  benar saja gadis berkacamata ini, terhuyung melangkah bersama Milan. Senyum kemenangan terbit di wajah Milan.


Baru beberapa jejak Nara terdiam saat merasakan sebelah tangannya di cekal oleh seseorang.


“Vino!” ucap Nara pelan.


Milan tertahan saat merasakan Nara berhenti melangkah. Ia pun berbalik menatap Vino menarik sebelah tangan Nara.


“Lepaskan dia! Dia tidak akan pergi bersamamu!” hardik Vino menatap tajam ke arah Milan. Manik mata mereka bertemu tatapan kilat penuh amarah terlihat dari keduanya. Suasana permusuhan dan persaingan semakin memanas di antara keduanya.


Like...

__ADS_1


Coment ...


Vote ....


__ADS_2