Si Culun Mendadak Jadi Istri Presdir

Si Culun Mendadak Jadi Istri Presdir
kencan


__ADS_3

Untuk pertama kalinya pasangan ini menghabiskan waktu berduaan menikmati suasana Mall.


Kencan itulah yang coba Milan lakukan bersama dengan Nara, menghabiskan waktu mulai dari membeli kacamata, nonton, makan. Sama yang di lakukan pasangan pada umumnya.


Demi apa-pun, sudah sejak tadi Nara merasa canggung berada di dekat Milan. Telapak tangannya pun dingin bak bongkah es, karena Milan terus menggenggamnya erat.


Berjalan bersama pemuda sesempurna Milan siapa yang tidak bergetar.


Walau Nara sudah mencoba memberi jarak agar ia tidak terlalu dekat pada yang mulia Milan. Namun pemuda itu terus saja memberikan perhatian yang membuat detak jantungnya naik-turun bagai roller coster.


“Yakin udah mau pulang?” tanya Milan sekali lagi saat mereka sepakat untuk memutuskan pulang. Berharap gadis ini berubah pikiran.


“Sudah sore,” alibi Nara, sudah tak sanggup lagi, ia bisa terkena serangan jantung jika berlama-lama dekat dengan Milan.


“Baiklah kita pulang sekarang?”


Milan menghela napas panjang sebenarnya ia masih ingin menghabiskan waktu bersama Nara.


Milan mengayun-ayunkan genggaman tangan mereka, sembari melangkah beriringan. Senyuman  tak pernah sirna dari wajah tampannya.


Hingga langkah Milan terhenti ia teringat akan sesuatu.


“Kenapa kak?” tanya Nara tak mengerti.


“Ayo kita ke sana,” jawab Milan lalu menarik tangan Nara menuju sebuah tempat.


“Parfum,” ujar Nara setelah tubuhnya tertarik masuk ke dalam toko yang berisi barisan botol parfum.


“Selamat datang tuan,”  Mereka lalu di sambut beberapa pelayan toko.


“Untuk apa kakak kesini?” bisik Nara tak mengerti.


“Pilihlah yang mana kau suka. Aku akan membelikannya untukmu.”


“Kak, ini ngak perlu. Lagi pula kakak sudah membelikan ku kacamata baru.” Itupun dia terpaksa memilih karena desakan Milan.


“Bukankah kau suka wangiku! Kau ingin parfum yang sama denganku!” cibir Milan menarik sebelah sudut bibirnya, nada suaranya terdengar menggoda, teringat saat malam di mana Nara memeluknya dan mengatakan jika ia suka dan ingin parfum seperti Milan.


Blus ...


Seketika wajah Nara terasa panas, menyalurkan semburat merah. Dia juga mulai mengingat peristiwa memalukan saat ia memeluk Milan, karena mengira itu Alana adiknya.


Ah, rasa malu menyeruak dalam diri Nara, ingin rasanya menghilang mengingat ia merancaku di pelukan Milan.


Melihat Nara yang tertunduk malu membuat Milan gemas.


“Bantu dia memilih,” titah Milan.


Pelayan pun mengarahkan Nara untuk memilih wangi yang ia suka. Gadis berkacamata ini hanya menghela napas berat menuruti ke inginkan Milan.


Mata Nara membelalak seakan ingin jatuh dari tempatnya saat menatap harga yang tertera. Sangat mahal hanya untuk sebotol parfum ukuran 100 ml, mengalahkan penghasilannya merias.

__ADS_1


“Mahal sekali, harga segini kalau di beliin yang kw. Sekampung bisa wangi, orang kaya memang aneh!” batin Nara.


Setelah beberapa saat Nara telah menunjukkan pilihannya. Milan siap untuk membayar mengeluarkan kartu dari dompetnya.


“Kak Mahal sekali,” bisik Nara merasa tak enak hati berdiri di samping Milan.


“Ngak apa? Kau tenang saja!” ucap Milan santai.


Milan mengarahkan pandangannya pada pelayan toko. “Beri aku parfum seperti ini 6 lagi,” perintah Milan.


Rahang Nara seakan ingin terjatuh mendengar keinginan Milan. Satu saja sudah mahal apa lagi 6.


“Kau ingin setengah liter kan?” Milan tersenyum miring mengingat pesanan Nara pada Alana.


"Atau kau ingin satu liter? kaya ukuran bensin eceran," tawar Milan membuat Nara menjadi gelagapan.


"Tidak kak, segitu cukup." ucap Nara dalam kepasrahan.


Nara mengutuk dirinya sendiri mengapa malam itu dia bisa merancau parfum Milan. Mana dia pesan setengah liter lagi. Akhirnya dia benar mendapatkan setengah liter.


"Dia beli parfum kaya semudah beli minyak goreng," batin Nara dalam hati.


Rasanya Nara ingin pingsan mengingat jumlah yang harus di bayar Milan untuknya.


Setelah membeli parfum mereka pun pulang. Nara menarik napas lega saat mobil Milan telah meninggalkan Mall. Akhirnya ia terbebas dari barang-barang yang membuatnya terkaget karena harganya.


Mobil sport merah Milan telah terparkir di halaman rumah Nara. Mereka telah sampai. Keduanya turun dari mobil.


“Kak Milan terima kasih, sudah membelikanku kacamata baru dan parfum ini,” ucap Nara menunjukkan paper bag yang menggantung di tangannya.


Milan mengangguk.


“Terima kasih juga sudah di traktir nonton, makan,” tambah Nara dengan senyum terkembang.


“Kau senang?” tanya Milan singkat.


“Senang sekali!” memasang wajah ceria.


“Besok malam, aku akan mengajakmu untuk makan malam.”


“Ha.” Nara kembali terlonjak akan ucapan Milan. Bak kembang api  yang tidak ada habisnya meledak membuatnya terkejut.


“Makan malam,” ulangnya memastikan tak salah dengar.


“Iya.”


“Tapi, kak ....”


“Aku akan menjemputmu!” tegas Milan dengan sorot mata khas yang tak bisa di bantah Nara.


“Baiklah besok malam,"

__ADS_1


"Kakak ngak mampir?” tawar Nara basa-basi.


“Lain kali saja.”


“Kalau begitu, aku masuk dulu,” pamit Nara mengembangkan senyuman sembari melambaikan sebelah tangannya di hadapan Milan.


Tubuh tinggi Milan membungkuk, mendekatkan wajahnya di wajah Nara dan.


Cup


Satu kecupan sebelum berpisah mendarat di pipi mulus Nara.


Suara napas tertahan terdengar dari Nara, saat Milan mencium pipinya, tubuhnya sejenak membatu. Lagi ia mendapatkan serangan dadakan yang membuat jantungnya seakan ingin lompat keluar


Ah Milan menciumnya lagi ...


Wajah gadis berkacamata ini memerah bak kepiting rebus.


Oh tuhan ...


Dengan cepat Nara membalikkan tubuhnya membelakangi Milan, tanpa kata melangkah meninggalkan Milan sambil memegangi pipi yang telah mendapatkan ciuman dari suaminya. Ia sudah tidak dapat berucap lagi.


Milan tersenyum gemas melihat tingkah Nara.


****


Di gedung kantor Maxkal. Milan sedang menatap layar komputer. Suara pintu terbuka membuat perhatiannya teralihkan. Terlihat Kay masuk melangkah mendekat.


“Ada apa Lan?” tanya Kay.


“Tangkap ini.”


Milan kemudian melemparkan sebuah kunci ke arah Kay. Dengan sigap Kay menangkapnya.


“Kunci apa ini Lan?” tanya Kay.


“Itu kunci rumah untuk Nara, awalnya aku akan memberikannya secara langsung, tapi aku berubah pikiran, dia pasti tidak akan terima, dia tidak suka menerima pemberian orang lain, karena dia ingin bekerja keras tanpa bantuan siapa pun,” jelasnya.


“Kau atur bagaimana caranya. Berikan padanya rumah itu, tanpa dia tahu kalau itu dari aku,” titah Milan.


Kay mengembangkan senyuman. Milan telah menunjukan perhatian pada istrinya.


“Baiklah aku akan mengaturnya untukmu.” Kay memasukkan kunci ke dalam saku celananya.


“Aku senang kau akhirnya, move on,” goda Kay menaik turunkan alisnya.


"Sudah pergi sana!” usir Milan memasang wajah datar.


“Baiklah, aku pergi.”


Kay pun meninggalkan ruangan.

__ADS_1


Milan menarik ke dua sudut bibirnya. Mengingat Nara apalagi malam ini, dia akan makan malam bersama gadis berkacamata itu. Ia akan memerintahkan orang untuk mempersiapkan dinner spesial untuk mereka berdua.


__ADS_2