Si Culun Mendadak Jadi Istri Presdir

Si Culun Mendadak Jadi Istri Presdir
maaf


__ADS_3

Sudah berhari-hari setelah kejadian perkelahian yang berujung terungkapnya pernikahan gadis yang ia cintai.


Vino menghindar untuk bertemu kedua sahabatnya. Sungguh dia sangat kecewa. Dadanya terus terasa sesak saat mengingat perempuan yang ia cintai selama bertahun-tahun telah di miliki oleh lelaki lain. Dan lebih menyedihkan lagi, kakak dari sahabatnya. Harapannya, mimpinya, rencana hidupnya semua berantakan. Sejak dulu ia hanya punya satu harapan dan satu doa dalam hidupnya yaitu menikah dengan gadis berkacamata itu.


Bahkan dia telah bekerja keras  menyiapkan tabungan masa depan, untuk menikah dengan Nara. Namun itu semua kandas. Ahhh, rasanya Vino ingin berteriak, dadanya sungguh sesak mengenang semua itu.


Vino duduk termenung di warung bakso langganan mereka, tempat yang memiliki banyak kenangan. Di sini mereka bercanda riang saling bertukar cerita.


Meja di hadapannya hanya ada gelas kosong yang berjejeran.


Memori Vino berputar pada kejadian lampau saat ia bersama dengan Nara.


Saat itu ayah dan ibunya baru saja bercerai, mereka pun pergi menjauh, Vino pindah ke kota ini bersama dengan ibunya. Dia menjadi siswa pindahan dan bersekolah di smp yang sama dengan Nara. Namun baru sebulan, ibunya sakit dan meninggal membuat hatinya begitu hancur, dia terpuruk hilang arah. Ia menjalani hidup seorang diri tanpa keluarga.


Flash back ...


Bel istirahat berbunyi semua siswa keluar kelas. Vino hanya berdiam diri, enggan beranjak, pribadinya sangat tertutup, dingin dan sulit bergaul membuatnya tak memiliki teman ditambah dia juga masih terpukul kehilangan ibunya. Hingga pandangannya tertuju pada gadis kacamata yang duduk di depannya berbalik menaruh kotak bekal di mejanya. 


“Hai kau tidak ke kantin, kau juga tidak punya uang jajan ya!” sapa gadis berkacamata itu sok akrab.


Vino hanya diam tanpa kata menatap datar gadis berkacamata ini dengan alis berkerut.


“Ayo makan bersamaku! Aku bawa makanan enak loh!” tawarnya dengan senyum ceria merasa senasib dengan Vino. Ia mengamati anak baru ini tak pernah ke kantin. Padahal tebakannya salah.


Nara membuka kotak makannya. memperlihatkan menu yang ia bawa.


Vino menatap kotak makan Nara dengan wajah datar. Melihat menu mewah yang di bawah Nara, seketika ia tergugah teringat pada masakan ibunya. Dia yang tidak makan dengan baik setelah kepergian ibunya mulai tergiur.


“Kita bagi dua!” Nara lalu membagi makanannya di tutup kotak makan lalu menyodorkannya pada Vino.


“Ayo makan!” paksa Nara.


Dengan ragu Vino meraih makan dari Nara kemudian mulai menyantap makanan itu.


Nara pun mulai menyuapkan makanan ke mulutnya.

__ADS_1


“Ini makanan sisa kondangan tadi malam,” jelas Nara santai sembari mengunyah. Ibunya yang berprofesi sebagai juru masak di pesta pernikahan membuatnya selalu membawa makanan sisa pesta, ke sekolah sebagai bekal. Dia jarang membawa uang jajan.


Makanan sisa kondangan? Oh tidak ...


Vino berhenti mengunyah menatap gadis berkacamata ini.


“Tenang saja ini sudah di hangati! Masih Fresh,” jelas Nara dengan cengiran.


"Ayo makan lagi!" paksa Nara sembari kembali mengisi mulutnya lagi.


Sejenak Vino terdiam melihat Nara makan dengan lahap. Ia pun Membuang keraguannya, akhirnya kembali menyantap makannya.


“Bagaimana masakan ibuku enakkan?” tanya Nara. Yang diangguki oleh Vino tanpa sadar sudut bibir Vino tertarik perasaannya terasa menghangat masih ada orang yang peduli padanya.


Sejak saat itu mereka menjadi akrab, saling berbagi. Vino sudah tidak merasa sendiri lagi ada Nara yang akan selalu di sampingnya, menemaninya menjalani hari berat itu, kelucuan dan kepolosan gadis berkacamata itu membuatnya nyaman. Dan entah sejak kapan  perasaan nyaman itu berubah menjadi benih-benih cinta yang tumbuh di hati Vino.


Hingga Chelsea yang masuk sebagai murid baru yang pemalu dan manja pun ikut bergabung bersama mereka melengkapi dan membuat hidupnya berwarna.


Flash back off.


Lamunan Vino buyar saat suara Chelsea menyapanya.


Chelsea tersenyum lembut duduk di hadapan Vino dengan meja sebagai sekat.


Vino memang memilih menghindar bahkan dengan Nara sekalipun.


Tatapan Vino berubah dingin seakan membekukan Chelsea.


“Biarkan aku sendiri!” ketus Vino.


Chelsea hendak meraih tangan Vino namun pemuda itu menghindar.


“Vin maafkan aku!” hanya itu kata yang terus terucap.


“Aku sangat kecewa pada kalian!”

__ADS_1


“Maafkan aku! Aku yang mengatur agar mereka menikah!” suara Chelsea bergetar menahan tangis.


“Mengatur!” Mata Vino memicing tajam. Jadi Chelsealah penyebabnya.


Tangan Vino terkepal erat, rahangnya mengetat.


“Sea, kau yang paling tahu bagaimana perasaanku padanya! Impianku bersamanya, bagaimana besarnya harapanku menikah dengannya semua kau tahu!” cecar Vino meluapkan perasaannya.


“Maafkan aku Vin. Aku memang salah!” Chelsea memegang tangan Vino.


“Pergi dari sini! Tinggalkan aku sendiri!” bentak Vino menepis tangan Chelsea, dengan dadanya naik turun menahan amarah.


“Vin! Maafkan aku. Jangan marah padaku!” isak Chelsea tertunduk bahunya terlihat bergetar mengurai air matanya. Rasa bersalah menyeruak dalam hatinya.


mengapa seperti ini? Ini pertama kalinya mereka bertengkar hebat.


“Pergilah aku tidak ingin melihatmu!” bentak Vino suaranya menggelegar memenuhi ruangan,  hingga memancing perhatian tertuju pada mereka.


Chelsea tersentak seketika, tubuhnya cicit, menatap kilat amarah di mata Vino. Demi apa-pun Chelsea tak pernah melihat Vino tak pernah semarah ini mengerikan.


Chelsea pun bangkit dari duduknya dengan lelehan air mata, melangkah gontai meninggalkan Vino. Hatinya juga sakit melihat Vino seperti ini.


Chelsea berdiri di samping mobil yang terparkir di sana ia menumpahkan air matanya, benar-benar sedih karena Vino kecewa hingga tak ingin melihatnya.


Vino dan Nara sangat penting dalam hidupnya, sejak dulu mereka terus bersama. kakaknya yang selalu sibuk sebagai presdir Maxkal begitu pun ibunya yang sosialita hingga mereka jarang di rumah. Perhatian itu lebih banyak ia dapat dari sahabatnya. Dan kini hubungan mereka telah retak.


Andai dulu Zeline tak berkhianat, ini semua tidak akan terjadi! Nara tidak akan menjadi pengantin pengganti, semua masih baik-baik saja. Ah, Chelsea terperangkap dalam penyesalan.


Sesosok pemuda mendekat ke arah Chelsea, satu tangannya terulur menarik tubuh gadis yang sedang menangis ini, masuk ke dalam pelukannya.


“Sudah jangan menangis! Nanti cantiknya hilang,” ucap pemuda ini mencoba menenangkan hati Chelsea menjadikan dada bidangnya tempat luapan air mata.


“Dia marah padaku! Dia tidak pernah semarah ini,” keluh Chelsea semakin terisakan meluapkan rasa sedihnya.


“Sea, ada aku di sini, jangan menangis lagi.” Ucapnya pelan.

__ADS_1


Pemuda ini adalah Kay. Ya sejak tadi ia mengamati Vino dan Chelsea dari meja yang lain. Dia tahu pertengkaran tiga sahabat ini dari Milan.


Kay tahu Chelsea saat ini pasti sedang sedih dan rapuh. Bagi Chelsea sahabat adalah hal yang paling berharga.


__ADS_2