
Pesta pernikahan.
Chelsea dan Kay melangkah pelan, seirama masuk ke dalam ruangan resepsi. Sorot cahaya blizt kamera menerpa wajah pengantin baru itu. seluruh pandangan orang-orang tertuju pada mereka yang menampakkan senyum kebahagiaan.
“Kamu sudah bertemu dengannya?” tanya Kay berbisik mendengar kabar jika Chelsea telah bertemu dengan Vino sahabatnya.
“Emm,” balas Chelsea dengan deheman serta senyum kaku di hadapan tamu undangan.
“Kau harus mengakui menikah denganku adalah berkah!” ucap Kay dengan nada mengalun menggoda istri galaknya.
Manik mata Chelsea seketika memicing tajam ke arah Kay.
Apa ... menikah dengannya adalah berkah membuat Chelsea berdecak kesal.
Uh, dan itulah yang di suka oleh Kay, tatapan kesal itu.
Pasangan pengantin baru ini telah duduk di pelaminan acara telah di mulai suara musik menyemarakkan suasana. Manik mata Chelsea berputar ke arah tamu undangan mencari sosok gadis berkaca mata serta rambut terkepang.
Ya setelah bertemu dengan Vino. Harapan Chelsea akan kehadiran Nara mulai menyeruak kembali. Gadis berkacamata itu pasti datang sama seperti Vino walau terlambat.
Chelsea menghela napas berat menatap banyaknya tamu undangan yang hadir di pesta pernikahannya, membuat arah pandangnya kesulitan menganalisis keberadaan Nara.
Sejak tadi ia berdiri menyalami satu persatu tamu undangan yang memberi selamat. Kakinya seakan ingin patah terus berdiri menjamu tamu undangan yang pasti tidak sedikit karena banyaknya kolega bisnis dari keluarga Kalingga dan Abraham.
Ugh, Kenapa juga mereka mengundang orang begitu banyak, tamu tiada hentinya terus berdatangan batin Chelsea menjerit merasa kewalahan.
Manik mata Chelsea menangkap kakaknya yang berdiri dari kejauhan juga di kerumuni oleh rekan bisnisnya. Pemuda itu juga terlihat menjamu tamu dengan ramah tamah.
Pandangan Chelsea terus mencari sahabatnya di tengah banyaknya orang-orang.
“Perhatian semuanya untuk acara selanjutnya kita akan mempersilahkan. Pasangan yang berbahagia kita ini berdansa!” ucap seorang mc perempuan yang memandu acara pernikahan Chelsea dan Kay.
Manik mata Chelsea mengarah ke panggung sontak saja seketika ia tertegun mendengar ucapan Mc pernikahannya.
What ... pasangan pengantin akan berdansa.
Berdansa dengan Kay. Oh astaga, ini seharusnya tidak ada.
Chelsea lalu mengarahkan tatapan tajam pada pemuda yang ia percayakan mengurus semua rangkaian acara pernikahan.
Dan benar saja lelaki yang telah menjadi suaminya itu telah tersenyum penuh makna menaik-naikan alisnya.
“Kak Kay!” geram Chelsea.
“Ini akan menjadi moment terbaik di hari pernikahan kita!” ucap Kay dengan senyum penuh kemenangan lalu mengulur telapak tangannya di hadapan Chelsea.
Ah, astaga lelaki menyebalkan ini benar-benar pandai memanfaatkan kesempatan.
Menarik napas panjang Chelsea pasrah kini dia dan suaminya akan berdansa di hadapan tamu undangan.
Chelsea menelan salivanya lekat saat tangan Kay melingkar di pinggannya menarik tubuhnya semakin mendekat hingga menempel.
Jantung Chelsea berdetak kencang ini pertama kalinya dia sedekat ini dengan Kay.
“Kak Kay sengaja kan melakukan ini?” decak gadis ini di sela dansa mereka.
__ADS_1
“Aku hanya ingin hari pernikahan kita berkesan,” jawab Kay dengan senyum terulas.
wajah Chelsea menjadi memberengut.
Uh, astaga gara-gara berdansa Chelsea jadi tidak bisa mengamati keberadaan Nara.
Setelah beberapa saat Chelsea menarik napas lega, suara tepuk tangan menggema untuk mereka saat dansa telah berakhir.
Akhirnya dia bisa bebas dari Kay.
Suara mc menggema kembali membawa acara hingga.
“Pengantin pria silakan mencium pengantin wanitanya,” ucap sang pembawa acara.
Cium
Jeduar ...
Tubuh Chelsea membatu, aliran darahnya seakan terhenti.
Tatapan menghunus pun terarah pada Kay lelaki yang ia percayakan mengatur acara pernikahan ini. Oh bodohnya dia.
“Kak Kay! Apalagi ini!" decak Chelsea berbisik.
Demi apa-pun rasanya ia ingin gila jatuh dalam permainan suaminya.
Kay hanya mengembang senyum penuh kepuasan.
“Aku mau moment pernikahan kita berharga.” Lagi itu jawaban Kay.
Kay yang gemas menatap Chelsea. Tanpa kata melingkarkan tangannya di pinggang istrinya. Wajahnya semakin maju mengikis jarak hingga.
Cup
Bibir mereka bertemu. Mata Chelsea membulat penuh Kay benar-benar menciumnya. Entah sudah seperti apa debaran jantung Chelsea saat ini adalah ciuman pertamanya.
Tubuh Chelsea melemah saat tautan bibir itu terlepas. Dia kehabisan oksigen.
“Kak Kay!” geramnya.
Namun pemuda itu hanya tersenyum puas.
“Ini adalah yang paling berharga dari semuanya!” Kay menunjuk bibirnya.
Uh dasar menyebalkan sekali lelaki yang telah menjadi suaminya ini.
Pesta berlangsung tanpa kendala hingga malam semakin larut, tamu undangan telah berkurang. Chelsea menarik napas berat mendudukkan tubuhnya yang lelah. Sejak tadi dia menjamu banyak tamu namun tidak mendapati keberadaan sahabatnya itu. Acara akan berakhir tidak ada tanda Nara akan datang.
Rasanya Chelsea ingin menangis dia gagal membuat istri kakaknya itu datang. Hidup kakaknya akan terus terpuruk.
“Sebelum kita menuju acara terakhir dengan pelemparan bunga dari pengantin wanita,” suara mc itu menggema.
Chelsea berdecak kesal saat mendengar suara sang mc sialan itu sejak tadi memintanya melakukan banyak hal bersama Kay. Hingga dia tidak fokus mencari keberadaan Nara.
“Acara akan berakhir. Kau benar-benar tidak datang Ra,” batin Chelsea miris. "Maafkah aku kak Milan! aku gagal membawanya!" hati Chelsea terluka dan kecewa.
__ADS_1
“Kita akan mendengar lantunan lagu untuk semakin menyemarakkan suasana bahagia ini. Dari perempuan cantik ini!”
Chelsea mendengus Manik matanya menatap sekilas ke arah panggung rasanya ia ingin melempar mc itu. Tatapannya menangkap bayangan seorang gadis cantik, berambut pirang yang di tata bergelombang, dengan gaun panjang berwarna navy membalut tubuh mungilnya, membuat penampilannya bersinar terlihat sangat sempurna bak seorang artis ternama, Chelsea bisa mendengar decak kagum dari tamu undangan memuji kecantikan perempuan yang akan menyanyi itu.
“Selamat malam semua! Selamat berbahagia untuk kalian pasangan pengantin baru, semoga selalu bahagia,” ucapnya dengan tulus dengan mic terarah ke mulut.
“Semoga kalian semua terhibur dengan lagu yang saya bawakan! Langsung saja! Musik!” serunya.
Suara lantunan musik mulai terdengar mendayu, menggema. Irama itu menghentak membuat suasana menggelora, pesta terasa lebih hidup.
Deg ....
Chelsea tersentak, membulatkan matanya mendengar awal musik itu.
“Lagu itu ....” guman Chelsea tertegun.
Lagu yang sudah tidak pernah ia nyanyikan sejak dua tahun lalu. Lagu yang selalu mereka nyanyikan untuk menghidupkan suasana, menggila bersama sahabatnya.
Ya, lagu andalan mereka bertiga. Irama lagu dangdut perawan atau janda telah di mainkan di panggung.
Jantung Chelsea berdetak kencang, lagu andalannya. Akan di nyanyikan gadis itu. hanya dia Nara dan yang menyanyikan lagu itu.
Seketika Chelsea bangkit dari duduknya, iris matanya mengamati lekat gadis cantik bak boneka yang berdiri di panggung.
Nara! Apa perempuan cantik berwajah bule itu adalah Nara sahabatnya? Hanya Nara yang selalu menyanyikan lagu andalan itu. Oh, semoga saja.
“Kak Kay! Dia!” tanya Chelsea memastikan dengan air mata berembun.
“Ya, dia Nara, sahabatmu! Dia telah datang!” ucap Kay.
“Nara!”
Seketika air mata Chelsea tumpah mendekat mulutnya dengan telapak tangan mencoba menahan isakan.
Setelah dua tahun akhirnya dia kembali bertemu dengan sahabatnya.
“Kau datang Ra!” lirih Chelsea dengan rasa haru.
Pandangan mereka bertemu. Nara tersenyum menatap sahabatnya itu.
“Tunggu sebentar!” tahan Nara.
Membuat lantunan nada seketika terhenti.
“Aku tidak akan menyanyikan bagian jandanya!” ucap Nara dengan suara bergetar menahan tangis, manik mata cokelatnya telah berembun sekuat hati ia menahan air matanya agar tidak turun.
Mendengar itu Chelsea semakin terisak saja. Ternyata Nara masih ingat ucapannya dua tahun lalu di acara pernikahan adik Kay, jika dia menikah nanti mereka akan menyanyikan lagu andalan mereka.
“Giliranmu! Kau bagian jandanya!” setetes air mata turun di pipi Nara, mengarahkan jari telunjuknya pada Chelsea sahabatnya.
“Dia mengingatnya!” desis Chelsea.
“Pergilah! Dia menunggumu!” ucap Kay memegang pundak istrinya.
Mendengar itu Chelsea lalu mengusap air mata yang membasahi pipinya dengan punggung tangan setelahnya melangkah menuju panggung di mana sahabatnya itu telah berdiri menunggunya.
__ADS_1