Si Culun Mendadak Jadi Istri Presdir

Si Culun Mendadak Jadi Istri Presdir
akan berjuang


__ADS_3

Matahari telah naik di puncak, sinar teriknya menyengat kulit.


Nara telah mengenakan pakaian rapi, bersiap untuk bertemu dengan sahabatnya, di tempat yang telah mereka janjikan. Di warung bakso langganan tiga sahabat itu sebelum ia kembali ke Jerman.


Setelah berpamitan pada ibunya, Nara melangkah keluar rumah.


Nara tersentak kaget ketika membuka pintu saat manik matanya menangkap bayangan pemuda tinggi berdiri di depan pintu dengan wajah sendu, lingkar hitam di bawah kelopak matanya menandakan jika pemuda ini kurang tidur.


Kurang tidur! Tentu saja dia tidak bisa terlelap semalaman memikirkan Nara yang menolak untuk kembali padanya.


Nara menarik napas berat.


“Kak Milan! Untuk apa kakak kemari?” sentak Nara memasang wajah tak suka. Sungguh Nara sudah tidak ingin lagi bertemu dengan pemuda itu.


Dengan wajah sendu, Milan meraih tangan Nara.


“Ra, maafkan aku! Beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya! aku ingin kita kembali seperti dulu!” mohon Milan.


Sejenak Nara tertegun mendengar permohonan Milan, hatinya miris melihat pemuda galak ini memohon padanya. Ini bukan Milan yang ia kenal.


“Kak Milan hubungan kita telah berakhir!” tekan Nara.


Dengan cepat pemuda ini menggelengkan kepalanya.


“Tidak! Kita belum berakhir! Kau masih menjadi istriku!” tekan Milan


Nara membeku di tempat setelah mendengar kata istri dari Milan.


“Dia tidak mengurus perpisahan kami.” batin Nara padahal itu yang sangat di inginkan Milan sejak dulu.


“Aku tidak pernah mengurus perpisahan kita. Kau masih istriku dan tolong berikan aku kesempatan untuk menjadi suami yang baik untukmu,” pinta Milan.


“Sudah jangan memaksakan lagi. Tidak ada kesempatan untuk hubungan kita!” ucap Nara sembari menepis tangan Milan yang menggenggamnya. walau hatinya terasa sakit melihat Milan yang memohon padanya bagi Nara dia dan Milan tidak akan bisa bersama


“Aku harus pergi!” ucap Nara melangkah cepat dia harus menuju tempat di mana Chelsea dan Vino telah menunggunya.


“Ra ... Nara!” panggil Milan namun Nara sama sekali tak berbalik.


Rasa sedih kembali menyeruak dalam hati Milan. Lagi dia mendapatkan penolakan dari wanita yang ia cintai.


“Aku tidak akan pernah menyerah Ra, walau kau menolakku ribuan kali. Aku akan terus mengejarmu!” ucap Milan dengan semangat, dia akan berjuang demi cintanya.


/////


Nara telah berada di sebuah tempat makan. Mengembangkan senyuman setelah netra cokelatnya mengarah pada Chelsea. Ia pun segera mendekat.


“Ra kenapa lama banget sih!” sembur Chelsea si galak saat Nara telah duduk di kursi.


Nara tersenyum.


“Iya namanya juga anak gadis,” kata Nara dengan gaya centilnya.


Chelsea mencebikan bibirnya melihat tingkah sahabatnya yang berpenampilan bule ini.


“Vino mana?” tanya Nara dengan pandangan memutar.


“Belum datang!” jawab Chelsea malas.


“Ayo kita pesan saja dulu, aku udah kangen sama bakso mas Joko,” rengek Nara bak anak kecil.


"Ya, baiklah.”


Mereka pun memesan makanan sembari menunggu dua sahabat ini mulai berbincang.


Chelsea meraih tangan Nara menatap wajah itu.


“Maafkan aku, saat kau bersedih dan membutuhkan aku tidak ada! Kau pasti sangat putus asa saat itu," ucap Chelsea dengan manik mata berembun seharusnya dia bisa di andalkan Nara dua tahun yang lalu.


Nara menepuk tangan Chelsea agar sahabatnya itu tenang mengusap air mata yang telah jatuh itu.


“Sea sudah, semua telah membaik. Nana juga sudah baik-baik saja!” jelas Nara dengan senyuman menghiasi wajahnya.


“Ceritakan semuanya padaku!” rasa sedih Chelsea berubah menjadi penasaran.


“Apa?”

__ADS_1


“Ke mana saja kau selama ini?” desak Chelsea.


Ada jeda sejenak dari Nara lalu berkata pelan. “Jerman!” tak ada yang perlu ia tutupi dari sahabatnya ini.


Chelsea ternganga mendengar tempat Nara.


“Jerman. Sejauh itu?!” seru Chelsea.


“Emm.” Nara mengangguk sekilas lalu melanjutkan ucapnya. “Saat Nana kecelakaan, Vino membawa kami ke Jerman agar Nana mendapatkan pengobatan terbaik,” jelas Nara.


“Vino!”


“Iya, bukan hanya itu semua biaya pengobatan dan kehidupan kami dia yang telah menanggungnya!” jelas Nara.


“Vino menanggung semuanya? Dari mana dia mendapatkan semua itu?” Chelsea menghujani Nara dengan banyak pertanyaan.


“Aku juga tidak tahu! dia memberiku kartu tanpa batas,” jelas Nara saat ini dia pun masih bertanya-tanya tentang hidup pemuda yang menjadi sahabatnya itu.


“Kalian sedang cerita apa!” suara Bariton dari seorang lelaki yang baru saja bergabung bersama mereka membuat ke dua perempuan yang bergosip ini tersentak kaget.


Bersamaan dengan itu Pesanan mereka pun datang, pelayan menata mangkuk di hadapan Chelsea dan Nara.


“Vino!” kompak Nara dan Chelsea.


“Ah, aku lapar sekali!” sosor Vino yang langsung menyambar mangkuk bakso yang berada di hadapan Chelsea.


“Vino! Itu punyaku!” sungut Chelsea.


“Kau pesan lagi sana!” ucapnya santai.


“Ihh.” Decak Chelsea.


Vino menyuap bakso ke mulutnya dengan lahap tanpa rasa berdosa.


“Rasa baksonya masih sama, tetap enak!” ucap Vino dengan mata berbinar. “Setelah dua tahun akhirnya aku makan bakso enak ini lagi.”


Nara dan Chelsea kompak menghela napas panjang melihat tingkah Vino. Namun merasa sangat senang mereka kembali berkumpul di tempat ini lagi.


“Ah aku kenyang sekali!” ucap Vino mengelus perutnya.


Nara dan Chelsea  lalu saling tatap mereka masih penasaran dengan hidup sahabatnya ini


“Vin! Ke mana saja kau pergi selama ini?” tanya Chelsea penasaran pada Vino.


Vino terdiam, raut wajahnya berubah datar.


“Oh, iya hari ini aku harus kembali!” balas Vino.


“Kembali!” pekik Chelsea. “Ya Vin. Kenapa harus kembali di sini aja, seperti dulu!” pinta Chelsea seketika kehilangan semangat mendengar Vino akan kembali.


“Ada yang harus aku kerjakan!”


“Kerja apa Vin dan di mana?” sosor Chelsea.


“Udah, abang pergi mencari sebongkah berlian,” canda pemuda ini dengan kekehan.


“Vin!” kompak Nara dan Chelsea mengacak rambut pemuda itu gemas akan jawaban Vino


“Aduh sakit!” pekik Vino mengusap kepalanya.


“Vin selama ini kau berada di mana? Tinggal di mana?” tanya Nara akan tetapi Vino hanya menjawab dengan senyuman setelahnya lalu bangkit dari duduknya tak memberi jawaban.


Nara dan Chelsea pun ikut berdiri.


“Aku pergi dulu!” pamit Vino.


“Vin! Jangan pergi! Kita akan sulit bertemu lagi.” rengek Chelsea bak anak kecil memeluk tubuh Vino.


"Sudah. aku benar-benar harus pergi."


“Aku akan datang saat kalian mengadakan pesta!” balas Vino mengusap punggung Chelsea.


“Vin! Masa aku harus nikah lagi hanya untuk bertemu denganmu!” sungut Chelsea.


Pelukan mereka terlepas, Vino lalu menoyor kepala sahabatnya ini.

__ADS_1


“Ini anak otaknya emang udah gesrek, memangnya pesta Cuma nikahan doang, Pesta kelahiran anak kalianlah!” sembur Vino.


“Aku pikir harus nikah lagi agar kau datang!” ucap Chelsea dengan cengiran.


“Sea, baru juga nikah sehari udah mikir kawin lagi!” Sela Nara.


“Oh, kirain!”


Vino dan Nara kompak mendengus memutar bola mata malas.


Vino beralih memeluk tubuh Nara.


“Aku harus pergi Ra, titip salam untuk ibu dan Nana!”


Nara mengangguk dalam pelukan Vino. "Terima kasih atas segala yang kau berikan padaku! terutama hidup Nana." ucap Nara dengan kelopak mata basah.


Vino semakin mempererat pelukannya, sungguh nyaman berada dalam pelukan wanita yang ia cintai.


setelah beberapa saat pelukan mereka terurai.


“Jaga diri kalian. Aku pergi dulu!” pamit Vino.


Pemuda ini pun melangkah cepat, menyembunyikan wajahnya yang sedih karena sekali lagi mereka harus berpisah.


<<<<<<<<<<


 


Vino telah pergi meninggalkan mereka, kini tinggallah Nara dan Chelsea yang berada di warung bakso ini. Mereka masih ingin menghabiskan waktu untuk bertukar banyak cerita selama dua tahun berat ini.


“Ra, apa kau sudah bertemu kak Milan?” tanya Chelsea kali ini membahas kakaknya. Karena alasan pernikahannya adalah agar Milan dan Nara bertemu dan kembali bersama.


“Emm.” Nara menjawabnya dengan deheman. Dia benar- benar tak ingin membahas Milan.


“Dia memintamu kembali bersama kan?”


Nara membalasnya dengan anggukan.


“Lalu ...” tanya chelsea penuh harap


“Lalu apa? Kami sudah berpisah!” tekan Nara yang telah menandatangani surat perpisahannya dengan Milan.


“Ra, aku tahu kau pasti sangat kecewa dan sakit hati karena ulah kak Milan. Tapi Ra, sungguh dia benar-benar sangat menyesal karena  telah melukai hatimu,” jelas Chelsea akan perasaan kakaknya.


“Selama dua tahun ini dia hidup dalam penyesalan dan rasa bersalah padamu. Dia terus berusaha mencarimu. Setelah kau pergi, hidupnya hampa dia tidak tahu harus berbuat apa,” tambahnya.


Nara tertegun mendengar ucapan Chelsea, Milan mencarinya? Pemuda itu kehilangan dirinya? Oh tidak mungkin dia masih ingat dengan baik bagaimana Milan mengabaikannya.


“Dua tahun dia benar-benar tersiksa. untuk mencoba  melupakan rasa penyesalannya, ia mengalihkan pikirannya pada perkerjaan. Ia bekerja begitu keras. Tidak bisa tidur dengan nyenyak, makan dengan baik karena selalu memikirkanmu! Karena itulah dia selalu berakhir terbaring di rumah sakit. Dia ingin menghancurkan hidupnya,” lanjut Chelsea dengan perasaan miris.


Pandangan Nara tertuju pada Chelsea. Rasa iba seketika menyeruak dalam dirinya mengetahui Milan juga menjalani hidup berat dua tahun ini.


“Dia telah menerima hukuman yang begitu menyiksa, Dia hidup dalam penyesalan dan rasa bersalah pada orang yang ia cintai. Bukankah itu lebih menyiksa Ra.”


Nara hanya terdiam.


“Ra aku mohon kembalilah padanya!” mohon Chelsea dengan nada terendah.


“Sea!” elak Nara.


“Kalian hanya salah paham, jika memang ada yang harus di salahkan itu adalah aku! Aku  kira bisa menyelesaikan masalah sendiri, membantu menyembunyikan Zeline yang sedang hamil, seharusnya saat itu aku jujur,” ucapnya dengan air mata telah jatuh membasahi pipi.


“Kak Milan benar-benar mencintaimu, aku tak pernah melihatnya serapuh itu.”


“Kami sudah berakhir!” tekan Nara menolak permintaan Chelsea.


“Ra, dia tidak pernah menceraikanmu, dia masih suamimu.


Suami ...


Nara terbungkam mendengar kata suami dari Chelsea. hubungan mereka masih dalam ikatan suami istri.


“Tolong berikan dia kesempatan ke dua, Ra. Kembalilah padanya dia tidak bisa tanpamu.”


Nara hanya bisa diam tanpa kata memikirkan semua permohonan Chelsea. di ujung hatinya dia sedih melihat keadaan Milan, namun tak dapat ia pungkiri jika belenggu-belenggu amarah dan kecewa juga masih melekat di hatinya untuk lelaki itu.

__ADS_1


Ada yang mau cerita Vino ngak setelah ini tamat?


__ADS_2