Si Culun Mendadak Jadi Istri Presdir

Si Culun Mendadak Jadi Istri Presdir
anugerah


__ADS_3

Surya menyambut kabut pagi dengan hangat. Di sebuah kamar setelah semalaman suasana kamar di isi dengan desahann dan erangan kini pagi ini mereka sambut dengan kepanikan.


Nara sedang berada di kamar mandi memijat tenguk leher suaminya yang sedang memuntahkan seluru isi perutnya.


Uwek ... uwek ...


Milan berdiri membungkuk di depan wastafel. Selalu saja lelaki ini menyambut paginya dengan muntahan.


“Sayang kamu kenapa? Kenapa seperti ini?” tanya Nara dengan suara bergetar cemas akan kondisi Milan yang tiada hentinya memuntahkan cairan dari mulutnya, ia terus mengusap punggung suaminya.


Ternyata beginilah Milan selama beberapa hari ini.


Setelah di rasa mendingan Milan membasuh wajahnya, kembali menegakkan tubuhnya berbalik menatap wajah cemas istrinya.


“Aku ngak apa-apa sayang,” ucap Milan mencoba mengiasi wajah pucatnya dengan senyuman agar istrinya tidak khawatir.


Milan menggiring tubuh istrinya untuk meninggalkan kamar mandi.


“Kita harus ke dokter!” putus Nara tak tega melihat suaminya menderita lagi.


“Tidak perlu sayang,” tolaknya.


“Pokoknya kita harus ke dokter! Aku tidak akan tenang,” kekeh Nara.


Menghela napas berat, Milan mengangguk. Dia mana bisa menolak perkataan istri tercintanya. Apa-pun demi istrinya itu.


****


Sesuai dengan keinginan istrinya, Milan kini telah berada di sebuah rumah sakit terbaik naungan perusahaannya di dampingi oleh Nara.


Setelah melakukan rangkaian pemeriksaan, Pasangan ini duduk berdampingan di hadapan seorang dokter lelaki paruh baya, menunggu penjelasan sang dokter tentang kondisi Milan yang selalu saja muntah.


“Bagaimana keadaan suami saya dok,” sosor Nara cemas menatap dokter yang masih membaca laporan kesehatan Milan.


Sebenarnya Nara takut jika menyangkut dokter dan pemeriksaan namun semua demi suaminya.


Dokter mengulas senyum.


“Hasil pemeriksaan pak Milan menunjukkan semua baik-baik saja,” jelas sang dokter.

__ADS_1


Membuat kening Nara berkerut. Baik-baik saja? Jelas-jelas lelaki di sampingnya ini selalu saja mual.


“Tapi kenapa suami saya selalu mual dan muntah dokter terutama di pagi hari,” jelas Nara. “Dia juga tidak bisa mencium beberapa aroma dokter,” tambah Nara teringat curhatan Chelsea.


“Tapi saya suka aroma tubuh istri saya dokter! Rasanya saya hanya ingin berada di dalam pelukannya,” sambar Milan.


Blus ... oh astaga wajah Nara seketika merona malu, haruskah suaminya mengakui kemesraannya seperti itu di depan dokter.


Senyum dokter terkembang apalagi melihat Nara telah tertunduk malu karena ucapan Milan. Pasangan suami istri yang begitu mesra dan sweet. Melihat cinta itu dokter mulai menganalisa penyakit Milan.


“Sepertinya istri Anda juga harus memeriksakan keadaannya,” ucap Dokter menatap Milan.


Pemeriksaan, mendengar itu membuat Nara bergidik ngeri.


“Pemeriksaan? Saya tidak sakit dok, saya baik-baik saja,” sambar Nara dengan cepat.


“Kapan Anda menstrulasi?” tanya dokter itu.


Membuat alis Nara berkerut tak mengerti apa hubungannya penyakit Milan dengan menstrulasinya.


Menstrulasi? Nara mencoba mengingat.


“Aku belum menstruasi dari bulan lalu,” batin Nara.


Dokter mengulas senyum, analisanya tepat.


“Anda harus memeriksakan keadaan Anda, karena saya merasa mungkin anda sedang hamil dan suami andalah yang merasakannya,” jelas sang dokter.


Hamil


Deg ...


Pasangan ini tertegun mendengar penjelasan dokter.


“Hamil,” ulang Milan. Astaga dia akan sangat bahagia jika itu terjadi.  


“Ya kehamilan simpatik, Anda merasakan tanda-tanda kehamilan sama yang di alami oleh seorang istri. Biasanya terjadi karena ikatan batin antara suami dan istri begitu kuat,” tambah dokter.


"Jadi saya seperti ini karena istri saya hamil dok?” tanya Milan terdengar penasaran dengan perasaan menggebu dia akan menjadi orang tua.

__ADS_1


“Untuk lebih jelasnya kita butuh pemeriksaan lebih lanjut dari dokter kandungan.”


“Sayang ayo kita memeriksakan keadaan kamu!”


Tanpa basa-basi lagi Milan bangun dari duduknya menggiring tubuh Nara yang termenung seakan tak percaya untuk keluar dari ruangan untuk menemui dokter hebat lainya di bagian ahli kandungan. Sungguh Milan sudah tak sabar mendengar kabar baik kehamilan Nara, oh semoga saja harapnya.


Setelah beberapa saat Nara telah di tangani oleh dokter wanita yang mulai memeriksa perut Nara dengan usg.


Seutas senyum menghiasi wajah sang dokter.


“Selamat pak Milan, penerus Kalingga telah hadir di kandungan istri bapak,” ucap sang dokter. “Istri Anda hamil,” tambahnya.


Benar hamil ...


Nara dan Milan saling tatap dengan manik mata berkaca-kaca ada keharuan dari keduanya, akhirnya buah cinta mereka akan hadir ke dunia.


“Benar hamil dok?” tanya lagi memastikan.


“Iya pak usia kandungan istri Anda baru 7 minggu.”


Ah, entah sudah seperti apa perasaan Milan dia sangat bahagia akan menjadi orang tua.


“Sayang kamu hamil, ada anak kita di dalam sini, buah cinta kita,” suara Milan bergetar menahan haru mengusap lembut perut istrinya.


“Aku akan menjadi ibu.” Air mata Nara telah jatuh membasahi pipinya seakan tak percaya kini makhluk kecil berada di dalam perutnya.


“Dan tidak lama lagi aku akan menjadi ayah. Terima kasih sayang! Terima kasih telah menjadi ibu dari anakku, terima kasih atas kebahagiaan ini,” ucap Milan dengan ekor mata basah.


setelah kesedihan panjang mereka akhirnya mendapatkan kabar anugerah terindah.


“Aku mencintaimu sayang,” ucap Milan mengucup seluruh bagian wajah istrinya meluapkan perasaan bahagianya. Tak peduli jika di hadapan mereka masih ada dokter yang tertunduk malu melihat kemesraan mereka.


Akhirnya setelah derita panjang kini anugerah kehagiaan akan hadir dalam keluarga kecil mereka.


****


Jangan lupa tinggalkan jejak, tinggal dua bab lagi end.


Like

__ADS_1


Coment


Vote


__ADS_2