Si Culun Mendadak Jadi Istri Presdir

Si Culun Mendadak Jadi Istri Presdir
Ciuman


__ADS_3

“Inikan komplek perumahan mewah," batin Nara.


Alis gadis berkacamata ini mengerut dalam saat, kendaraan Milan mulai memasuki sebuah komplek perumahan di mana hadiah undian rumah itu berada. Hingga beberapa saat mobil telah terparkir di depan pintu gerbang rumah.


Pasangan ini pun turun. Nara berdiri mematung menatap bingung rumah berlantai dua itu.


“Ada apa?” tanya Milan yang menatap Nara hanya diam saja.


“Apa benar ini rumahnya?” ucap Nara pelan menatap kagum rumah yang ada di hadapannya.


“Menurut alamatnya yang tertulis, ini rumahnya,” balas Milan berpura-pura tak mengerti.


“Ayo kita periksa!” tambah Milan menarik tangan Nara untuk mendekat ke arah pintu, tubuh gadis berkacamata itu pun  terhuyung ikut.


Mereka telah berada di depan pintu rumah yang masih tertutup rapat.


"Cobalah.” Milan menunjuk pintu dengan ekor matanya.


Nara lalu merogoh tas selempangnya, mencari kunci rumah yang berikan ibunya. Dengan tangan bergetar dan perasaan gugup mulai membuka pintu dengan kunci yang ia bawah. Ia menarik napas panjang, dan ..


Setelah mencoba ternyata berhasil. Benda persegi itu terbuka. Milan menarik ke dua sudut bibirnya saat kunci itu klip.


“Benar kak!” Nara menatap heran pada Milan.


Sungguh logika Nara masih belum percaya jika rumah ini adalah hadiah. Tatapan bingung terpancar dari sorot matanya.


“Ayo masuk! Kita lihat di dalam,” imbuh Milan antusias menarik tangan Nara masuk ke dalam.


Netra hitam Nara berputar menatap isi di dalam rumah.


“Apa benar hadiah kupon panci rumah sebesar ini,” batinnya semakin tercengang ternyata telah terisi dengan sofa dan perabotan layaknya rumah siap huni. “Apa  benar hadiah rumah, Lengkap dengan isinya.”


Milan melangkah beringan bersama Nara, tanpa kata membiarkan gadis ini masuk semakin dalam. Ia hanya tertawa puas dalam hati melihat wajah lugu Nara.  Hingga kaki mereka terhenti di dapur.


“Dapurnya besar sekali,” decak Nara lalu berjalan ke arah kitchen set, mengusap kompor dengan satu jari.


Gadis berkacamata ini terus menyusuri ruang demi ruangan dengan  sejuta pertanyaan berkecamuk di hati.


“Kak Milan! Sebagai pebisinis handal yang sudah banyak pengalaman, kakak pasti tahu yang benar dan tidak. Menurut kak Milan apa ini penipuan?" tanya Nara tentang tanggapan seorang Milan Kalingga yang pasti telah banyak pengalaman agar ia bisa tenang.


Pemuda ini melipat tangan di dada terlihat  berpikir dalam lalu berkata, “Tentu saja bukan! Kau menerima kuncinya, itu berarti benar,” jelasnya meyakinkan.


Mendengar itu Nara menghela napas lega, hatinya sedikit tenang. ini bagai mimpi baginya, mereka mendapatkan rumah sebesar ini hanya dari kupon panci. Ia pun mulai bersemangat kembali menyusuri isi rumah.


Setelah melihat penampakan lantai satu, gadis berkacamata ini mulai menapaki anak tangga, satu persatu dengan cepat. Penasaran, apalagi yang terdapat pada lantai dua, Milan pun hanya mengekori Nara dari belakang.


Rasa senang menyeruak dalam hati Milan melihat istrinya antusias, tidak menaruh curiga padanya.


Langkah Nara mengarah pada sebuah kamar. Tangan kanannya pun terulur membuka benda persegi itu.

__ADS_1


"Wah luas sekali!” Nara berdecak kagum menatap tatanan kamar dengan aksen putih. Ia duduk di Ranjang king size yang membuat suasana kamar semakin terasa mengagumkan. Tak lama kembali menyusuri kamar.


“Ada kamar mandinya juga!” decak Nara saat membuka pintu kamar mandi.


Manik mata Nara menuju keluar. Ia pun berlari kecil membuka pintu yang mengarah ke balkon kamar.


Di balkon kamar di suguhkan pemandangan malam yang indah. Bintang-bintang menghiasi langit malam.


Nara berdiri kedua tangannya berpegang pada besi pagar pembatas yang setinggi pinggangnya.


“Pemandangannya indah sekali,”decak Nara dengan senyuman terkembang.


Milan bergabung, berdiri di sampingnya Nara, menatap langit malam sejenak lalu beralih mengarahkan manik matanya pada Nara.


“Kau suka?” tanya Milan menatap istrinya lekat.


Nara mengangguk. “Iya. Bintang-bintang terlihat jelas, sangat indah dan udaranya sangat segar.”


Kelopak mata Nara tertutup merasakan embusan angin malam yang menerpa tubuhnya, mengalirkan rasa nyaman di dalam hati.


“Cantik,” batin Milan melengkungkan senyuman menatap wajah teduh Nara dengan mata tertutup rapat, anak surainya berayun tertiup angin. Semakin menatap wajah istrinya perasaan itu semakin membuncah. 


Milan menggeser tubuhnya ke belakang melingkarkan lengannya di pinggang Nara.


Merasa ada yang aneh gadis berkacamata ini tersentak saat merasakan lengan kokoh melingkar di pinggannya, ia pun membuka matanya ternyata Milan telah berada di belakangnya mendekapnya erat.


Jantung Nara berpacu cepat.


“Kak Milan,” ucap Nara dengan nada terendah mencoba berontak.


“Jangan bergerak,” ujar Milan wajahnya masuk ke dalam ceruk lehernya, mengendus aroma parfum yang menenangkan hati.


Tubuh Nara terkunci, rasa gugup bergelut dalam hatinya, rasanya ia tak bisa bernapas saat Milan memeluknya erat.


“Bintang-bintang  sangat indah malam ini. Sama sepertimu,” bisik Milan di telinga Nara, semakin mempererat pelukannya.


Seindah bintang ...


Nara tertegun mendengar kata indah Milan terdengar menggodanya membuat Irama jantung Nara semakin menggila.


Demi apa-pun tubuh Nara bergetar hebat.


Setelah beberapa saat pelukan Milan terlepas. Nara pun mencoba meraup udara sebanyak-banyaknya.


Milan membalikkan tubuh Nara menghadapnya, kedua tangannya beralih menangkup wajah Nara.


Tatapan mereka bertemu, semir angin membuat suasana terasa syahdu.


“Keindahanmu bersinar seperti bintang,” ucap Milan sorot matanya menyiratkan perasannya.

__ADS_1


Blus ....


Wajah Nara terasa panas, semburat merah telah menjalar membuatnya merona.


Wajah Milan semakin maju mengikis jarak antar wajah terbingkai kacamata itu. Milan mendaratkan satu kecupan di atas bibir Nara, membuat gadis ini membeku saat pemuda ini menciumnya, membuat kepanikan meresapi hatinya situasi sudah mulai tak nyaman bagi Nara.


Seharusnya kan tak seperti ini!


Milan memberi kecupan-kecupan kecil di bibir ranum Nara membuat tubuh gadis ini semakin lemah ia bahkan tidak sudah bisa merasakan kakinya, Jantungnya berdetak kencang seakan ingin jatuh ke dasar perut.


Milan mulai mellumat bibir manis itu perlahan. Bermain dengan lembut menggoda untuk mendapatkan balasan. Nara yang merasakan sesapan dan lummatan lembut di bibir atas dan bawah secara bergantian membuatnya mulai terbuai dengan kelembutan Milan.


Pertahanan Nara runtuh dengan kaku menyesap pelan bibir bawah Milan dan mulai membalas ciuman itu.


Mendapatkan balasan sebelah tangan Milan turun melingkar di erat di pinggang Nara, menarik tubuh mungil itu agar mereka semakin menempel. Hingga ciuman semakin dalam  mereka berpagut, saling mellumat, menyesap. Kelopak mata indah Nara tertutup, melingkar lengannya di leher Milan, menikmati ciuman itu, suasana telah mulai panas terbakar oleh gairah dan deru napas mulai terasa berat.


Ciuman terasa semakin memabukkan saling membalas, menyesap.


Milan melepaskan tautan bibirnya sejenak membungkukkan tubuhnya lalu mengulur sebelah tangannya di bawah lipatan lutut Nara.


Milan menggendong tubuh mungil Nara setelahnya kembali menyambar bibir istrinya. Dalam gendongan Milan, bibir mereka terus bertaut seakan candu yang tidak bisa di hentikan.


Ciuman panas, penuh gairah itu terlepas saat merasa udara dalam rongga dada telah menipis, dada mereka naik-turun mencoba menarik oksigen sebanyak-banyaknya. Sejenak Nara menolehkan kepalanya menatap, ke mana langkah kaki Milan akan membawanya dalam gendongan.


Manik mata gadis ini membelalak sempurna ketika tubuhnya yang dalam gendongan Milan tinggal beberapa  langkah lagi menuju ranjang. Jantung Nara kembali berdentam kencang.


Membuat Nara bertanya-tanya Apakah ciuman ini akan berlanjut di ranjang?


Ah, bukankah ini hanya ciuman seperti biasa?


 


 


Jangan lupa  ....


LIKE


COMENT


VOTE ... 


 


Lagi buru-buru editnya asal maaf kalau banyak typo atau bahasa ngak jelas .... 


 


 

__ADS_1


__ADS_2