Si Culun Mendadak Jadi Istri Presdir

Si Culun Mendadak Jadi Istri Presdir
pertemuan


__ADS_3

Aliran darah Nara seakan terhenti. Irama jantungnya seketika berdentam keras saat manik matanya menangkap tubuh pemuda tinggi yang berdiri dari kejauhan di antara banyaknya tamu undangan. Penampilannya, pesonanya, wajah tampannya yang mencolok, membuat manik mata Nara menjadi teralihkah pada pemuda itu. Seorang lelaki yang tidak ingin dia temui dan ia lupakan.


Pandangan mereka bertemu Nara membeku, saat Milan terus menatapnya dari kejauhan membuat tubuhnya melemah.


"Kak Milan," batin Nara.


Oh astaga kenapa dia harus melihat wajah itu lagi. Untuk beberapa saat Nara mematung hingga suara lantunan musik kembali menyadarkan, jika kini gilirannya yang menyanyi. Nara tersentak dengan cepat membuang pandangannya. Dia harus bersikap biasa saja. Tidak boleh terlihat lemah di hadapan Milan, Nara mencoba meyakinkan diri di dalam hati. Gadis cantik ini kembali mengarahkan mic ke mulut.


Abang pilih yang mana perawan atau janda perawan memang menawan janda lebih aduhai.


Nara dan Chelsea kompak menyanyikan lirik terakhir dari lagu perawan atau janda. Setelahnya sebagai penutup dua perempuan ini kompak memeluk tubuh Vino yang berdiri di antara mereka. Lelaki terbaik yang berada di antara mereka, selalu menjaga dua perempuan ini. Uhg, rindunya mereka dengan pemuda ini.


Tatapan ketiganya pun terkalihkan ke depan.


“Terima kasih!” ucap Nara dan Chelsea kompak di hadapan tamu undangan dengan sedikit menundukkan kepala mereka sebagai tanda hormat.


“Hore! Lagi! Lagi!” suara teriakan menggema di dalam ruangan.


Tepukan dan sorak sorai dari tamu undangan yang menikmati penampilan gila mereka bertiga. Ada kebanggaan mengalir dalam perasaan ketiganya setelah berhasil memuaskan penonton yang ada di hadapan mereka.


“Akhirnya kita dangdutan lagi!” ucap Chelsea tersenyum puas dengan dada naik turun, mendekap Vinonamun kelopak matanya kembali berkaca-kaca.


“Iya, seru banget,” sambung Nara dengan tangan melingkar di pinggang pemuda itu mencoba mengumpulkan oksigen untuk mengisi rongga paru-parunya.


"Om puas hari ini!” celetuk Vino bak om-om genit merangkul bahu ke dua sahabatnya itu. Setelahnya mendesah kasar. “Aduh, aku tidak bisa bernapas!” keluh pemuda ini karena Chelsea dan Nara mendekapnya begitu erat terdengar isakan dari keduanya.


“Akhirnya kita bisa bernyanyi bersama lagi!” ujar Nara dengan air mata haru kembali mengalir deras mengabaikan keluhan Vino.


“Kalian tidak boleh pergi lagi!” sungut  Chelsea tergugu semakin mendekap Vino seakan menahannya untuk beranjak.


Pemuda tampan ini menghela napas pasrah. Beginilah dua sahabatnya sangat manja padanya, namun rasa inilah yang sangat ia rindukan dari dua perempuan ini.


Ketiganya terus berdiri di panggung saling berpelukan meluapkan rasa rindu dengan tangis. Tidak memedulikan yang lain, seperti biasa dunia adalah milik mereka. hingga suara dari mc pernikahan yang membuat Chelsea kesal kembali terdengar.


“Penampilan yang sangat luar biasa! Dan kini kita telah sampai pada acara terakhir, pelemparan bunga dari pengantin wanita!” ucap sang mc yang sukses membuat tanduk Chelsea kembali naik, pelukan ketiganya pun terlepas.


Ah mengganggu saja perempuan ini, sejak tadi terus merecokinya. Decak Chelsea.


“Sudah pergi sana!" usir Vino.


“Dasar pengganggu! Menyebalkan! Boleh ngak lempar dia aja!” gerutu Chelsea mengusap air matanya merasa moment pertemuannya terganggu.


“Inikan pernikahanmu Sea,” tambah Nara juga mengusap pipinya.


“Gara-gara kalian aku menikah dengannya!” protes Chelsea dengan bibir mengerucut kembali air mata itu jatuh.


“Dia laki-laki yang baik Sea! Hanya dia yang mau menjadikanmu istrinya!" canda Vino sembari mengusap pipi Chelsea.


"Vin!" protesnya.


“Kau sangat beruntung menikah dengannya!” tambah Nara.


Iringan pengantin telah menunggu Chelsea untuk turun dari panggung.

__ADS_1


“Ayo pengantin wanita!” sela mc.


“Sudah pergilah!”


Chelsea berdecak kesal. “Baiklah.”


Chelsea lalu melangkah bersama dengan orang yang memegang gaun pengantinnya untuk membantunya berjalan. Lalu kembali berbalik


“Oh iya. Ingat besok kita harus bertemu di tempat pak Joko!”  teriak Chelsea pada dua sahabatnya.


Nara dan Vino kompak mengangguk.


“Awas kalian tidak datang!” mata Chelsea memicing dengan nada mengancam.


“Iya.” Kompak Nara dan Vino menatap malas.


Mereka bertiga telah turun dari panggung. Kini tinggal Nara dan Vino yang memiliki waktu untuk saling bertukar cerita selama berpisah dua tahun lama.


“Kau ke mana saja selama ini Vin?” sosor Nara lebih dulu dengan raut wajah penasaran.


Vino menarik kedua sudut bibirnya menatap gemas wajah perempuan yang ada di sampingnya yang semakin cantik membuat perasannya berbunga. Hingga saat ini hati Vino masih berdesir hebat jika berhadapan dengan. ya Nara masih menjadi pemilik hatinya.


“Vin!” sentak Nara saat melihat Vino hanya diam terpaku menatapnya.


Pemuda ini menjadi salah tingkah, mencoba menenangkan debaran jantungnya.


“Oh, iya. bagaimana kabar Ibu dan Nana?” tanya Vino mengalihkan pembicaraan. Tak ingin membahas hidupnya.


“Mereka baik-baik saja!” jawab Nara dengan ceria.


“Ibu sangat ingin bertemu denganmu! Kau harus ikut bersamaku! Ibu pasti sangat senang!” kata Nara dengan bersemangat menggiring Vino untuk ikut bersamanya meninggalkan pesta pernikahan.


“Emang ibu di mana Ra?” tanya Vino.


Nara menghela napas kasar. Mengingat, ada di mana perempuan yang melahirkannya itu.


“Ibu ada di rumah, lagi Periksa koleksi pancinya!” desah Nara.


“Kenapa dia ngak kemari?”


“Kau tahu, Aku kembali karena ibu merengek untuk datang ke pernikahan Sea. Eh ternyata, sampai di sini dia malah sibuk dengan pancinya Vin!” oceh Nara akan keluhannya tentang ibunya. Ia terbuai akan rayuan ibunya untuk kembali namun nyatanya perempuan paruh bayah itu malah mementingkan koleksinya pancinya.


Vino terkekeh mendengar ocehan Nara tentang ibunya.


“Kau tahu selama dua tahun dia terus memikirkan pancinya!” Nara memasang wajah memberengut.


“Ibu benar-benar tidak berubah! Masih suka panci!” ujar Vino.


Nara kembali melangkah beriringan bersama dengan Vino.


“Pokonya kau harus bertemu ibu dan kau harus membantu ibu melap pancinya!” tekan Nara.


“Baiklah, aku siap!” ujar Vino meraih tangan Nara kemudian menautkan dalam genggamannya.

__ADS_1


Mereka pun melangkah dengan tangan saling menggenggam.


“Dan kau kenapa tidak kembali kemari?” tanya Vino menatap Nara yang berada di sampingnya sembari mengayun-ayunkan tangan Nara.


Nara membisu terus melangkah mengayunkan tangan Vino yang bertaut dengannya.


“Aku ....” ucapan Nara terhenti saat merasakan ada sesuatu yang aneh pada tubuhnya.


Perempuan cantik tersentak kaget saat merasakan ada tangan kekar yang melingkar di pinggangnya, membuat langkahnya terhenti akan dekapan itu.


Vino yang melangkah seirama dengan Nara sama terkejut seperti perempuan itu.


Iris mata Vino mengarah pada seseorang yang berdiri di belakang Nara.


“Milan!” ucap Vino yang melihat Milan memeluk Nara dari belakang.


Nara yang terus menggeliat mencoba membebaskan tubuhnya dari dekapan itu. Sontak tertegun.


Apa Milan!


Mendengar ucapan Vino tentang siapa yang memeluknya.


Deg ...


Tubuh Nara seketika membeku di tempat tak dapat bergerak lagi. Jantungnya seakan jatuh ke dasar perut. Wajahnya berubah menjadi pucat bak tak teraliri darah.


Oh, astaga pemuda yang ia coba hindari kini telah hadir dan memeluknya dengan erat. Kelopak matanya mulai berembun.


Melihat Nara berada dalam dekapan Milan. Tangan Vino  mencoba menarik tangan Nara untuk kembali melangkah bersamanya.


"Kumohon jangan pergi!” ucap Milan memohon dengan suara terendah menaruh wajahnya di ceruk leher Nara.  semakin mengunci tubuh Nara dengan pelukannya.


Nara hanya terdiam merasa seakan tak bisa bernapas tubuhnya melemah, mendengar suara itu lagi, rasa tak berdaya melumuri jiwanya.


Melihat Nara yang hanya memantung dengan mata berkaca-kaca. Perlahan-lahan tangan Vino terbuka, melepaskan tautan tangan Nara.


Memilih melangkah mundur selangkah demi langkah. setelahnya berbalik meninggalkan Nara dan Milan dengan tatapan sendu. Memutuskan meninggalkan perempuan yang namanya masih melekat kuat di hatinya bahkan setelah beberapa tahun.


Kini tinggallah Nara dan Milan.


“Aku merindukanmu!” ucap Milan semakin mengendus ceruk leher Nara menyalurkan cipratan-cipratan rindu di dalam perasaan yang telah lama ia tahan. Setelah sekian lama dia bisa menyentuh tubuh ini lagi.


Tubuh Nara meremang. Tangannya mengepal erat, mencoba menguatkan hati.


Kata rindu ... ah sial, rasa yang sama yang Nara rasakan di ujung hati terdalamnya,  dia juga merindukan pemuda ini. Hingga ia larut dalam dekapan Milan.


“Maafkan aku!” lirih pemuda itu dengan sejuta rasa bersalah.


Maaf ....


Tubuh Nara bergetar hebat mendengar kata maaf dari Milan, tanpa sadar seketika kelopak mata Nara tertutup sayu, setitik bulir kristal jatuh membasahi pipinya. Air mata yang sejak tadi ia tahan telah jatuh.


hai. Sya mau mengucapkan terima kasih atas semua doa, semangat dan dukungannya. 😘😘😘😘

__ADS_1


......................


__ADS_2