Si Culun Mendadak Jadi Istri Presdir

Si Culun Mendadak Jadi Istri Presdir
menggila


__ADS_3

Chelsea telah berada di atas panggung berdiri di hadapan Nara dengan air mata yang selalu ingin jatuh.


Dua tahun dia tidak berjumpa dengan perempuan ini. Oh betapa rindu yang ia miliki begitu besar.


Chelsea terdiam menatap dengan tatapan menilai penampilan sahabatnya yang telah berubah.


“Nara!” sapanya terdengar manja.


“Sea!” balas Nara terdengar merengek layaknya anak kecil.


“Kenapa kau jadi bule begini!” oceh Chelsea akan penampilan baru Nara.


Nara membalasnya dengan senyuman serta kelopak mata mengembun sama seperti manik mata Chelsea.


“Kau tidak terima! Aku lebih cantik darimu sekarang!" Nara mencoba tersenyum sembari mencoba menahan air matanya.


Chelsea berdecak, menghentakkan kaki dengan bibir mengerucut seakan tak suka mendengar kenarsisan sahabatnya.


“Baiklah kali ini aku akui aku kalah cantik denganmu! Aku akan merubah warna rambutku!” ucap Chelsea bulir kristal telah jatuh membasahi pipinya.


Nara semakin mengembangkan senyumnya mendengar ocehan Chelsea.


“Aku merindukanmu Sea! Kau tidak ingin memelukku,” kedua tangan Nara merentang.


Tanpa kata lagi Chelsea maju memeluk tubuh sahabatnya itu. Ke duanya saling mendekap, melepaskan rindu setelah dua tahun terpisah. Isakan tangis mewarnai pertemuan mereka.


“Kau jahat! Ra. Aku pikir kau tidak akan datang!” isak Chelsea meluapkan perasaannya, membuat semua orang menatap mereka bingung.


“Sekarang aku di sini!” balas Nara semakin mendekap tubuh perempuan yang suka ngedumel ini.


Setelah puas melepas rindu pelukan terurai. Keduanya masih terisak.


“Aku datang untuk menepati janjiku padamu.” Ucap Nara sembari mengusap pipinya yang basah.


Ya, andai bukan karena janjinya yang akan menyanyi di pernikahan Chelsea dia tidak akan datang. Sungguh dia tidak ingin menginjakkan kaki dan melupakan semua tentang tempat ini.


“Ya kau harus menyanyi!” balas Chelsea teringat janji mereka bertiga.


“Aku akan menyanyikan lagu andalan kita!” Kali ini Nara mulai menggebu-gebu, dia ingin mengulang kenangan mereka yang selalu membawa keceriaan dan menghidupkan suasana di pesta pernikahan.


Chelsea mengembangkan senyuman ikut  bersemangat.


“Baiklah! Kita akan menggila di sini! Lagi pula sudah dua tahun aku ngak goyang ngebor!” balas Sea dengan semangat berapi-api kini tatapannya mengarah pada tamu undangan setelahnya tangannya terulur meminta mic.


Uh, dua sahabat ini sudah tidak peduli lagi dengan apa-pun biarkan panggung ini menjadi milik mereka sama seperti dulu.


“Kau siap?” tanya Chelsea meyakinkan, kini mereka telah berdiri sejajar menghadap ke depan memegang mic masing-masing.


Nara mengangguk yakin. “Tapi ingat kau bagian jandanya! Lihat gayaku udah kaya anak perawan kan!” tekan Nara mengingatkan lalu bertingkah centil di hadapan Chelsea dengan menaruh telapak tangannya di pipi bak gadis remaja.


Chelsea mendengus melihat tingkah Nara. Benar-benar telah siap terlihat seperti anak perawan.


“Oke! Kau lihat saja, aku akan jadi janda yang paling hot,” ujar Chelsea mengelus pahanya dengan dada membusung tak peduli jika dia adalah sang pengantin.


Oh astaga mereka benar-benar kembali akan menggila dan kali ini akan lebih heboh.


“Kita mulai?” tanya Chelsea dan di balas anggukan yakin oleh Nara.


“Tunggu aku ikut!” tahan seorang pemuda tampan naik ke atas panggung bergabung bersama mereka.


Nara tersentak kaget, kelopak matanya kembali berkabut saat melihat Vino berdiri di antara mereka. uhg, betapa dia merindukan lelaki ini.


“Vino!” seru Nara.


“Apa kabar Ra? Kau semakin cantik,” balas Vino dengan tatapan terpukau dan senyuman lembut.


"Aku sangat merindukanmu!” Nara memeluk pinggang pemuda itu dengan perasaan rindu.  


“Akhirnya kita berkumpul kembali,” ucap Chelsea ikut dalam pelukan mereka.

__ADS_1


Setelah dua tahun mereka kembali bersama.


“Ayo cepat! Aku Udah pingin joget nih!” desak Vino saat pelukan terlepas, ia telah mengambil ancang-ancang siap untuk bergoyang.


“Sabar napa!” jawab Chelsea mendengkus.


Nara menatap Vino.


“Kau harus nyawer Vin!” tekan Nara dengan cengiran.


“Ya elah Ra,  udah dua tahun masih aja ngarep saweran!” seru Vino menatap malas sahabat gila uangnya ini.


“Ya,  ialah Vin. Kan aku mau ngebor nih! Entar cape mau beli boba.” Balas Nara terkekeh.


Vino menatap gemas perempuan yang ada di sampingnya ini.


“Kau tenang saja om udah siapin, bikin om puas malam ini!” ucap Vino menepuk dadanya seperti biasa bersikap bak om-om. Membuat Chelsea dan Nara kompak terkekeh.


Ya tuhan inilah yang sangat mereka rindukan.


“Baiklah, Kita mulai! Musik!” teriak Chelsea.


Lantunan nada terdengar menggema, irama bertalu-talu membuat suasana mulai hidup. Suara lantunan bak dangdutan kampung terdengar, irama beat lagu perawan atau janda menghentak. Tiga sahabat ini telah menari heboh. Panggung dan moment ini adalah milik mereka.


Tibalah lirik itu di nyanyikan di mulai oleh Nara.


“Abang pilih yang mana perawan atau janda perawan memang menawan,” nyanyi Nara mencolek pipi Vino seolah menggodanya.


“Janda lebih menggoda!” sambung Chelsea mengerlingkan matanya ke arah Vino.


“Abang pilih yang mana perawan atau janda. Perawan Memang bohai.” Tubuh Nara sangat lentur bergoyang.


“Janda lebih aduhai.” Chelsea mengikuti gerakan Nara tak mau kalah.


“Kalau abang pilih perawan masih muda masih segelan belum di sentuh orang, belum berpengalaman!” Nara bertingkah centil mengibaskan rambut pirangnya di wajah Vino.


“Kalau abang pilih janda sudah pasti lebih dewasa sudah bermain cinta banyak pengalamannya," Chelsea meliuk-liukkan tubuhnya sembari mengelus pahanya, terlihat sangat menggoda hingga terdengar sorak-sorak tamu undang berdecak kagum.


“Janda lebih aduhai.” Sambung Chelsea.


Tiga sahabat itu benar-benar menggila di atas panggung bergoyang sesuka hati, bahkan Vino yang berada di tengah mereka kompak meliuk-liuk tubuhnya seirama dengan dua sahabatnya


Sementara itu, Kay  tak henti-hentinya tertawa melihat tingkah istrinya yang bertingkah bak janda genit di atas panggung.


Uhg, manisnya, rasanya dia sangat gemas saat melihat Chelsea bernyanyi lagi sama seperti di  saat pernikahan adiknya dulu. Rasa cintanya semakin berlipat-lipat saja.


Dua tahun dia juga tidak pernah melihat semangat Chelsea lagi. Melihatnya Chelsea kembali tertawa bersama sahabatnya hatinya menghangat, turut bahagia.


Beberapa langkah dari Kay. Seorang pemuda berdiri membatu, sejak tadi pandangannya terus ke arah panggung tak sedikit pun berpaling, kini sudah tak menghiraukan orang-orang yang berada di sekitarnya.


Ya, Milan terpaku menatap ke arah Nara dengan debaran jantung yang menggila terus menatap wajah cantik yang membuatnya seakan terbius hingga perhatiannya tak bisa lepas, perasaannya semakin bergejolak.


"Akhirnya aku bisa melihatmu lagi, Kau sangat cantik! aku sangat merindukanmu!” batin Milan terharu. sorot mata terpukau terus terarah pada perempuan cantik yang menyanyi di panggung. Ingin rasanya dia berlari mendekap erat tubuh yang ia rindukan itu namun saat ini dia hanya bisa menahan diri.


Ya, Hatinya berdesir hebat, rasa cinta, rindu, sedih, haru berbaur dalam perasaan, saat melihat perempuan yang ia cinta setelah dua tahun lama, terjangan cinta itu semakin membara. “Aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi!” batin Milan dengan cipratan rindu merayapi hatinya.  


Lantunan nada terdengar.


“Mana sawerannya Vin?” tanya Nara sembari menunggu lirik selanjutnya. Mengulurkan sebelah tangannya sambil bergoyang.


Vino mendesah kasar.


“Sabar napa, lagi asik joget juga nih!” balas Vino lalu merogok saku celananya satu tumpuk uang berwarna hijau tua.


Membuat Nara berdecak kagum manik matanya pun menjadi hijau.


"Ini!” Vino menyodorkan bertumpuk uang kertas pada Nara.


Tangan Nara terulur mengamati uang pemberian dari Vino.

__ADS_1


“Gila Sea! Sawerannya pake dolar! Banyak lagi!” decak kagum terdengar dari Nara pada sahabatnya yang masih sibuk berjoget.


Perhatian Chelsea teralihkan pada uang kertas di tangan Nara.


“Iya, gila nih bocah dari mana! pulang-pulang udah jadi sultan, nih anak!” balas Chelsea juga terkagum.


“Vin! Ini bisa beli motor!” sahut Nara lagi dengan semangat.


“Udah! Yang penting om senang!” ucapnya dengan santai.


“Kalau sawerannya segini! Aku harus ngebor sampai bawah nih!” Nara semakin meliuk-liukkan tubuhnya menggoyangkan pinggulnya.


“Iya, Ra. Ngebor sampai bawah! Sampai bawah! Sampai bawah!” ucap Chelsea menyemangati.


Vino menepuk jidatnya. Oh, Astaga, sahabatnya ini benar-benar. seakan urat malu serta otak sahabatnya ini udah bergeser dari tempatnya. Itu fikir Vino namun  dia sangat bahagia inilah sahabatnya yang apa adanya.


“Aku Vin,” sambung Chelsea kini gilirannya menerima uang saweran dari pemuda itu.


“Sawerannya selipin di bhku dong Vin!” kata Chelsea menggoda sembari memajukan dadanya.


Ya tuhan, decak Vino gadis centil ini masih saja sama seperti dua tahun yang lalu yang meminta saweran layaknya biduan dangdut.


“Liat makin padatkan!” Chelsea membungkukkan tubuhnya agar Vino melihat dadanya.


“Bh susu tumpah ya Sea!” sahut Nara.


“Bukan tumpah udah lumer!” celetuk Chelsea.


Dan benar-benar gila Nara sungguh menarik leher baju pengantin Chelsea dengan jari telunjuk.


“Coba liat!” intip Nara.


“Padat bangetkan!” tambah Chelsea semakin membusungkan dadanya.


“Iya Vin, coba liat!” tawar Nara.


Agh, ya ampun mengapa Vino harus berada di antara dua perempuan yang ngak ada akhlaknya ini. Membahas bra tanpa malu di atas panggung pula.


“Kenapa jadi bahas bh sih!” decak Vino akan persahabatannya yang tidak ada batasannya itu.


“Cepat Vin, selipin sawerannya di bhku. Dadaku udah tegang nih udah kencang  banget,” Chelsea menggoyang-goyangkan dadanya yang membusung di hadapan Vino.


Dengan gemas tangan Vino lalu terulur menoyor kepala sahabat genitnya itu.


“Hei, Sea otakmu udah gesrek ya! kau mau lihat aku di tabok suamimu itu." Gerutu Vino yang masih memiliki iman yang kuat menghadapi dua perempuan gesrek itu.


Chelsea dan Nara kompak tertawa. Inilah Vino mereka sangat menghargai wanita.


Irama telah sampai pada lirik, Nara kembali menyanyi.


Tersenyum, mengarahkan pandangannya pada tamu undangan. Mulai bertingkah centil.


“Abang pilih yang mana perawan atau janda. Perawan memang ....”  suara Nara terputus.


Deg ...


Aliran darah Nara seakan terhenti. Irama jantungnya seketika berdentam keras saat manik matanya menangkap tubuh pemuda tinggi yang berdiri dari kejauhan di antara banyaknya tamu undangan. Penampilannya, pesonannya, wajah tampannya yang mencolok, membuat manik mata Nara menjadi teralihkah pada pemuda itu. Seorang lelaki yang tidak ingin dia temui dan ia lupakan.


Pandangan mereka bertemu Nara membeku saat Milan terus menatapnya dari kejauhan membuat tubuhnya melemah.


"Kak Milan," batin Nara.


Oh astaga kenapa dia harus melihat wajah itu lagi.


...****************...


maaf baru up date, bukan mencoba untuk membuat penasaran atau hilang di saat tegang-tengannya. tapi Sya sakit benar-benar ngak bisa bangun, benar-benar tumbang.


saking merasa bersalahnya itu sya ngak berani liat koment takut di amuk. maaf ya ...

__ADS_1


Oh iya sekedar info lagu yang mereka nyayiin itu lagunya cita citata judulnya perawan atau janda. siapa tahu ada yg ngak tahu.


__ADS_2